Cekricek.id — Enam puluh lima persen produksi lada dunia, menurut satu terbitan kolonial tahun 1918, berasal dari Lampung. Terbitan yang sama menyebut angka lebih dari 76 persen untuk pangsa Lampung dalam ekspor lada Hindia Belanda. Dua angka itu besar dan sulit diperiksa ulang. Keduanya dikutip apa adanya dalam sebuah kajian sejarah terbaru.
Kajian itu ditulis Arifin dari program Magister Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro bersama Endang Susilowati dan Haryono Rinardi dari Departemen Sejarah di fakultas yang sama. Judulnya Fungsi Pelabuhan Panjang sebagai Pelabuhan Pengekspor Lada, 1923-1930, terbit di jurnal Purbawidya Volume 14 Nomor 2 tahun 2025 pada halaman 239 sampai 253.
Rentang tujuh tahun itu dipilih bukan tanpa sebab. Tahun 1923 dipakai sebagai titik awal karena ekspor lada dari Lampung meningkat dan lalu lintas pelayaran di Pelabuhan Panjang bertambah ramai. Tahun 1930 dipakai sebagai batas akhir karena lada mulai tergeser komoditas lain, terserang penyakit, dan tertekan krisis ekonomi global.
Daftar Isi
8.000 Kilogram dari Satu Hektare

Satu hektare lahan di Lampung dapat ditanami sekitar 2.000 pohon lada. Satu pohon yang sehat menghasilkan sampai 4 kilogram sekali panen. Perkalian keduanya memberi angka sekitar 8.000 kilogram per hektare sekali panen, dan angka itulah yang dipakai paper ini untuk menggambarkan potensi kebun lada Lampung.
Angka itu angka ideal, bukan angka rata-rata. Paper ini tidak menyebut berapa persen pohon yang benar-benar berada dalam keadaan baik. Ia juga tidak menyebut berapa hektare yang mencapai hasil sebesar itu. Yang disebut hanya syaratnya: pohon dalam keadaan yang baik.
Jarak tanam ikut menentukan. Pohon penopang ditanam dengan jarak sekitar 2,5 sampai 3,5 meter agar perawatan dan panen lebih mudah. Bibit lada hasil stek baru dapat dipanen pertama kali satu sampai dua tahun kemudian. Kebun dibersihkan tiga kali dan paling banyak enam kali dalam setahun.
Panen berlangsung dua kali setahun. Di kawasan pesisir panen jatuh pada April dan Mei, di dataran tinggi beberapa bulan sesudahnya. Ada prapanen yang disebut lada penjelang sekitar Maret dan April, sedangkan panen besar terjadi pada September dan Oktober.
1.000 Batang bagi Pengolah Berkeluarga
Angka produksi itu tidak lahir dari kemauan sendiri. Sesuai kontrak yang disampaikan lewat para jenang, pengolah kebun diwajibkan menanam lada dalam jumlah tertentu: 1.000 batang bagi pengolah berkeluarga dan 500 batang bagi pria lajang. Selisihnya dua kali lipat, dan pembedanya status perkawinan.
Baca juga Oudetrap dan Spiegel: Dua Jalan Konservasi Kota Lama
Angka upah juga dibedakan. Penghasilan buruh laki-laki selalu lebih tinggi daripada perempuan karena pekerjaan laki-laki dianggap lebih berat. Kenaikan pendapatan buruh di Sumatra secara umum relatif tetap, sebab ada biaya tambahan yang dikenakan pemerintah kolonial, seperti potongan untuk membersihkan lahan dan mengganti peralatan kerja yang rusak.
Satuan dagangnya sendiri sudah bercabang. Lada dijual per pikul, dan satu pikul dihitung 100 catti, setara 133,33 pon ukuran Amerika atau 60,5 kilogram. Penimbangan pada umumnya memakai ukuran Amerika, bukan ukuran Belanda, di wilayah yang diperintah Belanda.
7.309 Bau Kebun pada 1918
Luas lahan penanaman lada pada 1918 mencapai sekitar 7.309 bau. Dari luas itu, sekitar 1.470 bau belum berproduksi. Artinya kira-kira satu per lima lahan yang sudah ditanami belum menghasilkan apa pun ketika angka 65 persen produksi dunia itu dicatat.
Kepemilikannya juga terbagi. Kebun lada tidak dikelola langsung oleh pemerintah kolonial, melainkan sebagian besar oleh perkebunan swasta milik orang Eropa dan Tionghoa. Di Katimbang, Teluk Betung, dan Semangka kebun dipegang orang Eropa, sedangkan di Seputih dan Tulang Bawang dipegang orang Tionghoa.
Jenisnya dua. Lada hitam tumbuh di sebagian besar wilayah Lampung, lada putih dihasilkan di Tulang Bawang, dan harga lada putih lebih mahal. Proses lada hitam lebih sederhana: dipetik bersama malai, dirontokkan, dijemur empat hari, lalu dikemas dalam karung seberat satu pikul.
Golongannya sendiri ada tiga dalam perbandingan paper ini. Lada lampung, yang di daerahnya dikenal sebagai lada kawur, disebut paling kuat dibanding lada manna dan lada jambi, dengan ukuran buah dan daun lebih besar, meski fase perkembangan dan pertumbuhannya lebih lambat daripada dua jenis lainnya.
Empat sungai besar ikut menentukan letak kebun: Way Seputih, Way Sekampung, Way Mesuji, dan Way Tulang Bawang, beserta anak-anak sungainya. Lahan dibuka dari hutan belantara secara gotong royong yang dikenal dengan istilah sakai sambaian, lalu ditanam di lahan permukiman yang disebut tiyuh, pekon, atau anek, dengan petak tanam bernama umbulan.
