- Momasoro, menurut naskah itu, adalah upacara melepas perahu yang digelar setahun sekali.
- Sekitar pukul tiga sore ketua adat menabur beras putih dan kuning di sekeliling perahu.
- Ketan putih melambangkan asal mula penciptaan manusia, sedangkan ketan kuning mewakili unsur angin.
- Bagi orang Lauje, perahu yang hanyut membawa harapan bahwa bencana alam dan wabah penyakit ikut terbawa arus.
- Yang diamati hanya satu desa, dengan lima narasumber yang tidak disebut namanya, yaitu Camat Palasa, Sekretaris Desa Ogoansam, seorang ketua adat, dan dua tokoh masyarakat.
Daftar Isi
Sekitar pukul tiga sore, ketua adat menabur beras. Beras putih dan beras kuning itu ia tebarkan di sekeliling sebuah perahu kecil di Desa Ogoansam, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Dari taburan itulah momasoro dimulai, upacara tahunan orang Lauje yang berakhir ketika perahu berisi sesaji dilepas ke laut.
Urutan upacara itu dicatat Ayu Fadila dan Mardiah dari Universitas Alkhairaat Palu dalam artikel The Symbolic Meaning of the Momasoro Traditional Procession in the Lauje Community of Ogoansam Village, Indonesia’s Palasa District yang dimuat Pulchra Lingua: A Journal of Language Study, Literature, & Linguistics volume 3 nomor 1 tahun 2024. Keduanya mengamati prosesi dan mewawancarai lima orang di satu desa, lalu menemukan sepuluh simbol yang masing-masing membawa makna bagi orang Lauje.
Momasoro, menurut naskah itu, adalah upacara melepas perahu yang digelar setahun sekali. Hasil tani dan hasil laut yang dipanen sepanjang tahun dipersembahkan sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta atas tanah yang subur. Orang Lauje percaya upacara ini memperbaiki panen mereka, dan kedua peneliti mencatat bahwa momasoro juga dianggap sebagai bentuk penyembuhan.
Sebelum Hari Upacara, Musyawarah dan Perahu
Catatan pertama jatuh jauh sebelum beras ditabur. Tahap persiapan dibuka dengan molilingsonang, yaitu musyawarah yang dihadiri para ketua adat dan tetua kampung. Tujuannya mencapai kata sepakat dan tujuan bersama di kalangan orang Lauje, agar upacara berjalan lancar.
Sesudah musyawarah, perahu dibuat. Orang Lauje menyebutnya payangan, dan pengerjaannya diserahkan kepada orang yang terampil membuat perahu untuk upacara adat. Perahu itu biasanya sudah selesai sebelum hari momasoro tiba. Ukurannya sengaja kecil supaya mudah terbawa arus.
Berikutnya sesaji dikumpulkan dari warga. Isinya ketupat, ketan atau pulut dalam empat warna, telur yang disebut golau, pisang yang disebut pensa, rokok, koin lama, kue cucur, dan hasil tani lain. Keempat warna ketan itu punya nama sendiri: kuning melili, putih memeas, merah meegang, dan hitam meitong.
Naskah juga memuat foto perlengkapan lain yang disiapkan. Ada pinang, kapur, tembakau, dan daun palem. Ada gong dan gendang, sebilah pisau besar, rumput tulang, daun sidaguri, daun cocor bebek, tebu, ubi jalar, serta seekor ayam berbulu putih. Beras untuk ditabur diwarnai kuning, lalu disangrai.
Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Pukul Tiga Sore, Beras Ditabur dan Tari Dimulai
Pada hari upacara, para ketua adat, tokoh masyarakat, dan wakil pemerintah Desa Ogoansam berkumpul di rumah adat untuk menyaksikan momasoro. Sekitar pukul tiga sore ketua adat menabur beras putih dan kuning di sekeliling perahu. Sambil menabur, ia membaca doa keselamatan dalam bahasa Arab.
