Cekricek.id — Pada 2 Desember 1915, Hendrik Altmann mulai menjabat sebagai Residen Kediri. Ia memegang jabatan itu selama tiga tahun tiga bulan, sampai 2 Maret 1919. Yang berulang kali ia keluhkan sepanjang masa jabatan itu adalah pasir di Sungai Brantas.
Catatan Altmann dibaca ulang oleh Latif Kusairi dari Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Kajiannya berjudul The Resident of Irrigation: Notes of Hendrik Altmann as Resident of Kediri in Memori van Overgave, 1919 dan terbit di jurnal Mozaik Humaniora Volume 25 Nomor 1 tahun 2025, halaman 90 sampai 101. Sumber utamanya satu berkas arsip, yaitu Memorie van Overgave Kediri tahun 1919 nomor 26 rel 10, yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia.
Daftar Isi
1830 sampai 1899: Sungai, Pabrik Gula, dan Letusan

Sungai itu sudah bermasalah jauh sebelum Altmann datang. Brantas adalah sungai terbesar kedua di Jawa. Alirannya lebar, tepiannya melandai, arusnya tenang. Perahu bisa masuk jauh ke pedalaman. Di bagian hilir sungai ini bercabang dua: Kali Porong yang mengalir ke tenggara dan bermuara dekat Surabaya serta Bangil, dan Kali Mas yang mengalir ke timur melewati Surabaya menuju Selat Madura.
Sistem tanam paksa yang berjalan antara 1830 dan 1870 menaikkan arti sungai itu. Pabrik-pabrik gula berdiri di sepanjang tepinya dan menjadi pusat permukiman baru. Di wilayah Kediri tercatat beberapa di antaranya, yaitu PG Pesantren, PG Ngadiredjo, PG Purwoasri, PG Modjopanggung, dan PG Meritjan. Tebu diangkut dari kebun ke pabrik lewat air, dan gula dibawa perahu ke gudang-gudang di Surabaya.
Gunung Kelud berdiri di perbatasan Kediri dan Blitar. Gunung ini termasuk yang paling aktif di Hindia Belanda. Siklus letusannya berulang kira-kira setiap tujuh belas tahun. Letusan pada 1884 memengaruhi sistem sungai di sekitarnya. Aliran lahar dari Kali Lahar Kuning dan Kali Lahar Badak di Nglegok mengalir masuk ke Brantas dan memicu banjir pada 1894. Letusan berikutnya terjadi pada 1899.
Endapan material vulkanik menaikkan dasar sungai. Kapasitas alirannya berkurang. Banjir lalu menjadi peristiwa yang hampir tahunan pada musim hujan, terutama di ruas tengah Brantas yang melintasi Keresidenan Kediri. Sawah rusak, tanggul jebol, jembatan hanyut. Sawah adalah sumber penghidupan utama penduduk di wilayah itu.
1912 sampai 1917: Tiga Rancangan Terowongan
Rencana teknis untuk menangani air di selatan Kediri sudah disusun sebelum Altmann menulis memorinya. Pada 1912, Insinyur Erichsen membuat kajian tentang terowongan pembuangan banjir di Tulungagung. Kajian itu terilhami gagasan Insinyur Allart, seorang insinyur sipil di Kediri, yang mengusulkan pembuangan air rawa ke Samudra Hindia. Rancangan Erichsen memuat tiga usulan terowongan.
Baca juga Dari Kebun ke Pajeko, Catatan Desa Saria 2002-2017
Rencana itu dijadwalkan terwujud pada 1917 lewat pembangunan saluran pembuangan dari Ngunut. Pada masa itu muncul keberatan dari Insinyur Saltet. Ia menunjuk persoalan yang menurutnya lebih mendesak, yaitu sedimentasi pasir yang terus bertambah di Sungai Brantas. Pada tahun yang sama, Insinyur Varkervissen mengajukan jalan lain. Ia tidak lagi mengarahkan air ke Samudra Hindia, melainkan mengusulkan pembangunan bendungan pengendali banjir.
