Gigi Manusia Pawon, 33 Kajian yang Berhenti di 2020

A A

Bukit kapur Citatah, Cipatat, kawasan karst tempat Gua Pawon berada. [Foto: Devitapra/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

Cekricek.id — Gigi Manusia Pawon lebih banyak diteliti mahasiswa daripada peneliti senior. Dari 33 karya yang berhasil dikumpulkan, 30 berupa skripsi sarjana. Sisanya artikel jurnal. Tidak ada satu pun yang terbit setelah 2020.

Rangka manusia itu berasal dari Gua Pawon di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sejak 2003 ditemukan tujuh rangka di sana. Umurnya berkisar 5.600 sampai 11.780 tahun sebelum masa kini. Semuanya disebut Manusia Pawon.

Seluruh kajian atas giginya baru dipetakan tahun lalu. Pemetaan itu dikerjakan Felia Resha Wulandari dari Program Magister Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Artikelnya, Bibliographic Study of Pawon Man Forensic Odontology Research at Universitas Padjadjaran, Indonesia, terbit di jurnal Purbawidya Volume 14 Nomor 1 pada 2025.

Ia menulis bersama lima orang. Lutfi Yondri berasal dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. Empat lainnya, yaitu Suhardjo, Deby Fajar Mardhian, Sri Susilawati, dan Fahmi Oscandar, berasal dari fakultas yang sama dengan penulis pertama. Penelitiannya dibiayai hibah riset kompetensi dosen Unpad tahun 2024.

Gua Pawon ditetapkan sebagai situs warisan budaya dan ilmu pengetahuan lewat Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2006. Penelitian pertama di gua itu dilakukan Benthem Jutting pada 1950. Kajian atas gigi penghuninya baru dimulai 62 tahun kemudian.

Odontologi forensik adalah cabang kedokteran gigi yang bersinggungan dengan penyelidikan hukum. Jijin Mekkadath Jayakrishnan dan rekan-rekannya menyebut ahlinya bertugas mengenali sisa manusia lewat catatan gigi. Mereka juga menafsirkan pola hidup dan pola makan dari temuan arkeologi, lalu menentukan usia, jenis kelamin, dan asal keturunan.

Gigi memang tahan lama. Keith Dobney dan Don Brothwell menempatkan gigi sebagai artefak arkeologi yang dapat memberi keterangan penting. Dari gigi orang bisa mengenali spesies, menaksir usia, mendiagnosis kondisi patologis, dan memahami pola makan.

Daftar Isi
  1. Alat
  2. Kalkulus
  3. Usia
  4. Tahun
  5. Yang Ganjil
  6. Sisa

Alat

Sisa struktur Candi Simangambat hasil ekskavasi
Sisa struktur Candi Simangambat hasil ekskavasi. Foto ini bukan dari penggalian di kawasan Gua Pawon. (Foto: Ery Soedewo/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Alat yang paling sering dipakai adalah radiografi Cone Beam Computed Tomography tiga dimensi. Teknologi itu muncul di 16 dari 33 kajian, atau 48,48 persen. Alasannya efisien, tidak merusak sampel, dan cocok untuk subjek hidup maupun yang sudah meninggal.

Keunggulannya juga soal mutu gambar. Freny R. Karjodkar dan Rizky Merdietio Boedi bersama rekan-rekannya mencatat CBCT menghasilkan citra yang lebih tepat dan lebih menyeluruh dibanding radiografi dua dimensi. T. Manigandan dan rekan-rekannya menilai data radiografi lebih dapat diandalkan daripada catatan tertulis yang subjektif.

Sebelas dari 16 kajian CBCT itu memakainya bersama program Ez Implant. Program tersebut membantu pengolahan dan pembacaan data. Porsinya 33,33 persen dari seluruh kajian yang terkumpul.

Baca juga Efikasi Diri dalam Olahraga: Bukan Sekadar Percaya Diri

Enam kajian memakai Scanning Electron Microscope. Alat itu dipakai untuk memeriksa bakteri dan unsur kimia pada karang gigi. Porsinya 18,18 persen. Penerapannya di ranah arkeologi dirujuk penulis pada karya Keith Dobney dan Don Brothwell tahun 1987.

Kelebihannya cukup panjang. Penerapannya luas, citranya tiga dimensi, topografinya rinci, dan risiko radiasinya rendah. Hasilnya bisa keluar dalam waktu kurang dari lima menit setelah sampelnya disiapkan dengan benar.

