Cekricek.id — Michelle Zauner masih di ranjang ketika ia berbalik ke satu sisi dan mengetikkan kata kunci itu di ponselnya: cara membuat doenjang jjigae, sup kedelai fermentasi Korea. Ibunya baru saja meninggal, dan pagi itu ia harus menyiapkan sarapan untuk keluarga yang berkumpul selepas pemakaman. Tautan pertama membawanya ke sebuah video di YouTube: seorang perempuan Korea bernama Maangchi berdiri di depan wastafel dapur yang temaram, gambarnya goyah dan sedikit berbintik seolah direkam terburu-buru. Perempuan di layar itu, tulis Zauner dalam memoarnya, tampak seusia ibunya sendiri.
Adegan kecil ini menjadi salah satu titik yang dibaca ulang oleh M. Ganjar Tri Wijayanto, Ikwan Setiawan, dan Irana Astutiningsih, tiga peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, dalam artikel The Role of Korean Cuisine in Negotiating Cultural Identity in Michelle Zauner’s Crying in H Mart yang terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 3 edisi Desember 2025. Ketiganya membaca memoar Crying in H Mart karya Zauner terbitan 2021 lewat konsep identitas budaya Stuart Hall — being, becoming, dan positioning — untuk melacak bagaimana masakan Korea menjadi jalan Zauner kembali ke separuh dirinya yang selama bertahun-tahun ia coba sangkal.
Daftar Isi
Video Buram di Depan Wastafel yang Menyerupai Ibunya

Sebelum sampai ke dapur malam itu, ada jarak panjang yang harus ditempuh Zauner. Ia lahir di Seoul, anak dari ibu Korea dan ayah Amerika yang bertemu dan menikah di pertengahan dekade 1980-an, lalu berpindah tiga negara — Misawa, Heidelberg, dan kembali ke Seoul — sebelum akhirnya menetap di Amerika. Ia diberi nama Michelle Chongmi Zauner: Chongmi dari ibunya, Zauner dari ayahnya, sebuah pola penamaan yang menurut peneliti lazim dipakai pasangan diaspora Korea-Amerika generasi itu agar anak-anak mereka lebih mudah berbaur. Dibesarkan di Eugene, ia salah satu dari sedikit anak berdarah campuran di sekolahnya, wajah yang oleh peneliti dibaca sebagai medan tempat identitasnya terus-menerus dipertanyakan orang lain sebelum ia sempat menentukannya sendiri.
Baca juga Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera
Pertanyaan itu datang berulang, dan bentuknya selalu sama. “Kamu orang China?” “Bukan.” “Orang Jepang?” Aku menggeleng. “Lalu kamu apa, sebenarnya?” — begitu Zauner menuliskan ulang percakapan itu dalam memoarnya, dan peneliti membacanya sebagai bukti bahwa identitas keduanya, sejak kecil, ditentukan oleh tatapan orang lain, bukan oleh dirinya sendiri. Di sekolah, ejekan rasial ikut menyasar tubuhnya; teman-teman lelaki melontarkan lelucon yang menyamakan perempuan Asia dengan stereotip seksual dari film-film Hollywood lama. Zauner sampai meminta ibunya berhenti membekalinya makan siang Korea, takut teman-temannya melihat isi kotak makannya dan bertanya lagi hal yang sama. Ia memilih membeli makanan kafetaria seperti yang lain, menutup satu pintu ke rumahnya sendiri demi diterima di ruang yang bukan miliknya.
Peneliti mencatat satu momen lain yang menurut mereka meringkas seluruh kegelisahan itu: usia dua belas tahun, Zauner ditanya teman sekelasnya dengan nada yang menyudutkan, sampai ia merasa seperti makhluk asing yang baru mendarat di bumi. Di Eugene ia dianggap Asia; di Seoul, ketika berjalan sendirian, orang justru mengiranya bule, sampai ibunya berdiri di sampingnya dan wajah keduanya baru terlihat menyatu — barulah wajahnya yang “eksotis” itu dianggap layak dipuji. Peneliti membaca pergeseran penilaian ini, dari janggal menjadi menarik hanya karena kehadiran sang ibu, sebagai bukti betapa identitas Zauner sepenuhnya bergantung pada siapa yang berdiri di sampingnya dan siapa yang sedang memandang.
Anak yang Tidak Bisa Menjawab Pertanyaan Kau Sebenarnya Apa
Selama bertahun-tahun, masakan Korea di rumah Zauner tetap ada, tapi ia hanya penikmat pasif. Ibunya memasak, ia makan; ibunya memenuhi kulkas dengan banchan kesukaannya, membuat kimchi dengan takaran yang menurut peneliti tidak pernah tertulis, hanya diwariskan lewat rasa. Setiap kali Zauner bertanya cara memasak sesuatu, jawaban yang ia dapat hanya, “tambahkan minyak wijen sampai rasanya seperti buatan Ibu,” sebuah kalimat yang oleh peneliti dibaca sebagai gambaran cara kerja tradisi kuliner Korea yang bersandar pada insting, bukan resep tertulis. Selama ibunya masih ada, Zauner tidak pernah benar-benar perlu menguasainya sendiri.