Desember 1915 sampai Maret 1919: Masa Jabatan Altmann
Altmann adalah pejabat kolonial berpangkat tinggi dengan peran administratif penting di Kediri. Tugasnya mencakup urusan pemerintahan, pemeliharaan ketertiban umum, serta penanganan persoalan ekonomi dan infrastruktur. Ia juga menjadi perantara antara pemerintah kolonial Belanda dan penduduk setempat. Kusairi menyebut secara terbuka bahwa riwayat latar belakang, pendidikan, dan perjalanan karier Altmann nyaris tidak terdokumentasi dalam catatan sejarah yang tersedia, dan itu adalah batas yang ia akui dalam kajiannya.
Pengelolaan irigasi Brantas berada di tangan badan khusus bernama Irrigatie Afdeling Brantas. Kantor pusatnya berada di Mojokerto. Kantor perwakilannya berada di Pare, Kediri. Kepada Kantor Wilayah Jawa Timur, Altmann melaporkan ketidakpuasannya yang mendalam terhadap sistem irigasi sungai itu. Penyebab utamanya, menurut laporan tersebut, adalah pasir dalam jumlah besar yang masuk ke sungai dari daerah pegunungan.
Kekhawatirannya bersifat ekonomi. Pendangkalan dasar sungai mengancam jalur transportasi air yang menghubungkan Kediri dengan daerah hilir. Altmann mencatat dalam catatan sampingannya bahwa ia melihat banyak pasir di Brantas, yang membentuk gosong-gosong memanjang di alur sungai. Ia menuliskan bahwa persoalan itu menuntut tindakan menyangkut penanaman, pekerjaan umum, dan pihak-pihak lain yang terkait.
Banjir besar yang menurut catatan itu belum pernah terjadi sebelumnya membuat sejumlah tanggul jebol. Air masuk sampai ke sebagian kediaman Residen Kediri dan ke kantor wilayah kecil Irrigatie Afdeling Brantas. Sistem pelindung seperti tanggul polder di sekitar Brantas dinilai tidak cukup andal. Pengendalian banjir tidak bisa lagi digantungkan pada Pintu Air Poerwoasri semata, sebab hampir semuanya bergantung pada satu rumah pompa.
Baca juga Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim
Dalam laporannya Altmann menekankan pentingnya penanaman kembali, aanplant dalam bahasa Belanda. Yang ia maksud kemungkinan besar adalah penanaman pohon dan bambu di tepi Sungai Brantas serta di sekitar kawasan Gunung Kelud. Letusan telah mematikan banyak tumbuhan di sana dan meninggalkan sungai tanpa penahan. Penanaman pohon di sepanjang tanggul dimaksudkan menahan luapan air sekaligus memperkuat badan tanggul.
Catatan Residen Kediri juga mendaftar kerusakan. Banjir menghanyutkan beberapa jembatan, termasuk Jembatan Ngujang yang menghubungkan Kadipaten Ngrowo di Tulungagung dengan Keresidenan Kediri. Persoalan lain adalah dua rawa besar di selatan Tulungagung, yaitu Rawa Bening dan Rawa Gesikan. Altmann mengusulkan pembangunan terowongan pembuangan ke Samudra Hindia untuk keduanya, dan mengakui sendiri usul itu terdengar radikal serta sangat mahal.
Ia juga mengusulkan langkah yang lebih kecil untuk dikerjakan lebih dulu, yaitu pembangunan waduk atau wadoekplan bagi rawa tersebut. Waduk itu diharapkan menampung limpasan hujan dan air Brantas yang datang dari timur. Pekerjaan teknis untuk saluran di Tulungagung bagian barat, menurut catatan itu, sebaiknya dimulai pada musim kering agar tidak terganggu hujan.
Kusairi mencatat satu hal yang justru tidak ada dalam laporan itu. Altmann memusatkan perhatian pada banjir di sepanjang Brantas. Ia tidak mengakui faktor besar yang lain, yaitu masuknya pasir yang berasal dari letusan Gunung Kelud pada 1899 dan sekali lagi pada 1919. Laporan itu memang merujuk kekhawatiran residen sebelumnya tentang kecenderungan Brantas menjadi makin dangkal.
