Daftar Isi
Cekricek.id — Sultan Fadhly Abdullah berhenti pada angka 44. Ia mulai dengan 200 artikel yang ditarik dari Google Scholar memakai aplikasi Publish or Perish, lalu menyingkirkan satu per satu yang tidak menjawab pertanyaannya. Yang tersisa 44 artikel. Dari tumpukan itulah peneliti Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta tersebut menyusun satu usul: cara Indonesia menilai kinerja sekolah perlu diubah. Pertanyaannya ada tiga, dan ketiganya berpangkal pada satu keraguan yang sama: apakah instrumen yang dipakai hari ini benar-benar mengukur kemampuan sekolah berubah.
Ia tidak bekerja sendirian. Bersama Teguh Trianung Djoko Susanto dan Siti Zulaikha dari fakultas yang sama, Abdullah menulis Integrating the Concept of Dynamic Capabilities to Strengthen School Performance Assessment Indicators: A Systematic Literature Review. Artikel itu terbit di JAKP, Jurnal Administrasi dan Kebijakan Publik, Volume 11 Nomor 1 tahun 2026, halaman 67 sampai 80. Naskahnya masuk redaksi pada 20 Februari 2026 dan diterima pada 12 April 2026. Bentuknya tinjauan pustaka sistematis yang digabung dengan analisis bibliometrik, sebuah cara membaca ratusan tulisan sekaligus untuk melihat ke mana sebuah bidang bergerak.
Yang mengganggu ketiganya sederhana saja. Penilaian kinerja sekolah di Indonesia, tulis Abdullah bersama dua rekannya, sampai hari ini masih berkutat pada pemeriksaan dokumen dan kepatuhan terhadap Standar Nasional Pendidikan lewat akreditasi Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah. Sekolah yang berkasnya rapi tercatat baik. Sekolah yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan kebijakan belum tentu terbaca sama sekali. Tuntutan terhadap sekolah sudah bergeser, tulis mereka, sejak Kurikulum Merdeka dijalankan dan teknologi pendidikan berkembang lebih cepat daripada instrumen yang menilainya.
Menyaring 200 Judul Menjadi 44

Penyaringannya bertahap dan Abdullah mencatat angkanya. Dari 200 artikel awal, 71 judul dibuang karena tidak relevan, sehingga tersisa 129. Pada tahap penyaringan berikutnya 43 artikel gugur karena tidak berbicara tentang penilaian kinerja sekolah maupun kapabilitas dinamis, dan tersisa 86. Pada tahap kelayakan 42 artikel lagi dikeluarkan. Empat puluh empat artikel terakhir itulah yang masuk sintesis. Kata kunci pencariannya disusun berpasangan oleh Abdullah, mulai dari kapabilitas dinamis dan manajemen sekolah sampai penilaian kinerja sekolah dan mutu pendidikan.
Batas yang dipasang Abdullah cukup ketat. Hanya dokumen terbitan 2010 sampai 2025, hanya berbahasa Indonesia dan Inggris, dan hanya yang teks penuhnya bisa diunduh. Berita, laporan lembaga, dan tulisan opini dikeluarkan sejak awal. Alur penyaringannya mengikuti kerangka PRISMA 2020, panduan pelaporan yang lazim dipakai pada tinjauan pustaka sistematis di banyak bidang. Tulisan yang hanya membahas budaya organisasi tanpa kaitan dengan keberlanjutan atau penilaian kinerja ikut dikeluarkan Abdullah dari daftar.
Baca juga Ketika Puisi Nizar Qabbani Pindah ke Instagram Reels
Sebaran tahunnya bercerita sendiri. Dari 44 artikel itu, sembilan artikel atau 20 persen terbit pada 2010 sampai 2015, dua belas artikel atau 27 persen pada 2016 sampai 2019, dan 23 artikel atau 53 persen pada 2020 sampai 2025. Lonjakan terakhir itu dibaca Abdullah sebagai jejak digitalisasi pendidikan dan pandemi Covid-19, ketika sekolah dipaksa berubah cepat. Pada 2010 sampai 2015 tulisan semacam ini masih umum dan jarang menyentuh sektor pendidikan; barulah pada 2016 sampai 2019 arahnya bergeser ke inovasi pendidikan dan manajemen perubahan.