Alat itu punya harga. Menurut catatan O.P. Choudhary dan rekan-rekannya, mikroskop elektron berukuran besar, mahal, dan peka terhadap gangguan listrik, magnet, maupun getaran. Perawatannya rutin dan operatornya harus terlatih khusus.

Tujuh kajian tidak memakai teknologi sama sekali. Lima di antaranya hanya pemeriksaan klinis. Dua sisanya telaah pustaka. Pemeriksaan klinis menilai jaringan keras dan jaringan lunak rongga mulut untuk membedakan yang sehat dari yang sakit.

Sisanya alat tunggal yang dipakai satu kajian saja. Ada yang memakai fotografi dengan perangkat lunak ImageJ, ada yang memakai Micro Computer Tomography, ada yang memakai mikroskop biasa. Satu kajian memakai irisan DICOM, satu lagi memakai Free Trial Map Info Pro versi 15.2.

Kalkulus

Variabel yang paling banyak diteliti adalah kalkulus atau karang gigi. Tujuh kajian mengambil topik itu, setara 21,21 persen. Angkanya melampaui semua variabel lain dalam daftar.

Variabel lain jauh lebih tipis. Ukuran gigi empat kajian, ukuran mandibula tiga kajian, lalu patologi gigi, pola gigi, penentuan jenis kelamin, analisis DNA, dan kualitas tulang masing-masing dua kajian. Kuantitas tulang, ras, dan kebersihan mulut masing-masing satu kajian.

Penentuan jenis kelamin memakai dua jalan. A.M. Putri mengukur lebar gigi kaninus mandibula kiri dengan rumus Discriminant Canine Index. Dian Purbasari Nugrahaningrum membaca bentuk lengkung gigi mandibula lewat data CBCT tiga dimensi. Ng Kar Mun memakai bentuk lengkung yang sama untuk menentukan ras.

Sebagian kecil kajian itu naik ke jurnal. Wisam Rizqullah dan rekan-rekannya menulis tentang ketebalan dan densitas tulang kortikal maksila dan mandibula di Purbawidya. Amalina Ahmad dan rekan-rekannya menulis tentang karies gigi dan pengaruh makanan pada kerusakan gigi di jurnal yang sama.

Amalia Khairani memeriksa pati pada kalkulus gigi Manusia Pawon dalam skripsinya tahun 2016. Ia menemukan kandungan pati itu sangat sedikit. Temuan tersebut mengarah pada dugaan bahwa populasi ini menyantap protein dalam porsi lebih besar.

Dugaan itu bertumpu pada sifat karang gigi. Roger Forshaw mencatat endapan tersebut menyimpan mikrofosil dan sisa bahan lain yang mutunya terus membaik untuk diteliti. Mirko Mattia dan rekan-rekannya menunjukkan kalkulus purba dapat mengungkap bakteri tertentu serta jenis makanan sepanjang hidup seseorang.

Baca juga Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024

Bentuk rahangnya ikut bercerita. Anesha Desrilyana, dalam skripsinya tahun 2016, mendapati korpus mandibula Manusia Pawon lebih tebal dibanding manusia modern suku Sunda berusia 25 sampai 35 tahun. Perbandingan itu memakai data CBCT tiga dimensi.

M. Iqbal Fauzan dan rekan-rekannya mencatat kepadatan tulang tertinggi Manusia Pawon ada di daerah belakang sisi kiri. Kekerasan makanan diduga ikut membentuk struktur rahang. Mereka menyatakan faktor lingkungan itu masih perlu diteliti lebih jauh sebelum disimpulkan.

Usia

Estimasi usia menempati urutan kedua. Enam kajian mengambilnya, setara 18,18 persen. Metodenya berganti-ganti dari satu skripsi ke skripsi berikutnya.

Ada yang memakai metode Kvaal, ada yang memakai metode Johanson, ada yang memakai metode Lovejoy. Dua kajian lain menghitung volume kamar pulpa pada gigi molar pertama dan gigi kaninus. Satu kajian mengonversi pola atrisi gigi manusia modern Deutro Melayu.

Hasilnya tidak seragam. N.F.B.A.G. Farhana, dalam skripsinya tahun 2018, mencatat adanya ketidaksesuaian hasil estimasi usia dibanding kajian terdahulu atas Manusia Pawon. Ia menyebut faktor biologis dan genetik perlu diperiksa lebih dulu.

Satu di antaranya naik ke jurnal. Elizabeth bersama Lutfi Yondri, Farina Pramanik, dan Nunung Rusminah menerbitkan estimasi usia Manusia Pawon dengan metode Johanson di jurnal Amerta pada 2018. Skripsinya sendiri sudah selesai dua tahun sebelumnya.

