- Prevalensi tekanan darah tinggi nasional Kamboja 16,2 persen dari 3.186 peserta survei STEPS 2023, naik dari 4,1 persen pada usia muda menjadi 41,9 persen pada usia 60-69 tahun
- Obesitas menaikkan peluang 3,52 kali, diabetes 2,53 kali; kesenjangan pendidikan absolut 18,9 poin persentase antara kelompok tanpa sekolah dan berpendidikan tinggi
- Kelompok berpendidikan tinggi 67 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami tekanan darah tinggi dibanding kelompok tanpa sekolah formal
- Kesenjangan ekonomi hanya bermakna di area urban dan dataran tinggi-pegunungan, tidak di tingkat nasional
Daftar Isi
Juni 2023, tim surveior turun ke 289 desa di 25 provinsi Kamboja, dipilih acak dari 22.949 wilayah enumerasi desa di seluruh negeri. Di tiap desa, 15 rumah tangga diketuk pintunya, dan tekanan darah satu anggota dewasa yang dipilih acak diukur di tiap rumah. Dua bulan kemudian, arsip itu berisi 4.279 wawancara.
Data itu dianalisis Maly Phy, Shafiur Rahman, Mahfuzur Rahman, Ada Moadsiri, Sam Ath Khim, Chhinh Liv, Srean Chhim, Savina Chham, dan Rei Haruyama dalam Associated Factors and Educational and Economic Inequalities with Raised Blood Pressure in Cambodia: Analysis of the Data from a National Household Survey, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Ada Moadsiri dan Sam Ath Khim, dua dari sembilan penulis itu, tercatat sebagai staf Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, lembaga yang turut mendukung survei sumber data tersebut secara teknis dan dana.
1990–2016: Kurva yang Terus Menanjak
Arsip yang mereka bedah berakar jauh sebelum 2023. Pada 1990, jumlah penderita tekanan darah tinggi di dunia tercatat 650 juta orang. Angka itu berlipat menjadi 1,3 miliar pada 2019, dengan 10,5 juta kematian akibat kondisi tersebut pada tahun yang sama.
Lebih dari tiga perempat penderita tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Kamboja mengikuti pola global itu. Survei STEPS mencatat prevalensi tekanan darah tinggi pada penduduk usia 25–64 tahun naik dari 11,2 persen pada 2010 menjadi 14,5 persen pada 2016.
Di sepanjang periode itu, hipertensi diperkirakan sudah memengaruhi sekitar 1,6 juta orang dewasa usia 30–79 tahun di Kamboja. Riset tentang faktor yang berkaitan dengannya justru tertinggal, hanya bertumpu pada satu studi 2013 yang belum memasukkan variabel rumah tangga dan wilayah tempat tinggal.
Juni–Juli 2023: 3.186 Orang Dewasa Terpilih
Dari 4.279 peserta yang diwawancarai pada survei STEPS Juni–Juli 2023 itu, 1.093 orang dikeluarkan karena berusia di luar rentang 18–69 tahun atau datanya tidak lengkap. Tersisa 3.186 peserta dari 212 desa yang dianalisis.
Tekanan darah tiap peserta diukur tiga kali memakai monitor digital otomatis, mengikuti protokol baku WHO STEPS. Tim mengategorikan tekanan darah tinggi sebagai sistolik 140 mmHg ke atas, diastolik 90 mmHg ke atas, atau sedang memakai obat antihipertensi. Dari 3.186 peserta itu, hasilnya adalah prevalensi 16,2 persen, dengan interval kepercayaan 95 persen antara 14,5 dan 18,1 persen.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
2023: Usia dan Berat Badan Jadi Penanda Risiko
Angka 16,2 persen itu tidak merata di semua kelompok. Prevalensinya melonjak dari 4,1 persen pada usia 18–29 tahun menjadi 41,9 persen pada usia 60–69 tahun.
Setelah dikontrol dengan faktor lain, peluang mengalami tekanan darah tinggi pada usia 40–49 tahun 4,97 kali dibanding usia 18–29 tahun, naik menjadi 10,67 kali pada usia 50–59 tahun, dan 12,92 kali pada usia 60–69 tahun. Berat badan turut tercatat, dengan peserta obesitas berpeluang 3,52 kali dan peserta kegemukan 1,66 kali dibanding berat badan normal.
Peserta dengan diabetes berpeluang 2,53 kali mengalami tekanan darah tinggi. Sebaliknya, peserta berat badan kurang justru berpeluang 0,33 kali, perempuan 0,39 kali, dan peserta yang cukup makan buah serta sayur 0,63 kali dibanding kelompok pembanding masing-masing.
Satu temuan tampak berlawanan arah. Pengguna rokok tembakau saat ini justru berpeluang 0,47 kali dibanding yang tidak pernah merokok. Tim mencatat kemungkinan sebagian perokok berhenti setelah didiagnosis hipertensi, sehingga hubungan terbalik itu muncul bukan karena rokok melindungi, melainkan karena urutan kejadiannya berbalik.