1915: Merak ke Panjang
Pada 1915 Koninklijke Paketvaart Maatschappij membuka jalur pelayaran dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Panjang. Sejak itu lada dibawa dengan kapal milik KPM dari Panjang ke Batavia. Jalur kereta api menghubungkan pusat produksi di pedalaman dengan pelabuhan, dan pada 1927 jaringan kereta serta penyeberangan laut dari Batavia hingga Palembang tersambung.
Baca juga 800 Meter Zona Sakral di Tengah Wisata Yaro Wora
Kelebihan pelabuhan baru itu terletak pada peralatannya. Pelabuhan Panjang dibangun dengan perangkat bongkar muat modern sehingga bongkar muat tidak perlu lagi dikerjakan di tengah laut oleh kuli pelabuhan. Gudang-gudangnya terhubung dengan jalur kereta api Sumatra. Satu depot penting berada di Stasiun Kotabumi, penampung hasil bumi dari Tulang Bawang, Menggala, dan sekitar Lampung Utara.
Perubahan itu memindahkan jalur lama. Sebelumnya lada diangkut lewat sungai dari bandar kecil bernama Tangga Raja, dipanggul dalam karung melintasi sungai kecil sedalam kurang lebih setengah meter, kadang dibawa perahu jung pada malam hari agar tiba tepat saat transaksi pagi.
Pusat dagangnya ikut bergeser. Tanjungkarang menjadi pasar lada utama sebelum digantikan Teluk Betung, lalu pembangunan rel menjadikan Tanjungkarang kota suburban baru menggantikan Teluk Betung. Lada dari berbagai daerah disortir berdasarkan asal, antara lain Kalianda, Seputih, Rebang, Semangka, dan Menggala.
782 Ton ke Belanda, 4 Ton ke Penang
Untuk 1912 sampai 1914, paper ini mencatat ekspor lewat Pelabuhan Panjang sebanyak 10.918 untuk tujuan Jawa dan 1.148 untuk wilayah lain di Hindia Belanda. Satuan kedua angka itu tidak disebutkan dalam teks, sehingga keduanya sulit dibandingkan langsung dengan angka lain di paper yang sama.
Rincian tujuan luar negerinya lebih jelas satuannya. Belanda menerima 782 ton, Amerika Utara 347 ton, Singapura 10 ton, Jerman 5 ton, dan Penang 4 ton. Selisih antara 782 ton dan 4 ton itu hampir dua ratus kali lipat, dan arahnya menunjuk ke satu tempat.
Ekspor lada hitam di dalam Hindia Belanda tercatat 2.886.430 kilogram ke Jawa dan 8.543 kilogram ke daerah lain, dengan total yang ditulis paper 2.894.430 kilogram. Penjumlahan dua angka pertama sebenarnya menghasilkan 2.894.973 kilogram, selisih 543 kilogram dari total yang dicantumkan.
Baca juga Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan
Angka gabungannya jauh lebih besar. Produsen di Lampung disebut mengekspor lada hitam ke luar dan dalam negeri sebanyak 15.815.448 kilogram, atau 77 persen dari seluruh total ekspor. Kota tujuan yang disebut meliputi Amsterdam, London, Hamburg, Havre, Bordeaux, Marseille, Trieste, New York, San Francisco, Kobe, Melbourne, dan Sydney.
Dua Tabel untuk 1930
Paper ini memuat dua tabel yang sama-sama menyebut tahun 1930. Tabel pertama, bersumber dari kajian tahun 2019, mencatat hasil lada Lampung 46.200.000 kilogram. Tabel kedua, bersumber dari kajian tahun 2018, mencatat jumlah produksi 15.812 ribu kilogram untuk tahun yang sama. Selisih keduanya sekitar tiga kali lipat.
Tabel pertama juga memuat 7.668.000 kilogram untuk 1907, 12.588.000 untuk 1910, 7.800.000 untuk 1911, 14.550.000 untuk 1912, 11.965.000 untuk 1913, dan 14.685.000 untuk 1929. Tabel kedua memuat 21.604 ribu kilogram untuk 1914, 11.952 untuk 1916, 17.762 untuk 1923, 14.828 untuk 1925, dan 9.396 untuk 1927.
Karsiwan, peneliti yang kajiannya dirujuk paper ini, memberi peringatan yang relevan untuk semua angka tadi. Ia mencatat panen lada Lampung pada 1911 diperkirakan mencapai 180.000 pikul, tetapi kondisi cuaca yang buruk menekan produksi menjadi sekitar 130.000 pikul, dan data transaksi jual beli yang ada tidak memungkinkan produksi dua tahun ke depan diperkirakan.
Gregorius Andika Ariwibowo, peneliti sejarah yang tabel produksinya dipakai dalam kajian ini, mencatat Kota Menggala di Tulang Bawang sebagai tempat transit lada dari pedalaman sebelum dibawa ke Pelabuhan Banten, terhubung dengan Bandardewa, Pagardewa, Negeraratoe, Negeribesar, Negarabatin, dan Bandaragoeng.
Angka besar tidak menerangkan siapa yang menerima hasilnya. Paper ini menutup dengan catatan bahwa masyarakat hanya memperoleh pendapatan kecil dan bergantung pada fluktuasi harga internasional, sementara pembangunan pelabuhan, jalan raya, jembatan, dan rel memudahkan pihak kolonial mengirim hasil bumi keluar.
Penurunan datang bersama penyakit kuning pada 1930, akibat tanah kurang subur karena kekurangan pupuk, ditambah serangga pemakan bunga dan buah lada yang dikenal sebagai walang sangit. Kopi dan karet naik menggantikan. Tabel kedua di paper itu berhenti pada 1930, di angka 15.812 ribu kilogram, dan tidak ada baris sesudahnya.














