Rumah Suku Duano di Pesisir Riau Masih Mengikuti Bentuk Perahu

A A

Ilustrasi deretan rumah panggung kayu dan perahu nelayan di muara berlumpur berlatar bakau [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Rumah orang Duano di pesisir masih menyimpan bentuk perahu.
  • Menurut generasi tua, perpindahan ke pesisir dimulai sekitar 1970-an.
  • Dahulu ikan menjadi tangkapan utama, lalu masyarakat beralih ke udang dan kerang di lingkungan muara.
  • Orang Duano kini melaut mengikuti siklus tohor, satu periode pasang surut sekitar enam sampai tujuh hari.
Daftar Isi
  1. Hidup di atas perahu
  2. Satu ruang, banyak guna
  3. Hasil laut menyusut
  4. Perahu versi darat
  5. Membaca posisi bulan
  6. Dari ikan ke udang
  7. Muara jadi pusat
  8. Batas dan saran

Rumah orang Duano di pesisir masih menyimpan bentuk perahu. Atapnya mirip kajang, pelindung dari panas dan hujan yang dulu menaungi perahu mereka. Bentuknya sederhana dan persegi, meniru kesederhanaan ruang hunian di atas air.

Temuan itu ditulis Feby Alita Trya Sandi dan Sudaryono dalam artikel Fenomenologi Transformasi Ruang Hidup Masyarakat Suku Duano di Pesisir Indragiri Hilir. Artikel tersebut terbit di Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia volume 11 nomor 2 tahun 2026. Kedua penulis berasal dari Universitas Gadjah Mada.

Mereka mewawancarai para tetua dan tokoh masyarakat Duano di Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir. Desa itu berpenduduk sekitar 1.000 kepala keluarga menurut data BPS 2024. Sekitar 500 di antaranya diperkirakan keluarga Duano.

Hidup di atas perahu

Suku Duano disebut naskah sebagai kelompok Proto-Melayu di Provinsi Riau. Mereka juga dikenal sebagai Orang Laut dan telah menetap di Indragiri Hilir sejak ratusan tahun silam. Di kalangan masyarakat, mereka kerap disebut pula Dossin Dolak.

Dulu mereka tinggal di perahu dan mengembara di perairan. Ikan, kerang, dan hasil laut lain menjadi sumber penghidupan. Mereka naik ke darat untuk menjual atau menukar tangkapan dengan pangan dan sandang, sekaligus mengambil air tawar dan kayu api.

Paling tidak enam bulan sekali, atau ketika angin berembus kencang, mereka mendarat untuk memperbaiki atau membuat perahu. Para tetua yang diwawancarai masih mengingat masa itu. Seorang informan menuturkan mereka hidup di perahu, baru pulang seminggu sekali, dan memasak serta tidur di sana.

Perahu-perahu itu berlayar dan berlabuh bersama, dan dari kumpulan itulah susunan sosial mereka terbentuk. Informan lain menyebut perahunya ramai, bisa lebih dari seratus. Pesta pernikahan pun digelar di atas perahu.

Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival

Satu ruang, banyak guna

Ruang di perahu tidak dibagi secara tetap, tanpa dapur atau kamar yang permanen. Pagi menjadi dapur, siang menjadi tempat menyimpan ikan, dan malam menjadi ruang tidur. Menurut kedua penulis, model ruang itu selaras dengan alam dan ritme pasang surut.

Ruang rumah tangga, ruang kerja, dan ruang sosial menyatu dalam satu perahu yang bergerak. Karena itu Sandi dan Sudaryono menyebut perahu sebagai rumah dalam arti sesungguhnya, bukan sekadar alat angkut. Ruang di perahu mengatur alur hidup harian, peran gender, dan hubungan sosial.

Hasil laut menyusut

Para informan konsisten menyebut satu sebab utama perpindahan, yakni hasil laut yang menurun. Seorang tetua mengenang kerang yang dulu bisa terkumpul sampai tujuh puluh kaleng. Kini, katanya, hasil laut sudah banyak berkurang.

Penurunan itu perlahan melemahkan penghidupan yang sepenuhnya bergantung pada laut. Masyarakat mulai mencari ruang hidup yang lebih stabil. Menurut generasi tua, perpindahan ke pesisir dimulai sekitar 1970-an.

