Cekricek.id — Butir yang paling disetujui pegawai justru ada di bidang yang dinilai paling ringan.
Angkanya 3,80 dari skala lima. Bunyinya, saya merasa tidak dihargai atasan atas usaha saya.
Butir itu masuk bidang tekanan administratif. Bidang tersebut justru menempati urutan terakhir dari tiga bidang yang diukur.
Datanya berasal dari Direktorat Pertanian Kirkuk, Irak. Penelitinya empat orang, dipimpin Ekhlas Thaer Mahmood dari Departemen Ilmu Pangan, Universitas Kirkuk.
Tiga rekannya Ahmed Thwaini Hdoom Al-Salhi dari Universitas Kirkuk, Mahdi Najm Rakhit dari Universitas Karbala, dan Amal Najim Hasan dari Pusat Penelitian Pertanian Baghdad.
Judulnya A Field Study of the Job Stress Faced by Agricultural Employees in the Kirkuk Agriculture Directorate, Iraq. Kata kuncinya stres kerja, pegawai pertanian, layanan penyuluhan, dan pengembangan kapasitas pegawai.
Tulisan itu dimuat AIJANS, jurnal terbitan Universitas Andalas, Volume 6 Nomor 2 tahun 2025, halaman 80 sampai 87. Naskahnya diterima 10 Desember 2025.
Daftar Isi
Tiga Angka Bidang
Populasinya 600 pegawai pertanian di direktorat itu. Sampelnya 18 persen, atau 108 orang, diambil secara acak sederhana.
Alat ukurnya kuesioner lima pilihan jawaban. Nilainya satu sampai lima, dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
Tiga bidang diukur. Ketiganya tekanan personal, tekanan administratif, dan tekanan organisasional.
Rata-rata tertimbang ketiganya berada di 3,06 sampai 3,41. Semuanya di atas rata-rata hipotetik 3, dengan bobot persentase 61,2 sampai 68,2 persen.
Urutan pertama jatuh pada tekanan organisasional. Nilainya 3,41 atau 68,2 persen.
Urutan kedua tekanan personal dengan 3,11 atau 62,2 persen. Urutan ketiga tekanan administratif dengan 3,06 atau 61,2 persen.
Rata-rata umum ketiganya 3,19 atau 63,86 persen. Selisih antara yang tertinggi dan terendah hanya 0,35 poin.
Baca juga Harman Subakat: Pusat Gravitasi Organisasi Itu Manusia
Urutan yang Berbalik
Persoalannya muncul saat butirnya dibuka satu per satu. Dua butir tertinggi di seluruh penelitian ada di bidang yang peringkatnya paling rendah.
Butir tertinggi bernilai 3,80 atau 76 persen. Isinya tentang usaha yang tidak dihargai manajemen.
Butir kedua bernilai 3,78 atau 75,6 persen. Isinya tentang minimnya peluang promosi dan pengembangan profesi.
Keduanya berada di bidang administratif. Bidang itu tetap diberi peringkat terakhir karena rata-rata seluruh butirnya yang paling rendah.
Laporan tidak membahas kejanggalan itu. Tidak ada penjelasan mengapa bidang dengan dua butir terkuat justru disimpulkan paling ringan.
Butir tertinggi di bidang organisasional bernilai 3,76. Isinya tentang sedikitnya peluang mempelajari keterampilan dan pengalaman baru.
Butir tertinggi di bidang personal bernilai 3,68. Isinya tentang upah yang tidak adil.
Ketiga butir puncak itu berdekatan. Selisih antara 3,80 dan 3,68 hanya 0,12 poin.
Butir kedua tertinggi di bidang personal bernilai 3,46. Isinya tentang kesulitan meyakinkan petani atas anjuran pertanian yang disampaikan.
Butir ketiganya bernilai 3,44 dan masih di bidang yang sama. Isinya rasa kecewa karena tidak memperoleh penghargaan yang dianggap layak di tempat kerja.
Di bidang administratif, butir ketiga bernilai 3,60. Isinya penilaian pegawai sendiri bahwa tekanan kerja menurunkan mutu kinerja mereka.
Butir keempatnya bernilai 3,58. Isinya jam kerja panjang yang dinilai memengaruhi kesehatan mental.
Di bidang organisasional, butir kedua bernilai 3,70. Isinya rasa terkekang oleh sejumlah aturan dan instruksi administratif.
Butir berikutnya bernilai 3,68. Isinya sifat pekerjaan yang dinilai tidak memungkinkan pegawai mengambil keputusan berani untuk mengembangkan kerja.
Sepuluh Butir, Bukan Tiga Puluh
Ada satu selisih yang lebih besar lagi di laporan ini. Bagian metode menyebut kuesionernya berisi 30 butir untuk setiap bidang.
Tabel hasilnya menyebut angka lain. Di sana tertulis 10 butir untuk tekanan personal, 10 untuk administratif, dan 10 untuk organisasional.
Tiga tabel itu memang memuat sepuluh baris masing-masing. Jadi yang ditampilkan seluruhnya 30 butir, bukan 90.
Nasib 60 butir sisanya tidak diterangkan. Tidak ada catatan apakah butir itu gugur, digabung, atau memang salah tulis di bagian metode.
Laporan juga tidak melaporkan uji reliabilitas. Tidak ada koefisien alfa maupun ukuran keandalan lain untuk instrumen lima pilihan itu.
Yang diperiksa hanya validitasnya. Kuesioner diserahkan kepada sekelompok ahli bidang penyuluhan pertanian, administrasi bisnis, dan pendidikan.
Analisisnya dijalankan dengan SPSS. Sebelum itu data dikumpulkan, disalin, dan ditabulasi secara manual.
