Cekricek.id — Infeksi Covid-19 yang berat ternyata dapat membangunkan virus-virus laten yang selama ini tidur tenang di tubuh manusia. Satu keluarga virus yang terbangun itu berkaitan dengan long Covid dan keterbatasan fisik jangka panjang.
Mengutip ScienceDaily, Sabtu (15/8/2026), temuan tersebut berasal dari studi multi-omik berjudul Virus reactivation in acute and long COVID-19 yang terbit di jurnal Nature tahun 2026. Penulis pertamanya Cole Maguire dari Dell Medical School, University of Texas at Austin, dengan Esther Melamed sebagai penulis korespondensi, dan melibatkan peneliti dari Boston Children’s Hospital serta Emory University.
Baca juga: Satu Butir Pati di Gigi Rangka Plawangan Ternyata Bukan Gandum
1.154 Pasien di 20 Rumah Sakit Riset
Studi ini mengikuti 1.154 pasien Covid-19 yang dirawat inap di 20 rumah sakit riset biomedis di Amerika Serikat. Dari mereka dikumpulkan lebih dari 200.000 sampel yang kemudian menghasilkan lebih dari satu miliar titik data, mencakup penanda peradangan, metabolit, dan aktivitas gen.
Dalam 40 hari sejak pasien masuk rumah sakit, tim mengidentifikasi sebelas virus yang aktif kembali. Di antaranya virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks tipe 1, dan sitomegalovirus — virus-virus yang lazim menetap seumur hidup di tubuh orang dewasa tanpa menimbulkan gejala.
Pola kebangkitannya tidak seragam. Virus Epstein-Barr memuncak lebih awal dalam perjalanan penyakit, sementara sitomegalovirus dan herpes simpleks tipe 1 baru muncul belakangan.
Peradangan, Bukan Sistem Imun yang Melemah
Selama ini reaktivasi virus laten umumnya dianggap akibat sistem kekebalan yang tertekan. Data studi ini justru menunjuk arah lain: kebangkitan virus terjadi seiring peradangan hebat, bukan seiring penekanan imun.
Baca juga: Padang Panjang Raih Apresiasi Kemendagri, Terima Rp1,5 Miliar untuk Kesehatan
Kekuatan reaktivasi juga berjalan seiring keparahan penyakit dan hasil klinis pasien. Yang paling menonjol, terdeteksinya Anelloviridae berkaitan dengan disabilitas fisik jangka panjang dan long Covid. Karena studi ini bersifat pengamatan, kaitan tersebut belum membuktikan bahwa virus yang terbangun itu menjadi penyebab long Covid.
“Kaitan dengan long Covid ini adalah temuan yang menarik karena jutaan orang di seluruh dunia menderita kondisi kronis tersebut,” kata Ofer Levy, Direktur Precision Vaccines Program di Boston Children’s Hospital.
Petunjuk untuk Diagnosis dan Terapi
Virus-virus yang dibahas dalam studi ini bukan patogen asing. Virus Epstein-Barr, sitomegalovirus, dan herpes simpleks tipe 1 sudah menetap di tubuh sebagian besar orang dewasa sejak usia muda dan biasanya dikendalikan sistem imun tanpa menimbulkan keluhan. Anelloviridae bahkan lazim ditemukan pada orang sehat dan selama ini dianggap tidak berbahaya, sehingga kaitannya dengan gejala berkepanjangan menjadi salah satu bagian paling tidak terduga dari laporan ini.
Setiap virus yang aktif kembali meninggalkan tanda peradangan, metabolomik, dan transkriptomik yang berbeda satu sama lain. Bagi peneliti, perbedaan itu berpotensi dipakai sebagai penanda untuk memilah pasien mana yang berisiko mengalami gejala berkepanjangan.
Baca juga: IAEA: PLTN Zaporizhzhia Kini Bergantung pada Satu Saluran Listrik
Menurut keterangan Boston Children’s Hospital, langkah berikutnya adalah menelusuri bagaimana sistem imun merespons virus-virus yang terbangun tersebut, agar bisa ditentukan terapi yang tepat sekaligus waktu paling efektif untuk memberikannya.
Long Covid sendiri masih menjadi beban kesehatan yang besar. Di Amerika Serikat saja, sekitar sepuluh juta orang dewasa dilaporkan mengalami kondisi ini, sementara Covid-19 masih menyebabkan kematian dalam jumlah puluhan ribu sepanjang 2025 hingga 2026. Sampai kini belum ada terapi yang terbukti menyembuhkan long Covid, sehingga penanda biologis yang bisa diukur di laboratorium menjadi salah satu jalan yang paling diburu peneliti.
