Naskah juga mencatat peran pemerintah. Sejak dekade 1970-an hingga awal 2000-an, program Pemukiman Kembali Masyarakat Adat Terpencil ikut mendorong perubahan itu, bersama tekanan sosial dan ekologis. Komunitas yang dulu berpindah-pindah perlahan bermukim tetap di wilayah pesisir, lewat proses yang menurut kedua peneliti bertahap dan memakan waktu lama.

Hidup orang Duano, dulu dan kiniHidup orang Duano, dulu dan kiniHidup orang Duano, dulu dan kiniPerubahan yang dicatat di Desa Sungai Bela, Indragiri HilirMasa di perahuMasa di pesisirPerahu berkajangRumah permanenTempat tinggalIkanUdang dan kerangTangkapan utamaHarianSatu tohorRitme melautHunian utamaAlat kerjaFungsi perahuRuang utamaRuang pendukungLaut dan perairan
Sumber: Feby Alita Trya Sandi dan Sudaryono, Fenomenologi Transformasi Ruang Hidup Masyarakat Suku Duano di Pesisir Indragiri Hilir, Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 11(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Perahu versi darat

Rumah pertama di pesisir tidak langsung meninggalkan pola ruang dari laut. Seorang informan menggambarkannya masih seperti perahu. Lantainya dari nipah, dan penerangannya lampu pelita karena lampu belum ada.

Sandi dan Sudaryono membaca bahan yang ringan dan sederhana itu sebagai tanda. Rumah awal lebih dipandang sebagai perahu versi darat, bukan rumah permanen. Lantai nipah memberi kesan lentur seperti lantai perahu, sedangkan cahaya pelita menyerupai suasana perahu pada malam hari.

Pemisahan ruangnya pun masih sedikit. Ada area memasak, area tidur, dan area menerima tamu, tetapi semuanya sangat sederhana. Dapur sering berada di bagian belakang dan menyatu tanpa dinding yang tegas.

Ruang keluarga berupa satu ruang besar yang dipakai bersama untuk tidur, mirip kehidupan di perahu. Rumah awal itu sudah memiliki pelataran sebagai ruang komunal. Di sebelahnya tersedia tempat menyandarkan perahu yang dipakai melaut.

Seiring waktu rumah berubah: lantainya kini semen, dindingnya kayu atau batako, dan listrik sudah tersedia. Unsur laut tetap melekat, sebab banyak keluarga membangun ruang terbuka atau panggung di dekat rumah untuk mengolah ikan dan kerang. Kedua penulis menyebut ruang itu menyerupai geladak kerja di perahu.

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Membaca posisi bulan

Pengetahuan tentang laut tetap dipegang. Orang Duano membaca pasang surut dan cuaca dengan melihat posisi bulan. Saat purnama atau bulan mati, pasang naik lebih tinggi, sedangkan saat bulan separuh pasang cenderung lebih rendah.

Posisi bulan menentukan jam turun melaut. Bila pasang tinggi, mereka berangkat sekitar pukul dua sampai tiga pagi. Bila air tidak pasang tinggi, mereka baru turun pukul tiga sampai empat pagi.

Pengetahuan itu diajarkan secara lisan lewat pengalaman langsung. Anak-anak diajak orang tua ke laut sejak kecil. Mereka diajari melihat arah bintang pada malam hari dan mengamati warna ufuk saat matahari terbit.

Seorang tokoh masyarakat menuturkan ajaran orang tuanya bahwa laut harus dihormati. Bila cuaca buruk, lebih baik menunggu. Baginya itu bukan hanya soal keselamatan, melainkan juga cara menjaga hubungan dengan laut.

Dari ikan ke udang

Dahulu ikan menjadi tangkapan utama. Setelah menetap, masyarakat beralih ke udang dan kerang di lingkungan muara yang berupa hamparan lumpur. Pergeseran itu, menurut hasil wawancara, terjadi bertahap.

Harga ikut diperhitungkan. Seorang informan menyebut udang kabe dihargai Rp35.000 per kilogram, sedangkan udang tenggi Rp50.000. Kedua penulis melihatnya sebagai tanda tangkapan kini lebih spesifik dan terstruktur menurut jenis udang yang nilai ekonominya berbeda.

Ritme melaut ikut berganti. Dulu orang Duano melaut harian atau berhari-hari, kini mereka mengikuti siklus tohor, satu periode pasang surut sekitar enam sampai tujuh hari. Udang dan kerang lebih mudah dijangkau dengan pola itu, dan keduanya kini menjadi komoditas utama karena nilai jualnya lebih tinggi serta permintaan pasarnya lebih stabil.

Tangkapan itu tidak dimakan sendiri. Semuanya dijual kepada pengepul yang disebut toke. Udang lebih banyak dikirim ke luar daerah, yakni ke Pekanbaru, Batam, dan Karimun menurut seorang informan, sedangkan kerang lebih banyak dipasarkan di daerah sendiri.

Alat dan pembagian kerja pun berubah. Jaring untuk ikan digantikan peralatan sederhana seperti alat menongkah. Dulu melaut dilakukan bersama keluarga, kini udang sering ditangkap laki-laki, sementara perempuan lebih banyak bekerja di darat atau mengolah tangkapan.

Dari perahu ke rumah bersemenDari perahu ke rumah bersemenDari perahu ke rumah bersemenTahap perubahan hunian menurut penuturan wargaPerahuHunian dilaut1970-anPindah kepesisirRumahawalLantainipahRumahkiniLantaisemenMuarajadi ruanghidup utama
Sumber: Feby Alita Trya Sandi dan Sudaryono, Fenomenologi Transformasi Ruang Hidup Masyarakat Suku Duano di Pesisir Indragiri Hilir, Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 11(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Muara jadi pusat

Ekosistem pesisir yang menopang mereka adalah mangrove dan muara sungai. Di sana ikan kecil, udang, kepiting, dan kerang berkembang biak. Muara juga menjadi tempat singgah, menjemur ikan, memperbaiki jaring, dan menyimpan perahu.

Sungai Indragiri dan muara-muaranya menjadi jalur angkutan. Jalur itu menghubungkan orang Duano dengan daratan dan pasar di daerah lain. Kedua penulis menyebut sungai sebagai penghubung antara ruang hidup dan dunia luar.

Makna ruang pun bergeser. Laut dan perairan, yang semula ruang hidup utama, kini menjadi ruang pendukung. Pesisir, yang dulu hanya ruang singgah, menjadi ruang tinggal permanen.

Perahu tidak hilang. Fungsinya beralih dari hunian utama menjadi sarana mobilitas dan alat kerja, dan rumah di pesisir sering dirancang agar tetap menampung perahu di sekitarnya. Generasi berikutnya sudah tumbuh di darat dan hanya mengenal kehidupan perahu dari cerita orang-orang tua.

“Ruang hidup pesisir dimaknai sebagai perpanjangan ruang hidup perahu sekaligus ruang adaptasi dalam menghadapi dinamika lingkungan pesisir,” tulis Sandi dan Sudaryono dalam simpulan naskahnya. Rumah panggung, pelataran, dan letak rumah mereka sebut sebagai tanggapan atas pasang surut.

Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani

Batas dan saran

Penelitian ini berfokus pada satu desa. Sungai Bela adalah satu dari tiga belas desa tempat komunitas Duano tersebar. Kedua penulis juga mencatat kajian tentang cara orang Duano memaknai perubahan ruang hidupnya masih relatif terbatas.

Mereka menyarankan pendekatan serupa dikembangkan pada komunitas adat pesisir lain. Kepada pemerintah, mereka menyarankan kebijakan pembangunan pesisir mempertimbangkan makna ruang hidup yang bersifat kultural dan ekologis. Pengetahuan lokal dan strategi adaptasi masyarakat dapat dimasukkan ke perencanaan tata ruang serta program pemberdayaan ekonomi.

Simpulan naskah menyebut menetap di darat tidak menghapus identitas dan jejak sejarah kelautan Suku Duano. Jejak itu terpelihara dalam tata ruang permukiman, orientasi rumah, dan perahu yang kini menjadi alat kerja.

Bagikan

Baca Juga

Suku Duanu Pindah dari Sampan ke Rumah, Bantuan Belum Merata
Dabba Ana di Sabu, Ayah Menandai Wajah Bayi dengan Ludah Sirih
Separuh Lebih Keluarga Suku di India Tanpa Jaminan Kesehatan
Di Desa Tambak, Panen Madu Bermantra Hilang Saat Hutan Jadi Sawit
Tumbuhan Obat Suku Moronene Ada 57, Sagu Paling Bernilai Budaya
Agama Leluhur Talang Mamak Tertanam di Sungai, Ladang, dan Pohon