Layu Pentil Kakao dan Asam Borat yang Melewati Batas

A A

Ilustrasi buah kakao dari berbagai umur menggantung pada cabang dan batang pohonnya. [Foto: Shaantham/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Pohon kakao berbunga lebat, pentilnya muncul banyak, lalu sebagian besar menghitam dan gugur sebelum sempat membesar. Petani sudah terbiasa melihatnya.

Kejadian itu punya nama sendiri di ilmu tanaman. Sebutannya layu pentil, atau cherelle wilt dalam istilah asing.

Yang membuatnya rumit, gugurnya bukan selalu karena hama. Sebagian besar justru digolongkan gangguan fisiologis, yaitu masalah dari dalam tanaman itu sendiri.

Sebuah penelitian mencoba menekan kejadian itu dengan asam borat. Penulisnya tiga orang dari Program Studi Agroteknologi, Institut Pertanian STIPER Yogyakarta.

Mereka Branmanda Fardhaza Saputra, Elisabeth Nanik Kristalisasi, dan Herry Wirianata. Saputra tercatat sebagai kontributor utama sekaligus penulis korespondensi.

Judulnya Management of Physiological Cherelle Wilt in Theobroma cacao through Foliar Boric Acid Application.

Tulisan itu dimuat JPT, Jurnal Proteksi Tanaman terbitan Universitas Andalas, Volume 10 Nomor 1 tahun 2026, halaman 83 sampai 94.

Daftar Isi
  1. Layu Pentil, Cara Pohon Menyeleksi Buahnya
  2. Empat Puluh Pohon di Gunungkidul
  3. Dari 6 Bagian per Juta Menjadi 106
  4. Dua Klon, Dua Kadar Terbaik yang Berbeda
  5. Pentil Sehat dan Batas yang Diakui Sendiri
  6. Di Mana Penjelasannya Berhenti

Layu Pentil, Cara Pohon Menyeleksi Buahnya

Maksudnya begini. Tanaman kakao tidak sanggup membesarkan semua pentil yang terbentuk, sehingga sebagian digugurkan sendiri.

Penyebabnya ketimpangan asimilat. Pasokan hasil fotosintesis dari daun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh organ generatif yang sedang tumbuh.

Seleksi itu menjaga keseimbangan tanaman. Namun akibat langsungnya adalah berkurangnya jumlah buah yang sampai ke panen.

Bedanya begini bila dibandingkan serangan hama. Pentil yang digugurkan secara fisiologis layu, mengerut, dan rontok tanpa bekas tusukan atau bercak nekrotik.

Pentil yang diserang Helopeltis meninggalkan tanda lain. Ada bekas tusukan stilet dan bercak nekrotik cokelat kehitaman di permukaannya.

Kedua gejala itu sering tertukar di lapangan. Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak bisa disamakan.

Di sinilah boron masuk hitungan. Unsur itu berperan pada pembentukan dinding sel, perkembangan serbuk sari, keberhasilan pembuahan, dan pengangkutan fotosintat ke organ penerima.

Masalahnya boron mudah tercuci dari tanah. Tanah bertekstur ringan dengan curah hujan tinggi membuat pemupukan boron lewat tanah kurang efisien.

Baca juga Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo

Empat Puluh Pohon di Gunungkidul

Percobaannya dijalankan April sampai Agustus 2025. Lokasinya kebun kakao milik kelompok tani Sidodadi di Putat, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta.

Ketinggian tempatnya sekitar 221 meter di atas permukaan laut. Titik koordinatnya dicantumkan lengkap di bagian metode.

Rancangannya acak kelompok lengkap faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama klon kakao, yaitu MCC01 dan MCC02.

Faktor kedua kadar asam borat. Empat tingkat diuji, yaitu 0, 2, 4, dan 8 gram per liter.

Setiap kombinasi diulang lima kali. Totalnya 40 satuan percobaan, masing-masing berupa satu pohon contoh.

Pohon contoh dipilih mewakili keadaan yang berbeda. Yang dipertimbangkan posisi topografi, intensitas cahaya, dan kesuburan tanah, dengan umur tanaman yang sama.

