Senenan, Turnamen Tombak Bambu Sebelum Ada Kuda

A A

Relief prajurit di Candi Panataran dalam foto Isidore van Kinsbergen. [Foto: Isidore van Kinsbergen/Wikimedia Commons, domain publik]

Cekricek.id — Orang cenderung membayangkan tradisi sebagai benda yang diwariskan utuh, sesuatu yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa kehilangan bentuk, sehingga adu ketangkasan berkuda di alun-alun nyaris otomatis dibaca sebagai warisan keraton yang tua dan murni. Catatan tertua yang kita punya tentang turnamen itu justru mengatakan hal lain, dan mengatakannya dengan cukup kasar: pada mulanya tidak ada kuda, tidak ada pelana beludru, dan tidak ada ujung tombak yang sengaja ditumpulkan. Yang ada adalah bambu runcing, dua laki-laki yang saling maju, dan para istri yang berdiri di antara mereka sambil memegang tongkat.

Rekonstruksi itu disusun Mahathelge Ahmad Supriyanto, alumnus Magister Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, dalam artikel Turnamen Senènan, Sebuah Legitimasi Budaya Era Majapahit yang dimuat jurnal ARNAWA, Volume 4 Nomor 1, tahun 2026. Ia melacak satu tradisi yang hari ini nyaris tidak punya tempat dalam percakapan publik, memakai metode sejarah yang dibantu linguistik, paleografi, arkeologi, dan antropologi, lalu bersandar pada satu sumber yang sama sekali bukan sumber Jawa: catatan seorang penerjemah Tionghoa yang ikut rombongan Zheng He ke Jawa pada awal abad kelima belas, ditulis oleh orang yang datang, melihat sebentar, dan pulang.

Penerjemah itu bernama Ma Huan, tokoh terpelajar pada masa Dinasti Ming yang ikut dalam tiga ekspedisi Zheng He dan mencatat apa saja yang ia temui di tiap tempat. Persoalannya, naskah asli Ma Huan dari tahun 1451 sudah hilang, dan yang tersisa hanya tiga salinan dengan mutu berbeda, salah satunya dinilai buruk karena banyak penomoran halaman yang salah serta kosakata yang menyimpang. Supriyanto memilih bersandar pada teks komposit susunan Feng Ch’eng-chün, yíng yái-shèng lǎn, yang dianggapnya paling mudah dipahami. Jarak antara peristiwa dan pembacanya, dengan kata lain, sudah berlapis sejak awal.

Daftar Isi
  1. Yang Dicatat Orang Asing
  2. Bambu, Kuda, dan Ujung yang Ditumpulkan
  3. Tontonan yang Berpindah Penonton
  4. Warisan yang Tidak Utuh

Yang Dicatat Orang Asing

Relief kala di Candi Panataran.
Relief kala di Candi Panataran. (Foto: Michael Gunther/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Ma Huan dan rombongannya menyinggahi empat kota besar di Jawa: Tu-pan atau Tuban, Ko-Erh-hsi atau Gresik, Su-lu-ma-i atau Surabaya, dan terakhir Man-che-po-i, tempat pimpinan negeri Jawa tinggal. Yang ia catat sebagian besar adalah hal-hal biasa. Padi di sawah panen dua kali setahun dengan butir yang cukup kecil, dan padi itu diekspor ke Malaka, Palembang, Jambi, serta Maluku untuk ditukar dengan rempah. Tiap keluarga punya ruang bata di dalam tanah setinggi tiga atau empat ch’ih yang disebut t’u k’u, tempat menyimpan barang keluarga, dan mereka tinggal di atasnya. Dari kata itulah, menurut rujukan yang dipakai Supriyanto, kata toko sampai ke bahasa kita.

Baca juga Jemparingan dan Jejak Panahan Jawa Sebelum Islam

Di antara katalog burung beo lima warna, rusa putih, dan monyet putih itu muncul satu hal yang membuat Ma Huan cukup tertarik, dan ia menuliskannya lebih rinci daripada yang lain. Setahun sekali, pada bulan kesepuluh yang menjadi awal musim hujan, digelar turnamen tombak bambu. Permaisuri naik kereta pagoda setinggi lebih dari sepuluh kaki, berjendela di semua sisi dan berporos putar di bawahnya, ditarik kuda; raja mengikuti di belakang dengan kereta biasa. Di lokasi turnamen, barisan dibentuk di kedua sisi. Setiap orang membawa tombak bambu tanpa ujung besi, tetap sangat keras dan lancip. Setiap petarung membawa istri atau selirnya.

Aba-aba diberikan lewat genderang yang berdetak cepat atau lambat. Dua laki-laki maju, bertarung sebanyak tiga kali, lalu istri atau selir yang berdiri di antara mereka memisahkan keduanya dengan tongkat sepanjang tiga kaki sambil berseru na-rah, na-rah, yang berarti tarik mereka kembali. Yang membuat adegan ini berat bukan bambunya, melainkan aturan sesudahnya: bila seorang petarung terluka sampai tewas, raja memerintahkan pemenang membayar ganti rugi satu takaran emas, dan janda korban dijadikan istri sang pemenang. Ma Huan mencatat pula bahwa di Tiongkok pada masa itu ada turnamen mirip bernama Na-tsse-ki, lengkap dengan istri-istri yang dipersenjatai tongkat.

