Daftar Isi
Sebuah kotak kayu berbentuk perahu, dengan lubang memanjang di tengahnya, dipukul memakai sepotong kayu lain, dan dari situ suku Sentani di Papua menggerakkan warganya berkumpul, berduka, atau merayakan pengangkatan kepala suku baru. Alat itu bernama kelambut. Ia tidak bersuara sembarangan, karena pola pukulannya sendiri yang membedakan panggilan bahaya dari panggilan pesta.
Cara kerja kelambut ini diuraikan I Wayan Rai S., Ni Made Ruastiti, Gede Yoga Kharisma Pradana, dan Yunus Wafom dari Institut Seni Indonesia Denpasar, The Institute of Tourism and International Business, dan ISBI Tanah Papua, dalam artikel The Meaning of Kelambut Music for the Sentani Tribe, Papua, dimuat di Journal of Southwest Jiaotong University volume 58 nomor 4, tahun 2023. Penelitian ini memusatkan diri pada satu instrumen musik dan satu suku, yakni kelambut pada masyarakat Sentani di kawasan Mamta, Papua.
Bentuknya menyerupai perahu kecil, dengan ujung selebar 5 sentimeter, bagian tengah selebar 17 sentimeter, dan panjang keseluruhan bisa mencapai 135 sentimeter. Di tengah badannya ada lubang sepanjang 39 sentimeter dan lebar 9 sentimeter, tempat suara dihasilkan ketika bagian dalamnya dipukul memakai batang kayu bernama oha. Karena caranya berbunyi, kelambut masuk kategori idiofon sekaligus kendang celah, mirip alat serupa yang di Bali disebut kentungan.
Novelty penelitian ini menyoal anggapan yang selama ini beredar bahwa kelambut sudah punah dari kebudayaan suku Sentani. Paper ini disusun sebagai bantahan atas anggapan tersebut, dengan menunjukkan kelambut masih dipakai dalam berbagai kegiatan budaya, mulai dari upacara sakral hingga hiburan dan sosialisasi warga. Temuan ini, menurut penulisnya, juga diharapkan dapat mendorong seniman lain untuk turut melestarikan kesenian tradisional semacam ini.
Kenapa Satu Pukulan Bisa Berarti Bahaya, Bukan Pesta
Persoalannya bukan pada bentuk kelambut, melainkan pada pola pukulannya. Paper ini mencatat bahwa variasi tempo dan ritme kelambut membentuk semacam kosakata bunyi. Salah satu pola dipakai untuk komunikasi jarak jauh dalam kondisi aman, sementara pola lain, yang cenderung monoton dan sedikit variasinya, khusus dipakai saat suku Sentani menghadapi bahaya. Pendengar yang terbiasa akan langsung tahu pesan apa yang sedang disampaikan hanya dari cara kelambut dipukul.
Pola itu paling kentara saat kelambut mengiringi tarian dan nyanyian pada festival maupun upacara adat. Paper ini mencatat para pemain biasanya duduk membentuk lingkaran atau dua baris sejajar ketika memainkannya, formasi yang oleh peneliti dibaca sebagai ekspresi rasa memiliki di antara para pemain kelambut yang terampil. Dua baris sejajar itu disebut merefleksikan pemahaman yang sama, sementara intonasi bunyi kelambut dari formasi tersebut dinilai memperkuat makna toleransi budaya lewat gerakan tari suku Sentani yang dipentaskan demi festival.
Kepala Suku Memanggil Lewat Bunyi, Bukan Kata
Karena itu kelambut berfungsi sebagai alat komunikasi bagi suku Sentani di kawasan Mamta. Ondoafi, sebutan untuk kepala suku, memakai bunyi kelambut untuk memanggil warganya berkumpul di satu lokasi ketika ada pengumuman penting. Sistem bunyi ini sudah tertanam dalam kebiasaan warga, sehingga begitu kelambut berbunyi dengan ritme tertentu, orang langsung memahami maksudnya tanpa perlu penjelasan lisan lebih lanjut.
Yang membuatnya rumit, pesan di balik bunyi kelambut menurut paper ini sulit dipahami orang luar yang tidak akrab dengan budaya Sentani. Kelambut dipakai untuk memanggil anggota keluarga, menyampaikan kabar duka, sekaligus menandai ancaman perang antarsuku, semuanya lewat ritme yang berbeda-beda namun bagi warga Sentani sendiri terdengar jelas bedanya.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Siapa yang Boleh Membuat Kelambut
Bukan sembarang orang boleh membuat kelambut. Paper ini mencatat hanya laki-laki Sentani yang terampil dan sudah mendapat restu dari ondoafi yang diperbolehkan membuatnya; perempuan dilarang memakainya. Levinus Pilemon Modouw, anak kepala suku Sentani, menuturkan pada 5 Juli 2017, aslinya berbahasa Inggris: “Alat musik ini dibuat pada 1823, tapi tidak ada bukti tertulis kapan pertama kali kami memakainya. Semua hal tentang pemakaian kelambut diajarkan turun-temurun secara lisan oleh para pemimpin kami. Satu yang pasti, ornamen tentang rambut itu ada pada para-para, dan kami masih memakainya untuk kegiatan budaya,” tuturnya.
