Larangan Ibu Suliyah yang Berakhir di Atas Kanvas

A A

Sungai Brantas yang membatasi Kecamatan Jatikalen, Nganjuk, dan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. [Foto: Wikimedia Commons, Public domain]

Cekricek.id — Ibu Suliyah menyebut larangan itu seperti orang menyebut alamat rumah sendiri, tanpa perlu berpikir dulu. Pada 19 September 2024, di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, ia mengucapkannya kepada Ari Kurniawan yang datang membawa alat rekam: “bocah cilik aja dolanan Kali Brantas, mundhak banyune amber.” Anak kecil jangan bermain di Sungai Brantas, karena airnya meluap dan keruh. Kalimat itu tidak pernah ditulis siapa pun di rumahnya, tetapi Suliyah hafal, dan menurut pengakuannya ia mendengarnya dari orang tuanya jauh sebelum ia sendiri punya anak.

Ari Kurniawan adalah mahasiswa Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Bersama Yayan Suherlan dan Achmad Nur Kholis, ia menulis artikel Exploring Gugon Tuhon Meaning in ‘Playing in the Brantas River’ as Life Wisdom in Tulungagung yang terbit di Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, Volume 27 Nomor 1, tahun 2025. Yang ia kerjakan bukan sekadar mencatat larangan itu, melainkan memindahkannya ke atas kanvas berukuran 110 x 80 sentimeter.

Daftar Isi
  1. Dua Kalimat yang Dicatat dari Dua Perempuan
  2. Naskah Terbitan 1911 dan Satu Kabar Kematian
  3. Memindahkan Larangan ke Kanvas 110 x 80 Sentimeter
  4. Yang Belum Bisa Dibuktikan Lukisan Itu

Dua Kalimat yang Dicatat dari Dua Perempuan

Ilustrasi seorang perempuan lanjut usia duduk di teras rumah yang dikelilingi tanaman.
Ilustrasi seorang perempuan lanjut usia duduk di teras rumah yang dikelilingi tanaman. [Foto: Pexels]

Larangan yang didengar Ari Kurniawan tidak tunggal. Pada 7 Desember 2024, hampir tiga bulan sesudah wawancara pertama, ia mencatat versi lain dari Ibu Musir: “bocah cilik aja sok dolanan menyang kali Brantas, mengko iso ilang.” Anak kecil jangan bermain-main ke Sungai Brantas, nanti bisa hilang. Dua kalimat itu memakai pembuka yang sama dan berpisah pada ancamannya. Suliyah menyebut air yang meluap dan keruh, sesuatu yang bisa dilihat siapa pun yang berdiri di tepi sungai. Musir menyebut hilang, kata yang tidak menjelaskan apa-apa dan justru karena itu paling ditakuti anak-anak.

Dalam khazanah Jawa, kalimat semacam itu disebut gugon tuhon. Padmosoekotjo, yang dikutip Ari Kurniawan dan dua rekannya, menjelaskan istilah ini merujuk pada petuah yang diyakini memiliki kekuatan tertentu meski kekuatan itu abstrak dan sukar dibuktikan. Asal katanya sederhana: gugu berarti dipercaya, tuhu berarti benar atau sungguh-sungguh. Yang dipercaya, dalam hal ini, bukan penjelasannya melainkan orang yang mengucapkannya. Suliyah tidak pernah menerangkan hidrologi Sungai Brantas kepada cucunya. Ia hanya melarang, dan larangan itu berlaku.

Subalidinata, rujukan lain dalam artikel itu, membagi gugon tuhon menjadi tiga jenis. Ada yang berupa pedoman yang harus dipercayai dalam hubungan orang tua dan anak, ada yang berisi nasihat moral terselubung dan disampaikan dengan nada larangan agar anak menjauhi sesuatu yang dianggap tidak baik, ada pula yang berupa pantangan keras beserta akibat buruknya. Kalimat Suliyah dan Musir masuk jenis pertama. Keduanya berdiri di atas otoritas orang tua, bukan di atas bukti, dan keduanya berhenti tepat sebelum menjelaskan.

