Poin Utama
- Percobaan dikerjakan Yefriwati dan Darmansyah dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, terbit di Jurnal Proteksi Tanaman Volume 10 Nomor 1 tahun 2026.
- Kutu kebul turun dari 30 persen di kontrol menjadi 10 persen pada ketiga takaran jamur, tanpa perbedaan antartakaran.
- Gejala penyakit kuning menurun sesuai takaran: kontrol 40 persen, takaran 100 gram hanya 5 persen.
- Tidak ada insektisida, fungisida, maupun akarisida sintetis selama percobaan berlangsung.
- Penyakit hanya dinilai dari gejala di lapangan, tanpa pemeriksaan molekuler maupun serologi.
Cekricek.id — Cara kerjanya dimulai di bawah tanah. Jamur mikoriza arbuskula dimasukkan ke dasar lubang tanam, menempel langsung pada zona akar bibit cabai.
Jamur itu lalu masuk ke dalam akar. Hubungannya bukan hubungan penyakit, melainkan simbiosis yang menguntungkan kedua pihak.
Akar memberi jamur karbon dari hasil fotosintesis. Jamur membalasnya dengan jaringan benang halus yang menjangkau hara jauh di luar jangkauan akar.
Yang paling banyak diambilnya fosfor. Unsur itu bergerak lambat di tanah, sehingga akar biasa sulit menjangkaunya sendiri.
Pertanyaannya, apakah urusan bawah tanah itu terasa sampai ke daun. Tepatnya, apakah kutu kebul berkurang dan daun cabai berhenti menguning.
Percobaannya dikerjakan Yefriwati dan Darmansyah. Keduanya dari Program Studi Budidaya Tanaman Hortikultura Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Sumatera Barat.
Laporannya terbit di Jurnal Proteksi Tanaman Volume 10 Nomor 1 tahun 2026, halaman 95 sampai 104. Naskahnya diterima 25 Februari 2026 dan disetujui 30 Juni 2026.
Daftar Isi
Empat Takaran, Enam Ulangan, Sepuluh Tanaman Contoh
Rancangannya acak kelompok lengkap. Perlakuannya empat takaran inokulum dengan enam ulangan.
Takarannya nol, 50, 70, dan 100 gram per tanaman. Takaran nol menjadi kontrol, yaitu tanpa inokulum sama sekali.
Tiap petak berisi sekitar dua puluh tanaman cabai. Susunannya empat baris berisi lima tanaman dengan jarak tanam 50 kali 60 sentimeter.
Yang diamati hanya sepuluh tanaman di bagian tengah petak. Tanaman di pinggir sengaja tidak dihitung agar tidak terpengaruh petak sebelah.
Ukuran petaknya enam kali enam meter. Jarak antarpetak 50 sentimeter dan jarak antarkelompok 100 sentimeter.
Inokulumnya isolat lokal multispora bernama PU10. Isinya tiga marga jamur sekaligus, yaitu Glomus, Acaulospora, dan Sclerocystis.
Kerapatan sporanya seratus spora per lima puluh gram. Bahannya bukan spora saja, melainkan juga hifa dan potongan akar yang sudah terkolonisasi.
Pupuknya diberikan seragam ke semua petak. Pupuk kandang setengah kilogram per tanaman, SP-36 dan KCl masing-masing 4,5 gram, serta urea 6 gram dalam dua kali pemberian.
Satu hal sengaja tidak dilakukan. Tidak ada insektisida, fungisida, maupun akarisida sintetis selama percobaan berlangsung.
Alasannya sederhana. Kalau disemprot, angka serangga dan gejala penyakitnya tidak lagi mencerminkan pengaruh jamur.
Baca juga Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat
Tiga Puluh Dua Persen Turun Jadi Tujuh Persen
Serangga penghisap daun dihitung tiap pekan. Pengamatannya berjalan dari pekan kedua sampai pekan kedua belas sesudah pindah tanam.
Cara menghitungnya lewat pemeriksaan langsung. Tiap tanaman diperiksa pada bagian tajuk atas, tengah, dan bawah.