Kenapa Aturan Pembuatannya Seketat Itu
Sebelum bicara soal siapa yang boleh membuatnya, kelambut juga membawa makna historis yang melekat sejak awal. Suku Sentani memandang kelambut sebagai warisan budaya yang menjaga hubungan lintas generasi, karena motif yang tertera pada kelambut juga muncul di rumah adat bernama para-para, penanda identitas budaya yang sama. Kelambut, menurut paper ini, telah menjadi instrumen fungsional untuk membangun dan merawat hubungan antargenerasi dalam suku Sentani sejak lama.
Keharusan mendapat restu ondoafi ini bukan formalitas kosong. Suku Sentani percaya kesulitan hidup seperti sulit mendapat jodoh, perceraian, sakit parah, hingga kematian mendadak berkaitan dengan pelanggaran aturan adat, termasuk aturan memproduksi dan memakai kelambut. Levinus Modouw menegaskan proses pembuatannya, aslinya berbahasa Inggris: “...supaya tidak punah... hanya orang yang dipilih, dipilih oleh ondoafi, yang boleh membuat kelambut... perempuan dilarang memakai kelambut...” Karena itu, bunyi kelambut yang lahir dari proses tanpa restu justru dipercaya mendatangkan bencana, bukan berkah, bagi upacara adat yang menyertainya.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Ketika Bunyinya Berubah Jadi Suara Duka
Fungsi kelambut tidak berhenti pada urusan adat sehari-hari. Paper ini menyertakan syair lagu duka khas Sentani bernama helaehili, yang biasa dinyanyikan diiringi bunyi kelambut saat warga berduka atau meminta bantuan. Terjemahan penulis jurnal atas syair itu menggambarkan hutan dan kebun kelapa yang terbakar, kondisi yang menurut penuturan Levinus Modouw pada 16 Desember 2019, aslinya berbahasa Inggris, berkaitan dengan bencana nyata: “...Tindakan tidak bertanggung jawab menyebabkan kebakaran dan berujung longsor serta banjir bandang. Setelah longsor dan banjir bandang, suara kelambut kerap mengiringi nyanyian berisi ungkapan duka...”
Yang membuatnya berbeda dari sekadar musik pengiring, kelambut dalam konteks ini menjadi penanda bahwa kerugian yang dialami suku Sentani itu memang nyata dan layak diratapi bersama lewat bunyi yang sudah mereka kenali sejak lama. Kerugian itu mencakup kehilangan sanak keluarga sampai hilangnya sumber penghasilan dari kebun akibat pembalakan liar dan kebakaran hutan.
Paper ini turut mencatat makna lingkungan kelambut: bahan kayunya berasal dari hutan tempat suku Sentani tinggal, sehingga ancaman dan kerusakan pada hutan itu ikut menentukan keberlangsungan instrumen ini. Suara angin di sekitar permukiman mereka bahkan menjadi bagian dari peringatan sosial yang selama ini mereka jaga bersamaan dengan kelestarian lingkungan.
Kelambut juga tampil dalam kegiatan yang menuntut kebersamaan atau toleransi sosial, seperti seminar dan festival, di kawasan Mamta yang menjadi tempat tinggal suku Sentani bersama 82 kelompok etnis lain. Melodi kelambut dipakai untuk menegaskan permintaan toleransi atau kebersamaan, sebagaimana terlihat saat suaranya mengiringi peresmian Festival Seni Sentani pada 2014 oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di Kantor Gubernur Papua. Paper ini mencatat penggunaan kelambut dalam peristiwa semacam itu lebih condong pada penguatan relasi politik dan promosi budaya ketimbang semata pelestarian tradisi Sentani.
Batas yang Diakui Penelitian Ini Sendiri
Paper ini mengakui gambaran maknanya bertumpu pada satu instrumen dan satu kelompok suku di kawasan Mamta, sehingga tidak mewakili seluruh keragaman budaya di Papua, yang menurut paper ini dihuni lebih dari 250 kelompok etnis. Sebagian penjelasan makna kelambut, terutama soal aturan pembuatannya, juga bersandar pada penuturan satu informan bernama, yakni Levinus Pilemon Modouw, sehingga pembaca perlu berhati-hati sebelum menganggapnya berlaku sama persis bagi seluruh warga Sentani.
Kejanggalan yang Bisa Dicek Sendiri
Ada kejanggalan kecil pada penyebutan nama instrumennya sendiri. Sebagian besar naskah konsisten menulis “kelambut”, tetapi satu kalimat menyebutnya “Kembut” dan kalimat lain menyebutnya “Kemambu”, tanpa keterangan apakah itu sebutan alternatif atau sekadar salah ketik yang lolos dari penyuntingan. Pembaca yang membandingkan ejaan di beberapa paragraf dapat menemukan sendiri perbedaan ini.
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Yang tersisa dari paper ini adalah gambaran satu kotak kayu berbentuk perahu yang ternyata menyimpan lebih dari sekadar bunyi. Kelambut memanggil warga berkumpul, menandai bahaya, mengesahkan kepala suku baru, dan mengiringi ratapan setelah bencana, semuanya lewat pola pukulan yang sama-sama berasal dari kayu hutan tempat suku Sentani hidup turun-temurun.














