- Di tujuh negara, pencarian rokok di Google konsisten lebih tinggi daripada rokok elektrik sepanjang 2015 sampai 2024.
- Pencarian rokok di Indonesia melonjak pada Agustus 2016 di tengah debat harga Rp50.000 per bungkus.
- Sebagian besar patahan minat pencarian jatuh pada 2019 sampai 2022, masa yang bertepatan dengan pandemi COVID-19.
- Data Google Trends mencerminkan minat pencarian relatif, bukan konsumsi tembakau yang sesungguhnya.
Daftar Isi
- Volume Pencarian Relatif, Angka 0 sampai 100 yang Bukan Jumlah
- Topik, Satu Wadah untuk Banyak Ejaan dan Merek
- Anomali, Lonjakan Sesaat yang Menempel pada Peristiwa
- Patahan Struktural, Saat Minat Pindah ke Tingkat Baru
- Gerak Serempak, Naik dan Turun pada Bulan yang Sama
- Alat Pelengkap, Pemberi Sinyal yang Bukan Dasar Keputusan
Mengetik kata “rokok” di kotak pencarian Google belum tentu berarti menyalakan sebatang. Jejak ketikan semacam itulah yang oleh para peneliti disebut minat pencarian, dan selama sepuluh tahun jejak itu menunjukkan satu hal yang ajek: rokok biasa lebih banyak dicari daripada rokok elektrik.
Pola itu dicatat Gökçe Uğurlu, Pelin Erkaya, Ceylan Yozgatlıgil, dan Dilek Aslan dalam artikel Google trends analysis of emerging tobacco and nicotine products in countries with the highest tobacco production and marketing between 2015 and 2024, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Uğurlu bekerja di Silopi District Health Directorate di Şırnak, Türkiye. Erkaya dan Yozgatlıgil berasal dari Middle East Technical University, sedangkan Aslan dari Hacettepe University, keduanya di Ankara.
Tujuh negara mereka amati dari 2015 sampai 2024: Tiongkok, Amerika Serikat, Jerman, Indonesia, Türkiye, Brasil, dan India. Ketujuhnya dipilih karena menempati lima besar pasar tembakau atau lima besar penghasil tembakau dunia. Indonesia, bersama Tiongkok dan Amerika Serikat, masuk kedua daftar itu sekaligus.
Volume Pencarian Relatif, Angka 0 sampai 100 yang Bukan Jumlah
Istilah kuncinya adalah relative search volume, disingkat RSV, atau volume pencarian relatif. Maksudnya begini. Google Trends tidak membuka berapa kali sebuah kata diketik. Yang diberikannya adalah angka 0 sampai 100, yakni kepopuleran sebuah pencarian dibanding titik tertingginya sendiri pada kurun waktu dan wilayah yang dipilih.
Angka 100, dengan begitu, bukan seratus pencarian. Ia menandai bulan paling ramai, dan bulan-bulan lain diukur terhadap puncak itu. Semakin tinggi nilainya, tulis para peneliti, semakin besar minat publik. Pencarian yang terlalu sedikit diberi nilai nol, dan pencarian berulang dari orang yang sama dalam waktu singkat tidak ikut dihitung.
Batas angka itu ditulis para peneliti sendiri. Uğurlu dan rekan-rekannya menyatakan data Google Trends mencerminkan minat pencarian relatif, bukan konsumsi tembakau yang sesungguhnya. Angka itu juga tidak mengungkap alasan seseorang mencari.
Topik, Satu Wadah untuk Banyak Ejaan dan Merek
Tiga hal dipantau: rokok, rokok elektrik, dan heated tobacco product atau produk tembakau yang dipanaskan. Ketiganya tidak diperlakukan sebagai kata yang diketik persis, melainkan sebagai Topik. Bedanya begini. Topik adalah wadah yang disusun Google untuk mengumpulkan pencarian semakna, termasuk sinonim, variasi ejaan, padanan dalam berbagai bahasa, dan nama merek terkemuka.
Rokok biasa sebenarnya hanya pembanding. Tujuan utama penelitian ini adalah menakar minat publik pada rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan. Namun pembanding itulah yang ternyata paling menonjol. Di ketujuh negara, sepanjang masa pengamatan, volume pencarian rokok konsisten lebih tinggi daripada dua produk yang lebih baru itu.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Arah geraknya pun berbeda-beda. Pencarian rokok naik secara bermakna di Türkiye, Brasil, Tiongkok, Indonesia, dan India, sedangkan di Amerika Serikat dan Jerman tidak ditemukan arah yang jelas. Pencarian rokok elektrik naik di enam negara. Pengecualiannya Indonesia, tempat minat pada rokok elektrik berfluktuasi dari waktu ke waktu tanpa arah yang bermakna.