Arti doa itu dimuat dalam naskah. “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, kesehatan pada badan, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, tobat sebelum mati, rahmat ketika mati, dan ampunan sesudah mati,” demikian terjemahan yang ditulis Fadila dan Mardiah dalam bahasa Inggris.
Sesudah beras ditabur, tari dimulai. Para penari bergerak mengelilingi perahu, diiringi gong dan gendang yang dimainkan dua orang. Orang Lauje percaya tarian ini memanggil arwah leluhur mereka. Ketua adat lalu merapal mantra dalam bahasa Lauje supaya para penari kerasukan.
Mantra itu pun diberi arti oleh kedua peneliti. “Kami hamba yang lemah dan takut kepada Allah. Kami juga takut pada penyakit yang Allah turunkan kepada kami. Kami memohon Allah memberi kami kesehatan dan menempatkan kami dalam kebaikan,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.
Gong dan gendang terus dimainkan selama tari berlangsung. Ketika para penari mulai berputar mengelilingi perahu, mereka masuk ke keadaan tidak sadar. Sebelum dan sesudah menari, para penari memakai pinang dan sirih, yang menurut naskah menjadi bagian dari sesaji untuk memohon keselamatan warga.
Sesudah Tari, Syair Mogumbui Dinyanyikan
Tari selesai, lalu giliran syair. Para ketua adat Desa Ogoansam menyanyikan mogumbui dalam bahasa Lauje. Syair ini, menurut Fadila dan Mardiah, melambangkan tindakan menidurkan bayi dengan nyanyian pengantar tidur. Naskah memuat dua bait beserta artinya.
Bait pertama berjudul Mo Mongi Do’a, yang berarti meminta doa. Isinya pengakuan kepada Allah sebagai Tuhan yang disembah dan penjaga bayi yang disayangi. Penyanyinya menyatakan mengangkat tangan siang dan malam, memohon keselamatan bagi semua orang.
Bait kedua berjudul Ponyalamate, yang berarti penyelamat. Suaranya suara orang tua kepada anak. Sang anak disebut sebagai harapan, diminta mendengar nasihat orang tua, tumbuh menjadi orang baik, dan tidak melawan orang tua kelak. Bait itu ditutup dengan harapan bahwa bila anak itu menjadi penyelamat, jalan mereka akan terang dan bebas rintangan.
Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani
Malam Hari, Pantun dan Sesaji Menuju Muara
Momasoro berlanjut sampai malam. Pada babak ini yang hadir bukan hanya warga Desa Ogoansam, melainkan juga orang Lauje dari pedalaman. Para ketua adat Lauje pedalaman itulah yang melantunkan pantun dalam bahasa daerah mereka.
Sesudah pantun, sesaji dibawa ke muara sungai, tempat perahu akan dihanyutkan. Yang diantar adalah ketupat, ketan kuning dan ketan putih, telur ayam, tebu, pisang, umbi-umbian, dan hasil tani lain. Semuanya dimasukkan ke dalam perahu sebelum perahu dilepas.
Pada titik ini makna tiap benda mulai terbaca. Ketupat, nasi yang dibungkus anyaman daun kelapa muda, melambangkan keterikatan dan sikap saling menopang antarmanusia. Ketan kuning yang diberi telur di atasnya melambangkan seorang raja yang dikelilingi rakyatnya yang setia.
Ketan disebut sebagai salah satu unsur terpenting. Ketan putih melambangkan asal mula penciptaan manusia, sedangkan ketan kuning mewakili unsur angin. Keduanya menjadi persembahan bagi penguasa tanah dan angin. Warga juga percaya ketan berfungsi sebagai penangkal wabah penyakit.
Kue cucur, penganan dari tepung beras dan gula merah yang digoreng, dibuat pipih dan bulat. Bentuk dan rasanya melambangkan harapan agar setiap usaha membuahkan hasil yang manis. Adapun sesaji secara keseluruhan dimaknai sebagai tanda hormat dan syukur kepada penguasa air dan darat, tempat warga menggantungkan penghidupan.
