- Dari 1.738 kasus yang tercatat, 1.108 adalah perempuan dan 630 laki-laki.
- Kanker payudara berada di urutan kedua dengan 177 kasus atau 15,97 persen.
- Kanker hati dan saluran empedu menjadi kategori terbesar dengan 95 kasus atau 15,10 persen.
- Artinya, register itu menangkap kira-kira 1,3 persen dari perkiraan beban kanker nasional per tahun.
Daftar Isi
- Sebelum register dibuka, beban kanker Laos hanya bisa diperkirakan
- Lima belas tahun pencatatan: pasien perempuan hampir dua kali laki-laki
- Pasien laki-laki tercatat pada usia lebih tua, kanker hati di urutan pertama
- Dari babak 2010–2014 ke 2020–2024, peta kasus berangsur berwarna
- Perkiraan tahun 2020 sebagai pembanding: 9.133 kasus baru dalam setahun
- Yang patut diperiksa pembaca dalam naskah terbitan 2026 itu
Tanggal 1 Januari 2010 menjadi awal catatan itu. Sejak hari tersebut, setiap pasien kanker yang terdaftar di Cancer Center Unit, Mittaphab Hospital, Vientiane, masuk ke register klinik onkologi. Catatan yang ditelaah berhenti pada 31 Desember 2024. Dalam rentang lima belas tahun itu terkumpul 1.738 kasus dari seluruh Laos.
Angka tersebut dilaporkan Champadeng Vongdala, Oraya Sahat, Thitsamay Luangxay, Apisit Chaidee, Kitti Intuyod, Supot Kamsa-ard, dan Somchai Pinlaor dalam artikel Types and spatial distribution of cancer cases registered in a national hospital-based registry in the Lao People’s Democratic Republic from 2010 to 2024. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Vongdala dan Luangxay bekerja di National Cancer Center, Vientiane Capital, sedangkan lima penulis lain berafiliasi di Thailand, sebagian besar di Khon Kaen University.
Mereka menyebut telaah ini sebagai analisis spasial pertama atas data kanker berbasis rumah sakit di Laos. Negeri itu terbagi atas 17 provinsi ditambah Vientiane Capital, seluruhnya 148 distrik. Penduduknya pada 2020 tercatat 7.231.210 jiwa, dengan jumlah laki-laki dan perempuan hampir sama.
Sebelum register dibuka, beban kanker Laos hanya bisa diperkirakan
Laos tidak memiliki register kanker nasional berbasis penduduk yang berfungsi. Akibatnya, lembaga kesehatan dunia, termasuk International Agency for Research on Cancer, memperkirakan beban kanker negeri itu dengan model statistik yang diturunkan dari negara tetangga. Para penulis mengingatkan bahwa cara itu berisiko mengaburkan ciri khas penduduk Laos.
Satu-satunya sumber data langsung tingkat pasien adalah satu register berbasis rumah sakit. Register itu terbatas pada satu pusat rujukan tersier. Menurut para penulis, fasilitas semacam itu hanya menangkap pasien yang sampai ke pintunya, sering kali pada stadium lanjut.
Padahal beban penyakitnya sudah besar. Pada 2019 kanker menempati urutan kelima penyebab kesakitan dan kematian di Laos menurut ukuran tahun hidup yang hilang akibat disabilitas. Naskah mencatat pula bahwa insiden kanker yang dilaporkan di negeri itu berlipat dua dalam dua dekade terakhir.
Baca juga Arsip Survei Kamboja: Tekanan Darah dan Kesenjangan Sekolah
Lima belas tahun pencatatan: pasien perempuan hampir dua kali laki-laki
Dari 1.738 kasus yang tercatat, 1.108 adalah perempuan dan 630 laki-laki. Rasionya 1,76 perempuan untuk setiap laki-laki. Rata-rata usia saat diagnosis juga berbeda, yakni 48,16 tahun pada perempuan dan 53,81 tahun pada laki-laki.
Pada perempuan, kasus paling banyak jatuh pada kelompok usia 45 sampai 49 tahun, yakni 171 kasus atau 15,43 persen. Kelompok 50 sampai 54 tahun menyusul dengan 158 kasus. Pasien perempuan termuda berusia lima tahun dan yang tertua 96 tahun.