Persoalan pasir menyentuh pabrik gula. Dari catatan Altmann yang diperoleh dari PG Modjopanggung, banjir mengganggu kegiatan pabrik dan bahkan sempat menghentikannya karena pasokan tebu terputus. Perkebunan di Kediri ikut terkena. Di lereng Gunung Wilis di barat kota berdiri perkebunan teh, perkebunan karet Dolo, dan perkebunan cengkih. Di timur kota, di kawasan Gunung Kelud, berdiri perkebunan teh Besowo dan perkebunan cengkih.
Dampaknya menjalar sampai ke hilir. Pelabuhan Surabaya, yang berada di muara Brantas, melesu pada 1920-an. Kapal besar kerap kandas karena sungai mendangkal, dan hanya perahu kecil yang masih bisa lewat. Pemerintah kolonial mulai mencari kawasan baru. Pelabuhan-pelabuhan kecil di sekitar Surabaya menjadi lebih sibuk, di antaranya Probolinggo, Panarukan, Pasuruan, Besuki, dan Sidayu di Gresik.
Mei 1919: Letusan Sesudah Serah Terima
Masa jabatan Altmann berakhir pada 2 Maret 1919. Letusan besar Gunung Kelud terjadi pada 19 dan 20 Mei 1919, dua bulan sesudah tanggal itu. Letusan tersebut termasuk yang terkuat yang pernah tercatat di gunung tersebut dan menewaskan lebih dari 5.000 orang. Kajian ini sendiri menempatkan letusan itu pada tahun-tahun terakhir masa jabatan Altmann.
Baca juga Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Keresidenan Kediri termasuk wilayah yang paling parah terdampak aliran lahar panas dan material vulkanik yang dilontarkan gunung itu. Lahar dingin yang terbawa sungai-sungai besar seperti Kali Konto dan Brantas merusak lahan pertanian, infrastruktur, dan permukiman di seluruh Kediri. Tanggul dan jaringan irigasi yang hancur membuat pemulihan pertanian berjalan lambat. Banjir juga menghancurkan rumah dan harta benda penduduk.
Sungai itu masih dibaca sampai sekarang. Restu Gunawan, sejarawan yang menekuni sejarah Sungai Brantas, menegaskan bahwa eksploitasi berlebihan dapat merusak ekosistem sungai dan mengancam keberlanjutan masyarakat yang bergantung padanya. Menurut catatan yang dikutip kajian ini, krisis lingkungan di Brantas melahirkan bencana ekologis berupa banjir dan erosi yang makin sering. Upaya konservasi sungai itu, dalam pembacaan tersebut, sekaligus menyangkut warisan sejarah dan ekonomi yang sudah berumur berabad-abad.
1942 sampai 1945: Terowongan yang Akhirnya Digali
Gagasan mengalirkan air ke Samudra Hindia tidak berhenti bersama masa jabatan Altmann. Gagasan itu dipelajari kembali pada masa pendudukan Jepang. Hasilnya adalah proyek terowongan yang menembus pegunungan selatan Jawa untuk membuang kelebihan air dari dataran Tulungagung. Proyek tersebut dikenal sebagai Terowongan Niyama dan dikerjakan antara 1942 dan 1945.
Kusairi menempatkan memori serah terima itu sebagai sumber untuk memahami kebijakan kolonial dan keadaan sosial politik Kediri pada awal abad kedua puluh. Catatan resmi tentang tindakan Altmann tersimpan dalam arsip kolonial Belanda, termasuk Memorie van Overgave Kediri 1919 dan Koloniaal Verslag, serta arsip pemerintah daerah di Indonesia dan Belanda.
Memori serah terima Altmann ditulis pada 1919. Terowongan yang ia usulkan mulai digali dua puluh tiga tahun kemudian.