Babak Akhir, Perahu Dilepas ke Laut
Babak terakhir berlangsung di pantai Desa Ogoansam. Sebelum perahu dilepas, tari leluhur orang Lauje sekali lagi dibawakan. Para pesertanya mengelilingi perahu sebagai ungkapan syukur kepada penguasa air, yang dalam naskah disebut Togu Ogo.
Selama tari itu, ketua adat yang disebut Olongiyan kembali merapal mantra. Artinya sama dengan mantra pada sore hari, yaitu pengakuan sebagai hamba yang lemah, takut kepada Allah dan kepada penyakit, serta permohonan kesehatan. Seekor ayam putih ditaruh di dalam perahu sebagai lambang roh yang menghuninya.
Tari usai, ketua adat memerintahkan warga bersiap. Perahu yang sudah penuh sesaji dan hasil tani itu lalu dilepas ke laut. Bagi orang Lauje, perahu yang hanyut membawa harapan bahwa bencana alam dan wabah penyakit ikut terbawa arus. Perahu juga diyakini menuntun warga Ogoansam menuju kemakmuran dan kedamaian.
Upacara belum selesai ketika perahu menjauh. Ketua adat Desa Ogoansam membaca doa tolak bala, memohon agar orang Lauje terlindung dari wabah. Pembacaan doa itulah yang menandai berakhirnya momasoro.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Sesudah Upacara, Sepuluh Simbol Dicatat
Dari rangkaian itu Fadila dan Mardiah menyusun daftar sepuluh simbol: perahu, sesaji, ketupat, telur ayam, ketan, kue cucur, gong dan gendang, pisau besar, mantra, dan ayam putih. Gong dan gendang dimaknai sebagai alat pemanggil roh. Pisau besar atau parang melambangkan perlindungan bagi warga selama mereka bekerja.
Mantra mendapat tempat tersendiri. Rapalan dalam bahasa Lauje itu disebut mencerminkan watak dan jati diri orang Lauje ketika menyeru Allah, sekaligus dipercaya mampu memanggil roh. Naskah mencatat banyak orang Lauje telah memeluk Islam atau Kristen, sementara kepercayaan leluhur tetap dipegang berdampingan dengan agama itu.
Kesimpulan kedua peneliti ringkas. “Dari rangkaian peristiwa dalam tradisi momasoro, penulis menyimpulkan bahwa tradisi ini menjadi sarana bagi masyarakat Lauje untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkah panen mereka,” tulis Ayu Fadila dan Mardiah dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Cakupan catatan ini terbatas. Yang diamati hanya satu desa, dengan lima narasumber yang tidak disebut namanya, yaitu Camat Palasa, Sekretaris Desa Ogoansam, seorang ketua adat, dan dua tokoh masyarakat. Naskah juga tidak menyebut tahun upacara yang diamati, sehingga uraiannya tidak dapat dianggap mewakili semua kampung Lauje.
Pembaca yang membuka naskah aslinya akan menemukan beberapa hal yang tidak seragam. Prosesi disebut terdiri atas tujuh tahap, tetapi yang terurai adalah satu tahap persiapan dan enam langkah pelaksanaan. Tabel simbol menyebut perahu terbawa arus sungai, sedangkan uraiannya menyebut perahu dilepas ke laut.
Makna raja yang dikelilingi rakyat dipasang pada telur ayam di dalam tabel, tetapi pada ketan kuning bertelur di dalam uraian. Ketan disiapkan dalam empat warna, namun hanya putih dan kuning yang diberi makna. Pantun malam hari dimuat tanpa arti, dan mantra yang sama dieja berbeda di dua tempat.
Catatan terakhir tetap pada doa tolak bala di pantai Ogoansam. Sesudah itu naskah tidak mencatat apa pun tentang perahu yang sudah hanyut.













