Salah Paham Gizi Ibu Hamil: Protein Saja Tak Cukup

Seorang tenaga kesehatan berjas putih memberikan penjelasan kepada seorang perempuan di ruang periksa berperalatan ultrasonografi

Ilustrasi seorang perempuan menjalani konseling bersama tenaga kesehatan di ruang periksa layanan kesehatan primer. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Gizi seimbang adalah istilah yang terdengar rumit, padahal maksudnya sederhana: piring seorang ibu hamil perlu memuat cukup banyak jenis zat, bukan cukup banyak satu jenis saja. Istilah itulah yang menjadi pokok sebuah laporan pengabdian masyarakat yang ditulis Yanti Puspita Sari, Hermalinda Herman, dan sepuluh rekan mereka dari Departemen Keperawatan Maternitas dan Anak, Fakultas Keperawatan, Universitas Andalas, Padang.

Laporan berjudul Enhancing Pregnant Women’s Capacity to Achieve Balanced Nutrition for Stunting Prevention itu terbit pada 2026 di jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 2. Isinya satu kegiatan penyuluhan berdurasi 120 menit pada 27 Agustus 2025 di wilayah kerja Puskesmas Bungus, Kota Padang, yang diikuti sepuluh ibu hamil, lengkap dengan pengukuran pengetahuan sebelum dan sesudah materi disampaikan pada hari yang sama.

Desainnya disebut pra-uji dan pasca-uji pada satu kelompok. Maksudnya, sepuluh ibu yang sama mengisi kuesioner dua kali — sekali sebelum materi disampaikan, sekali sesudahnya — tanpa kelompok pembanding yang tidak menerima penyuluhan. Kuesionernya berisi sepuluh pertanyaan pilihan ganda yang disusun tim penulis berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang, mencakup kebutuhan gizi selama kehamilan, sumber zat gizi makro dan mikro, pencegahan anemia, serta pencegahan stunting.

Gizi Seimbang: Bukan Sekadar Menambah Lauk

Bayangkan seorang ibu hamil yang menambah satu potong ikan di piringnya setiap hari, lalu merasa urusan gizi sudah beres. Contoh itu masuk akal, apalagi di kawasan pesisir Bungus tempat ikan tersedia dekat. Persoalannya, gizi seimbang dalam pengertian laporan ini mencakup dua kelompok zat sekaligus: zat gizi makro — karbohidrat, protein, dan lemak — serta zat gizi mikro, yaitu vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil tetapi tetap wajib ada.

Di situlah contoh tadi meleset, dan Kepala Puskesmas Bungus, Dr. Yuli Rilda, sudah menandainya jauh sebelum penyuluhan digelar. Menurut keterangannya yang dikutip tim penulis, konsumsi tablet zat besi atau Fe di kalangan ibu hamil di wilayah itu sudah melampaui target 85 persen, tetapi kasus anemia tetap muncul. “Sebagian ibu percaya bahwa sekadar menambah asupan protein sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka. Selain itu, sebagian ibu belum mampu mengolah sumber protein yang tersedia secara lokal dari kawasan pesisir Bungus,” demikian catatan yang disandarkan pada Dr. Yuli Rilda.

Bedanya begini. Menambah jumlah protein menjawab pertanyaan berapa banyak, sedangkan gizi seimbang menjawab pertanyaan apa saja dan bagaimana. Materi yang disampaikan Ns. Yanti Puspita Sari, M.Kep., Ph.D., pada 27 Agustus 2025 karena itu tidak berhenti pada daftar bahan makanan, melainkan sampai pada teknik pengolahan agar zat gizinya tidak hilang, serta cara mengenali masalah gizi pada ibu hamil, bayi, dan balita. Sesi itu juga membuka ruang diskusi supaya peserta menceritakan pengalaman masing-masing dan meluruskan salah paham soal makanan selama kehamilan.

Baca juga NASA: Mikroba Manusia Bisa Bertahan di Kutub Selatan Bulan

Stunting: Terlalu Pendek untuk Usianya

Stunting, kata yang kini akrab di spanduk pos pelayanan terpadu atau posyandu, didefinisikan laporan ini secara harfiah: kondisi ketika seorang anak terlalu pendek untuk usianya. Angkanya memang turun dalam dua dekade, dari 31 persen pada 2000 menjadi 22 persen pada 2020, tetapi jumlah mutlaknya tetap besar. Pada 2020 sekitar 149,2 juta balita di dunia tergolong pendek, dengan prevalensi tertinggi berada di Asia sebesar 53 persen dan Afrika 41 persen.