Produk tembakau yang dipanaskan nyaris tidak terdengar. Di Indonesia dan India nilainya mendekati nol dan dapat diabaikan sepanjang periode, di Brasil sangat rendah dan hampir tidak berubah. Hanya Jerman yang menunjukkan kenaikan dengan naik-turun yang nyata. Di Brasil, Tiongkok, Indonesia, dan India nilainya begitu terkumpul di antara 0 dan 1 sehingga arah kenaikannya tidak dapat dihitung secara andal.
Anomali, Lonjakan Sesaat yang Menempel pada Peristiwa
Anomali adalah bulan ketika angka pencarian melompat jauh dari bulan-bulan di sekitarnya. Contoh yang paling dekat dengan pembaca Indonesia terjadi pada Agustus 2016. Saat itu pencarian rokok di Indonesia melonjak kuat dalam waktu singkat. Para peneliti mencatat lonjakan itu terjadi di tengah perdebatan nasional yang ramai diberitakan tentang usul menaikkan harga rokok menjadi Rp50.000 per bungkus.
Di Amerika Serikat, lonjakan serupa menimpa rokok elektrik pada September 2019. Waktunya bertepatan dengan wabah EVALI, cedera paru yang terkait penggunaan rokok elektrik atau produk vape. Peristiwa kesehatan mendadak itu, menurut para penulis, diberitakan secara luas dan disertai naiknya minat daring untuk berhenti memakai vape.
Dua lonjakan lain menyangkut rokok biasa. Di Türkiye, kenaikan luar biasa pada Agustus 2019 bertepatan dengan naiknya harga produk tembakau yang tercatat dalam laporan inflasi resmi. Di India, pencarian rokok melompat pada April 2020, ketika karantina nasional pertama COVID-19 dan pembatasan penjualan tembakau diberlakukan. Pada masa itu akses pengguna terhadap produk tembakau terganggu.
Para peneliti tidak membaca empat contoh itu sebagai sebab dan akibat. Menurut mereka, peristiwa kesehatan mendadak, perubahan harga, aturan baru, dan liputan media yang gencar mungkin memunculkan kenaikan sesaat dalam pencarian informasi tentang tembakau. Kesesuaian waktu itu mereka sebut penjelasan kontekstual yang masuk akal, bukan bukti bahwa peristiwa tadi menyebabkan perubahan angka.
Patahan Struktural, Saat Minat Pindah ke Tingkat Baru
Anomali cepat berlalu. Patahan struktural tidak. Istilah ini menandai saat ketika minat pencarian berubah mendadak lalu menetap di tingkat yang baru. Para peneliti menganggapnya penting karena pergeseran semacam itu mungkin mencerminkan gangguan di dunia nyata, misalnya perubahan kebijakan, peluncuran produk, atau peristiwa kesehatan masyarakat yang besar.
Jumlah patahan berbeda dari satu negara ke negara lain. Türkiye mencatat paling banyak: empat kali pada rokok dan lima kali pada rokok elektrik. India dan Brasil berada di ujung lain. Pencarian rokok elektrik di India hanya patah sekali, pada Mei 2022, sedangkan pencarian rokok di Brasil patah sekali pada Desember 2020.
Indonesia berada di tengah. Pencarian rokok patah tiga kali, yakni pada Juli 2016, September 2019, dan April 2022. Pencarian rokok elektrik patah empat kali: Juni 2016, Desember 2017, Juni 2019, dan Desember 2020. Untuk produk tembakau yang dipanaskan, patahan hanya dilaporkan di Jerman, sebab di negara lain nilainya terlalu sedikit berubah untuk dibaca.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Sebagian besar patahan itu jatuh pada 2019 sampai 2022, masa yang bertepatan dengan pandemi COVID-19. Pandemi, tulis para peneliti, membawa gangguan luas pada kehidupan sehari-hari, kekhawatiran kesehatan yang meningkat, dan ketergantungan yang lebih besar pada sumber informasi digital. Merokok ikut menjadi sorotan karena penyakit itu menyerang pernapasan.
Kabar yang beredar pada awal pandemi juga tidak seragam. Para penulis menyinggung klaim bahwa merokok atau nikotin mungkin melindungi dari COVID-19, klaim yang mendapat perhatian besar di media dan media sosial. Semua itu mungkin turut menggeser pencarian. Namun mereka menegaskan, tumpang-tindih waktu antara pandemi dan patahan tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti sebab-akibat.
