Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan

A A

Kambing peranakan etawa di pekarangan berpohon pisang. [Foto: Asatama/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Satu penyuluh di Padang mengurus lebih dari 15 kelompok, ideal 6 sampai 8 kelompok.
  • Empat peran dinilai baik: pendidik, fasilitator, pengawas, dan penilai.
  • Tiga peran dinilai sedang: menyebarkan keterangan, konsultasi, dan pembelaan.
  • Dari empat kualifikasi, hanya cara menyampaikan yang bernilai sedang.
Daftar Isi
  1. Satu penyuluh mengurus lebih dari lima belas kelompok
  2. Empat peran yang sudah berjalan baik
  3. Tiga peran yang masih setengah jalan
  4. Cara menyampaikan jadi satu-satunya nilai sedang
  5. Populasi ternak yang tidak kunjung naik
  6. Batas temuan ini sebelum dijadikan patokan

Bantuan ternak dari pemerintah biasanya dihitung dari jumlah sapi, kambing, dan ayam yang diserahkan. Yang jarang dihitung adalah orang yang mendampingi peternaknya sesudah bantuan itu turun. Padahal di tangan orang itulah bantuan bisa berkembang menjadi usaha, atau berhenti sebagai ternak titipan yang dipelihara seadanya.

Orang itu yang ditelaah Amrizal Anas bersama Aditya Alqamal Alianta dan Ediset dalam artikel The Agricultural Extension Officer’s Qualification and Role in Farmers’ Groups Receiving Government Assistances in Padang City, West Sumatra di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences, Volume 6 Nomor 1 tahun 2025. Ketiganya dari Bagian Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas.

Yang dipotret adalah penyuluh pertanian yang mendampingi kelompok ternak penerima bantuan Pemerintah Kota Padang pada 2023. Tahun itu ada 21 kelompok yang menerima bantuan berupa dana, ternak, sarana, dan program penyuluhan. Enam di antaranya ditelaah, terdiri atas dua kelompok sapi, dua kelompok kambing, dan dua kelompok unggas dari tiga kecamatan berbeda.

Enam dari 21 kelompok penerima bantuan ditelaah6 dari 21 , atau 28,6%.Enam dari 21 kelompok penerima bantuanditelaahKelompok ternak penerima bantuan Kota Padang, 20236 kelompok ditelaah (28,6%)15 kelompok lainTotal 21 Enam kelompok itu terdiri atas dua kelompok sapi, dua kelompokkambing, dan dua kelompok unggas.
Sumber: Amrizal Anas, Aditya Alqamal Alianta, dan Ediset, The Agricultural Extension Officer’s Qualification and Role in Farmers’ Groups Receiving Government Assistances in Padang City, West Sumatra, Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences, 6(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Satu penyuluh mengurus lebih dari lima belas kelompok

Angka yang paling gamblang datang dari perbandingan jumlah. Kota Padang punya 39 penyuluh pertanian yang bekerja di berbagai wilayah. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani menyebut semestinya ada sekurangnya satu penyuluh di tiap desa, sementara Kementerian Pertanian menyebut satu penyuluh idealnya membina enam sampai delapan kelompok.

Kenyataannya, seorang penyuluh di Padang mengurus lebih dari lima belas kelompok. Angka itu dua kali lipat dari yang dianggap wajar, dan akibatnya terasa langsung pada hal-hal yang menuntut kehadiran: kunjungan jadi jarang, pendampingan jadi tidak merata, dan sebagian peternak tidak menerima keterangan yang mereka butuhkan pada waktu yang tepat.

Jarak geografis menambah beban itu. Kelompok ternak tersebar di wilayah yang berjauhan, sehingga frekuensi dan mutu kunjungan sama-sama tergerus. Penyuluh sebenarnya sudah mencoba menambalnya lewat media sosial, tetapi penulis mencatat cara itu belum memenuhi kebutuhan karena tidak semua peternak punya telepon pintar atau terbiasa memakainya.

Baca juga Petani Milenial Padang Capai 800 Orang dengan Beragam Komoditas

Empat peran yang sudah berjalan baik

Dari tujuh peran yang dinilai, empat dinyatakan berjalan baik. Sebagai pendidik, penyuluh dinilai berhasil menempatkan diri sebagai sumber keterangan yang layak dipercaya dan mudah didekati, sehingga pengetahuan dan keterampilan berpindah ke peternak. Penilaian ini datang dari pengurus kelompok yang berhubungan langsung dengan mereka.

Sebagai fasilitator, penyuluh dinilai berhasil mengalirkan keterangan tentang cara pemeliharaan, kebijakan pemerintah, dan bantuan yang tersedia. Peran ini juga mencakup menjembatani peternak dengan pihak swasta, bank, dan industri, sehingga akses ke modal, pasar, dan sarana terbuka lebih lebar daripada bila peternak mengurusnya sendiri.

Sebagai pengawas, penyuluh dinilai efektif karena pengawasan dilakukan menyatu dengan kegiatan penyuluhan lain, bukan sebagai kunjungan tersendiri. Cara itu membuat pemantauan berjalan terus-menerus dan masalah bisa ketahuan lebih awal. Sifatnya yang tidak resmi juga membuat peternak lebih lentur dalam menyampaikan kesulitan yang mereka hadapi.

Sebagai penilai, penyuluh dinyatakan tetap menjalankan penilaian secara tertib meski jumlah petugasnya terbatas. Penilaian itu mencatat keberhasilan, hambatan, dan pemakaian sumber daya dalam kegiatan penyuluhan, lalu dipakai untuk memperbaiki cara kerja pada program berikutnya agar lebih sesuai dengan kebutuhan peternak.

Tiga peran yang masih setengah jalan

Tiga peran sisanya dinilai sedang. Yang pertama adalah menyebarkan keterangan, dan alasannya sudah disebut di atas: penyuluh tidak sanggup mengunjungi semua kelompok secara teratur. Akibatnya sebagian peternak tertinggal dari cara dan teknologi baru, bukan karena menolak, melainkan karena kabarnya tidak sampai kepada mereka.

Yang kedua adalah peran sebagai tempat berkonsultasi. Dengan beban lebih dari lima belas kelompok, pendampingan yang sifatnya pribadi sulit dijalankan. Penulis mengusulkan jalan keluar berupa layanan penyuluhan dalam jaringan, pelatihan kader penyuluh dari dalam kelompok itu sendiri, pemanfaatan radio komunitas, serta pusat layanan peternak yang dijaga petugas terlatih.

Yang ketiga adalah peran membela kepentingan peternak. Penulis menilai peran ini belum dijalankan sepenuhnya. Membela di sini berarti memastikan kebutuhan peternak terdengar dalam penyusunan kebijakan dan mereka tidak dirugikan oleh program yang dibuat tanpa menimbang keadaan mereka, termasuk membantu kelompok menyusun aturan mereka sendiri.

Ketiga peran yang lemah itu punya benang merah. Semuanya menuntut waktu dan kedekatan, bukan sekadar pengetahuan teknis. Penyuluh yang sibuk berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain masih bisa mengajar dan mengawasi, tetapi sulit duduk cukup lama untuk mendengar keluhan, apalagi membawanya ke meja pembuat kebijakan.

Baca juga Kambing Perah dan Galo-Galo di Pekarangan Patalangan

Cara menyampaikan jadi satu-satunya nilai sedang

Kualifikasi penyuluh dinilai pada empat hal, dan tiga di antaranya dinyatakan baik. Sikapnya dinilai baik karena mereka selalu bersedia menolong ketika peternak membutuhkan dan berusaha meyakinkan peternak tentang manfaat yang mereka tawarkan. Sikap tanggap seperti ini disebut penulis sebagai unsur penting keberhasilan penerapan cara baru.

Satu nilai sedang di antara tiga nilai baikSatu nilai sedang di antara tiga nilai baikSatu nilai sedang di antara tiga nilai baikPenilaian kelompok ternak penerima bantuan di Kota PadangSedangCaramenyampaikanpaling rendahBaikSikapbersediamenolongBaikPengetahuanbergelar sarjanaBaikPenyesuaiandiripaham adatJalan risetnyaPeternak ditanyaJawaban dinilaiNilai dikelompokkanNilai sedang pada cara menyampaikan berarti pesan penyuluh tidakselalu sampai utuh.
Sumber: Amrizal Anas, Aditya Alqamal Alianta, dan Ediset, The Agricultural Extension Officer’s Qualification and Role in Farmers’ Groups Receiving Government Assistances in Padang City, West Sumatra, Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences, 6(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Pengetahuannya juga dinilai baik, dengan sebagian besar penyuluh bergelar sarjana. Kemampuan menyesuaikan diri dinilai baik pula: penyuluh dianggap mampu membangun hubungan yang erat dengan peternak dan menyesuaikan diri dengan keadaan sosial serta budaya setempat, sesuatu yang menentukan apakah pesan mereka diterima atau ditolak.

