Cekricek.id — Candi hampir selalu dibaca sebagai monumen, sebagai pernyataan kuasa yang sengaja dibuat besar supaya bertahan jauh lebih lama daripada orang yang memerintahkan pendiriannya. Anggapan itu mulai goyah begitu Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Situs Ratu Boko diperiksa bersama-sama dengan prasasti yang menyertai masing-masing, bukan satu per satu seperti kebiasaan penelitian sebelumnya. Harriyadi dan Agus Aris Munandar dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, menyusun kajian berjudul Tiga Candi Era Rakai Panangkaran: Interpretasi Konsep Tantrayana Berdasarkan Prasasti dan Mitologi Bodhisattva, dan sampai pada kesimpulan yang sedikit mengganggu rasa hormat kita terhadap bangunan besar: ketiganya diduga kuat merupakan ruang bagi para pemula, bukan puncak pencapaian religius zamannya.
Kajian itu terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Vol. 44 No. 1, edisi Juni 2026, dan memilih pendekatan kualitatif dengan analisis kontekstual atas data arkeologi, prasasti, serta literatur mitologi Bodhisattva. Yang dipersoalkan bukan kemegahannya, melainkan sebuah kejanggalan yang selama ini dibiarkan lewat begitu saja. Candi-candi Buddha di Kawasan Borobudur, menurut pengamatan kedua penulis, memusatkan pemujaan pada Dhyani Buddha; sementara tiga bangunan era Rakai Panangkaran di Kawasan Prambanan justru, berdasarkan prasastinya sendiri, didirikan untuk memuja Bodhisattva. Kontras itu, tulis mereka, belum pernah dibahas latar belakang konsep keagamaannya oleh peneliti terdahulu, sebab pembahasan sebelumnya cenderung memperlakukan ketiga bangunan sebagai kasus yang terpisah: Kalasan lewat prasastinya, Sewu lewat arsitektur dan mandalanya, Ratu Boko lewat pemilihan lokasi dan mantranya.
Daftar Isi
Monumen yang Ternyata Ruang Latihan
Rakai Panangkaran bukan raja yang memerintah sebentar. Ia naik takhta pada 746 Masehi dan turun pada 784 Masehi, rentang yang oleh Tjahjono disebut mencapai tiga puluh delapan tahun, dan sepanjang waktu itu ia menerbitkan prasasti demi prasasti yang menandai sebuah perpindahan besar. Kerajaan yang ia warisi berdiri di atas penanda Hindu: Prasasti Canggal mencatat Raja Sanjaya mendirikan lingga di bukit Sthirangga pada 624 Saka atau 732 Masehi. Kajian atas Prasasti Wanua Tengah III memperlihatkan genealogi yang jauh lebih berbelit, sebab nama Sanjaya tidak tersurat di sana; yang ada adalah Rahyangta ri Mdang yang memeluk Hindu, dan Rahyangta i Hara, sang adik yang memeluk Buddha dan diduga kuat adalah Panangkaran sendiri.
Selama masa itu berdiri tiga bangunan yang kemudian menjadi objek kajian. Candi Kalasan berpasangan dengan Prasasti Kalasan bertarikh 700 Saka atau 778 Masehi, yang menyebut pendirian kuil bagi Tarabhavanam, sebuah bangunan suci untuk Dewi Tara. Candi Sewu berpasangan dengan Prasasti Kelurak 782 Masehi dan Prasasti Manjusrigrha 792 Masehi. Situs Ratu Boko berpasangan dengan Prasasti Abhayagirivihara, yang pada satu bagian artikel ditulis bertarikh 792 Masehi dan pada bagian lain diberi rentang 784 sampai 792 Masehi. Tiga bangunan, tiga prasasti, tiga nama dewa — dan tidak satu pun di antaranya menyebut Dhyani Buddha sebagai tujuan pemujaan.
Perbandingan dengan Kawasan Borobudur membuat pilihan itu terasa makin disengaja. Munandar sebelumnya menunjukkan garis lurus dari Candi Ngawen, Candi Mendut, Candi Pawon, hingga Candi Borobudur sebagai perwujudan konsep Catur Arya Satyani, sementara Wirasanti dan kawan-kawan membacanya secara semiotik sebagai kesan perjalanan spiritual menuju pusat dunia. Di sepanjang garis itu yang dipuja adalah Dhyani Buddha: Vairocana dengan sikap tangan dharmacakra mudra di Candi Mendut, diapit dua Bodhisattva yaitu Avalokitesvara dan Vajrapani; lalu arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa dan Amitabha di bilik Candi Ngawen. Di Prambanan, urutannya berbeda, dan perbedaan itulah yang dijadikan pintu masuk oleh kedua peneliti untuk menanyakan konsep religi apa yang sesungguhnya melatari ketiga pendirian tersebut.
Tiga Nama yang Dipilih, Bukan Diwarisi
Dewi Tara, dalam aliran Vajrayana, dianggap sebagai ibu dari semua Buddha, simbol kebijaksanaan sekaligus kasih sayang. Mitologinya menyebut ia muncul dari air mata Bodhisattva Avalokitesvara yang menangis ketika melihat bentuk-bentuk penderitaan di dunia. Namanya berarti dua hal sekaligus, juru selamat dan bintang, dan justru makna kedua itulah yang dipakai kedua peneliti sebagai kunci pembacaan: Tara adalah navigasi, dipanggil untuk membimbing mereka yang tersesat dan kesulitan menemukan jalan. Ia tercatat memiliki dua puluh satu bentuk damai dan ugra, dan dalam 108 Nama Tara Suci digambarkan sebagai pemimpin yang membimbing jiwa-jiwa yang hilang. Candi Kalasan, dengan demikian, dibaca sebagai perhentian pertama.
Perhentian kedua justru jauh lebih besar secara fisik, dan di situlah letak keganjilannya. Candi Sewu memiliki candi induk berpintu empat sesuai arah mata angin, lima ruangan pada bagian intinya, denah dasar yang mengikuti pola vajradhatu mandala, dan dikelilingi 240 candi perwara menurut hitungan Dumarcay. Namun tokoh yang dipuja di sana, Manjusri, tetaplah seorang Bodhisattva — digambarkan memegang pedang berapi di tangan kanan yang memangkas ketidaktahuan dan dualitas, serta kitab kebijaksanaan di atas teratai di tangan kirinya. Prasasti Manjusrigrha bahkan merekam bahwa bangunan itu berawal dari sebuah visi yang dilihat pendeta agung bernama Luravang di Vajrasana, bukan dari perintah seorang raja.
Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik
Perhentian ketiga tidak berada di dataran. Situs Ratu Boko berdiri di atas perbukitan kapur di selatan Kompleks Candi Prambanan, di Perbukitan Baturagung, dan menurut Kusen justru didirikan setelah Panangkaran mengundurkan diri dari takhta, menepi, lalu menjalankan kehidupan di pegunungan. Mitologi Avalokitesvara menyebut sang Bodhisattva memandang ke bawah dari puncak gunung, menyaksikan manusia menderita tanpa henti karena ketidaktahuan; air matanya membentuk kolam yang meluas menjadi danau, dan di tengah danau itu sekuntum teratai terbuka memperlihatkan Tara dalam bentuk dan kekuatannya yang lengkap. Kata abhaya sendiri berarti tanpa rasa takut, atribut khas Avalokitesvara yang kerap digambarkan dengan abhayamudra.
Nama vihara itu membawa persoalan yang jauh lebih luas daripada sekadar penamaan. Casparis mencatat adanya orang-orang Sinhalese dari Sri Lanka yang berperan dalam pendirian dan pemanfaatan Abhayagiri di Jawa, sementara Abhayagiri-vihara di Sri Lanka sendiri dikenal sebagai pusat Buddhisme Mahayana yang sangat menekankan pemujaan kepada Avalokitesvara dan Tara. Harriyadi dan Agus Aris Munandar menolak membaca kemiripan itu sebagai kebetulan geografis. “Penggunaan nama yang sama di Jawa dan Srilangka bukanlah suatu kebetulan melainkan bentuk transmisi ideologis,” tulis keduanya. Satu kalimat pendek, dan seluruh pembahasan berpindah dari soal arsitektur ke soal jaringan gagasan yang melintasi laut.
Baca juga Tiga Negara Eropa yang Absen dari Pakta Pertahanan PESCO
Yang Disebut Kelas Bawah
Di sinilah argumen utamanya dipasang. Praktik Vajrayana, mengikuti Dasgupta dan Guenther, terbagi ke dalam empat kelas: Kriya-Tantra, Carya-Tantra, Yoga-Tantra, dan Anuttarayoga Tantra. Dua yang pertama disebut tantra bawah, berurusan dengan ritual, upacara, dan pemujaan terhadap dewa-dewi, dengan penekanan pada tindakan yang sifatnya lahiriah; dua yang terakhir disebut tantra tinggi, mengandung proses yoga untuk merealisasi kebenaran tertinggi dan ditujukan bagi para sadhaka tingkat lanjut. Para pemula, tulis Upadhyaya, diinisiasi pada tahap Kriya-Tantra. Dan meditasi tantrik dasar terhadap Avalokitesvara, Manjusri, serta Tara, menurut Watt, memang berasal dari dua kelas awal tersebut, sementara praktik Mahavairocana dan Vajrasattva baru muncul pada Tantra Yoga. Ciri utama kelas pemula, tulis Guenther, adalah adanya pemujaan terhadap Bodhisattva.