Sebuah pertarungan yang bisa menewaskan orang sekaligus memindahkan seorang perempuan dari satu rumah ke rumah lain sulit disebut sekadar hiburan, dan di titik inilah kerangka budaya yang dipakai Supriyanto mulai bekerja. Antropolog Roger M. Keesing memahami budaya sebagai sistem ideational, yaitu “berbagai sistem ide yang dimiliki bersama, konsep, aturan, dan makna yang diekspresikan dalam pola kehidupan manusia”. Sebelum itu, antropolog E.B. Tylor menjelaskan budaya sebagai kesatuan kompleks yang mencakup kepercayaan, seni, pengetahuan, nilai moral, hukum, adat, serta kebiasaan yang dimiliki seseorang sebagai anggota masyarakat. Turnamen itu masuk hitungan justru karena ia berulang, terjadwal, dan punya aturan yang disepakati bersama.

Bambu, Kuda, dan Ujung yang Ditumpulkan

Majapahit runtuh, dan kronogram sirna ilang kretaning bumi menandai tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi sebagai akhirnya. Turnamennya tidak ikut runtuh. Catatan tua berikutnya datang dari Jacob Corneliszoon van Neck, perwira angkatan laut sekaligus penjelajah Belanda yang memimpin ekspedisi kedua ke Jawa, yang singgah di Tuban dan menyaksikan turnamen Senènan beberapa kali digelar untuk menghibur orang asing yang hadir, termasuk rombongannya sendiri. Dalam catatan itu turnamen sudah memakai kuda, dengan pelana beludru dan kulit Spanyol berhias jambul ganda, dan para bangsawan Tuban selalu membawa keris di pinggang mereka.

Baca juga Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera

Pertanyaan yang paling ingin diajukan pembaca justru yang paling tidak bisa dijawab. Supriyanto menyatakan terus terang bahwa tidak diketahui apakah peraturan turnamen berkuda yang dilihat van Neck itu sama dengan Senènan pada era Majapahit, dan sumber yang tersedia memang tidak memungkinkan perbandingan sedetail itu. Yang bisa dibaca tinggal permukaannya: gamelan tampak mengiringi turnamen dalam ilustrasi catatan tersebut, dan tombaknya kemudian berujung tumpul. Pada 1622 kegiatan serupa tercatat di wilayah kerajaan Mataram dan digelar hari Sabtu, dan pada abad ketujuh belas turnamen ini juga diadakan di Banten.

Tontonan yang Berpindah Penonton

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, jadwal turnamen justru berubah menjadi semacam peta kekuasaan kecil. Di banyak permukiman Jawa, tiap hari Senin penduduk mengadakan permainan di alun-alun sekaligus menunjukkan keterampilan menunggang kuda dan memamerkan kuda-kuda terbaik mereka. Di kediaman Susuhunan Solo, pertandingan digelar hari Sabtu dan penyebutannya menjadi Sabtoean, dengan residen diundang hadir. Di tanah Adipati Pangeran Ario Mangkoe Negoro, harinya Selasa. Gamelan dimainkan di alun-alun di depan kediaman bupati pada hari-hari itu, dan turnamen serupa juga berlangsung di Magelang, Salatiga, Cirebon, sampai Padang.

Willem Theodorus Gevers Deynoot, politisi kerajaan Belanda, mencatat pada 1862 bahwa ia hadir di acara Senènan pada sore hari di Alon-Alon Magelang, acara itu diikuti beberapa tokoh bumiputra, dan digelar untuk Gubernur Jenderal yang akan hadir. Catatan semacam ini membuat pertanyaan tentang siapa yang menonton dan untuk siapa tontonan itu disusun menjadi tidak sepele. Turnamen yang di zaman Ma Huan dibuka oleh permaisuri di atas kereta pagoda, beberapa abad kemudian dijadwalkan menyesuaikan kunjungan pejabat kolonial, tanpa bentuk luarnya berubah terlalu banyak.

Gambaran paling rinci datang dari Perelaer Michael Theophile Hubert, penulis kerajaan Belanda yang menyaksikan Senènan di Salatiga. Pukul setengah empat sore orang mulai berbondong menuju alun-alun, dan suasananya ia bandingkan dengan Rampokkan Macan. Sekitar dua puluh penunggang berbaris rapi dengan perlengkapan perang: pemuda-pemuda Jawa dari keturunan bangsawan, dada tanpa baju yang diolesi boreh, kepala bertopi kecil tanpa tepi, sarung diikat ikat pinggang, celana sempit yang bagian bawahnya diikat pita di sekitar kaki, dan kaki tanpa alas di dalam sanggurdi. Tali kekang tidak diikat dengan tali, melainkan dengan batang besi bercincin. Semua bersenjata tombak berujung tumpul.