Yang tersisa satu, yaitu cara menyampaikan, dan itulah satu-satunya yang dinilai sedang. Penulis menyebut kemampuan teknis penyuluh kuat, tetapi cara menyampaikannya perlu diperbaiki. Keterangan yang tidak tersampaikan dengan jelas berujung pada salah paham, dan salah paham membuat peternak tidak menerapkan apa yang sudah diajarkan.

Pelatihan yang diusulkan pun mengarah ke situ: pembelajaran yang melibatkan peserta secara aktif, bukan yang berbentuk ceramah satu arah. Ditambahkan pula pelatihan kepekaan budaya, agar penyuluh yang bertugas di wilayah dengan kebiasaan berbeda tidak memaksakan cara yang tidak cocok dengan kehidupan peternak setempat.

Populasi ternak yang tidak kunjung naik

Latar belakang seluruh penilaian ini adalah angka yang mengecewakan. Populasi ternak di Kota Padang menurun sepanjang 2020 sampai 2022. Pada 2023 memang ada kenaikan, tetapi hanya 0,01 persen untuk sapi potong, sapi perah, dan kambing. Kenaikan setipis itu jauh dari cukup untuk mencapai sasaran kemandirian pangan asal hewan.

Penulis menghubungkan hal itu dengan jumlah rumah tangga peternak yang juga tidak bertambah. Selain itu disebut hambatan lain di luar urusan penyuluhan, yaitu wabah penyakit, prasarana yang kurang, dan akses pasar yang terbatas. Ketiganya bukan hal yang bisa diselesaikan seorang penyuluh betapa pun baik kerjanya.

Kesimpulan naskah tetap positif: penyuluh di Padang dinyatakan berkualifikasi memadai dan berperan efektif. Namun pembaca perlu membaca kesimpulan itu berdampingan dengan angka populasi tadi. Penilaian yang baik atas orangnya tidak otomatis berarti hasil yang baik di kandang, karena dua hal itu diukur dengan cara yang berbeda.

Batas temuan ini sebelum dijadikan patokan

Hal pertama yang perlu diingat, penilaian ini datang dari pengurus enam kelompok, bukan dari seluruh peternak dan bukan dari penyuluhnya sendiri. Pengurus adalah orang yang paling sering berhubungan dengan penyuluh, sehingga penilaian mereka cenderung lebih baik daripada penilaian anggota biasa yang jarang bertemu petugas.

Kedua, enam kelompok itu dipilih agar mewakili tiga kecamatan dan tiga jenis ternak, bukan diambil secara acak dari 21 kelompok yang ada. Kelompok yang tidak aktif atau yang bantuannya tidak berjalan berpeluang lebih kecil untuk masuk hitungan, dan gambarannya bisa jadi lebih cerah daripada keadaan sebenarnya.

Ketiga, yang diukur adalah anggapan, bukan hasil. Kategori baik dan sedang di sini berasal dari jawaban setuju, ragu, atau tidak setuju atas sejumlah pernyataan. Tidak ada pengukuran atas berapa ekor ternak yang bertambah, berapa liter susu yang bertambah, atau berapa rupiah pendapatan yang berubah setelah pendampingan.

Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen

Yang tersisa dari telaah ini adalah satu ketimpangan yang mudah dilihat dan sulit ditutup. Penyuluhnya berilmu, bersikap baik, dan paham adat setempat, tetapi jumlahnya terlalu sedikit untuk kelompok yang harus mereka dampingi. Selama perbandingan itu tidak diperbaiki, pelatihan apa pun hanya akan menambah kemampuan orang yang sudah kehabisan waktu.

Bagikan

Baca Juga

Pupuk Kandang Ayam 20 Ton Beri Umbi Bawang Merah Terberat
Calon Semangka Tetraploid Muncul dari Rendaman Benih Kolkisin
Insektisida Nabati dari Serai Wangi Hambat Makan Ulat Grayak
Bibit Gambir Cubadak Tumbuh Terbaik di Bawah Naungan 60 Persen
Efisiensi Biaya Produksi Kedelai Lekat dengan Irigasi
Dosis Pupuk ZA Tinggi Menurunkan Bobot Umbi Bawang Merah