Satu tanaman dinyatakan terserang bila ditemukan minimal satu ekor. Perhitungannya dipisah menurut jenis serangga.
Tiga jenis yang dicatat. Kutu kebul Bemisia tabaci, trips Thrips sp., dan kutu daun Aphis gossypii.
Pada pekan kedua belas hasilnya terbaca. Rata-rata serangan di kontrol 32 persen, sedangkan pada takaran 100 gram hanya 7 persen.
Penurunannya 78,1 persen. Takaran 50 gram menghasilkan 12 persen dan takaran 70 gram menghasilkan 9 persen.
Kutu daun yang paling jelas mengikuti takaran. Angkanya turun dari 40 persen di kontrol menjadi 15, 10, dan 5 persen berturut-turut.
Trips juga turun. Dari 25 persen di kontrol menjadi 10 persen pada takaran 50 gram, lalu 5 persen pada dua takaran tertinggi.
Kutu kebul justru berbeda polanya. Angkanya 30 persen di kontrol dan 10 persen pada ketiga takaran jamur, tanpa perbedaan antartakaran.
Penulisnya menandai sendiri hal itu. Pengaruh jamur pada kutu kebul disebut sebagai pengaruh perlakuan secara umum, bukan pengaruh yang bergantung takaran.
Empat Puluh Persen Menguning, Lalu Lima Persen
Gejala penyakit kuning dihitung dengan cara yang sama. Sepuluh tanaman contoh diperiksa tiap pekan dari pekan kedua sampai kedua belas.
Tanaman disebut bergejala bila menunjukkan satu tanda atau lebih. Tandanya menguning tidak merata, tulang daun menebal dan menguning, daun menggulung atau mencawan, daun mengecil, dan tumbuh kerdil.
Yang dipakai untuk analisis hanya pengamatan terakhir. Pengamatan itu jatuh pada pekan kedua belas sesudah pindah tanam.
Hasilnya menurun sesuai takaran. Kontrol 40 persen, takaran 50 gram 15 persen, takaran 70 gram 10 persen, dan takaran 100 gram 5 persen.
Dihitung sebagai penurunan, angkanya lebih tegas. Berturut-turut 62,5 persen, 75 persen, dan 87,5 persen dibanding kontrol.
Uji bedanya memakai Duncan pada taraf lima persen. Keempat perlakuan disebut berbeda nyata satu sama lain.
Ada satu batasan yang ditulis penulisnya sendiri sejak abstrak. Penyakitnya hanya dinilai dari gejala di lapangan, tanpa pemeriksaan molekuler maupun serologi.
Karena itu istilah yang dipakai bukan infeksi begomovirus. Yang ditulis gejala penyakit kuning, sebuah pembedaan yang dijaga sepanjang naskah.
Baca juga Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo
Kolonisasi Akar 56,7 Persen dan Titik Jenuhnya
Kolonisasi akar diperiksa pada pekan kedelapan. Contoh akar diambil dari tiga tanaman tiap petak, lalu dicuci di bawah air mengalir.
Prosesnya berlapis dan memakan waktu. Akar direndam kalium hidroksida sepuluh persen selama dua puluh empat jam, dibilas, lalu direndam asam klorida sepuluh persen selama dua puluh empat jam.
Sesudah dibilas lagi, akarnya diwarnai. Pewarnanya laktofenol trypan blue selama dua puluh empat jam, lalu dijernihkan dengan laktofenol selama lima belas menit.
Pengamatannya di bawah mikroskop. Sepuluh potongan akar sepanjang satu sentimeter disusun di kaca objek dan diamati pada perbesaran seratus kali.
Hasilnya jauh berbeda antara kontrol dan perlakuan. Kontrol hanya 5 persen, yang masuk kategori sangat rendah.
Ketiga takaran jamur masuk kategori tinggi. Angkanya 56,7 persen pada 50 gram, 60 persen pada 70 gram, dan 61,7 persen pada 100 gram.
Di sinilah mekanismenya terlihat punya batas. Menaikkan takaran dari 50 ke 100 gram hanya menambah kolonisasi lima poin persen.