Gerak Serempak, Naik dan Turun pada Bulan yang Sama
Pertanyaan berikutnya: apakah minat pada satu produk menarik minat pada produk lain? Jawaban yang paling sering muncul adalah gerak serempak, yaitu pencarian rokok dan rokok elektrik naik atau turun pada bulan yang sama. Di Jerman, Amerika Serikat, dan Tiongkok, tidak ditemukan tanda bahwa pencarian yang satu mendahului yang lain.
Kebersamaan itu, menurut para peneliti, mungkin mencerminkan tanggapan publik yang sejajar terhadap peristiwa luar yang sama, bukan satu produk yang mendorong minat pada produk lainnya. Hubungan berjeda hanya terlihat di sebagian kecil negara. Polanya paling jelas di Indonesia dan Brasil, dengan jeda satu bulan antara pencarian rokok dan pencarian rokok elektrik.
Untuk kedua negara itu, para penulis menyimpulkan bahwa pergeseran minat pada rokok biasa mungkin mendahului perubahan minat pada rokok elektrik. Produk tembakau yang dipanaskan tidak menunjukkan kaitan yang kokoh dengan dua produk lainnya. Menggabungkan ketiganya pun pada umumnya tidak membuat prakiraan menjadi lebih jitu.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Prakiraan setahun ke depan ikut disusun. Minat pada rokok diperkirakan sedikit menurun di Türkiye dan Indonesia, mendatar di tingkat tinggi di Brasil, dan terus naik di Tiongkok. Di Indonesia, penurunan itu digambarkan sebagai gerak kembali ke tingkat rata-rata setelah kenaikan beberapa tahun terakhir. Minat pada rokok elektrik diperkirakan terus tumbuh di Indonesia dan Tiongkok.
Alat Pelengkap, Pemberi Sinyal yang Bukan Dasar Keputusan
Lalu untuk apa angka-angka ini? Para peneliti menyebut Google Trends sebagai alat surveilans pelengkap. Sistem pemantauan yang lazim sering bergantung pada laporan yang datang terlambat, sedangkan data pencarian memberi gambaran nyaris seketika. Lonjakan yang tidak biasa dapat mendorong petugas kesehatan memeriksa pemberitaan, perubahan harga, aturan baru, kegiatan pemasaran, atau peristiwa kesehatan yang sedang berlangsung.
Batasnya mereka tulis sendiri. “Google Trends semestinya berfungsi sebagai komponen pemberi sinyal yang mendorong penyelidikan lebih lanjut, bukan sebagai dasar tunggal bagi keputusan kesehatan masyarakat,” tulis Gökçe Uğurlu, Pelin Erkaya, Ceylan Yozgatlıgil, dan Dilek Aslan dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Sinyal itu perlu dicocokkan dengan data lain yang berdiri sendiri.
Keterbatasan penelitian ini juga dirinci. Perilaku mencari dipengaruhi liputan media, akses internet, dan faktor budaya yang berbeda di tiap negara. Karena sifatnya relatif, angka satu negara tidak dapat dibandingkan langsung dengan negara lain. Pengguna Google pun condong pada penduduk yang lebih muda dan lebih aktif secara digital, sementara cara kerja algoritmanya tertutup.
Ada pula yang luput dari wadah bernama Topik tadi. Topik yang dibakukan mungkin tidak menangkap sepenuhnya produk yang khas di suatu negara. Para peneliti menyebut dua contoh: tembakau tanpa asap di India dan rokok kretek di Indonesia. Keduanya, tulis mereka, merupakan kebiasaan bertembakau yang berakar pada budaya dan mungkin memerlukan penelusuran tersendiri.
Karena itu mereka mengusulkan agar penelitian berikutnya mencocokkan angka pencarian dengan survei penduduk, data penjualan eceran, dan catatan layanan berhenti merokok. Istilah pencarian dalam bahasa setempat juga perlu diuji. Bila sudah teruji, petunjuk dari Google Trends dapat dipertimbangkan untuk dipadukan ke dalam sistem pemantauan yang diperbarui secara rutin.
Para peneliti menyimpulkan minat pencarian itu tanggap terhadap peristiwa besar di masyarakat dan sangat beragam antarnegara serta antarproduk. Mereka menutup naskahnya dengan satu penegasan: semua produk tembakau tetap berbahaya bagi kesehatan.