Baca juga Menilai Sekolah Bukan dari Kerapian Dokumen
Kerja Lapangan yang Tak Terukur
Bagian pengantar menyebut watak pekerjaan penyuluh pertanian. Pekerjaan itu disebut berhadapan langsung dengan perubahan iklim dan teknologi pertanian mutakhir.
Ada pula tuntutan waktu yang terikat musim. Tugas tertentu harus selesai pada musim produksi tertentu, tidak bisa digeser.
Kondisi lapangannya ikut disebut berat. Yang dicontohkan paparan cuaca panas atau dingin, lokasi kerja terpencil, dan peralatan yang menuntut perawatan terus-menerus.
Tekanan dari dua arah juga disinggung. Harapan tinggi datang dari manajemen dan dari petani pada saat bersamaan.
Seluruh gambaran itu berada di pengantar. Tidak satu pun darinya masuk menjadi butir yang diukur di ketiga tabel.
Pendekatannya sendiri deskriptif dalam kerangka penelitian survei. Peneliti menyebutnya satu-satunya pendekatan yang memerikan keadaan gejala apa adanya.
Baca juga Burnout Atlet Dayung dan Arah Hubungan yang Tak Ditunjukkan
Alasan Memilih Kirkuk
Pemilihan lokasinya diterangkan terbuka. Kirkuk dipilih karena termasuk provinsi dengan banyak kelompok etnis.
Alasannya disebut jelas. Keragaman itu, tulis peneliti, menuntut pemahaman tentang tekanan yang dihadapi orang dari etnis berbeda.
Persoalannya, etnisitas tidak pernah muncul lagi sesudah itu. Tidak ada satu pun tabel atau kalimat hasil yang membedakan jawaban menurut etnis.
Data responden pun tidak ditampilkan sama sekali. Tidak ada keterangan usia, jenis kelamin, lama bekerja, atau tingkat pendidikan dari 108 orang itu.
Padahal bagian pengantar bersandar pada masa kerja. Di sana disebut pegawai rata-rata menjalani 20 sampai 30 tahun bekerja.
Angka itu diterjemahkan menjadi sekitar 100 ribu jam. Jumlahnya setara sepertiga umur seseorang.
Tanpa data responden, angka itu berdiri sebagai kutipan literatur. Ia tidak bisa dicocokkan dengan pegawai yang benar-benar mengisi kuesioner.
Butir yang Disebut Pembuka, tapi Paling Bawah
Bagian abstrak menyebut lima sumber tekanan paling menonjol. Urutannya ambiguitas peran, minimnya penghargaan, minimnya peluang pengembangan profesi, upah tidak adil, dan harapan tinggi tanpa sumber daya.
Empat di antaranya bisa dilacak ke butir bernilai tinggi. Yang pertama justru tidak.
Butir yang paling dekat dengan ambiguitas peran berbunyi tentang pertentangan antara tugas dan yang diharapkan dari pegawai. Nilainya 2,78 atau 55,6 persen.
Angka itu yang paling rendah di bidang administratif. Artinya butir yang paling sedikit disetujui responden justru diangkat ke abstrak sebagai sumber tekanan menonjol.
Butir lain yang juga rendah ada di bidang personal. Soal minimnya keakraban dengan rekan kerja bernilai 2,65 atau 53 persen.
Di bidang organisasional, butir terendah bernilai 2,89. Isinya tentang perasaan menjadi sasaran atasan di tempat kerja.
Ambiguitas peran memang muncul di laporan, tetapi sebagai penafsiran. Peneliti memakainya untuk menerangkan mengapa tekanan organisasional menempati urutan pertama.
Yang Tidak Dicatat Laporan
Laporan ini tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Tidak ada keterangan tentang batas keberlakuan temuannya di luar Kirkuk.
Rekomendasinya pun bersifat umum. Peneliti meminta penataan ulang struktur organisasi, kejelasan tugas, dan pengurangan tumpang tindih peran.
Ditambah pelatihan untuk pemimpin administratif. Materinya teknik pengelolaan tekanan dan cara memotivasi pegawai.
Program pelatihan lain diusulkan untuk pegawai. Isinya pengelolaan tekanan, pengelolaan waktu, dan penyesuaian terhadap lingkungan kerja.
Ekhlas Thaer Mahmood dan tiga rekannya menyebut akibat yang mereka khawatirkan. Paparan tekanan terus-menerus disebut dapat melemahkan kemampuan pegawai mengambil keputusan yang tepat.
Kemampuan berinovasi ikut disebut menurun. Begitu pula kepatuhan terhadap standar mutu dan keamanan pertanian.
Rekomendasi lain menyangkut jalur komunikasi. Peneliti meminta hubungan antara pimpinan dan pegawai diperbaiki serta lingkungan kerja dibuat lebih mendukung.
Ketiganya tidak diukur di dalam penelitian ini. Yang diukur hanya persepsi pegawai atas tekanan, bukan keputusan atau mutu kerjanya.
Penyuluhan pertanian sendiri diposisikan sebagai penggerak utama. Peneliti menyebut pegawainya sebagai tenaga manusia yang memutar roda produksi pertanian.
Mutu lembaganya disebut menentukan mutu hasilnya. Pengelolaan yang tidak efektif, tulis mereka, langsung berpengaruh pada keluaran unit penyuluhan.
Karena itu penelitian ini diposisikan sebagai kebutuhan praktis. Tujuannya menyusun usul yang memperbaiki kondisi kerja dan menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Selisih 0,35 poin antara bidang tertinggi dan terendah itu yang menyusun seluruh peringkatnya. Dari selisih sekecil itu, laporan menyimpulkan mana tekanan yang paling penting.