Penyemprotannya dua kali sebulan selama masa penelitian. Dilakukan pagi hari antara pukul enam dan delapan, saat cuaca cerah dan angin tenang.

Larutannya disemprotkan merata ke seluruh permukaan daun, flush, dan pentil. Tidak ada bahan perata atau surfaktan yang ditambahkan.

Dari 6 Bagian per Juta Menjadi 106

Sebelum disemprot, jaringan pentil kedua klon kekurangan boron. Kadarnya 6,78 bagian per juta pada MCC01 dan 6,07 pada MCC02.

Ambang defisiensi menurut acuan FAO adalah di bawah 15 sampai 16 bagian per juta. Kedua angka itu jauh di bawahnya.

Sesudah penyemprotan, angkanya melonjak. Kadar boron jaringan pentil menjadi 89,67 pada MCC01 dan 106,00 pada MCC02.

Keduanya masuk kategori tinggi. Ambang kategori tinggi menurut acuan yang sama adalah di atas 83 bagian per juta.

Artinya jaringan pentil melompati kategori cukup. Dari defisiensi, kadarnya langsung berada di atas ambang tinggi.

Peneliti sendiri menulis bahwa kebutuhan boron bergerak dalam rentang sempit. Kelebihan boron disebut dapat menimbulkan gangguan fisiologis dan menurunkan performa tanaman.

Lompatan itu tidak dibahas sebagai persoalan. Tidak ada keterangan apakah kadar 106 bagian per juta sudah mendekati batas yang membahayakan.

Tabelnya juga menimbulkan pertanyaan teknis. Kadar boron ditampilkan sebagai satu nilai rata-rata per klon, tanpa dipisah menurut empat tingkat kadar asam borat.

Dengan begitu pohon kontrol ikut tergabung di dalamnya. Padahal pohon kontrol tidak disemprot sama sekali dan mestinya tidak menerima tambahan boron.

Pengukuran kadarnya sendiri dikerjakan di laboratorium. Contoh pentil sepanjang lima sampai sepuluh sentimeter diambil dari cabang primer di empat arah mata angin.

Contoh itu dicuci, dikeringanginkan, lalu dioven pada suhu 70 derajat selama 48 jam. Sesudah digiling halus, kadarnya dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nanometer.

Tanahnya diambil sebelum perlakuan dimulai. Titiknya di zona perakaran, kedalaman 20 sentimeter, berjarak satu meter dari batang pohon.

Baca juga Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat

Dua Klon, Dua Kadar Terbaik yang Berbeda

Hasil bunganya menunjukkan pola yang cukup rapi. Jumlah bunga tertinggi tercatat pada MCC02 dengan kadar 4 gram per liter, yaitu 467,00 bunga.

Pada klon yang sama, kontrolnya menghasilkan 280,87 bunga. Kadar 8 gram per liter justru menurunkannya kembali menjadi 361,50 bunga.

MCC01 menunjukkan arah yang sama dengan angka lebih rendah. Tertinggi 201,12 bunga pada kadar 4 gram, terendah 122,62 bunga pada kadar 2 gram.

Layu pentil fisiologisnya bercerita lain. MCC02 paling sedikit layu pada kadar 2 gram per liter, yaitu 25,37 pentil.

Pada kadar 4 gram, angka layunya justru naik menjadi 36,12. Padahal kadar itulah yang menghasilkan bunga terbanyak.

MCC01 berlaku sebaliknya. Layu pentil paling sedikit terjadi pada kadar 4 gram, yaitu 28,75 pentil.

Ada satu angka yang tidak disinggung sama sekali. Pada MCC01, kadar 2 gram menghasilkan 55,87 pentil layu, lebih banyak daripada kontrolnya yang 50,25.

Artinya satu perlakuan bekerja lebih buruk daripada tanpa perlakuan. Laporan tidak menerangkan kemungkinan penyebabnya.

Pentil Sehat dan Batas yang Diakui Sendiri

Pentil sehatnya dipengaruhi klon dan kadar secara terpisah. Tidak ada interaksi nyata antara keduanya pada peubah ini.