Usia bukan angka hiasan dalam odontologi forensik. Bersama jenis kelamin, keturunan, dan tinggi badan, angka itu membentuk profil biologis seseorang. Profil itulah yang dipakai untuk mencocokkan sisa manusia dengan identitasnya.

Tahun

Sebaran waktunya timpang. Sebanyak 21 dari 33 kajian lahir pada 2016 saja, atau 63,63 persen. Satu kajian muncul pada 2012, satu pada 2017, lima pada 2018, empat pada 2019, dan satu pada 2020.

Kajian tertua bertahun 2012. Taufik Senjaya bersama Fahmi Oscandar dan Lutfi Yondri membandingkan rata-rata lebar mahkota gigi molar pertama dan molar kedua mandibula Manusia Pawon dengan manusia modern. Artikelnya terbit di Padjadjaran Journal of Dentistry.

Sesudah 2020 tidak ada lagi. Penulisnya mencatat ketiadaan penelitian lanjutan atas Manusia Pawon dalam bidang ini sejak tahun itu. Rangkanya tetap ada, penelitinya yang berhenti datang.

Yang Ganjil

Ada satu angka yang tidak pas di dalam artikel itu sendiri. Tabel sumber rujukan mencantumkan 30 skripsi, tiga artikel Purbawidya, satu artikel Amerta, dan satu artikel Padjadjaran Journal of Dentistry. Jumlahnya 35, bukan 33.

Baca juga Dinding Tiga Meter dan Ketepatan Smash Bola Voli

Penulisnya menjelaskan sebagian sebabnya. Dua artikel jurnal terbit sejalan dengan isi skripsi dan ditulis peneliti yang sama. Entri atas nama Elizabeth dan entri atas nama M. Iqbal Fauzan memang muncul dua kali dalam tabel yang sama.

Bahan mentahnya sulit dijangkau. Penulis menyusun daftar dari Google Scholar, laman perpustakaan Universitas Padjadjaran, dan perpustakaan Departemen Odontologi Forensik. Kata kunci yang mereka pakai antara lain “gigi Manusia Pawon”.

Banyak karya itu tidak tersedia daring. Penulisnya menyebut kondisi tersebut menyulitkan penyusunan gambaran yang lengkap. Itu pula sebabnya kajian bibliografis semacam ini belum pernah dibuat sebelumnya.

Metodenya pun punya sisi lemah. Analisis isi memang lentur dan bisa dipakai untuk beragam data kualitatif. Satu Elo dan Helvi Kyngas menekankan tidak adanya panduan analisis data yang jelas, dan hal itu menjadi tantangan bagi penelitinya.

Sisa

Beberapa pertanyaan dibiarkan terbuka. Ketepatan metode estimasi usia masih perlu diperhalus. Sebab ketiadaan karies pada gigi Manusia Pawon juga belum dijelaskan siapa pun.

Analisis DNA belum menyentuh sampelnya. Dua kajian yang mengambil topik itu, karya N. Qotrunnada dan S.A.K. Alhadad pada 2016, keduanya berupa telaah pustaka. Belum ada pemeriksaan laboratorium atas materi genetiknya.

Penulisnya menyarankan jalan keluar yang sama untuk semua celah tadi. Kolaborasi lintas bidang antara odontologi forensik, arkeologi, dan genetika. Perbandingan kalkulus Manusia Pawon dengan situs arkeologi lain juga disebut layak dicoba.

Tujuh rangka itu sudah lebih dari dua puluh tahun berada di atas meja, dan giginya masih menyimpan pertanyaan yang tidak ada lagi orang bertanya sejak 2020.

Bagikan

Baca Juga

Arca Mamaki dari Candi Jago, Malang.
Amoghapasa Candi Jago dan Pengaruh Pala yang Kabur
Gua Tabuhan di Pacitan
Laser Mengenali Tambalan Semen di Stalaktit Gua Aul
Makam Tionghoa di Gunung Tidar, Magelang
Makam Tionghoa Bali dan Nisan Tertua Tahun 1838
Relief dewata dan apsara di Candi Prambanan
Astabrata yang Dipahat di Dinding Candi Siwa
Mulut gua pertahanan Jepang di Rane
101 Situs Pertahanan Jepang di Jawa Dipetakan Ulang
Menara dan bagian depan Gereja Santo Yoseph Matraman, Jakarta Timur
Tiga Menara Berkubah di Gereja Santo Yoseph Matraman