Astabrata yang Dipahat di Dinding Candi Siwa

A A

Relief dewata dan apsara di Candi Prambanan. Panil ini bukan panil Astadikpalaka yang dibahas. [Foto: Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

Cekricek.id — Candi selalu dibaca sebagai tempat manusia menyerahkan diri kepada yang ilahi, dan sudah begitu lama dibaca demikian sehingga batunya terasa netral, seolah setiap pahatan di dindingnya hanya urusan doa dan sama sekali bukan urusan siapa yang sedang berkuasa ketika doa itu dipahatkan. Pembacaan itu nyaman, tetapi ia meleset di Prambanan. Pada tubuh Candi Siwa, bangunan tertinggi dan terbesar di kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, terpahat para dewa penjaga arah mata angin yang tampaknya tidak hanya ditugasi menjaga arah, melainkan juga menjaga sesuatu yang jauh lebih rapuh, yaitu keabsahan seorang raja.

Pembacaan semacam itu diajukan Luthfan Nur Rochman dan Agus Aris Munandar dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, lewat kajian berjudul Relief Astadikpalaka Candi Siwa Prambanan: Materialisasi Astabrata Penguasa Mataram Kuno, yang terbit di jurnal Purbawidya Volume 15 Nomor 1 tahun 2026. Keduanya membaca relief Astadikpalaka, delapan dewa penjaga mata angin, sebagai perwujudan benda dari Astabrata, ajaran tentang delapan laku raja ideal, pada masa Rakai Pikatan di abad ke-9 Masehi. Dalam pembacaan mereka, relief berhenti menjadi objek pasif yang sekadar memantulkan masyarakatnya, dan mulai dihitung sebagai bagian aktif yang ikut memproduksi struktur kekuasaan itu sendiri.

Kerangkanya diambil dari teori strukturasi Anthony Giddens sebagaimana diadaptasi untuk arkeologi oleh Andreas G. Orphanides, dan intinya sederhana meski akibatnya jauh: struktur sosial bukan sesuatu yang berada di luar tindakan manusia, melainkan sekaligus sarana dan hasil dari praktik sosial, sehingga sebuah simbol hanya hidup selama ia terus diproduksi dan direproduksi dalam konteks tertentu. Dari titik itu, budaya benda berhenti diperlakukan sebagai hiasan, sebab maknanya lahir dari asosiasi kontekstual dan pemakaian yang berulang. Bentuk dan isi tidak terpisahkan, dan keduanya menyampaikan pesan ideologis. Para pelakunya pun bukan boneka budaya; mereka mengetahui struktur yang mengatur mereka dan terlibat aktif dalam mereproduksinya.

Daftar Isi
  1. Delapan Arah yang Menjadi Tubuh Raja
  2. Batu yang Menyusun Kewajaran
  3. Antara Laku dan Citra
  4. Yang Tidak Sanggup Dibuktikan Batu

Delapan Arah yang Menjadi Tubuh Raja

Relief dewata di dinding Candi Prambanan.
Relief dewata di dinding Candi Prambanan. (Foto: Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0)

Astadikpalaka secara harfiah berarti delapan penjaga arah, dan masing-masing datang dengan tunggangan serta perlengkapan yang khas: Indra di timur dengan vajra dan gajah yang melambangkan awan hujan, Agni di tenggara dengan simbol api dan tunggangan kambing, Yama di selatan dengan tongkat dan jerat serta tunggangan kerbau, Nairrti di barat daya dengan wajah menakutkan, mata melotot, dan mulut menganga, Varuna di barat yang terkait air dan menguasai naga, Vayu di barat laut dengan panji dan rusa jantan, Kuvera di utara sebagai pelindung kekayaan, serta Isana di timur laut dengan trisula, tengkorak, dan tunggangan banteng. Konstelasi itu bukan sekadar daftar. Ia kerap menjadi dasar pembangunan bangunan suci lewat diagram vastupurusamandala.

Baca juga Ratu Maha Maya di Dua Belas Panil Borobudur

Diagram itu berbentuk persegi yang dibagi menjadi kotak-kotak kecil, dan untuk bangunan suci biasanya dipakai empat puluh sembilan atau enam puluh empat kotak, kadang delapan puluh satu. Ada garis silang diagonal yang dianggap sakral dan tidak boleh ditumpangi tiang, jendela, pintu, atau kuil, dengan titik pusat sebagai bagian yang paling harus dihindari. Selain titik pusat, keempat sudut dan keempat titik kardinal berperan penting justru karena di situlah para penjaga arah mengamankan kelangsungan seluruh diagram. Artinya, sejak dari denah, arah sudah merupakan urusan tatanan, bukan urusan hiasan.

