- Gula darah salah satu peserta turun dari di atas 270 menjadi 151 dalam beberapa hari
- Kesediaan membayar warga USD 2,5 sampai 40 per bulan, jauh di atas rata-rata Thailand dan Belanda
- Perubahan menular ke keluarga dan tetangga, termasuk kebiasaan merokok dan minum alkohol
- Warga meminta ruang olahraga tahan hujan dan dukungan pemerintah agar program berlanjut
Daftar Isi
- Yuth mendata siapa yang duduk di ruang wawancara
- Yang dan Hwang mendengar cerita gula darah yang turun
- Hwang mencatat tenaga yang kembali untuk bekerja
- Yuth melihat perubahan menular ke tetangga
- Hwang menghitung angka yang warga sebut layak dibayar
- Yang mencatat permintaan warga untuk ruang tahan hujan
Sreypov Yuth mendatangi satu demi satu bekas peserta klub kesehatan warga di Prek Pnov, kawasan pinggiran Phnom Penh, pada pertengahan April 2025. Ia membawa lembar persetujuan tertulis dan menjelaskan langsung kepada tiap orang bahwa cerita mereka akan direkam dan dianalisis. Yuth adalah asisten peneliti lokal yang menghubungi dan menemui satu per satu calon peserta sebelum mengundang mereka bicara dalam kelompok kecil di ruang seminar rumah sakit setempat.
Yuth menuliskan hasil kerja itu bersama Youngran Yang dari Jeonbuk National University dan Oknam Hwang dari Korea Association of Health Promotion dalam Participants’ experiences and perceptions of community-based healthy lifestyle clubs in Cambodia: a qualitative study, dimuat BMC Public Health volume 26 nomor 1131, tahun 2026. Ketiganya menelusuri pengalaman warga yang bertahun-tahun rutin datang ke klub olahraga kampung yang didanai lembaga bantuan Korea Selatan, KOICA.
Yuth mendata siapa yang duduk di ruang wawancara
Yang dan Hwang memilih 30 orang dari 655 warga yang pernah ikut program, lalu membaginya ke enam kelompok diskusi berisi lima orang, disusun berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lama keikutsertaan. Usia rata-rata peserta 55,1 tahun, dengan rentang 41 sampai 71 tahun. Sebanyak 53,3 persen perempuan, 86,7 persen sudah menikah, dan 13,3 persen di antaranya tidak pernah duduk di bangku sekolah formal.
Yuth juga mencatat sisi ekonomi rumah tangga peserta. Pendapatan rumah tangga rata-rata per bulan hanya USD 281, sementara pengeluaran medis rumah tangga rata-rata mencapai USD 70 setiap bulan, dan pengeluaran kesehatan pribadi rata-rata USD 30. Sebanyak 70 persen peserta sudah dua tahun ikut klub, sedangkan sisanya baru setahun, dan hampir separuh peserta tidak punya pekerjaan berpenghasilan tetap.
Yang dan Hwang mendengar cerita gula darah yang turun
Dari enam kelompok diskusi, Yang dan Hwang menyaring lima tema besar, dan yang paling sering muncul adalah perubahan fisik yang dirasakan langsung. Peserta menyebut tekanan darah dan gula darah turun, berat badan berkurang, pencernaan membaik, dan nyeri lama di lutut, bahu, serta punggung bawah mereda. Salah satu peserta, dicatat Yang dan Hwang, melaporkan gula darahnya tidak pernah di bawah 270 sebelum ikut klub, lalu turun menjadi 151 dalam beberapa hari.
Yang dan tim juga mencatat perubahan pengetahuan peserta soal garam, gula, lemak, alkohol, dan kebiasaan makan larut malam. Selain perubahan fisik, mereka menemukan efek psikososial: peserta melaporkan tidur lebih nyenyak, suasana hati lebih stabil, dan rasa marah berkurang setelah rutin berkumpul dan berolahraga bersama warga lain. Yang, Hwang, dan Yuth menilai kombinasi manfaat fisik dan psikososial inilah yang membuat peserta bertahan bertahun-tahun dalam program yang sebetulnya tidak memberi imbalan uang sama sekali.
Untuk menjelaskan mengapa kombinasi itu bertahan, Yang, Hwang, dan Yuth menyusun model logika dari penuturan peserta sendiri, bukan dari desain program KOICA. “This study extends the existing literature, suggesting that peer-driven motivation, collective accountability, and community-level norm shifts can be perceived as key mechanisms contributing to program effectiveness,” tulis ketiganya, yang bila diterjemahkan berbunyi: dorongan sesama peserta, tanggung jawab bersama, dan pergeseran norma kampung dianggap mekanisme kunci di balik efektivitas program ini.
Hwang mencatat tenaga yang kembali untuk bekerja
Hwang dan rekan-rekannya menemukan tema kedua: kemampuan fungsional peserta membaik setelah rutin ikut klub. Banyak yang mengaku kini sanggup bekerja lebih lama tanpa cepat lelah, mengurus rumah, bertani, mengasuh, atau berjualan makanan dengan lebih ringan. Seorang peserta, ditulis Hwang dan Yang, mengaku kini bisa mengupas pepaya seberat 20 kilogram dalam sepuluh menit dan tidak lagi kelelahan setelah berjalan kaki 60 menit.
