Cekricek.id — Satu episode kartun anak menyimpan tiga ajaran nabi.
Nia Budiana dari Universitas Brawijaya meneliti episode itu bersama Alpi Anwar Pulungan dari Universitas Jambi dan Sainee Tamphu dari Yala Rajabhat University, Thailand. Judul kajian mereka Representation of Prophetic Value of Digital Children’s Literature Nussa dan Rara Series as Character Education Learning Media. Kajian ini terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 1, tahun 2025.
Naskah ini punya perjalanan panjang. Redaksi menerimanya 29 September 2022, baru menyetujuinya 5 September 2024, dan menerbitkannya 31 Maret 2025. Prosesnya memakan hampir tiga tahun.
Sastra anak dulu berbentuk buku cetak. Sekarang banyak yang berpindah ke layar, salah satunya animasi digital. Nussa dan Rara adalah satu produk sastra anak digital paling dikenal di Indonesia karena mengusung tema Islami.
Sastra anak, tulis peneliti mengutip definisi lama, adalah karya yang ditulis untuk anak dengan bimbingan orang dewasa, dan bisa dipahami lewat kacamata anak sendiri. Sarumpaet bahkan pernah menyebut sastra anak Indonesia masih memprihatinkan, kalah dibanding negara lain.
Anak Indonesia, tulis peneliti, kini lebih akrab dengan Barbie, Naruto, Spiderman, Upin dan Ipin, Princess Sofia, atau Frozen ketimbang tokoh lokal. Karakter asing itu, menurut mereka, pelan-pelan menggeser sosok yang religius dan berkarakter Indonesia sejak usia dini.
Ketiga peneliti memilih satu episode saja untuk dibedah, judulnya Gratis Pahala. Alasannya sederhana: episode itu memuat hampir semua nilai yang mereka cari sekaligus, tanpa perlu menonton puluhan episode lain.
Nussa dan Rara sebetulnya bukan objek baru. Islamy (2022), Ramadhini (2021), dan Sayekti bersama koleganya (2022) sudah meneliti nilai religiusnya. Dirgantara dan koleganya (2022), Ni'mah dan Kiromi (2022), serta Pebriandini dan Ismet (2021) meneliti sisi pendidikan karakternya.
Daftar Isi
Satu Adegan, Tiga Nilai

Objek penelitiannya adalah episode Gratis Pahala dalam serial animasi Nussa dan Rara. Nussa digambarkan sebagai anak lelaki berkaki satu, memakai kaki palsu di sisi kiri. Rara adalah adiknya. Data diambil dari kanal YouTube resmi keduanya, @nussaofficial.
Dalam episode itu Nussa dibuli di jalan. Ia diam saja, tidak mengadu ke orang tua, sebab sudah memaafkan pembulinya. Rara justru melapor ke Bibi Dewi, dan Bibi Dewi langsung marah.
Umma, ibu Nussa, meminta Bibi Dewi bersabar. Tiga adegan pendek itu, menurut penelitian ini, sudah memuat tiga nilai profetik sekaligus: pemanusiaan, pembebasan, dan transendensi.
Baca juga Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya
Tiga nilai itu bukan istilah baru dalam kajian sastra. Ketiganya diambil dari teori sastra profetik, dipakai untuk membaca karya yang berakar pada etika agama. Episode berdurasi pendek ini jadi bahan ujinya.
Manusiawi Lewat Bibi Dewi
Nilai pemanusiaan muncul lewat sikap Bibi Dewi. Ia menunggu Rara bercerita, tanpa memaksa atau langsung menuduh. Rara sempat murung tanpa alasan jelas, dan Bibi Dewi memilih sabar menanti.
Sikap itu, tulis peneliti, jadi contoh penerapan kepedulian sosial pada anak. Kepedulian semacam itu penting sebab masyarakat modern makin jarang menaruh perhatian pada orang lain di sekitarnya.
Umma pun tampil sebagai figur pemaaf. Ia menahan amarah Bibi Dewi yang sempat ingin membalas si pembuli. Umma memilih menenangkan, bukan ikut memanaskan suasana.
Aini dan koleganya (2023), yang dikutip dalam kajian ini, menyebut kepedulian sosial mesti ditanamkan sejak kecil, lewat rumah dan sekolah sekaligus. Fathurrozak (2023) menambahkan, keluarga punya peran penting dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Peneliti mengaitkan adegan Bibi Dewi dengan QS Al Maidah ayat 2, yang memerintahkan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, bukan dalam dosa. Ayat itu jadi dasar yang dipakai peneliti untuk membaca sikap peduli Bibi Dewi.
Setiawatri dan Kosasih (2019) pernah meneliti pendidikan karakter peduli sosial di masyarakat plural Cigugur, Kuningan. Temuan mereka serupa: kepedulian tumbuh lewat teladan harian, bukan lewat instruksi searah.
Bagi Nussa, sikap Umma jadi contoh nyata sehari-hari. Anak meniru apa yang dilihatnya di rumah, bukan sekadar yang didengarnya. Itu sebabnya penelitian ini menekankan peran orang tua sebagai teladan pertama, bukan cuma penasihat.
Wuryaningsih dan Prasetyo (2022) menemukan hal senada di luar konteks Nussa dan Rara: keteladanan orang tua berhubungan erat dengan perkembangan nilai moral anak usia dini.
Peneliti menyebut istilah dulce et utile, gagasan lama dari Horatio, yang berarti karya sastra mesti menghibur sekaligus berguna. Nussa dan Rara, menurut mereka, memenuhi dua syarat itu sekaligus lewat kisah yang ringan tapi sarat pesan.