Kanker serviks jauh melampaui jenis lain. Tercatat 455 kasus, setara 41,06 persen dari seluruh pasien perempuan, atau kira-kira dua dari setiap lima. Kanker payudara berada di urutan kedua dengan 177 kasus atau 15,97 persen.
Urutan ketiga ditempati kanker hati dan saluran empedu, 57 kasus atau 5,14 persen. Kanker nasofaring dan kanker ovarium masing-masing tercatat 24 kasus. Para penulis mengaitkan tingginya angka kanker serviks dengan terbatasnya vaksinasi HPV rutin bagi remaja dan belum meluasnya program skrining yang sistematis.
Pasien laki-laki tercatat pada usia lebih tua, kanker hati di urutan pertama
Pada laki-laki, puncak kasus bergeser ke usia yang lebih tua. Kelompok 55 sampai 59 tahun dan 60 sampai 64 tahun masing-masing mencatat 97 kasus, atau 15,40 persen. Usia tengah pasien laki-laki adalah 56 tahun, delapan tahun di atas pasien perempuan.
Kanker hati dan saluran empedu menjadi kategori terbesar dengan 95 kasus atau 15,10 persen. Berikutnya kanker usus besar dan rektum, 72 kasus. Lalu kanker trakea, bronkus, dan paru 51 kasus, nasofaring 50 kasus, lambung 43 kasus, serta rongga mulut 40 kasus.
Naskah menyebut sejumlah faktor risiko kanker hati di Laos, yaitu infeksi kronis virus hepatitis B dan, dalam kadar lebih kecil, hepatitis C. Disebut pula aflatoksin pada bahan pangan yang disimpan dalam kondisi lembap. Konsumsi ikan air tawar mentah atau kurang matang dapat menularkan cacing hati Opisthorchis viverrini, penyebab kanker saluran empedu, terutama di provinsi selatan.
Cara diagnosis juga berbeda menurut jenis kelamin. Pemeriksaan jaringan tumor primer menjadi dasar diagnosis pada 952 pasien perempuan atau 85,92 persen, tetapi hanya pada 459 pasien laki-laki atau 72,97 persen. Sebaliknya, endoskopi dan radiologi dipakai pada 19,24 persen pasien laki-laki dan 7,31 persen pasien perempuan.
Para penulis menjelaskan selisih itu dari jenis kankernya. Serviks dan payudara mudah dijangkau untuk biopsi. Kanker hati dan paru sering datang pada stadium lanjut, ketika pasien terlalu lemah untuk tindakan invasif, atau letak tumornya membuat biopsi sulit dan berisiko perdarahan.
Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah
Dari babak 2010–2014 ke 2020–2024, peta kasus berangsur berwarna
Peta kasus disusun untuk tiga babak, yaitu 2010–2014, 2015–2019, dan 2020–2024. Pada babak pertama, sebagian besar distrik berwarna kelabu, tanda tidak ada kasus tercatat. Provinsi utara seperti Phongsaly, Oudomxai, dan Louangnamtha tidak memiliki kasus yang dilaporkan pada babak-babak awal.
Vientiane Capital dan wilayah sekitarnya di bagian tengah mencatat kasus paling konsisten di ketiga babak. Menurut naskah, hal itu kemungkinan mencerminkan prasarana kesehatan dan sistem pencatatan yang lebih baik di kawasan ibu kota. Provinsi selatan seperti Champasak dan Attapeu menunjukkan perbaikan bertahap.
Pada babak terakhir, warna hijau dan kuning sudah menyebar di sebagian besar provinsi. Para penulis membaca perubahan itu sebagai menguatnya surveilans, bukan ledakan penyakit. Kasus di banyak provinsi, tulis mereka, sebelumnya tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan, bukan benar-benar tidak ada.
Jenis kanker pun tersebar tidak sama. Kanker serviks muncul di banyak distrik di seluruh Laos. Kanker payudara lebih terpusat di provinsi tengah sekitar Vientiane dan sebagian utara, sedangkan kanker usus besar dan rektum pada laki-laki terutama tercatat di provinsi tengah dekat ibu kota.
