Cekricek.id — Pemerintah Singapura akan mengumumkan sejumlah langkah awal untuk menopang pernikahan dan pengasuhan anak pada Rapat Umum Hari Nasional, 23 Agustus 2026, tanpa menunggu laporan lengkap kelompok kerja yang baru akan keluar pada awal 2027. Negara kota itu sedang menghadapi angka kelahiran terendah dalam sejarahnya.
Dikutip dari laman AsiaOne, asiaone.com, Sabtu (15/8/2026), rencana tersebut disampaikan Menteri di Kantor Perdana Menteri Singapura, Indranee Rajah, dalam jamuan makan malam Hari Nasional di Pasir Ris-Changi pada hari yang sama. Indranee memimpin Marriage and Parenthood Reset Workgroup, kelompok kerja lintas kementerian yang dibentuk khusus untuk menelaah persoalan itu.
Ia menyebut sebagian usulan sengaja dimajukan agar waktu tidak terbuang. “Jadi ketimbang menunggu, lebih baik kami menangani hal ini lebih awal dan secara terbuka, karena persoalan-persoalan ini penting,” kata Indranee Rajah.
Baca juga: Trump Ingin Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS, Ini Kata Pakar
Angka Kelahiran Turun ke 0,87
Dikutip dari laman Strategy Group Kantor Perdana Menteri Singapura, strategygroup.gov.sg, angka kesuburan total Singapura tercatat 0,87 pada 2025, turun dari 0,97 pada 2024. Angka itu jauh di bawah tingkat penggantian penduduk dan menjadi alasan utama pemerintah membentuk kelompok kerja tersebut pada 29 April 2026.
Kelompok kerja itu diberi tiga pekerjaan pokok. Pertama, menyusun peta jalan jangka panjang untuk mengubah cara masyarakat memandang pernikahan dan pengasuhan anak. Kedua, mengusulkan penyempurnaan kebijakan atas keluhan-keluhan utama warga. Ketiga, menggerakkan dukungan seluruh lapisan masyarakat agar urusan ini tidak berhenti sebagai proyek pemerintah.
Tujuh Bidang yang Ditelaah
Bidang yang ditelaah mencakup biaya finansial membesarkan anak, dukungan keseimbangan kerja dan kehidupan, beban pengasuhan, perumahan, layanan kesehatan, pendidikan prasekolah, serta pendidikan formal. Selain Indranee Rajah yang duduk sebagai ketua, kelompok kerja ini berisi delapan anggota dari berbagai kementerian, di antaranya Low Yen Ling, Rahayu Mahzam, Dinesh Vasu Dash, Jasmin Lau, Goh Pei Ming, Zhulkarnain Abdul Rahim, Shawn Huang, dan Goh Hanyan.
Baca juga: Harga BBM Melonjak, Motor Listrik Kian Diminati di Nigeria
Indranee menegaskan pemerintah ingin membangun dukungan bagi keluarga di semua tahap kehidupan, bukan hanya pada satu titik. Ia juga mengakui keberhasilan langkah-langkah itu tetap bergantung pada keterlibatan komunitas dan pemberi kerja, dua pihak yang selama ini paling menentukan apakah kebijakan cuti dan jam kerja fleksibel benar-benar bisa dipakai.
Angka 0,87 berarti setiap perempuan Singapura rata-rata melahirkan kurang dari satu anak sepanjang masa reproduksinya, jauh di bawah tingkat penggantian penduduk sebesar 2,1 anak per perempuan. Konsekuensinya bukan hanya jumlah penduduk yang menyusut, melainkan juga komposisi usia angkatan kerja yang menua lebih cepat daripada kemampuan negara menambah tenaga kerja baru dari dalam negeri.
Rapat Umum Hari Nasional yang akan menjadi panggung pengumuman itu merupakan forum tahunan perdana menteri Singapura untuk memaparkan arah kebijakan. Jamuan makan malam Hari Nasional di tingkat daerah pemilihan, termasuk yang dihadiri Indranee di Pasir Ris-Changi, digelar pada pekan-pekan sesudah Singapura memperingati ulang tahun kemerdekaan yang ke-61 pada awal Agustus.
Baca juga: Indonesia dan Uni Eropa Bahas Kayu Legal di Pertemuan JIC Ke-11
Laporan utuh kelompok kerja dijadwalkan terbit pada awal 2027. Dengan mendorong sebagian usulan lebih cepat ke Rapat Umum Hari Nasional pekan depan, pemerintah Singapura memberi isyarat bahwa beberapa keputusan tidak akan digantung menunggu dokumen final.
