Baca juga Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel
Semua berubah setelah ibunya sakit lalu meninggal. Zauner, tulis peneliti, mulai merasakan rumah yang kosong dari sentuhan Korea: tidak ada lagi campuran bahasa Korea-Inggris di ruang tengah, tidak ada lagi masakan yang muncul begitu saja dari dapur tanpa diminta. Ia baru menyadari betapa banyak hal yang tidak sempat ia pelajari langsung dari ibunya, dan kesadaran itu datang justru ketika satu-satunya jembatan menuju pengetahuan itu sudah tidak ada. Di titik inilah, menurut pembacaan peneliti atas konsep being dan becoming milik Hall, identitas Zauner berpindah dari sesuatu yang diwarisi begitu saja menjadi sesuatu yang harus ia bangun kembali, sepotong demi sepotong, lewat usahanya sendiri.
Dorongan itu yang membawanya kembali pada masakan yang sama sekali belum pernah ia buat sendiri: doenjang jjigae, sup kedelai fermentasi yang dulu selalu ada di meja makan keluarganya. Ia tahu rupa dan rasanya, tapi tidak tahu caranya. Maka pagi itu, masih di ranjang, ia mencari video Maangchi, perempuan Korea yang tampak seusia ibunya, berdiri di dapur temaram dengan gambar yang goyah dan buram. Peneliti membaca detail kecil ini bukan sebagai kebetulan: seorang anak yang kehilangan gurunya sendiri di dapur, mencari pengganti lewat layar ponsel, dari orang asing yang wajahnya mengingatkannya pada yang baru saja pergi.
Kimchi, H Mart, dan Bahasa yang Tidak Diucapkan
Dari dapur, jejak Zauner berlanjut ke sebuah toko kelontong Asia bernama H Mart di Elkins Park, Philadelphia. Di tempat lain di Amerika ia berbahasa Inggris sepanjang hari, tapi di lorong-lorong H Mart ia lebih nyaman memakai bahasa Korea yang sebenarnya tidak ia kuasai penuh. “Ne, Seoul-eseo taeeonasseoyo,” tulisnya — ya, aku lahir di Seoul — menjawab pertanyaan apakah ia orang Korea secepat dan selancar mungkin, seolah ucapan itu bisa menutupi kekurangannya sendiri dalam berbahasa. Peneliti membaca H Mart bukan sekadar tempat belanja, melainkan ruang di mana Zauner, untuk sesaat, merasa tidak perlu menjelaskan dirinya kepada siapa pun — sebuah bentuk positioning dalam istilah Hall, tempat seseorang menempatkan dirinya sendiri di hadapan budaya lain tanpa perlu diperiksa lebih dulu.
Baca juga Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga
Di lorong yang sama, Zauner memperhatikan orang-orang di sekelilingnya membawa nampan berisi lauk-pauk dari berbagai gerai, dan bertanya-tanya berapa banyak dari mereka yang sedang merindukan keluarga yang tidak sempat pulang tahun itu, atau bahkan sepuluh tahun terakhir. Peneliti mengutip renungan itu untuk menunjukkan bahwa H Mart bukan hanya tempat mengisi perut, melainkan tempat semua orang di dalamnya diam-diam mencari kepingan rumah yang sama, tanpa perlu saling menjelaskan kenapa.
Kimchi menjadi simpul yang menghubungkan semua ini. Peneliti mengutip kajian tentang kimchi sebagai simbol identitas nasional Korea, bahkan masuk daftar seratus simbol budaya negara itu sejak 2006 — sebuah rincian yang dipakai untuk menjelaskan mengapa satu jenis lauk fermentasi bisa menanggung beban emosional sebesar itu bagi diaspora yang jauh dari tanah asalnya. Ketika Zauner sakit dan ingin makan jatjuk, bubur kacang pinus, ia awalnya membiarkan pengasuhnya, Kye, yang memasak. Tapi ia bersikeras belajar membuatnya sendiri. “Makanan itu adalah bahasa yang tak terucap di antara kami, yang telah menjadi simbol kembalinya kami satu sama lain, ikatan kami, titik temu kami,” tulis Zauner tentang masakan itu, kalimat yang oleh peneliti dijadikan poros pembacaan mereka atas seluruh memoar: masakan bukan sekadar cara bertahan hidup, melainkan satu-satunya bahasa yang tersisa antara ia dan ibunya setelah kata-kata tidak lagi cukup.
Peneliti membingkai seluruh proses ini sebagai bentuk diplomasi budaya dari bawah, bukan dari negara — merujuk pada gagasan soft power yang menekankan cara sebuah budaya menarik minat orang lain lewat ajakan, bukan paksaan. Dengan menuliskan detail memasak, menyajikan, dan menikmati masakan Korea sedemikian rinci, Zauner mengajak pembaca internasional ikut merasakan sesuatu yang selama ini hanya berlaku di dalam rumahnya sendiri, bukan atas nama pemerintah mana pun, melainkan atas nama satu keluarga yang kehilangan satu anggotanya. Namun peneliti sendiri membatasi kajian ini pada satu memoar tunggal sebagai data primer, bukan generalisasi atas pengalaman seluruh diaspora Korea-Amerika, sehingga apa yang terungkap di sini adalah satu jalan yang ditempuh satu orang, bukan pola yang berlaku otomatis bagi semua orang dengan latar yang sama.
Video Maangchi itu, kata peneliti, tidak pernah benar-benar menjelaskan segalanya. Gambarnya tetap goyah, suaranya tetap asing, dan resep yang dihasilkan tidak akan pernah persis seperti buatan ibunya. Tapi Zauner tetap menonton sampai akhir, mencatat setiap langkah, lalu bangkit dari ranjang menuju dapur yang pagi itu masih terasa terlalu sepi untuk ditinggali sendirian.