Baca juga Tarik-Menarik Hutan Nagari Sumbar Sejak 1967

Cara Ari Kurniawan mendekati kalimat-kalimat itu ikut menentukan apa yang ia dengar. Ia memakai pendekatan fenomenologi, yang menaruh perhatian pada makna sebuah pengalaman menurut orang yang mengalaminya, bukan pada benar atau salahnya larangan tersebut. Datanya dikumpulkan lewat observasi, wawancara, dokumentasi, dan penelusuran pustaka, lalu disilangkan satu sama lain agar keterangan Suliyah dan Musir tidak berdiri sendirian. Primadasa, yang dikutip dalam artikel itu, menelaah gugon tuhon sebagai cara keluarga Jawa menurunkan nilai dan menjaga perilaku anak sejak usia dini.

Naskah Terbitan 1911 dan Satu Kabar Kematian

Dari beranda rumah dua perempuan itu, Ari Kurniawan bergerak ke arah yang berlawanan: ke arsip. Sumber pustaka utamanya adalah Serat Gugon Tuhon karya Raden Prawira Winarsa, yang pertama kali diterbitkan di Yogyakarta pada 1911, mula-mula dalam aksara Jawa. Naskah itu kemudian dialihaksarakan Yayasan Sastra Lestari sebagai bagian dari program digitalisasi sastra daerah, dan kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan kode koleksi NB 689. Larangan yang diucapkan Suliyah, dengan kata lain, sudah punya kerabat tertulis berumur lebih dari seabad.

Yang membuat larangan itu tidak berhenti sebagai takhayul adalah keadaan sungainya sendiri. Hartatik dan Wasino, yang dirujuk Ari Kurniawan, mencatat Tulungagung berupa lembah rendah yang dikepung pegunungan, terbentuk oleh pengangkatan Bukit Kapur Selatan dari dasar laut, dan bentang itu membuat aliran Sungai Brantas di kawasan tersebut berperangai tidak biasa. Arus bisa berubah tanpa aba-aba. Larangan orang tua zaman dulu berdiri di atas kenyataan geologis yang tidak pernah mereka sebut namanya.

Bukti terbarunya datang dalam bentuk yang paling tidak diinginkan siapa pun. Artikel itu mengutip laporan tentang seorang remaja berusia 13 tahun yang meninggal setelah tenggelam di aliran Sungai Brantas saat bermain dan berenang di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, pada 2024. Peristiwa semacam itu, tulis Ari Kurniawan dan kedua rekannya, berulang sejak lama dan justru dari keberulangan itulah larangan tadi lahir. Bahaya yang dimaksud pun tidak hanya arus: ular, biawak, dan buaya hidup di sekitar sungai, begitu pula tanaman yang bisa melukai kulit.

Baca juga Daun yang Digesek Jadi Motif Kain di Gorontalo

Persoalannya, penutur seperti Suliyah dan Musir semakin sedikit didengar. Ari Kurniawan menempatkan surutnya minat anak-anak dan anak muda pada petuah semacam ini sebagai alasan utama kajiannya, dan dari situ ia mencari jalan lain untuk menyampaikannya. Bukan lewat lisan, karena rantai lisannya sedang putus. Bukan pula lewat buku pelajaran. Ia memilih seni lukis, media yang menurut Himawan menyimpan potensi sebagai sarana ekspresi sekaligus pelestarian nilai tradisi dalam kehidupan sosial budaya modern.

Memindahkan Larangan ke Kanvas 110 x 80 Sentimeter

Tahap berikutnya membuat Ari Kurniawan berpindah peran, dari pewawancara menjadi pelukis. Konsep dan sketsanya disusun lebih dulu, lalu dikonsultasikan kepada dosen pembimbingnya. Dari konsultasi itu keluar satu perubahan yang kelihatan sepele tetapi menentukan: ban karet yang semula dipakai anak-anak dalam sketsa diganti menjadi rakit bambu. Alasannya bukan estetika semata. Rakit bambu, menurut rujukan yang dipakai, menyimpan makna hubungan masyarakat dengan tradisi setempat, sedangkan ban karet menyeret lukisan itu ke zaman yang salah.