Peta kata kuncinya dibuat dengan perangkat lunak VOSviewer dan hasilnya hanya satu klaster. Bagi Abdullah, satu klaster berarti bidang ini belum pecah menjadi banyak cabang; kajiannya masih muda. Hampir separuh sumbernya pun bukan dari dunia pendidikan. Dua puluh dari 44 artikel, atau 45 persen, berasal dari literatur manajemen bisnis dan teknologi. Dari sisi metode, 21 artikel atau 48 persen memakai pendekatan kualitatif, 14 artikel atau 32 persen kuantitatif, dan sembilan artikel sisanya campuran, bibliometrik, atau berbasis model.
Tiga Kata yang Dipinjam dari Teece
Istilah yang dipinjam Abdullah memang lahir jauh dari ruang kelas. Pada 1997, Teece, Pisano, dan Shuen merumuskan kapabilitas dinamis sebagai kemampuan organisasi menghadapi lingkungan yang terus berubah, dengan tiga kerja pokok. Sensing, kemampuan mengendus peluang dan ancaman. Seizing, kemampuan menangkap peluang yang sudah terlihat. Reconfiguring, kemampuan menata ulang sumber daya sendiri ketika keadaan bergeser. Bagi Teece dan dua rekannya, ketiganya adalah tanda organisasi yang belajar terus-menerus, bukan organisasi yang sekadar bertahan pada cara lama.
Bukti bahwa tiga kerja itu berpengaruh justru datang dari luar sekolah. Zhou dan rekan-rekannya, lewat kajian kuantitatif atas 204 perusahaan di Tiongkok yang terbit pada 2019, menemukan kapabilitas dinamis berpengaruh terhadap kinerja organisasi dengan inovasi sebagai perantara. Drnevich dan Kriauciunas, delapan tahun sebelumnya, menyimpulkan sumbangan itu paling terasa di lingkungan yang cepat berubah. Keduanya meneliti perusahaan, bukan sekolah, dan Abdullah tidak menutupi jarak itu ketika memindahkan temuannya ke ruang pendidikan.
Yang paling dekat dengan dunia pendidikan datang dari Riyadi dan timnya pada 2025. Lewat tinjauan atas 127 artikel internasional dalam kajian berjudul “Orchestrating Strategic Innovation for Educational Institution Resilience: A Dynamic Capabilities-Based Framework”, mereka menyimpulkan inovasi strategis di lembaga pendidikan tidak berhenti pada cara mengajar. Tata kelola dan teknologi ikut menentukan daya tahan lembaga. Hanya 18 dari 44 artikel yang dibaca Abdullah memang berpijak pada organisasi pendidikan seperti sekolah dan kampus; sisanya harus diterjemahkan lebih dulu sebelum dipakai.
Baca juga Ketimpangan Perempuan Jawa Bukan Kodrat Budaya
Eikelenboom dan De Jong menambahkan sisi lain lewat penelitian kualitatif pada 2018. Keduanya menunjukkan bagaimana kapabilitas dinamis membentuk strategi mengajar pada masa krisis: metode dan kurikulum disesuaikan ketika keadaan berubah. Bagi Abdullah, kemampuan semacam itulah yang tidak tertangkap instrumen penilaian yang kerjanya menghitung kelengkapan berkas. Sekolah yang mengganti metode mengajar di tengah keadaan darurat tidak memperoleh nilai tambahan dari instrumen mana pun yang berlaku sekarang.
Apa yang Luput dari Akreditasi
Di Indonesia, keberatan serupa sudah pernah ditulis orang lain. Soeparto pada 2021 dan Malik bersama timnya pada 2025 sama-sama menemukan penilaian kinerja sekolah berbasis Standar Nasional Pendidikan dan instrumen akreditasi masih bersifat administratif. Malik dan rekan-rekannya menilai standar itu belum menangkap kemampuan sekolah menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan dan kebutuhan masyarakat sekitarnya. Baik Soeparto maupun Malik tidak mengusulkan akreditasi dihapus; keduanya menyebut akreditasi tetap penting untuk menjaga akuntabilitas dan standar mutu kelembagaan.
Angka yang dikumpulkan Abdullah sejalan dengan keberatan tersebut. Dari 44 artikel yang ia baca, 14 artikel atau 32 persen menyoroti keterbatasan model penilaian yang terlalu normatif. Sebanyak 30 artikel atau 68 persen mendorong model baru yang bersandar pada kapabilitas dinamis, pembelajaran organisasi, dan inovasi sekolah. Seluruh 44 artikel membicarakan sensing, seizing, dan reconfiguring sekaligus. Enam belas artikel atau 36 persen berbicara tentang kinerja organisasi dan sekolah, dan 14 artikel lagi menyoroti ketahanan serta pembelajaran organisasi.