Di Indonesia, sekitar 29 persen balita tergolong stunting pada 2015. Angka itu turun ke 27,5 persen pada 2016, lalu naik lagi ke 29,6 persen pada 2017. Yang lebih menjelaskan justru perbandingan menurut umur: prevalensi pada bayi usia enam bulan tercatat 22 persen dan melonjak menjadi 38 persen ketika anak berusia dua tahun. Selisih enam belas poin itu terjadi dalam rentang delapan belas bulan saja.

Sumatera Barat termasuk provinsi dengan prevalensi relatif tinggi, dengan 10,64 persen anak masuk kategori pendek dan 18,22 persen sangat pendek. Di Kota Padang, angkanya berturut-turut 10,45 persen dan 12,29 persen. Di wilayah Puskesmas Bungus sendiri, Profil Kesehatan Kota Padang 2023 mencatat 144 ibu hamil mengalami anemia, dua bayi lahir dengan berat badan rendah, satu kelahiran prematur, dan 34 anak stunting dari 1.670 bayi yang diukur tinggi badannya.

Cakupan ASI eksklusif — pemberian hanya air susu ibu tanpa tambahan makanan atau minuman lain pada enam bulan pertama — di wilayah itu sekitar 65 persen, masih di bawah target nasional. Salah satu penjelasan yang diajukan laporan ini bukan soal ketersediaan pangan, melainkan soal kebiasaan yang diwariskan. Tabu makanan, yakni larangan mengonsumsi bahan tertentu yang diyakini turun-temurun, disebut ikut membentuk pola pemberian makan pada bayi dan anak.

Sebuah studi di Padang yang dirujuk tim penulis menemukan kakek dan nenek kerap mendorong ibu memberikan susu formula dan makanan padat lebih awal supaya anak lekas besar dan sehat. “Selain itu, ada keyakinan di masyarakat bahwa anak tidak boleh mengonsumsi daging, ikan, atau ubi jalar karena dianggap sulit dikunyah dan dicerna,” tulis Yanti Puspita Sari dan rekan-rekannya. Sebagian ibu juga meyakini telur sebaiknya tidak diberikan karena risiko alergi dan keterlambatan perkembangan.

Baca juga 444 Alat Batu Lembah Walennae dan Satu Bahan Baku yang Melimpah

Maksudnya, daftar larangan itu justru memangkas sumber protein yang paling mudah dijangkau di rumah. Laporan tersebut menyebut daging, ikan, dan telur sebagai sumber protein penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga membatasi asupannya berpotensi menaikkan risiko gizi kurang serta masalah kesehatan lain, termasuk stunting. Diskusi kelompok pada hari kegiatan dipakai untuk mengajak peserta menimbang ulang keyakinan-keyakinan itu dan menakar dasar ilmiahnya, karena kebiasaan semacam ini kerap memengaruhi perilaku pemberian makan dan berujung pada asupan gizi yang tidak memadai.

Anemia: Ketika Hemoglobin Tak Mencukupi

Anemia dalam laporan ini diukur lewat kadar hemoglobin, protein di dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke janin. Alat yang dipakai adalah penguji hemoglobin portabel. Sebelum itu peserta ditimbang dan diukur lingkar lengan atasnya, ukuran sederhana yang dipakai untuk menandai risiko kekurangan energi kronik, yaitu kondisi kurang gizi yang berlangsung lama pada ibu hamil.

Pemeriksaan ketiga adalah gula darah sewaktu, yakni kadar glukosa yang diambil tanpa memandang kapan peserta terakhir makan, untuk mendeteksi kemungkinan diabetes gestasional — diabetes yang muncul selama kehamilan — atau gangguan metabolisme glukosa lain. Hasilnya dijelaskan langsung kepada peserta, lalu diikuti konseling perorangan. Dari sepuluh ibu yang diperiksa, empat orang atau 40 persen memiliki kadar hemoglobin rendah, sedangkan enam sisanya berada pada kisaran normal.

Angka yang justru paling menonjol datang dari pemeriksaan gula darah: enam dari sepuluh peserta tercatat rendah dan empat sisanya tinggi. Tabel karakteristik peserta memang hanya memuat dua kategori untuk gula darah, rendah dan tinggi, tanpa kategori normal. Laporan tersebut mencatat kadar hemoglobin rendah dan kadar gula darah rendah sebagai alasan mengapa edukasi dan pemantauan gizi perlu berjalan terus selama pemeriksaan kehamilan, bukan berhenti pada satu pertemuan penyuluhan.

