- 756.933 kasus OIDD tercatat di Beijing sepanjang 2004–2024, puncak 375,67 per 100.000 pada 2006
- Insiden anjlok ke titik terendah 56,13 per 100.000 pada 2022, lalu rebound sejak 2023
- Klaster berinsiden tinggi bergeser dari distrik pusat kota ke pinggiran timur laut selama dua dekade
- Model SARIMA meramalkan 32.638 kasus pada 2025, naik 47 persen dari 2024, dengan pola dua puncak
Daftar Isi
Tahun 2004, Beijing mulai mencatat setiap kasus diare menular selain kolera, shigella, tifoid, dan paratifoid ke dalam satu sistem surveilans nasional. Dua puluh satu tahun kemudian, arsip itu terkumpul menjadi 756.933 kasus, cukup panjang untuk memetakan naik turunnya wabah dan meramalkan tahun berikutnya.
Data itu dibedah Jiaxin Feng, Baiwei Liu, Xiaona Wu, Li Zhang, Shuyu Ni, Dan Du, Zhaomin Feng, Quanyi Yang, Zhiyong Gao, dan Daitao Zhang dalam Spatiotemporal Patterns and 2025 Forecasting of Other Infectious Diarrheal Diseases in Beijing, China: A 21-Year Population-Based Study (2004–2024), terbit di BMC Public Health tahun 2026. Seluruh penulis berafiliasi ke Beijing Center for Disease Prevention and Control dan Capital Medical University.
2004–2006: Kurva Mulai Terbentuk
Dari 2004, kurva insiden justru naik dulu sebelum turun. Puncaknya terjadi pada 2006, dengan 375,67 kasus per 100.000 penduduk, angka tertinggi sepanjang 21 tahun pengamatan. Sepanjang periode itu, kasus dilaporkan setiap bulan tanpa jeda di seluruh 17 distrik Beijing.
Sejak awal pencatatan hingga 2014, pola musimannya konsisten. Dua puncak muncul tiap tahun: puncak utama pada Juli–Agustus, saat musim panas, dan puncak kedua yang lebih kecil pada November–Desember, menjelang musim dingin. Pola ini bertahan hampir satu dekade sebelum mulai bergeser.
Arsip kematian ikut tercatat sepanjang periode ini. Dari 25 kasus fatal yang dilaporkan sepanjang 2004–2024, sebanyak 24 di antaranya terjadi antara 2004 dan 2016, dan hanya satu kasus setelahnya, tepatnya pada 2022. Empat belas korban laki-laki, sebelas perempuan, dan sekitar tiga perempat di antaranya berusia 50 tahun ke atas.
2007–2019: Tren Menurun, Wilayah Berpindah
Setelah 2006, tren keseluruhan berbalik turun secara signifikan (uji tren chi-kuadrat = 139.682,972; P < 0,001). Pada 2015, insiden sudah turun ke 161,39 per 100.000. Dari 2016 sampai 2019, angkanya sempat berfluktuasi ringan di kisaran 163 hingga 190 per 100.000 sebelum melandai lagi.
Peta wilayahnya ikut bergerak. Antara 2004 dan 2019, rerata insiden se-Beijing tercatat 222,28 per 100.000, dengan Distrik Dongcheng di pusat kota memegang angka tertinggi, 349,27 per 100.000, dan Distrik Yanqing terendah, 32,28 per 100.000. Klaster berinsiden tinggi mulanya terpusat di Dongcheng, Xicheng, dan Fengtai, lalu sejak 2011 mulai berkurang di inti kota dan meluas ke Tongzhou, Shunyi, dan Huairou.
Pada 2016 hingga 2020, pusat klaster tinggi bergeser lagi, kali ini ke timur laut, terkonsentrasi di Miyun dan Pinggu. Sepanjang seluruh periode pengamatan, klaster berinsiden rendah tetap bertahan di tempat yang sama: Yanqing, Huairou utara, Mentougou barat, dan Fangshan barat, wilayah pegunungan yang jauh dari pusat kota.
Analisis titik panas dengan statistik Getis-Ord Gi* menunjukkan arah pergeseran yang sejalan. Pada 2005, titik panas terkonsentrasi di distrik urban inti; sepuluh tahun kemudian bergeser ke Tongzhou, Shunyi, dan Huairou; lalu pada 2016–2020 berpindah lagi ke Miyun dan Pinggu di timur laut, sebelum menyebar dan berkurang jumlahnya pada 2021–2024.
Uji autokorelasi spasial global memakai statistik Moran’s I menegaskan pola ini bukan kebetulan. Nilainya berkisar 0,18 hingga 0,44 tiap tahun sepanjang 2005–2024, semuanya bermakna secara statistik (P < 0,01). Artinya, sebaran kasus OIDD di Beijing memang mengelompok, bukan tersebar acak di antara 17 distriknya.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
2020–2022: Tiga Tahun Titik Terendah
Pada 2020, insiden anjlok ke 60,79 per 100.000, bertepatan dengan penerapan intervensi nonfarmasi Covid-19 secara luas: pemakaian masker, cuci tangan, ventilasi rutin, dan jaga jarak. Sempat ada rebound kecil ke 96,89 per 100.000 pada 2021, sebelum insiden jatuh ke titik terendah sepanjang 21 tahun pada 2022, hanya 56,13 per 100.000.
Peta wilayah pada periode ini juga berubah. Rerata insiden se-Beijing turun jadi 78,48 per 100.000 untuk rentang 2020–2024, dengan Miyun kini memegang angka tertinggi, 145,76 per 100.000, disusul Pinggu 144,31 per 100.000. Yanqing tetap konsisten menempati posisi terendah, kali ini 19,19 per 100.000.
