Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur

A A

Suasana ruang kelas di SMA Tieling, Tiongkok [Foto: Kychn/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Kelas berlampu FR/NIR mencatat pertambahan panjang bola mata 0,19 mm, kelas biasa 0,34 mm, dalam satu tahun
  • Pergeseran refraksi juga lebih lambat: -0,12 dioptri berbanding -0,52 dioptri
  • Efek lebih besar pada anak usia 7-8 tahun dibanding 9-10 tahun
  • Selisih kedalaman bilik vitreus (0,16 mm) tertulis sebanding dengan selisih total panjang bola mata (0,15 mm), padahal semestinya lebih kecil
Daftar Isi
  1. Delapan Puluh Dua Anak yang Dicocokkan
  2. Angka yang Bertahan Dua Kali Diuji Ulang
  3. Bagian Belakang Mata yang Berubah
  4. Dibandingkan dengan Obat Tetes dan Lensa Khusus
  5. Yang Belum Bisa Dijawab Naskah Ini
  6. Selisih Kecil yang Tidak Dijelaskan

Sembilan lampu di langit-langit dan tiga lampu di depan papan tulis menyala di sebuah ruang kelas seluas 55 meter persegi, Sekolah Dasar Pertama Kabupaten Pishan, Xinjiang. Daya totalnya 324 watt, dan sebagian lampunya bukan lampu putih biasa—melainkan lampu yang memancarkan cahaya far-red dan near-infrared (FR/NIR), berpuncak pada panjang gelombang 710 nanometer.

Kelas seperti itu ditulis Chang Liu, Lei Chen, Lanlan Wang, Huijun Shao, Yinling Sang, Qiaoli Li, Yangzong Suolang, Wuqi Chen, dan Dongwei Liu dalam A natural experiment in school lighting: observational evidence linking far-red light exposure to slower myopia progression in Chinese Uyghur schoolchildren, dimuat BMC Public Health volume 26 nomor 2252, tahun 2026. Sebagian kelas di sekolah itu sudah lebih dulu dipasangi lampu FR/NIR, sebagian lain tetap memakai lampu konvensional—dan tim peneliti memanfaatkan perbedaan yang sudah ada itu tanpa memasang satu pun alat baru.

Seratus anak kelas 2 dan 3, semuanya etnis Uighur, mendaftar sebagai peserta. Kursi mereka dirotasi setiap dua minggu, dari sisi jendela ke sisi dinding, dan tirai kelas dibiarkan terbuka sepanjang jam sekolah selama satu tahun penuh, September 2023 sampai September 2024. Lampu hanya dinyalakan saat dibutuhkan—terutama hari mendung atau ketika cahaya alami di meja tulis turun di bawah 300 lux.

Delapan Puluh Dua Anak yang Dicocokkan

Dari seratus anak yang mendaftar, peneliti mencocokkan 82 anak lewat metode statistik bernama propensity score matching, menghasilkan dua kelompok seimbang berisi 41 anak masing-masing: satu kelompok duduk di kelas berlampu FR/NIR, satu lagi di kelas berlampu biasa. Usia rata-rata mereka 8,99 tahun, dengan proporsi 46,3 persen laki-laki dan 53,7 persen perempuan.

Pencocokan ini penting sebab anak-anak tidak dipindahkan ke kelas tertentu demi penelitian; mereka memang sudah duduk di kelasnya masing-masing sebelum studi dimulai. Untuk memastikan dua kelompok itu benar-benar sebanding, peneliti menyamakan sebelas faktor sekaligus, mulai dari usia, jenis kelamin, derajat refraksi awal, hingga ketebalan kornea dan lensa mata tiap anak.