Komposisi peserta membuat temuan itu perlu dibaca dengan hati-hati. Sembilan dari sepuluh berusia 25 tahun ke atas, enam berpendidikan tinggi, sembilan tidak bekerja, dan sembilan berstatus multigravida, istilah untuk ibu yang pernah hamil lebih dari satu kali. Hanya satu peserta yang primigravida, yaitu ibu yang sedang menjalani kehamilan pertamanya. Sebagian besar yang hadir, dengan kata lain, sudah pernah melewati masa kehamilan sebelumnya, sehingga materi penyuluhan sampai kepada orang-orang yang bukan pendatang baru di ruang periksa kandungan.

Baca juga Covid-19 Berat Bangunkan Virus Tidur, Satu Terkait Long Covid

Uji-T Berpasangan: Orang yang Sama Diukur Dua Kali

Uji-t berpasangan, alat statistik yang dipakai tim penulis, sebenarnya menjawab satu pertanyaan sederhana: apakah selisih nilai pada orang yang sama, yang diukur dua kali, cukup besar untuk tidak dianggap kebetulan. Disebut berpasangan karena setiap nilai sebelum penyuluhan dipasangkan dengan nilai sesudah penyuluhan milik orang yang sama, bukan dibandingkan dengan nilai orang lain. Tim penulis memilih uji ini karena sebaran datanya dinyatakan normal, dan menetapkan ambang kebermaknaan pada nilai p di bawah 0,05.

Rata-rata skor pengetahuan sebelum penyuluhan 7,10 dari nilai tertinggi yang mungkin 10, dengan nilai terendah peserta 4 dan tertinggi 9. Sesudah penyuluhan, rata-ratanya 8,70, dengan nilai terendah 7 dan tertinggi 10. Selisih rata-ratanya 1,6 poin. Nilai t tercatat 3,748 dan nilai p 0,005, di bawah ambang 0,05 yang ditetapkan tim penulis sebagai batas kebermaknaan statistik. Rentang kepercayaan 95 persen, yakni kisaran tempat nilai rata-rata sesungguhnya diperkirakan berada, bergeser dari 6,01–8,19 sebelum penyuluhan menjadi 8,02–9,38 sesudahnya.

Bedanya begini. Nilai p sebesar 0,005 tidak berarti penyuluhan menaikkan pengetahuan sebesar 99,5 persen, dan tidak pula mengukur seberapa besar kenaikannya. Ia hanya menyatakan bahwa selisih sebesar itu kecil kemungkinannya muncul semata-mata karena kebetulan. Hasil senada dilaporkan sebuah studi di Kota Bengkulu pada 2024 yang dirujuk tim penulis, dengan nilai p 0,001 setelah ibu hamil menerima materi tentang ukuran porsi, jenis pangan bergizi, dan frekuensi konsumsi.

Batas temuan ini perlu disebut apa adanya. Pesertanya sepuluh orang di satu wilayah puskesmas, tanpa kelompok pembanding, sehingga kenaikan skor tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari pengaruh mengerjakan kuesioner yang sama dua kali. Pasca-uji juga dikerjakan pada sesi yang sama, dalam rentang 120 menit, sehingga yang terukur adalah pengetahuan yang baru saja didengar, bukan yang bertahan berbulan-bulan kemudian. Angka simpangan baku pada tabel pun tertukar dengan yang tertulis di badan naskah.

Di situlah istilah pengetahuan menunjukkan batasnya. Yang naik dari 7,10 menjadi 8,70 adalah jawaban atas sepuluh pertanyaan pilihan ganda, bukan isi piring pada makan malam berikutnya, dan bukan pula tinggi badan anak yang belum lahir. Tim penulis sendiri menutup laporannya dengan rekomendasi agar edukasi gizi diberikan rutin pada setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan — pengakuan yang jujur bahwa satu pertemuan 120 menit hanya mengukur apa yang diketahui, belum apa yang dikerjakan.

Baca Juga

Daun kelor majemuk berbentuk bulat telur pada tangkai, terlihat dari bawah dengan latar langit
Daun Kelor dan Stunting: Skor Naik, Bukti Belum
Petugas kesehatan berseragam biru memeriksa tekanan darah seorang pasien perempuan
Kesehatan Jantung Perempuan: Skor Naik, Risiko Tetap
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono memberi kuliah umum di Convention Hall Universitas Andalas.
Wamen LH di UNAND: Pilah Sampah Sejak dari Hulu
Peneliti meninjau lahan sawah dalam riset ketahanan iklim pertanian Universitas Andalas
Riset Unand: Adaptasi Iklim Petani Sumbar dan Sulsel Beda
Pengibaran bendera pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kampus Limau Manis, Universitas Andalas, Padang, Senin (17/8/2026).
HUT ke-81 RI, Rektor UNAND Bacakan Amanat Mendiktisaintek
Ilustrasi literasi hukum
FH UNAND Dinobatkan Kampus Pelopor Literasi Hukum Digital 2026