Sedikitnya kasus dari selatan tidak dibaca sebagai rendahnya risiko. Layanan patologi dan alat diagnostik terpusat di Vientiane Capital. Selain itu, warga provinsi selatan kerap mencari layanan onkologi ke seberang perbatasan di Thailand, misalnya Khon Kaen atau Ubon Ratchathani, sehingga tidak masuk register Laos.
Perkiraan tahun 2020 sebagai pembanding: 9.133 kasus baru dalam setahun
Pembanding terpenting datang dari perkiraan GLOBOCAN 2020. Perkiraan itu memproyeksikan 9.133 kasus kanker baru dan 6.208 kematian akibat kanker setiap tahun di Laos. Register rumah sakit yang ditelaah rata-rata hanya mencatat sekitar 116 kasus setahun.
Artinya, register itu menangkap kira-kira 1,3 persen dari perkiraan beban kanker nasional per tahun. Para penulis menempatkan selisih tersebut sebagai inti naskah mereka. “Temuan paling mencolok dari studi ini bukanlah apa yang diungkapkannya, melainkan apa yang gagal ditangkapnya,” tulis Champadeng Vongdala dari National Cancer Center, Vientiane, bersama enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Empat sebab mereka sebutkan. National Cancer Center adalah satu fasilitas tersier di ibu kota yang tidak terjangkau banyak pasien karena hambatan geografis, biaya, dan budaya. Kemampuan diagnostik lanjut masih terpusat. Banyak pasien di pedesaan mendatangi penyembuh tradisional atau tidak terdiagnosis sampai meninggal, dan kasus yang didiagnosis di tempat lain tidak terlihat oleh sistem.
Dari situ lahir kalimat paling keras dalam naskah. “Lao PDR menghadapi epidemi kanker yang sebagian besar tak terlihat,” tulis para penulis, juga diterjemahkan dari bahasa Inggris. Sebagian besar kasus, lanjut mereka, muncul, memburuk, dan berakhir dengan kematian tanpa diagnosis atau pengobatan formal.
Para penulis mengakui keterbatasan telaah mereka secara terbuka. Karena datanya tidak berbasis penduduk, angka insiden yang sebenarnya tidak dapat dihitung, dan hasilnya rentan bias seleksi. Sifat telaah yang menengok ke belakang juga membuat pasien tidak dapat ditanyai soal kebiasaan minum alkohol, merokok, atau riwayat kanker keluarga.
Sebagai jalan keluar, naskah menunjuk register berbasis penduduk di Thailand, khususnya di Chiang Mai dan Khon Kaen. Keberhasilan keduanya disebut sebagai bukti bahwa penguatan surveilans dapat dicapai di lingkungan dengan sumber daya terbatas. Para penulis menilai register nasional berbasis penduduk bagi Laos bukan sekadar diinginkan, melainkan mutlak diperlukan.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Yang patut diperiksa pembaca dalam naskah terbitan 2026 itu
Beberapa hal dalam naskah tidak saling cocok. Bagian pembahasan menyebut diagnosis lewat riwayat dan pemeriksaan fisik pada laki-laki mencapai 19,21 persen. Tabel karakteristik pasien mencatat cara itu hanya pada tiga pasien laki-laki, sedangkan angka 19,24 persen tertera pada baris endoskopi dan radiologi.
Tiga pasien itu di tabel diberi persentase 0,32, padahal tiga dari 630 adalah sekitar 0,48 persen. Pernyataan ketersediaan data juga menyebut tidak ada himpunan data yang dihasilkan atau dianalisis, sementara isi naskah menganalisis 1.738 kasus. Abstrak membulatkan porsi kanker serviks menjadi 41,1 persen, sedangkan uraian hasil menulis 41,06 persen.
Catatan itu berakhir pada 31 Desember 2024 dengan 1.738 kasus. Perkiraan untuk satu tahun saja menyebut 9.133 kasus baru. Sampai naskah itu terbit pada 2026, register kanker nasional berbasis penduduk belum berfungsi di Laos.