2023–2024: Rebound Setelah Status Covid-19 Turun
Sejak status Covid-19 diturunkan menjadi Kategori B pada 8 Januari 2023, kasus OIDD di Beijing kembali naik, sejalan dengan tren di wilayah lain Tiongkok. Peneliti mengaitkan rebound ini dengan tiga hal: pelonggaran intervensi nonfarmasi, akumulasi orang rentan setelah dua tahun transmisi rendah, dan makin seringnya cuaca panas ekstrem serta hujan lebat belakangan ini.
Pola musiman ikut bergeser lagi mulai 2023. Puncak musim panas yang sebelumnya jatuh di Juli–Agustus kini maju ke April–Mei. Sementara itu, kekuatan musiman secara keseluruhan justru melemah signifikan dari tahun ke tahun (β = -1,003; 95% CI -1,510 hingga -0,496; P < 0,001), tanda bahwa pola dua puncak itu kian tidak setajam dulu.
Kelompok usia di bawah satu tahun mencatat rerata insiden tahunan tertinggi di semua kelompok umur, 3.502,75 per 100.000, dengan rasio laki-laki dibanding perempuan 1,19 berbanding 1,00. Lima kategori pekerjaan dengan kasus terbanyak adalah anak dalam pengasuhan rumah, pekerja kantoran, pensiunan, ibu rumah tangga atau penganggur, dan pelajar.
Peneliti mengaitkan tingginya insiden pada anak usia 0–2 tahun dengan sistem imun yang belum matang, jadwal vaksinasi yang belum lengkap, dan kontaminasi pada peralatan makan bayi. Pola serupa pernah ditemukan pada sampel di Provinsi Guangdong, Jiangsu, Henan, Yunnan, dan Gansu, sehingga kerentanan usia dini ini bukan hal baru dalam catatan epidemiologi Tiongkok.
2025: Angka yang Belum Terjadi
Untuk menembus batas arsip yang berhenti di 2024, tim peneliti membangun model SARIMA(1,1,1)(1,1,1) dengan siklus 12 bulan, dilatih dari data Januari 2010 hingga Desember 2023, lalu diuji terhadap data aktual Januari–Desember 2024. Hasilnya: kesalahan persentase rata-rata absolut atau MAPE 17,46 persen, dan koefisien determinasi R kuadrat 0,62.
Ada kandidat model lain, SARIMA(2,1,0)(0,1,1) dengan siklus 12 bulan, yang nilai AIC-nya sama persis. Tim memilih SARIMA(1,1,1)(1,1,1) karena kesalahan prediksinya lebih kecil, diukur dari RMSE dan MAPE, serta kekuatan penjelasnya lebih tinggi ketika diuji terhadap data 2024 yang sebenarnya.
Uji residual dengan metode Ljung–Box menunjukkan sisa kesalahan model berupa derau putih (chi-kuadrat = 21,349; P = 0,618), tanda pola temporal dalam data sudah tertangkap model. Dengan model itu, tim meramalkan Beijing akan mencatat 32.638 kasus OIDD pada 2025, naik sekitar 47 persen dibanding 2024, dengan pola bimodal: puncak utama Juni–Agustus, puncak sekunder Desember 2025 hingga Januari 2026.
Tim menyertakan interval kepercayaan 80 persen untuk setiap bulan ramalan, bukan interval yang lebih lebar. Pilihan itu dimaksudkan memberi gambaran skenario paling mungkin bagi perencanaan kesehatan masyarakat, meski ketidakpastian tetap ada di luar rentang yang dilaporkan, sebagaimana lazim pada peramalan deret waktu.
Zhiyong Gao dan Daitao Zhang sebagai penulis korespondensi menyimpulkan dalam naskahnya, “Strategi presisi dan dinamis semacam ini penting untuk membendung kebangkitan kembali kasus di kota-kota besar dan menjadi rujukan bagi kawasan berkepadatan tinggi lain,” ditulis Feng, Zhang, dan tim (aslinya berbahasa Inggris: “Such precision-based, dynamic strategies are vital to curb resurgence in megacities and provide a reference for other densely populated regions.”).
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Batas Data dan Satu Kejanggalan
Peneliti sendiri mengakui keterbatasan studinya. Data bersumber dari sistem surveilans pasif sehingga rentan bias pelaporan; sebagian penderita tidak mencari layanan kesehatan, dan variasi praktik diagnostik antarfasilitas berpotensi menyebabkan salah klasifikasi kasus. Model SARIMA juga tidak memasukkan variabel cuaca, ekonomi, atau cakupan vaksinasi, sehingga ramalan 2025 bisa meleset bila faktor itu berubah drastis.
Ada satu kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Paper merinci lima kategori pekerjaan dengan kasus OIDD terbanyak, masing-masing 28,06, 15,38, 12,61, 11,04, dan 10,56 persen. Kalau dijumlahkan, totalnya hanya 77,65 persen dari 756.933 kasus, menyisakan lebih dari 169 ribu kasus yang tidak disebut masuk kategori pekerjaan mana pun dalam tabel lima besar itu.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Dua puluh satu tahun arsip itu akhirnya berhenti bukan pada kepastian, melainkan pada satu angka yang belum terjadi: 32.638 kasus yang diramalkan untuk 2025. Antara puncak 2006 dan titik terendah 2022, kurva insiden OIDD di Beijing sudah membuktikan bisa naik dan turun tajam dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang, dan catatan berikutnya akan menentukan ke arah mana kurva itu bergerak lagi.