MCC02 lebih unggul dengan rata-rata 61,06 pentil sehat. MCC01 berada di 47,71 pentil sehat.

Menurut kadarnya, angkanya naik bertingkat. Kontrol 33,37, kadar 2 gram 47,43, kadar 4 gram 64,81, dan kadar 8 gram 71,93.

Dua kadar tertinggi itu tidak berbeda nyata. Karena itu peneliti menyarankan 4 gram per liter sebagai kadar yang lebih efisien.

Saran itu bertabrakan dengan hasil layu pentil untuk MCC02. Pada klon tersebut, kadar terbaik menekan layu justru 2 gram, bukan 4.

Kesimpulan laporan memuat keduanya berdampingan. MCC02 dengan 4 gram disebut menghasilkan bunga terbanyak, dan MCC02 dengan 2 gram disebut menghasilkan layu pentil paling sedikit.

Mana yang mesti dipakai petani tidak diputuskan. Jawabannya bergantung pada peubah mana yang dianggap paling menentukan hasil panen.

Untuk hama, peneliti justru berhati-hati. Mereka menegaskan data yang ada tidak menunjukkan boron menekan serangan Helopeltis secara langsung.

Angkanya sendiri tidak membentuk pola yang rapi. MCC02 turun dari 13,50 pentil pada kontrol menjadi 1,50 pada kadar 8 gram per liter.

MCC01 bergerak ke arah yang berlawanan. Angka terendahnya 5,12 pada kadar 2 gram, sedangkan tertingginya 13,50 justru pada kadar 8 gram.

Kepadatan populasi hama dan perilaku makannya tidak diukur. Angka layu akibat Helopeltis, tulis mereka, hanya boleh dibaca sebagai keterkaitan di lapangan.

Baca juga Mahasiswa UGM dan Ibaraki Belajar Olah Kakao Jadi Cokelat

Di Mana Penjelasannya Berhenti

Di sinilah penjelasan laporan ini berhenti. Boron terbukti sampai ke jaringan pentil, tetapi berapa kadar jaringan yang ideal tidak ditetapkan.

Status boron tanahnya pun tidak menerangkan keadaan pentil. Blok MCC01 tergolong sedang dengan 0,58 bagian per juta, blok MCC02 tergolong rendah dengan 0,48.

Meski begitu, jaringan pentil kedua klon sama-sama defisien sebelum perlakuan. Peneliti menyimpulkan status tanah tidak sepenuhnya mencerminkan status hara di jaringan reproduktif.

Tabel kadar boron itu hanya memuat tiga nilai ulangan. Rancangannya menyebut lima ulangan, dan selisih itu tidak diterangkan.

Peneliti mencantumkan batas penelitiannya secara terbuka. Mereka menyebut kajian lanjutan diperlukan dengan lebih banyak klon, lingkungan berbeda, dan beberapa musim.

Pengukuran langsung tekanan hama juga disebut perlu. Begitu pula pengukuran sifat fisiologis tanaman, yang belum dikerjakan di penelitian ini.

Posisi yang mereka ambil pun terbatas. Asam borat lewat daun ditempatkan sebagai penunjang pencegahan, bukan penyelesaian tunggal untuk semua penyebab gugurnya pentil.

Kembali ke pohon yang bunganya lebat tadi, sebagian pentilnya tetap akan gugur. Yang ditawarkan penelitian ini bukan menghentikannya, melainkan menggeser angkanya beberapa puluh pentil.

Bagikan

Baca Juga

Stres Kerja Pegawai Pertanian Kirkuk dan Butir yang Hilang
Batin Sembilan, 399 Hektare yang Dipetakan tapi Masih Terbuka
Rambu Solo, Dua Pemimpin Ritual yang Nyaris Tak Dibedakan
Carok Madura, dari Tanah Kapur sampai Pemilihan Kepala Desa
Kesesuaian Lahan Alpukat Taeh Bukik dan Kelas N yang Janggal
156 Atlet Sepak Takraw Pelajar dan Dua Angka yang Berbeda