Dari 100 anak ke satu temuanDari 100 anak terdaftar, 82 dicocokkan lalu diamati satu tahun, laju pemanjangan bola mata turun 44 persen pada kelompok berlampu FR/NIR.Dari 100 anak ke satu temuanLaju pemanjangan bola mata, FR/NIR vs lampu biasa100 terdaftarmurid kelas 2dan 3Dicocokkan82 anak, 41 tiapkelompok1 tahundiamatidi kelasmasing-masing44%turun aksial
Sumber: Chang Liu, Lei Chen, Lanlan Wang, Huijun Shao, Yinling Sang, Qiaoli Li, Yangzong Suolang, Wuqi Chen, dan Dongwei Liu, A natural experiment in school lighting: observational evidence linking far-red light exposure to slower myopia progression in Chinese Uyghur schoolchildren, BMC Public Health, 26(2252), 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah satu tahun, panjang bola mata anak-anak di kelas berlampu FR/NIR bertambah 0,19 milimeter, sementara di kelas berlampu biasa bertambah 0,34 milimeter. Selisihnya 0,15 milimeter, dengan nilai P di bawah 0,001—angka yang menurut ukuran statistik disebut sangat kecil kemungkinannya terjadi karena kebetulan. Pergeseran refraksi mata ke arah minus pun lebih lambat: −0,12 dioptri berbanding −0,52 dioptri.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Angka yang Bertahan Dua Kali Diuji Ulang

Karena anak-anak tidak diacak masuk ke salah satu kelas—mereka sudah lebih dulu berada di kelasnya masing-masing sebelum penelitian dimulai—tim peneliti menguji ulang temuannya lewat dua metode statistik tambahan, ANCOVA dan IPTW-ANCOVA. Hasilnya nyaris sama persis dengan analisis utama: efek pada panjang bola mata −0,149 milimeter dan −0,147 milimeter, efek pada refraksi 0,413 dan 0,441 dioptri.

Dua kelas, dua laju pertumbuhan mataKelas berlampu FR/NIR mencatat pertambahan panjang mata dan pergeseran refraksi yang lebih kecil dibanding kelas berlampu biasa.Dua kelas, dua laju pertumbuhan mataSetelah satu tahun, di sekolah dasar Pishan, XinjiangLampu FR/NIRLampu biasa0,19 mm0,34 mmPanjang bola matabertambah-0,12 D-0,52 DPergeseranrefraksi4141Anak yang diamati
Sumber: Chang Liu, Lei Chen, Lanlan Wang, Huijun Shao, Yinling Sang, Qiaoli Li, Yangzong Suolang, Wuqi Chen, dan Dongwei Liu, A natural experiment in school lighting: observational evidence linking far-red light exposure to slower myopia progression in Chinese Uyghur schoolchildren, BMC Public Health, 26(2252), 2026. Grafik: Cekricek.id

Efek ini ternyata tidak sama rata di semua umur. Pada anak usia 7 sampai 8 tahun, selisih pertambahan panjang bola mata antarkelompok mencapai 0,19 milimeter, sedangkan pada anak usia 9 sampai 10 tahun hanya 0,10 milimeter. Anak yang lebih muda, dengan kata lain, tampak lebih terbantu oleh cahaya FR/NIR ini.

Bagian Belakang Mata yang Berubah

Peneliti juga mengukur kedalaman bilik vitreus, ruang berisi cairan bening di bagian belakang bola mata. Selisihnya antarkelompok 0,16 milimeter, sementara kedalaman bilik depan dan ketebalan lensa tidak berbeda bermakna. Artinya, perlambatan pemanjangan bola mata ini tampak terpusat di bagian belakang mata, bukan di bagian depannya.

“With careful statistical adjustment, these findings suggest that changing classroom lighting could be a simple, passive way to help control myopia at the population level”, tulis Chang Liu, Lei Chen, dan Dongwei Liu dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kira-kira artinya, dengan penyesuaian statistik yang cermat, temuan ini menunjukkan bahwa mengubah pencahayaan ruang kelas bisa menjadi cara sederhana dan pasif untuk membantu mengendalikan miopia di tingkat populasi.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Dibandingkan dengan Obat Tetes dan Lensa Khusus

Naskah ini menyandingkan hasilnya dengan intervensi lain yang lebih dulu dipakai dokter mata: atropin dosis 0,01 persen, menurut studi yang mereka kutip, hanya mengurangi pemanjangan bola mata 0,10 milimeter per tahun, dan dosis 0,05 persen mengurangi 0,21 milimeter per tahun. Sebuah uji acak enam bulan pada 91 anak yang membandingkan terapi cahaya merah intensitas rendah berulang dengan atropin 0,01 persen mencatat pemanjangan −0,09 milimeter berbanding +0,13 milimeter.

Dibanding metode-metode itu, lampu FR/NIR di kelas ini punya satu keunggulan yang ditekankan berulang kali dalam naskah: tidak perlu diteteskan, tidak perlu dipakai sendiri oleh anak, dan tidak menuntut kepatuhan harian. Sistemnya menyala sendiri saat dibutuhkan, tanpa operasi khusus dari guru maupun murid, sepanjang satu tahun penelitian berlangsung tanpa gangguan teknis maupun efek samping yang dilaporkan.

Naskah ini juga menyinggung riset lain dari tim yang sama pada tikus percobaan, yang memakai LED berlapis fosfor sejenis. Cahaya near-infrared dari LED itu terbukti memacu sekresi kelenjar pada tikus dengan sindrom Sjögren, sehingga peneliti menduga lampu kelas serupa mungkin juga membawa manfaat tambahan bagi permukaan mata anak-anak di kawasan kering seperti Pishan, meski dugaan ini belum diuji langsung pada manusia.

Yang Belum Bisa Dijawab Naskah Ini

Chang Liu dan rekan-rekannya sendiri menuliskan batasnya. Anak-anak tidak dirandom ke kelas tertentu, sehingga faktor lain yang tidak terukur—waktu bermain di luar ruangan, jam menatap layar, kondisi ekonomi keluarga, riwayat miopia orang tua—tetap mungkin ikut memengaruhi hasil, meski sudah dicocokkan secara statistik. Peneliti juga tidak memasang dosimeter di tubuh tiap anak, sehingga tidak diketahui persis berapa banyak cahaya FR/NIR yang benar-benar diterima satu per satu anak.

Studi ini pun hanya mengikuti anak-anak Uighur selama satu tahun, sehingga belum jelas apakah hasilnya berlaku untuk kelompok etnis lain. Belum diketahui pula apakah manfaatnya bertahan setelah anak pindah dari kelas berlampu FR/NIR, atau justru muncul efek pemantulan yang membalikkan keadaan begitu paparan berhenti.

Sampel penelitian ini juga mencampur anak yang matanya sudah minus dengan anak yang belum minus sama sekali. Akibatnya, tim peneliti sendiri mengakui belum bisa memilah apakah cahaya FR/NIR ini lebih berperan menunda munculnya miopia sejak awal, atau justru lebih berperan memperlambat laju perburukannya pada anak yang sudah lebih dulu minus.

Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus

Selisih Kecil yang Tidak Dijelaskan

Ada satu bagian dalam pembahasan yang layak dicermati pembaca yang teliti. Peneliti menulis bahwa selisih kedalaman bilik vitreus antarkelompok, 0,16 milimeter, memiliki magnitudo yang sebanding dengan selisih total panjang bola mata, yang mereka sebut 0,15 milimeter. Padahal bilik vitreus hanyalah salah satu bagian penyusun panjang bola mata, bukan keseluruhannya—ada juga kedalaman bilik depan dan ketebalan lensa yang ikut dijumlahkan.

Secara hitungan, selisih pada satu bagian saja semestinya tidak melebihi selisih total dari gabungan seluruh bagian. Namun angka yang tertulis justru menunjukkan sebaliknya: 0,16 milimeter lebih besar dari 0,15 milimeter. Naskah tidak menjelaskan lebih lanjut dari mana selisih kecil ini muncul, dan pembaca bisa memeriksanya sendiri dengan membandingkan kedua angka itu berdampingan.

Lampu-lampu di langit-langit kelas Pishan itu terus menyala sesuai kebutuhan cuaca, tanpa disadari sebagian muridnya sebagai bagian dari sebuah penelitian. Sembilan lampu langit-langit dan tiga lampu papan tulis yang sama, di ruang seluas 55 meter persegi yang sama, telah menemani anak-anak itu duduk berpindah tempat setiap dua minggu selama satu tahun penuh.

Yang tertinggal dari pengamatan itu bukan resep siap pakai, melainkan sebuah kemungkinan yang masih perlu diuji lebih jauh dengan kelompok anak yang lebih beragam dan masa pengamatan yang lebih panjang. Pencahayaan ruang kelas, sesuatu yang selama ini dianggap sekadar penunjang belajar, mungkin juga ikut menentukan seberapa cepat bola mata anak-anak yang duduk di bawahnya bertumbuh.

Bagikan

Baca Juga

RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan
Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Indeks Bahaya Balita Melonjak Saat Panel VOC Diperluas
MDSR Kematian Ibu Aceh Utara Macet di Tahap Identifikasi
Skor Kelayakan Perawatan Jangka Panjang dalam JKN Capai 8,10