Aba-aba datang dari salah satu tokoh penting bumiputera yang bertindak sebagai tuan rumah atas nama Susuhunan yang tidak hadir. Dua penunggang mendekati tribun berdampingan, mengaitkan tali kekang pada kait yang sengaja dipasang di ikat pinggang, memacu kuda, lalu memegang tombak dengan kedua tangan untuk menjatuhkan lawan dari pelana. Kadang kuda tidak lagi merasakan tali kekang dan berlari liar. Ada pula adegan lucu memakai kuda gladdakh, ras terendah di Jawa saat itu, yang diikatkan boneka-boneka mengerikan lalu dilarikan menerobos ke antara penonton. Sore itu tidak seorang pun berhasil menjatuhkan lawannya dari pelana.

Baca juga Hikayat Sultan Mughul dan Kunci yang Hilang

Setelah pertarungan usai, para penunggang turun, mendekati tribun, membentuk setengah lingkaran, dan duduk bersila di atas tikar yang dibentangkan di tanah, dengan para pengikut duduk bersila di belakang mereka membawa payung matahari yang terbentang. Mereka tetap di sana sampai orang utusan Sunan menyampaikan beberapa kata dalam bahasa Jawa, lalu masing-masing membungkuk, menyampaikan salam hormat, berdiri, dan pergi. Dalam gambaran itu tidak ada pemenang yang diumumkan, tidak disebut emas yang berpindah tangan, dan tidak disebut janda yang diserahkan kepada siapa pun.

Warisan yang Tidak Utuh

Sebagian dari turnamen ini akhirnya tersisa sebagai benda di lemari koleksi. Tjékatakan, gagang pelana kuda dari kayu cokelat dengan emboss perak berbentuk bunga dan daun pada mika hijau serta hiasan bintang-bintang perak, tercatat berasal dari Jawa Timur. Songga wedi, sanggurdi tembaga dan kuningan sepanjang sebelas sentimeter, berasal dari Situbondo. Ambèn, sabuk pinggang flanel merah berkait besi berukuran sembilan kali seratus delapan puluh dua sentimeter, berasal dari Semarang. Saroengan dan saroeng kendali, tali kekang dari besi, tembaga, kuningan, dan kulit kerbau, berasal dari Surabaya. Warna dan motifnya berbeda menurut wilayah masing-masing.

Turnamen ini masih cukup ramai sampai tahun 1930-an, terlihat dari banyaknya informasi penyelenggaraannya di surat kabar. Bataviaasch nieuwsblad edisi 11 Agustus 1927 memuat satu rangkaian acara yang membuat kedudukan Senènan terasa persis: turnamen sepak bola antara Indramayu dan Majalengka lebih dulu, beberapa permainan, lalu Senènan, dan ditutup pertunjukan wayang. Tradisi yang di catatan Ma Huan dibuka oleh permaisuri di atas kereta pagoda, empat abad kemudian menempati satu slot acara di antara sepak bola dan wayang di sebuah kota kabupaten.

Hari ini, menurut penelusuran Supriyanto, adu ketangkasan berkuda sambil membawa tombak itu tinggal digelar setahun sekali di Kuningan, Jawa Barat, dengan nama Saptonan, dan bentuknya melempar tombak ke sasaran. Ia sendiri mencatat bahwa tradisi ini nyaris belum pernah diteliti, sehingga rantai antara bambu runcing di Man-che-po-i dan lemparan tombak di Kuningan lebih banyak disusun dari catatan orang luar ketimbang dari sumber Jawa sendiri. Kalau yang tersisa adalah tombak yang dilempar ke sasaran diam, sedangkan yang dicatat Ma Huan adalah dua orang yang saling menusuk sampai salah satunya tidak bangun lagi, pada titik mana sebuah turnamen berhenti menjadi turnamen yang sama?

Bagikan

Baca Juga

Candi Naga di Kompleks Candi Panataran, Blitar, dengan tubuh candi batu andesit berhias pahatan naga melingkar dan deretan figur penopang
Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana
Ilustrasi belati bermata dua berpola pamor berpilin dengan gagang berukir figur manusia dan sarung kayu berukir, tergeletak di bangku kayu bengkel pandai besi beratap daun dengan perapian arang menyala
Jejak Keris Abad ke-15 di Catatan Armada Cheng Ho
Ilustrasi halaman desa Jawa abad ke-9 di tepi hutan jati dengan bangunan kayu beratap daun yang sedang didirikan, tumpukan papan dan serpih kayu, lumbung padi berpanggung, serta warga bekerja dari kejauhan
Kalang Mataram Kuno Bukan Kelas Bawah, Kata Prasasti
Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Ilustrasi ambang pintu batu andesit berhias relief sulur dan dua ukiran rosette, patah di salah satu ujungnya, tergeletak di antara reruntuhan bata berlumut dengan latar pohon beringin dan sawah
Ambang Pintu 1148 Saka: Siasat Ken Angrok di Kediri
Bangunan utama Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dari batu dengan gerbang di tengah dan arca di halaman
Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu