Cekricek.id — Sebutan forever chemicals — harfiah “zat kimia abadi” — adalah cara pendek untuk mengatakan bahwa lapisan licin pada wajan antilengket dan kilap tahan air pada gincu tidak ikut lenyap ketika benda itu masuk tempat sampah. Nama teknisnya per- and polyfluoroalkyl substances, disingkat PFAS, yakni sekelompok senyawa yang ikatan karbon–fluornya sedemikian kuat sehingga alam memerlukan ratusan hingga ribuan tahun untuk memutuskannya. Sifat itu pula yang membuatnya dipakai industri sejak dekade 1940-an: menolak air, menolak minyak, menolak noda, dan tahan panas.
Terjemahan sederhana itulah yang coba ditanamkan Prof. dr. Cimi Ilmiawati, Ph.D dari Divisi Toksikologi Lingkungan, Bagian Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, bersama tiga belas rekan sejawatnya lewat laporan pengabdian masyarakat berjudul Education on Exposure and Health Risks of Forever Chemicals (PFAS) for Housewives and Adolescent Girls. Laporan itu dimuat jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 1 terbitan 2026, pada halaman 28 hingga 38.
Kegiatan yang dilaporkan berlangsung satu hari, 6 September 2025, di Puskesmas Padang Pasir, Padang Timur, Kota Padang, dan diikuti 20 orang: ibu rumah tangga serta remaja putri yang hari itu berkunjung ke puskesmas tersebut. Desain evaluasinya pre-test–post-test — peserta mengisi kuesioner yang sama dua kali, sekali sebelum penyuluhan dan sekali sesudahnya — sehingga yang diukur adalah selisih jawaban orang yang sama, bukan selisih antara dua kelompok berbeda. Naskahnya diterima redaksi 9 Desember 2025 dan terbit 25 Maret 2026.
Komposisi pesertanya sendiri perlu dibaca hati-hati. Sebutan ibu rumah tangga dan remaja putri memang ada di judul, tetapi pada tabel karakteristik, pelajar dan mahasiswa justru menempati porsi terbesar dengan 50 persen, disusul ibu rumah tangga 25 persen, pedagang 15 persen, dan remaja putri 10 persen. Sebanyak 55 persen peserta berusia di atas 25 tahun dan 45 persen sisanya berusia 25 tahun ke bawah, sementara 14 orang tercatat pernah atau sedang hamil.
Daftar Isi
Non-stick: Lapisan yang Menolak Menempel
Kata non-stick pada kemasan wajan berarti antilengket, dan yang membuatnya antilengket adalah salah satu anggota keluarga PFAS. Di rumah para peserta, benda itu bukan barang langka. Sebanyak 70 persen responden mengaku memakai peralatan masak antilengket, 45 persen di antaranya memakainya setiap hari, dan 90 persen memakai satu sampai tiga alat semacam itu dalam sehari. Ketika ditanya bahan alat masaknya, 45 persen menyebut Teflon — merek dagang lapisan antilengket yang paling dikenal — sedangkan 25 persen menjawab tidak tahu.
Alasan memilihnya memperlihatkan cara kerja pertimbangan sehari-hari. Setengah responden memilih alat antilengket karena “mudah dibersihkan”, 45 persen karena “makanan tidak menempel”, dan hanya 10 persen yang menyebut alasan “lebih sehat”. Bandingkan keduanya: alasan kepraktisan dipilih lima kali lebih sering daripada alasan kesehatan. Pada bagian pembahasan, tim penulis membaca pola itu sebagai tanda bahwa kesehatan belum menjadi faktor dominan dalam keputusan belanja rumah tangga.
Maksudnya begini. Materi penyuluhan tidak menyuruh peserta membuang wajannya, melainkan memperkenalkan pembanding yang bisa dibayangkan: alat masak berbahan stainless steel atau baja nirkarat, alat masak keramik, wadah makan pakai ulang milik sendiri, dan kebiasaan membaca label. Persoalannya, pada data awal baru 10 persen peserta memakai baja nirkarat dan 10 persen memakai keramik, sehingga pembanding yang ditawarkan itu memang belum menjadi barang umum di dapur mereka.
Baca juga Gelombang Panas Laut Kini Dinilai Ancam Kesehatan Manusia, Bukan Cuma Lingkungan
Waterproof dan Long-Lasting: Tahan Air, Tahan Lama
Dua kata itu — waterproof yang berarti tahan air dan long-lasting yang berarti tahan lama — adalah janji yang dicetak pada kemasan maskara, alas bedak, dan gincu. Di kelompok peserta, hampir semua memakai kosmetik; hanya dua orang atau 10 persen yang menyatakan tidak memakainya sama sekali, dan 65,5 persen memakainya satu sampai tiga kali sehari. Menariknya, 65,5 persen menyatakan tidak memakai kosmetik tahan air, tetapi separuh peserta tetap lebih memilih produk tahan lama, dengan alasan terbanyak “tahan lama” itu sendiri sebesar 35,5 persen.
Bedanya begini. Yang membuat maskara tidak luntur bukan sekadar minyak, melainkan bahan yang menolak air, dan di situlah PFAS kerap dipakai. Karena itu penyuluhan mengajarkan satu keterampilan yang sangat konkret: membaca daftar bahan dan mencurigai kata yang mengandung unsur “fluoro” atau singkatan PTFE, kependekan dari politetrafluoroetilena, bahan yang sama dengan lapisan wajan antilengket. Perhatian khusus diberikan pada produk mata dan bibir, karena penyerapan lewat kulit dan kemungkinan tertelan di area itu jauh lebih besar dibanding bagian tubuh lain.
Kemasan makanan mengikuti pola serupa. Sebanyak 65 persen peserta mengonsumsi makanan atau minuman kemasan, dengan alasan terbanyak “lebih praktis” 45 persen, disusul “lebih sehat” 30 persen dan “lebih higienis” 10 persen. Jenis kemasan yang paling sering dipakai adalah plastik mika, styrofoam alias busa polistirena, dan kaca, masing-masing 30 persen. Sebanyak 85 persen peserta memakai satu sampai lima produk kemasan setiap hari.
Konteks Indonesianya disebut singkat oleh tim penulis. Laporan lembaga lingkungan Nexus3 Foundation bersama IPEN, jaringan organisasi lingkungan lintas negara, pada 2023 menemukan kadar PFAS yang tinggi pada produk konsumen yang dijual di pasar lokal, termasuk kemasan pangan dan pakaian sintetis. Sementara itu Badan Pengawas Obat dan Makanan belum memiliki aturan khusus mengenai PFAS pada kemasan pangan — celah yang dijadikan tim penulis sebagai alasan mengapa edukasi konsumen dipandang mendesak.
Baca juga Separuh Perempuan Muda Tanya Chatbot AI soal Menyusui
Knowledge: Tahu, dalam Arti Bisa Menjawab
Dalam laporan ini, knowledge diterjemahkan sebagai pengetahuan, yakni kemampuan menjawab pertanyaan faktual dengan benar. Ukurannya sederhana: persentase peserta yang menjawab “tahu” pada tiap butir kuesioner, sebelum dan sesudah penyuluhan. Pada hampir semua butir, angkanya naik. Pertanyaan tentang alat masak yang paling sehat melonjak dari 35 persen menjadi 85 persen, selisih 50 poin persentase, dan itu merupakan kenaikan terbesar bersama satu butir lain.
Butir lain itu soal kosmetik. Pertanyaan apakah zat kimia dalam kosmetik sulit terurai naik dari 15 persen menjadi 65 persen, juga 50 poin. Pertanyaan tentang dampak kesehatan alat masak antilengket bergerak dari 15 persen ke 60 persen, sedangkan pertanyaan tentang dampak kesehatan kemasan pangan dari 30 persen ke 65 persen. Kenaikan paling tipis justru terjadi pada butir yang sejak awal sudah dipahami, yaitu apakah zat dari kemasan mencemari makanan, dari 60 persen ke 65 persen.
Angka awal yang rendah itu sendiri bercerita. Sebelum penyuluhan, hanya 15 persen peserta mengetahui kemungkinan dampak kesehatan alat masak antilengket, padahal 70 persen memakainya di dapur. Jarak antara seberapa sering sebuah benda dipakai dan seberapa jauh benda itu dikenali adalah persoalan yang hendak dijawab kegiatan ini. Tim penulis menilai kemampuan satu sesi menutup jarak tersebut menunjukkan materinya relevan dan mudah dicerna sasarannya.
Awareness: Waspada, yang Ternyata Perkara Lain
Di sinilah satu istilah lagi perlu diterjemahkan hati-hati, sebab dalam percakapan sehari-hari “tahu” dan “sadar” kerap dianggap satu hal yang sama. Tim penulis membedakan keduanya secara tegas. “Pengetahuan merujuk pada pemahaman kognitif atas fakta (misalnya, ‘PFAS berbahaya’), sedangkan kewaspadaan mencerminkan rasa waspada yang meninggi yang memotivasi niat atau tindakan (misalnya, ‘Saya sebaiknya menghindari produk yang mengandung PFAS’),” tulis Prof. dr. Cimi Ilmiawati, Ph.D dan tim penulisnya.
Kewaspadaan itu diukur sebagai skor, lalu dibandingkan memakai median, yaitu nilai tengah ketika seluruh skor diurutkan, bukan rata-rata, karena sebaran datanya tidak diasumsikan normal. Median skor kewaspadaan bergerak dari 57 sebelum penyuluhan menjadi 60 sesudahnya, selisih 3,0 poin, dengan rentang antarkuartil — ukuran sebaran separuh data di tengah — yang sama, 13,8, pada kedua pengukuran. Uji yang dipakai adalah Wilcoxon Signed Rank Test, uji statistik untuk membandingkan dua pengukuran pada orang yang sama.
Baca juga 444 Alat Batu Lembah Walennae dan Satu Bahan Baku yang Melimpah
Maksudnya, hasil uji itu berupa nilai p sebesar 0,221, sementara batas yang ditetapkan tim penulis adalah p kurang dari 0,05. Angka 0,221 berada jauh di atas batas tersebut, sehingga kenaikan tiga poin tadi tidak dapat dibedakan dari kebetulan. Pengetahuan naik, kewaspadaan praktis diam di tempat. Konsekuensinya, laporan ini tidak dapat mengklaim adanya perubahan perilaku pada pesertanya.
Penjelasan yang diajukan tim penulis berangkat dari data kebiasaan pada bagian awal laporan. “Meskipun kewaspadaan terhadap potensi risiko kesehatan mungkin telah meningkat, hal itu tidak cukup kuat untuk mengatasi kebiasaan mengakar yang berpijak pada kenyamanan,” tulis mereka. Kepraktisan yang membuat wajan antilengket dipilih separuh peserta adalah kekuatan yang sama yang membuat satu sesi penyuluhan berhenti pada tataran pengetahuan.
Laporan itu menyebut sendiri batas-batasnya. Pesertanya sedikit dan relatif seragam, hanya 20 orang di satu puskesmas di satu kota, tidak ada pemantauan lanjutan untuk melihat apakah perilaku benar-benar berubah, dan penyuluhan hanya dilakukan satu kali. Karena itu angka-angka di atas tidak bisa dibaca sebagai gambaran ibu rumah tangga Indonesia, dan kenaikan pengetahuan tidak bisa dibaca sebagai bukti bahwa peserta kemudian mengganti wajan atau kosmetiknya.
Kata “abadi” pada forever chemicals, pada akhirnya, hanya menerangkan sifat senyawanya dan tidak menerangkan sifat pengetahuan tentangnya. Yang bertahan ratusan sampai ribuan tahun adalah ikatan karbon–fluor di dalam lapisan wajan dan maskara. Yang berhasil diukur laporan ini hanya bertahan sepanjang jarak antara satu kuesioner dan kuesioner berikutnya, di satu ruangan puskesmas, pada satu hari di bulan September 2025.