Penulisnya membaca itu sebagai tanda kejenuhan. Kolonisasi disebut sudah mencapai tingkat tinggi bahkan pada takaran 50 gram.
Namun penurunan serangga dan gejala penyakit tetap berlanjut. Artinya yang membedakan bukan lagi seberapa banyak akar yang terkolonisasi.
Dua Jalur yang Diduga, Keduanya Belum Diukur
Jalur pertama yang diduga adalah jalur hara. Kolonisasi akar disebut memperbaiki penyerapan hara, terutama fosfor, sehingga tanaman lebih bugar menghadapi tekanan.
Liu dan kawan-kawan pada 2024 dikutip untuk itu. Simbiosis mikoriza disebut menaikkan serapan fosfor dan akumulasi asam indol-3-asetat sehingga bentuk akar membaik.
Jalur kedua disebut ketahanan terimbas mikoriza. Kolonisasi disebut menyiapkan pertahanan tanaman lebih dini, mengubah metabolisme primer dan sekunder.
Rujukannya Pozo dan Azcon-Aguilar pada 2007, Jung dan kawan-kawan pada 2012, serta Kaur dan Suseela pada 2020. Ketiganya membahas mekanisme priming pertahanan itu.
Penulisnya lalu menutup keduanya dengan satu kalimat yang jujur. Serapan hara, asam indol-3-asetat, dan peubah pertumbuhan tidak diukur dalam penelitian ini.
Hal yang sama berlaku untuk jalur kedua. Enzim pertahanan, metabolit sekunder, asam salisilat, asam jasmonat, dan protein terkait patogenesis juga tidak diukur.
Karena itu keduanya disebut sebagai penjelasan yang masuk akal. Bukan sebagai mekanisme yang sudah terbukti dalam percobaan ini.
Frew dan kawan-kawan pada 2022 dikutip untuk satu peringatan. Pengaruh mikoriza pada serangga di atas tanah disebut bisa berbeda arah dan besarnya.
Penentunya jenis tanaman, jenis jamur, cara makan serangga, dan kondisi lapangan. Karena itu hasil satu percobaan tidak otomatis berlaku di tempat lain.
Baca juga 24 Isolat Jamur Endofit Nanas Riau, Tujuh yang Mematikan
Trips dan Kutu Daun yang Tidak Boleh Disalahartikan
Ada satu bacaan yang sengaja dicegah penulisnya. Turunnya trips dan kutu daun tidak boleh dibaca sebagai turunnya penular penyakit kuning.
Yang diakui sebagai penular utama hanya kutu kebul. Selangga dan Listihani pada 2021 serta Taufik dan kawan-kawan pada 2023 dikutip untuk itu.
Turunnya dua serangga lain dibaca berbeda. Penulisnya menyebutnya sebagai tanda membaiknya ketahanan umum tanaman terhadap serangga penghisap daun.
Gejala yang terlihat di lapangan pun bisa berasal dari lebih dari satu virus. Trisno, Jamsari, dan Hidayat pada 2021 melaporkan infeksi ganda dua virus pada cabai.
Keduanya Pepper Yellow Leaf Curl Virus dan Chilli Veinal Mottle Virus. Karena itu penyebab pasti gejala di percobaan ini tidak bisa dipastikan.
Kerugian yang dikutip dari penelitian lain cukup besar. Kehilangan hasil disebut berkisar 20 sampai 100 persen saat tekanan penular tinggi.
Saran penulisnya untuk penelitian lanjutan cukup rinci. Deteksi molekuler patogen, pemantauan populasi penular yang lebih tepat, pengukuran pertumbuhan dan hasil, serta penanda pertahanan tanaman.
Takaran 100 gram disebut sebagai takaran awal yang menjanjikan. Penulisnya menambahkan bahwa penerapannya perlu hati-hati dan butuh pengujian di kondisi agroekologi lain.
Satu hal yang tidak terjawab dari percobaan ini. Berapa hasil panen cabainya dan apakah tambahan seratus gram inokulum per tanaman sepadan dengan biayanya.