Bersamaan dengan tenaga yang pulih, Yuth dan rekan-rekannya mencatat peserta merasa lebih percaya diri mengurus kesehatan sendiri, dari memantau tekanan darah dan gula darah secara berkala hingga menyisihkan waktu khusus untuk olahraga. Yang, Hwang, dan Yuth menyimpulkan program itu bukan sekadar memperbaiki kemampuan fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab jangka panjang terhadap kesehatan diri sendiri.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Yuth melihat perubahan menular ke tetangga
Tema ketiga yang disusun Yuth bersama Yang dan Hwang menyangkut dampak sosial yang meluas ke luar peserta sendiri. Beberapa peserta bercerita bahwa suami, anak, atau tetangga ikut berjalan kaki dan mengubah pola makan setelah melihat perubahan pada diri mereka sendiri. Salah satu peserta bahkan menyebut mertuanya yang berusia 90 tahun kini berolahraga setiap hari, dan anak-anaknya mulai memasak makanan sehat serta menyampaikan pentingnya kesehatan kepada tetangga lain.
Yang dan tim juga mencatat perubahan pada kebiasaan merokok dan minum alkohol di tingkat kampung, yang menurut sejumlah peserta mulai dipandang memalukan. Hwang menyebut hubungan sosial antarwarga ikut menguat lewat klub ini, sebab pertemuan rutin membuat mereka merasa lebih terhubung satu sama lain, sesuatu yang menurut Yuth turut menopang kesehatan fisik yang sudah membaik lebih dulu.
Hwang menghitung angka yang warga sebut layak dibayar
Hwang dan rekan-rekannya lalu bertanya berapa yang bersedia dibayar peserta bila klub ini kelak berbayar. Jawabannya beragam, dari USD 2,5 sampai USD 40 per bulan, dan banyak peserta menyebut kisaran USD 15 sampai 30 sebagai wajar bila dibandingkan biaya pusat kebugaran atau kunjungan rumah sakit. Yang mencatat sebagian peserta bahkan menilai manfaat kesehatan yang mereka rasakan tidak bisa dihitung dengan uang sama sekali.
Yuth membandingkan temuan ini dengan dua penelitian lain yang dikutip dalam naskah yang sama. Di Thailand, rata-rata kesediaan membayar warga hanya USD 2 per bulan, dan lebih dari separuh responden ingin programnya gratis. Di Belanda, rata-rata kesediaan membayar sekitar USD 10 per bulan, lebih rendah pada peserta berpenghasilan kecil. Yang dan Hwang menilai angka Kamboja yang jauh lebih tinggi menandakan peserta merasakan langsung manfaat program ini pada diri mereka sendiri.
Yang dan Hwang menuliskan penjelasan sendiri soal makna angka tinggi itu. “This shows that it is important to provide opportunities for positive experiences before investment, and that high WTP among participants can be interpreted as an indicator of high satisfaction with the program,” tulis keduanya, kurang lebih berarti: penting memberi pengalaman positif lebih dulu, sebab kesediaan membayar tinggi menandakan kepuasan dan keyakinan warga bahwa program ini berhasil.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Yang mencatat permintaan warga untuk ruang tahan hujan
Meski mengaku puas, para peserta menitipkan sejumlah usulan kepada Yang dan timnya. Permintaan paling sering adalah ruang latihan yang terlindung, sebab musim hujan di Kamboja kerap memaksa kegiatan klub dihentikan, dan salah satu peserta secara khusus meminta ruang olahraga yang tetap bisa dipakai bahkan saat hujan turun. Peserta lain meminta alat tambahan seperti alat cek gula darah dan tensimeter untuk rumah, serta materi panduan bagi pemimpin klub.
Beberapa peserta juga meminta dukungan pemerintah atau lembaga swadaya agar program ini bisa berlanjut setelah dana KOICA habis, terutama untuk membiayai pemeriksaan kesehatan dan obat. Hwang mencatat satu usulan yang menonjol: warga berpendidikan rendah perlu didatangi langsung ke rumah, sebab mereka cenderung tidak menyadari pentingnya pencegahan penyakit sampai jatuh sakit parah.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Yang, Hwang, dan Yuth mengakui sendiri keterbatasan penelitian mereka. Peserta yang diwawancarai adalah mereka yang bertahan sampai akhir dan puas dengan program, sehingga sampelnya condong ke arah kisah sukses. Suara warga yang berhenti di tengah jalan atau kecewa sama sekali tidak terekam, dan hasil dari satu wilayah pinggiran Phnom Penh ini pun belum tentu berlaku di wilayah lain Kamboja.
Ada pula kejanggalan kecil dalam naskah yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca yang menelusuri sumber aslinya. Satu kalimat menyebut panduan wawancara disusun ulang oleh Yang dan Yuth saja, sementara kalimat lain tidak jauh setelahnya menyebut Yang, Hwang, dan Yuth bertiga yang menyusunnya, sehingga tidak jelas apakah Hwang ikut menyunting panduan itu. Naskah juga menuliskan nama lokasi penelitian secara berbeda, sebagian besar sebagai Prek Pnov namun sekali sebagai Prek Pnou.
Sreypov Yuth pada akhirnya pulang membawa rekaman suara 30 warga Prek Pnov yang hampir sepakat menilai klub kesehatan kampung mereka jauh lebih berharga daripada biaya yang mereka keluarkan untuknya. Dari gula darah yang turun, tenaga yang kembali bekerja, sampai tetangga yang ikut berjalan kaki setiap pagi, cerita yang dikumpulkan Yuth bersama Yang dan Hwang menggambarkan satu program kecil di pinggiran Phnom Penh yang, menurut pengakuan warganya sendiri, mengubah lebih dari sekadar angka tekanan darah di atas kertas.