Bukti pembandingnya diambil dari India. Pada situs gua Buddha di Deccan Barat dengan pertanggalan abad ke-6 hingga ke-11 Masehi, pahatan relief memperlihatkan kepercayaan dan praktik Tantra secara terbuka. Di Gua 90 Kanheri terdapat relief Bodhisattva yang dikenal sebagai Litani Avalokiteshvara, diapit dua figur perempuan yaitu Tara dan Bhrikuti, yang digambarkan sebagai pelindung dan penyelamat dari bahaya. Di Aurangabad, arca Buddha Shakyamuni didampingi Avalokiteshvara dan Vajrapani, yang disebut sebagai ciri khas Kriya-Tantra awal. Di Gua 6 Ellora, bertarikh sekitar 600 Masehi, sebuah diagram persegi sembilan menampilkan sosok Buddha dengan gestur pengajaran. Penekanan pada Bodhisattva, tulis kedua peneliti, adalah penanda kelas pemula.
Di situlah nilai yang biasa dilekatkan pada ukuran justru terbalik. Candi Borobudur, dengan panteon Panca Tathagata dan kitab Sang Hyang Kamahayanikan, dibaca sebagai manifestasi ajaran Mahayana dan yogatantra awal; sementara tiga candi di Kawasan Prambanan menjadi lapisan dasarnya, tempat para pemula belajar sebelum sanggup menempuh Yoga Tantra dan Anuttarayoga Tantra. Yang menarik, kedua peneliti tidak berhenti pada penjenjangan itu, melainkan menariknya ke soal ruang. “Candi Buddha tampaknya tidak berdiri sendiri melainkan memiliki keterkaitan antar satu dengan yang lain sehingga memiliki maknanya saling berjejaring dan membentuk satu kesatuan yang unik,” tulis mereka, mengaitkannya dengan konsep pilgrimage yang dibahas Barnes.
Baca juga Busur di Relief Candi Menyusut Delapan Abad, dari Vansa ke Saranga
Peta yang Tidak Bisa Ditutup
Semua itu tetap sebuah interpretasi, dan kedua penulis tidak menyembunyikannya. Metodenya kualitatif, bertumpu pada observasi dan studi pustaka, alih aksara serta alih bahasa prasasti, ditambah apa yang mereka sebut sendiri sebagai analisis komparasi sederhana terhadap konsep kelas tantra di India; tidak ada ekskavasi baru di dalamnya. Bagian garbhagrha Candi Kalasan sudah kosong dan hanya menyisakan sebuah pedestal besar, sehingga konstelasi mandala di dalamnya tidak dapat diidentifikasi. Kelas Kriya-Tantra dan Carya-Tantra pun, sebagaimana diakui dalam artikel, tidak disebutkan secara tersirat di dalam Sang Hyang Kamahayanikan. Kata diduga, diperkirakan, dan seolah muncul berulang kali sepanjang pembahasan.
Persoalan penanggalan menambah satu lapisan lagi. Kitab Sang Hyang Kamahayanikan, berdasarkan kritik teksnya, disimpulkan ditulis pada era Jawa Timur sekitar abad ke-10, meskipun sebagian ejaannya dinilai lebih tua sehingga dianggap mungkin berasal dari masa Sailendra. Artinya naskah yang dipakai membaca ketiga candi berjarak cukup jauh dari bangunannya sendiri. Prasasti Manjusrigrha bertarikh 792 Masehi, delapan tahun setelah Panangkaran turun takhta pada 784 Masehi, sementara Situs Ratu Boko sendiri sempat berpindah latar menjadi Hindu ketika dikuasai Pu Kumbhayoni. Urutan yang tampak rapi di atas kertas ternyata tidak serapi itu di lapangan, dan artikel ini pun mengakui bahwa dua dari tiga bangunan mengalami perubahan konsep dalam perjalanan sejarahnya.
Yang tersisa justru pertanyaan yang memang tidak dijawab artikel ini. Jika Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Situs Ratu Boko benar-benar merupakan lapisan dasar bagi para pemula, di manakah jenjang lanjutannya berdiri di Kawasan Prambanan, dan mengapa seorang raja menghabiskan hampir seluruh masa pemerintahannya untuk mendirikan ruang belajar tingkat awal, lalu memilih menutup hidupnya di bangunan terakhir yang ia dirikan sendiri di atas bukit? Kajian ini menyandingkan prasasti, arca, denah, dan mitologi sampai membentuk satu bacaan yang terasa utuh, namun bagian yang paling menentukan justru berada di luar jangkauan datanya, tersimpan pada ruang-ruang yang arcanya sudah lama tidak berada di tempatnya.