Nama Astabrata sendiri muncul lebih belakangan daripada candinya. Istilah itu pertama kali disebut dalam kakawin Ramayana berbahasa Jawa Kuna yang kemungkinan besar disusun pada abad ke-10, berasal dari kata Sanskerta asta-vrata, meski istilah itu justru tidak ditemukan dalam kesusastraan Sanskerta aslinya. Haryati Soebadio dan rekan-rekannya membaca kejanggalan itu sebagai tanda penjawaan atas pemikiran India, dan menunjuk pandangan dalam Manusmrti yang mengaitkan raja dengan delapan lokapala sebagai salah satu pengaruh besarnya. Di India, raja mula-mula lebih dibutuhkan sebagai pemimpin militer, lalu perlahan dinilai dekat dengan kedewaan dan dituntut bersikap seperti dewa.

Batu yang Menyusun Kewajaran

Penanggalan Candi Prambanan ke paruh kedua abad ke-9 dikerjakan J.G. de Casparis pada pertengahan abad ke-20 melalui terjemahan Prasasti Siwagrha, dan ia pula yang membuktikan bahwa prasasti itu memang merujuk pada kompleks Loro Jonggrang. Dari kerja itu lahir sebuah frasa yang kemudian menjadi poros seluruh tafsir politik kajian ini: de Casparis menafsirkan pembangunan candi tersebut sebagai bagian dari “konsolidasi dinasti Rakai Pikatan”. Frasa sependek itu memindahkan Prambanan dari daftar bangunan suci ke daftar tindakan politik, sebab konsolidasi selalu mengandaikan adanya sesuatu yang sebelumnya retak dan perlu direkatkan kembali.

Baca juga Tiga Candi Rakai Panangkaran dan Kelas Dasar Tantra

Retaknya terbaca di prasasti. Prasasti Siwagrha menyebutkan adanya penyerangan musuh terhadap kerajaan Rakai Pikatan atau Jatiningrat di sekitar masa peresmian candi, dan mencatat pergantian kekuasaan kepada Dyah Lokapala yang ditahbiskan di keraton Medang di Mamratipura karena telah berjasa dalam perang dan menyelamatkan kerajaan dari serangan musuh. Pada kurun yang sama, Rakai Walaing Pu Kumbhayoni mendirikan tiga lingga di bukit Ratu Boko, lalu pada 863 Masehi mendirikan Candi Bhadraloka sebagai tanda kemenangan atas musuh-musuhnya. Kemungkinan besar keduanya berperang, dan pahatan di dinding candi berdiri di tengah kemungkinan itu.

Roy Jordaan, penyunting bunga rampai kajian para cendekiawan Belanda tentang kompleks Loro Jonggrang, justru menahan tafsir persaingan itu agar tidak berlebihan. Ia berpendapat Prambanan kemungkinan besar tidak dimaksudkan sebagai saingan Borobudur, melainkan dibangun berdampingan secara damai dengan tempat-tempat suci Buddhis, bahkan mungkin melibatkan kerja sama dengan dinasti Sailendra. Jordaan juga mencatat bahwa Prasasti Wanua Tengah III menyebut Rakai Pikatan mangkat pada 855 Masehi, sehingga pembangunan candi mustahil hanya berlangsung dalam rentang 855 sampai 856. Kalau benar demikian, candi itu dikerjakan bertahun-tahun sebelumnya, dengan kesadaran penuh akan apa yang hendak ditinggalkannya.

Antara Laku dan Citra

Pada tingkat pembacaan satu per satu, tiap dewa berubah menjadi kalimat tentang pemerintahan. Indra yang mendatangkan hujan dan menenteramkan dunia dibaca sebagai kemurahan hati raja yang menghujankan hadiah; Surya yang menghisap air perlahan-lahan tanpa henti dibaca sebagai kebijaksanaan memungut hasil, yaitu pajak, tanpa tergesa-gesa dan tanpa memberatkan; Kuvera yang menjaga kekayaan dibaca sebagai kemampuan mengelola sumber daya sampai sanggup menyelenggarakan pembangunan candi semegah ini. Yama yang menghukum perbuatan jahat dan Varuna yang menjerat penjahat dengan Nagapasa dibaca sebagai penegakan hukum. Agni dibaca sebagai keperkasaan militer. Bayu, yang mengamati tanpa terlihat, dibaca sebagai pengawasan.