Cui, lewat kajian konseptual pada 2025, menegaskan pentingnya kapabilitas dinamis bagi keberlanjutan organisasi di lingkungan yang tidak menentu. Jemmy dan timnya pada tahun yang sama memberi sandaran teoretis tambahan. Dari dua rujukan itu Abdullah menarik satu usul: dimensi keberlanjutan perlu masuk ke dalam penilaian sekolah, lewat manajemen pengetahuan dan inovasi berbasis teknologi. Keberlanjutan yang dimaksud Cui bukan soal lingkungan hidup, melainkan kemampuan sebuah lembaga bertahan dan tetap bermutu ketika keadaan di sekelilingnya berubah.
Baca juga Larangan Ibu Suliyah yang Berakhir di Atas Kanvas
Sekolah yang dibayangkan Abdullah bukan sekolah yang sekadar menjalankan aturan. Ia menyebutnya organisasi pembelajar yang mengantisipasi perubahan, menangkap peluang perbaikan mutu, lalu menata ulang sumber dayanya secara berkelanjutan. Perbedaannya dengan sekolah yang hanya patuh terletak pada waktu: yang satu bergerak sebelum aturan berganti, yang lain menunggu sampai instrumen penilaian datang. Perbedaan itu sulit terlihat dari luar pagar sekolah, tetapi menurut Abdullah justru di situlah letak mutu yang selama ini luput dicatat.
Model yang Belum Menyentuh Ruang Kelas
Model yang disusun Abdullah bertumpu pada tiga dimensi tadi. Sensing dipakai untuk menilai kepekaan sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan nasional. Seizing untuk menilai keberanian sekolah mengambil peluang perbaikan mutu. Reconfiguring untuk menilai kemampuan menata ulang sumber daya, mulai dari penugasan guru sampai anggaran, ketika keadaan berganti di tengah tahun ajaran. Ketiganya tidak dimaksudkan Abdullah untuk menggantikan indikator mutu yang sudah ada, melainkan ditumpangkan di atasnya sebagai lapisan penilaian tambahan.
Romansyah lewat penelitian kuantitatif pada 2019 menunjukkan kepemimpinan strategis berpengaruh terhadap keunggulan lembaga pendidikan dengan kapabilitas dinamis sebagai perantara. Dari tulisan yang sama, Abdullah mengambil rincian Zitkiene tentang lima dimensi pendorong inovasi layanan berkelanjutan: sensing, seizing, reconfiguring, learning, dan transforming. Dua dimensi terakhir itu yang paling jarang muncul dalam instrumen resmi. Learning dan transforming menuntut bukti berupa proses yang berjalan, sesuatu yang sulit ditunjukkan lewat berkas yang dikumpulkan menjelang penilaian.
Batas pekerjaan ini jelas dan Abdullah tidak menyembunyikannya. Seluruh kerja tim itu berhenti pada sintesis pustaka. Pencariannya hanya menyentuh satu pangkalan data, hanya dua bahasa, dan hanya dokumen yang teks penuhnya terbuka. Modelnya belum diuji di satu sekolah pun, termasuk di sekolah menengah atas negeri di Jakarta Selatan yang disebut sebagai latar keresahan awal penelitian ini. Google Scholar dipilih karena cakupannya luas untuk terbitan nasional maupun internasional, tetapi satu pangkalan data tetap satu pangkalan data.
Ada satu hal lagi yang perlu ditahan. Bahwa 30 dari 44 artikel mendorong model adaptif tidak dengan sendirinya membuktikan model itu bekerja di sekolah Indonesia. Angka tersebut menunjukkan ke mana percakapan akademik bergerak, bukan hasil pengukuran di ruang kelas. Abdullah, Susanto, dan Zulaikha pun menempatkannya sebagai usul, bukan sebagai temuan lapangan. Hubungan yang ditemukan Zhou pada 204 perusahaan di Tiongkok pun sebatas hubungan antarvariabel, bukan jaminan hasil yang sama di sekolah negeri Indonesia.
Abdullah menutup artikelnya tanpa satu pun data sekolah. Yang ia bawa pulang dari 44 artikel itu bukan bukti, melainkan seperangkat indikator yang menunggu diuji, di sekolah-sekolah yang selama ini dinilai dari kerapian mapnya, bukan dari kecepatannya berubah.















