Cekricek.id — Kenaikan harga bahan bakar minyak yang berlangsung sejak pencabutan subsidi pada 2023 pelan-pelan mengubah cara warga Nigeria bepergian. Di Gombe, kota di kawasan timur laut negara itu, sepeda motor listrik mulai menggantikan motor berbahan bakar bensin yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas harian sekaligus sumber penghasilan pengemudi ojek.
Dikutip dari Al Jazeera, aljazeera.com, Minggu (16/8/2026), harga bensin di Nigeria melompat dari sekitar 200 naira per liter menjadi 1.365 naira per liter setelah subsidi dihapus. Kenaikan hampir tujuh kali lipat itu memukul pekerja harian yang menggantungkan pendapatan pada kendaraan roda dua, sekaligus membuka celah bagi kendaraan bertenaga baterai yang sebelumnya dianggap terlalu mahal.
Hemat Ribuan Naira Tiap Pekan
Ayuba Abubakar, petani di Gombe, termasuk kelompok pertama yang berpindah. Setelah tiga bulan memakai motor listrik, ia memperkirakan penghematan biaya bahan bakarnya mencapai sekitar 5.000 naira atau setara 3,7 dolar Amerika Serikat setiap pekan. Daya baterai kendaraan itu, menurut dia, sanggup menopang aktivitas sehari penuh. “Saya biasanya menghabiskan sehari berkeliling Gombe tanpa mengisi ulang daya,” ujarnya.
Baca juga: Harga Minyak Melonjak, Brent Naik 6 Persen Sepekan Imbas Serangan Tanker
Pengalamannya tidak sepenuhnya mulus. Ayuba menceritakan perangkat pengisi dayanya pernah rusak terbakar karena ia tidak memakai penstabil tegangan. Ia juga menilai harga unit yang berkisar 1 juta naira atau sekitar 735 dolar Amerika Serikat masih terlalu berat untuk kebanyakan orang. “Bahkan dengan penghematan itu, harganya tetap perlu turun bagi sebagian besar warga Nigeria,” katanya.
Penghematan serupa dirasakan pengendara lain. Ahmed Aminu menyebut dirinya tidak lagi mengeluarkan biaya untuk oli mesin sejak beralih, sementara Yakubu Sule mengaku memilih motor listrik terutama karena mesinnya nyaris tanpa suara saat melaju di jalanan kota.
Baca juga: BP Raih Lisensi Gas Loran Fase Dua di Venezuela Bersama Mitra Teluk
Ganjalan Ada pada Pasokan Listrik
Hambatan terbesar justru datang dari keandalan jaringan listrik. Muhammad Abubakar, CEO perusahaan energi bersih Sustenaa, mengingatkan bahwa peralihan ini bisa kehilangan artinya bila pengisian daya akhirnya bertumpu pada generator berbahan bakar minyak. “Kalau kita akhirnya mengisi daya motor-motor ini dengan generator, lalu apa gunanya?” ujarnya. Ia melanjutkan, “Kita hanya akan memindahkan emisi dari pipa knalpot ke pipa generator.”
Sebagai jalan keluar, Muhammad Abubakar mengusulkan pembangunan stasiun tukar baterai yang ditenagai panel surya. Ia juga meminta pemerintah memangkas bea masuk impor kendaraan listrik, menyusun standar daur ulang baterai, serta mengaitkan pengembangan motor listrik dengan proyek jaringan mini tenaga surya yang sudah berjalan di sejumlah daerah.
Beban Polusi di Kota-Kota Nigeria
Al Jazeera mencatat Bank Dunia menempatkan transportasi jalan raya sebagai salah satu penyumbang besar polusi udara di kota-kota Nigeria. Karena itu, pergeseran ke kendaraan bertenaga baterai dipandang memiliki nilai yang melampaui sekadar penghematan ongkos harian pengendara, meski jumlah penggunanya masih terbatas.
Baca juga: Sungai-Sungai Besar Eropa Susut ke Rekor Terendah Akibat Kekeringan
Laporan tersebut ditulis kontributor Al Jazeera, Muhammad Auwal Ibrahim, dari Gombe. Sejauh ini daya tarik motor listrik di kota itu masih bertumpu pada hitung-hitungan ongkos harian pemakainya, sementara harga jual unit tetap menjadi ganjalan utama bagi calon pembeli baru.


