Setara Meski Berkaki Satu
Nilai pembebasan muncul dari kondisi disabilitas Nussa. Kaki kirinya tak berfungsi. Ia memakai kaki palsu. Bibi Dewi menolak keras perlakuan tak adil terhadap kondisi itu.
Baca juga Driyarkara 1962: Pintar Tanpa Kesusilaan Jadi Minteri
Bagi peneliti, sikap Bibi Dewi menegaskan hak penyandang disabilitas untuk diperlakukan setara. Anak berkebutuhan fisik khusus, menurut kajian ini, berhak atas ruang yang sama seperti anak lain.
Paper ini menyebut pula ayat Al Quran yang menegaskan tak ada halangan bagi orang buta, pincang, atau sakit untuk hidup berdampingan secara wajar. Ayat itu jadi rujukan penulis untuk menjelaskan posisi Nussa dalam cerita.
Novembli dan Hasanah (2024) menyebut pendidikan inklusif berarti memberi anak berkebutuhan khusus akses yang sama atas pendidikan dan lingkungan sosial. Bukan sekadar diterima, tapi juga dipahami dan dihargai selayaknya anak lain.
Fibrianto dan koleganya (2022) menambahkan, karakter inklusif sebaiknya ditanamkan sejak usia sekolah dasar, bukan menunggu anak dewasa. Serial ini, lewat tokoh Nussa, jadi salah satu jalan menyampaikannya tanpa perlu ceramah panjang.
Pahala Gratis, Kata Umma
Nilai transendensi muncul lewat istilah Gratis Pahala. Umma mengajarkan bahwa memaafkan orang yang berbuat jahat akan dibalas Allah, tanpa perlu membalas dendam. Istilah itu jadi motivasi harian bagi seisi rumah.
Konsep itu, menurut peneliti, dipakai Umma sebagai cara praktis mengelola konflik. Bukan lewat hukuman atau balas dendam, melainkan lewat kesabaran yang dianggap berpahala.
Nussa, sebagai kakak, ikut meneruskan ajaran itu ke Rara. Ia menyebut ayat yang memerintahkan memaafkan dan mengajak kebaikan. Sikap itu, tulis peneliti, menunjukkan Nussa sudah menyerap nilai yang diajarkan ibunya.
Riset ini mengaitkan pesan itu dengan riset psikologi lain soal manfaat memaafkan. Salah satunya Mustary (2021), yang menemukan bahwa sikap memaafkan mendongkrak kesejahteraan psikologis seseorang.
Nihayah dan koleganya (2021) menyebut konsep memaafkan sebagai bagian penting psikologi positif, bukan sekadar ajaran agama semata. Orang yang mudah memaafkan, tulis mereka, cenderung lebih tenang menjalani hari-harinya.
Dua ayat lain juga disinggung penelitian ini, satu soal ketulusan beribadah, satu lagi soal ampunan Allah bagi yang mau memaafkan. Keduanya dipakai untuk menegaskan bahwa memaafkan dalam cerita ini bukan sekadar plot, tapi ajaran yang berpijak pada teks agama.
Metode di Balik Tafsir
Metode penelitiannya kualitatif deskriptif. Tiga peneliti merekam episode, menyalin dialognya, lalu mengklasifikasi data memakai analisis isi. Kerangka pisaunya adalah teori sastra profetik.
Baca juga Enam Belas Unggahan Fore Coffee dan Mitos Kopi
Kuntowijoyo, penulis buku Maklumat Sastra Profetik, menyebut sastra profetik sebagai sastra yang ikut ambil bagian dalam sejarah kemanusiaan. Sastra jenis ini, menurut Kuntowijoyo, bersumber dari etika kenabian dalam Al Quran dan tidak otoriter dalam memilih tema maupun gaya.
Tiga nilai yang dipetakan Kuntowijoyo, yakni pemanusiaan, pembebasan, dan transendensi, jadi alat baca episode Gratis Pahala. Ketiganya lahir dari kegelisahan yang sama: masyarakat yang makin individual, keras, dan kesepian.
Enam kajian yang sudah ada tadi, tulis peneliti, belum satu pun memakai kacamata sastra profetik secara khusus. Itu sebabnya episode yang sama bisa dibaca ulang dan menghasilkan sudut pandang yang berbeda dari kajian-kajian sebelumnya.
Satu Episode, Bukan Semua
Penelitian ini punya batas yang jelas. Ia hanya membedah teks dan dialog satu episode, bukan seluruh musim serial itu. Tak ada data soal bagaimana anak-anak yang menonton benar-benar memahami pesan itu.
Artinya, kesimpulan penelitian ini berhenti pada tafsir teks, bukan bukti perubahan perilaku anak di dunia nyata. Pertanyaan soal dampak sesungguhnya masih terbuka lebar.
Budiana dan kedua koleganya menyimpulkan, serial ini layak dipakai sebagai media pendidikan karakter, baik bagi anak maupun orang tua yang mendampinginya. Nilai profetik itu, tulis mereka, perlu dihidupkan dulu oleh orang tua sebelum diajarkan ke anak.
Riset ini dibiayai lewat dana DPP/SPP dan mendapat dukungan dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Tak ada nama sponsor komersial yang disebut di dalamnya.
Diam Nussa setelah dibuli, dalam bacaan tiga peneliti ini, adalah bentuk pahala yang paling gratis.