Sketsa yang disetujui dipindahkan ke kanvas dengan bantuan garis berskala atau grid, teknik yang menurut kajian Bessy dan Zaini terbukti lebih menjaga ketepatan anatomi dan proporsi dibanding menggambar bebas. Ari Kurniawan menariknya dengan pensil warna tipis supaya garisnya tidak berbekas ketika terkena air. Pewarnaan dikerjakan bertahap: langit dan pepohonan lebih dulu, disusul bunga, aliran sungai, rakit bambu, rumput, bebatuan, lalu hewan, dan objek utama paling akhir. Seluruh proses, termasuk penggalian datanya, menghabiskan waktu satu bulan.

Hasilnya bukan lukisan yang muram. Warnanya justru menyala, oranye, hijau, ungu, merah muda, dengan gaya yang berutang pada pop surealisme dan ilustrasi kartun. Seorang anak digambarkan bermain air, buaya mengintai di balik rimbun tanaman, ular melingkar di antara dedaunan, dan bintang-bintang kecil ditaburkan untuk menghadirkan kesan magis. Ari Kurniawan menempatkan bahaya dan keceriaan dalam satu bidang gambar, dan itulah taruhan karyanya: bahaya yang terlihat ramah tetap harus terbaca sebagai bahaya.

Baca juga Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati

Pilihan gaya itu bertumpu pada tradisi lain yang sudah lama dipakai orang tua Jawa, yakni menitipkan pelajaran pada binatang. Syafutri dan Hidayati, yang dikutip dalam artikel tersebut, menyebut cerita fabel cocok dipakai menanamkan pendidikan karakter pada anak karena sifat manusia diperankan hewan. Buaya dan ular dalam lukisan Ari Kurniawan bekerja dengan cara serupa. Keduanya bukan sekadar penghuni sungai, melainkan wujud dari kata “hilang” yang diucapkan Ibu Musir tanpa penjelasan.

Yang Belum Bisa Dibuktikan Lukisan Itu

Di titik inilah kajian tersebut perlu dibaca dengan takaran. Ari Kurniawan dan dua rekannya menyimpulkan lukisan itu efektif sebagai media komunikasi visual dan sarana edukasi bagi generasi muda, tetapi laporan mereka tidak memuat satu pun pengujian terhadap anak-anak yang menjadi sasaran pesannya. Yang mereka kerjakan adalah wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka atas satu karya di satu kabupaten. Kesimpulan tentang keefektifan itu, dengan demikian, masih berupa penilaian pembuat karyanya sendiri, bukan hasil pengukuran penerimaan.

Batas lainnya melekat pada cakupannya. Satu lukisan tidak mewakili seni rupa Indonesia, dan gugon tuhon Tulungagung tidak mewakili seluruh gugon tuhon Jawa; Ari Kurniawan sendiri mencatat tiap wilayah punya cerita larangan yang berbeda-beda. Himawan, yang dikutip dalam artikel itu, memang menilai seni lukis berpotensi besar melestarikan nilai tradisi dalam kerangka sosial budaya modern, sementara Kurwidaria dan rekan-rekannya menemukan gugon tuhon mengandung nilai-nilai yang menopang pendidikan karakter. Potensi dan bukti adalah dua hal yang berlainan.

Ibu Suliyah tidak melihat lukisan itu ketika ia mengucapkan larangannya pada September 2024. Ia hanya menyebut satu kalimat yang sudah lama ia hafal, kepada seseorang yang tidak ia kenal sebelumnya, tentang sungai yang airnya bisa naik tanpa memberi tahu. Kalimat itu kini tergantung dalam bentuk lain, dengan warna oranye dan seekor buaya yang tersenyum, di ruang yang jauh dari tepi Brantas.

Bagikan

Baca Juga

Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh
Kampung Pitu dan Pantangan Tujuh Kartu Keluarga
Arsip Lahar Marapi dan Peringatan dari Nagari
Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa
Senenan, Turnamen Tombak Bambu Sebelum Ada Kuda
Petani Porang Ngrayun Menanam Tanpa Menyebut Etika