Yang menarik justru penyimpangannya. Di dinding utara, Soma, Dewa Bulan, dipahatkan bersama Kuvera, dan penggabungan itu dibaca sebagai adaptasi lokal yang menekankan kebijaksanaan spiritual sekaligus kemakmuran ekonomi. Isana di timur laut bahkan sama sekali tidak masuk konstelasi Astabrata, sebab ia merupakan aspek Siwa, dewa yang kepadanya seluruh candi didedikasikan. Penyimpangan semacam itu menunjukkan bahwa para pemahat dan brahmana bukan pelaksana pasif dari program yang sudah jadi; mereka memilih, menggabungkan, dan berinovasi. Untuk menghadirkan relief Astadikpalaka dibutuhkan lebih banyak bidang di tubuh candi dan lebih banyak pemahat, dan status Prambanan sebagai candi kerajaan membuat kebutuhan itu bisa dipenuhi.

Kejanggalan lain terletak di luar Prambanan. Candi-candi Hindu Saiwa lain yang lebih tua atau sezaman tidak memuat ikonografi Astadikpalaka pada tubuh candi induknya; yang lazim justru lima relung berisi arca pakem seperti Durga Mahisasuramardini di sisi utara, Agastya di sisi selatan, dan Ganesa di sisi berlawanan dengan pintu masuk. Ketiadaan pembanding itu membuat kehadiran delapan penjaga arah di Candi Siwa terasa sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Dan pilihan selalu punya pemilih, entah raja, entah para brahmana yang memegang tafsir atas religiusitasnya.

Yang Tidak Sanggup Dibuktikan Batu

Kajian ini menahan diri pada titik yang paling menggoda untuk dilewati. Para penulisnya menegaskan bahwa tulisan mereka tidak bermaksud menyatakan Rakai Pikatan secara faktual telah mempraktikkan seluruh laku Astabrata dalam keseharian pemerintahannya, sebab bukti langsung mengenai praktik etik pribadinya tidak tersedia. Yang ada hanya bukti tidak langsung: pembangunan candi kerajaan berskala besar, konteks konsolidasi dinasti, keterangan perang dan pergantian kekuasaan dalam Prasasti Siwagrha, serta pemilihan nama penerusnya, Dyah Lokapala, yang meminjam sebutan bagi para penjaga arah itu sendiri.

Baca juga Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim

Karena itu relief tersebut ditempatkan sebagai representasi aspiratif sekaligus propaganda politik, bukan sebagai catatan perilaku. Ia memproyeksikan citra tentang raja yang seharusnya, dan lewat proyeksi itu kekuasaan dinasti dinaturalisasi sebagai selaras dengan tatanan kosmik. Batas serupa berlaku pada jumlah panelnya: Candi Siwa memiliki dua puluh empat panel dewa penjaga, dan Andrea Acri bersama Roy Jordaan menghipotesiskan sebagian besar di antaranya merupakan aspek Siwa, bukan pengulangan dewa arah. Kajian ini tidak menolak hipotesis itu, tetapi memilih tetap memakai kerangka delapan penjaga arah agar tafsir Astabrata tidak dipaksakan secara mekanis pada seluruh dua puluh empat figur.

Yang tersisa dari kehati-hatian itu adalah pertanyaan yang tidak dijawab oleh batu mana pun di Prambanan. Kalau delapan dewa itu memang dipahat untuk membuat kekuasaan terasa wajar dan abadi, kepada siapa sebetulnya kewajaran itu perlu ditunjukkan pada abad ke-9 Masehi: kepada rakyat yang berjalan mengelilingi candi, kepada para brahmana yang menyusun tafsirnya, ataukah kepada penguasa berikutnya, yang namanya sudah dipilihkan sejak ia lahir?

Bagikan

Baca Juga

Mulut gua pertahanan Jepang di Rane
101 Situs Pertahanan Jepang di Jawa Dipetakan Ulang
Menara dan bagian depan Gereja Santo Yoseph Matraman, Jakarta Timur
Tiga Menara Berkubah di Gereja Santo Yoseph Matraman
Panil relief batu Borobudur memuat banyak sosok manusia duduk berjajar di bawah pohon
Tujuh Panil Borobudur dan Ajaran Menukar Penderitaan
Struktur bata Candi Jiwa di Kawasan Percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat
Dari 1980-an ke Kelas: Rencana STEAM untuk Batujaya
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Foto hitam putih pasar Payakumbuh sekitar 1910 dengan los beratap rumbia, pedagang duduk beralas tikar, dan keranjang hasil bumi di tanah
Payakumbuh, Kota Kolonial yang Dibentuk Lima Staatsblad