2023: Kesenjangan Pendidikan dan Ekonomi Diukur
Dari data yang sama, tim menghitung seberapa jauh pendidikan membelah risiko tekanan darah tinggi. Prevalensinya 21,3 persen pada penduduk tanpa sekolah formal, turun menjadi 13,4 persen pada lulusan SD, 11,9 persen pada lulusan SMP, dan 10,2 persen pada lulusan SMA ke atas.
Ukuran kesenjangan absolut atau slope index of inequality (SII) mencatat selisih 18,9 poin persentase antara kelompok tanpa sekolah dan kelompok berpendidikan tertinggi, bermakna secara statistik. Ukuran relatif atau relative index of inequality (RII) menunjukkan angka 0,33, yang berarti kelompok berpendidikan tinggi 67 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami tekanan darah tinggi dibanding kelompok tanpa sekolah formal. Kesenjangan pendidikan ini konsisten di tingkat nasional, di desa dan kota, maupun hampir semua wilayah geografis.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
“Perlu dicatat, peserta tanpa pendidikan formal mencakup 44,5 persen dari peserta dalam studi kami, lebih tinggi dari 35,1 persen yang dilaporkan sensus 2019,” tulis Phy dan kawan-kawan dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka menduga penyebabnya adalah peserta berusia di atas 50 tahun yang akses pendidikan formalnya terbatas pada masa perang dan konflik internal.
Naskah aslinya berbahasa Inggris menulis, “likely due to the higher percentage of participants over 50 years old who had limited access to formal education during the years of war and internal conflict.” Kalimat itu menutup penjelasan tim soal selisih data pendidikan antara studi dan sensus.
Pola berbeda muncul saat variabel yang diukur bergeser dari pendidikan ke ekonomi rumah tangga. Kesenjangan ekonomi absolut tidak bermakna secara statistik di tingkat nasional.
Kesenjangan ekonomi itu baru terlihat di area perkotaan, dengan SII -10,8, dan di wilayah dataran tinggi serta pegunungan, dengan SII -13,8, keduanya menunjukkan rumah tangga termiskin lebih dirugikan. Prevalensi tertinggi tercatat pada kelompok termiskin di area urban, 28,7 persen, jauh di atas rerata nasional 16,2 persen yang dicatat di awal arsip ini.
Ukuran kesenjangan ekonomi relatif, RII, bahkan tidak bermakna secara statistik di tingkat nasional, desa-kota, maupun wilayah manapun. Sebaran risiko ekonomi ini memang tidak seragam seperti pendidikan.
Persoalannya, penulis mengaitkan pola itu dengan kemungkinan rumah tangga miskin di kota menghadapi tekanan hidup, akses layanan pencegahan yang terbatas, dan sedikit peluang mengubah kebiasaan sehari-hari. Sejak 2023 pula, Kementerian Kesehatan Kamboja meluncurkan Primary Healthcare Booster Framework, kerangka yang dimaksudkan memperkuat interaksi antara komunitas dan fasilitas kesehatan agar penduduk lebih mampu mengubah kebiasaan berisiko.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Batas Arsip dan Satu Selisih yang Bisa Diperiksa
Penulis sendiri menandai batas studinya. Desain potong lintang tidak memungkinkan simpulan sebab-akibat antara faktor yang diteliti dan tekanan darah tinggi. Data konsumsi buah-sayur dan alkohol pun berasal dari laporan sendiri peserta, rentan bias ingatan dan bias keinginan sosial.
Beberapa asosiasi terbalik, seperti merokok dan berat badan kurang, kemungkinan dipengaruhi perancu residual, bukan hubungan sebab-akibat langsung. Asosiasi itu memang tidak lagi bermakna ketika tim mengulang analisis dengan mengeluarkan peserta yang sebelumnya sudah didiagnosis hipertensi. Analisis kesenjangan pun mengecualikan wilayah pesisir dan laut karena sampelnya terlalu kecil, meski penduduknya tetap dihitung dalam analisis nasional serta desa-kota.
Ada satu selisih dalam naskah yang bisa ditelusuri pembaca sendiri. Bagian latar belakang menyebut survei STEPS resmi mencatat prevalensi tekanan darah tinggi nasional Kamboja 19,9 persen pada 2023, untuk penduduk usia 25–64 tahun. Studi ini memakai data survei yang sama tahun 2023, tetapi dengan rentang usia lebih luas, 18–69 tahun, dan melaporkan prevalensi 16,2 persen, delapan poin lebih rendah dari angka yang dikutipnya sendiri.
Naskah tidak menjelaskan secara eksplisit apakah selisih itu murni akibat perbedaan rentang usia atau ada faktor metodologis lain yang ikut berperan di baliknya. Pembaca yang menelusuri kedua angka itu bisa menilai sendiri seberapa jauh perbedaan definisi usia menjelaskan selisih delapan poin tersebut.
Arsip yang dimulai dari ketukan pintu di 289 desa itu akhirnya berhenti pada dua angka yang membelah Kamboja dengan cara berbeda: 18,9 poin kesenjangan pendidikan yang tampak di hampir semua wilayah, dan kesenjangan ekonomi yang hanya muncul di kota serta dataran tinggi. Catatan berikutnya, bila ada, akan menentukan apakah kerangka kesehatan yang diluncurkan pada tahun survei itu berhasil mempersempit jarak antara keduanya.














