Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen

A A

Siswi SMA berseragam putih mengerjakan lembar ujian di ruang kelas. [Foto: nugroho khoironi/Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0]

  • Dari 9.856 siswa di Jawa Timur, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan, 34,2 persen laki-laki dan 1,5 persen perempuan merokok dalam 30 hari terakhir
  • Hampir 90 persen siswa tahu bahaya rokok, tetapi pengetahuan itu tidak berkaitan dengan status merokok
  • Teman dekat perokok bermakna, sedangkan keluarga dan paparan di sekolah tidak
  • Setiap kenaikan 1 ppm karbon monoksida napas menaikkan peluang enggan berhenti 10,8 persen
Daftar Isi
  1. Empat Provinsi
  2. Jurang Laki-laki Perempuan
  3. Tahu Tetap Merokok
  4. Teman Lebih Kuat
  5. Alat Ukur Napas
  6. Semakin Pekat, Semakin Enggan
  7. Titik Buta Alat
  8. Angka yang Tak Cocok

Tiga dari sepuluh siswa laki-laki merokok dalam sebulan terakhir. Angkanya 34,2 persen, sedangkan pada siswa perempuan hanya 1,5 persen. Data ini berasal dari 9.856 siswa di empat provinsi, dan hampir sembilan dari sepuluh siswa itu tahu rokok berbahaya.

Temuan itu ditulis Mouhamad Bigwanto, Putri Suryani Utami, Umniyati Kowi, dan tujuh rekan lain dalam Smoking determinants and exhaled CO as an indicator of smoking intensity among Indonesian students: evidence from a school-based prevention program, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 672, tahun 2026. Bigwanto berasal dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta. Rekan-rekannya berasal dari Kementerian Kesehatan, Lentera Anak Foundation, The Indonesia Health Policy Forum, dan UNICEF Indonesia.

Empat Provinsi

Datanya bukan survei baru. Angka itu diambil dari program Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok, sebuah program percontohan Kementerian Kesehatan dengan bantuan teknis UNICEF. Petugas puskesmas, guru, dinas pendidikan, kantor urusan agama, dan forum anak ikut menjalankannya di sekolah.

Jawa Timur didata lebih dulu, pada Agustus sampai November 2023. Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan menyusul pada Agustus sampai Oktober 2024. Siswanya berusia 8 sampai 21 tahun, dari SD sampai SMA, dan siswa SD dibantu saat mengisi kuesioner.

Data awal memuat 9.957 siswa, yaitu 6.324 pada 2023 dan 3.633 pada 2024. Setelah duplikat dibuang dan 25 siswa di atas 21 tahun dikeluarkan, tersisa 9.856 orang. Setiap siswa mengisi kuesioner dan meniup alat pengukur karbon monoksida.

Hasil besarnya sederhana. Sebanyak 63,6 persen atau 6.264 siswa tidak pernah merokok, 18,1 persen pernah mencoba tetapi tidak dalam 30 hari terakhir, dan 18,3 persen merokok dalam 30 hari terakhir. Kelompok terakhir yang berjumlah 1.807 siswa inilah yang disebut perokok kini.

Jurang Laki-laki Perempuan

Jurangnya lebar. Dari 4.790 siswa perempuan, 88,9 persen tidak pernah menyentuh rokok, sedangkan dari 5.066 siswa laki-laki angkanya hanya 39,6 persen. Sisanya pada laki-laki terbagi dua: 26,2 persen pernah mencoba lalu berhenti, dan 34,2 persen atau 1.734 orang masih merokok.

Pada perempuan, yang pernah mencoba 9,6 persen dan yang masih merokok 1,5 persen atau 73 orang. Uji statistiknya menghasilkan nilai p di bawah 0,001. Perbedaan sebesar ini, menurut peneliti, sejalan dengan data nasional sebelumnya.

Siswa laki-laki dan perempuanPerbandingan siswa laki-laki dan perempuan: perokok kini 34,2 vs 1,5 persen, teman dekat merokok 65,4 vs 39,8 persen.Siswa laki-laki dan perempuan9.856 siswa usia 8-21 tahun, empat provinsiLaki-laki (5.066)Perempuan (4.790)34,2%1,5%Perokok kini26,2%9,6%Pernah mencoba39,6%88,9%Tidak pernah65,4%39,8%Teman dekatmerokok89,2%90,3%Tahu bahaya rokok8,4%16,4%Rokok elektrik(perokok kini)2,61 ppm1,74 ppmCO napas rata-rata
Sumber: Mouhamad Bigwanto, Putri Suryani Utami, Umniyati Kowi, Rama Tantra Solikin, Benget Saragih, Rindu Rachmiaty, Hanifah Rogayah, Sekar Astrika Fardani, Mrunal Shetye, dan Artha Camellia, Smoking determinants and exhaled CO as an indicator of smoking intensity among Indonesian students: evidence from a school-based prevention program, BMC Public Health, 26(672), 2026. Grafik: Cekricek.id

Usia mulai merokok tidak berbeda. Rata-rata siswa mencicipi rokok pertama pada usia 12,70 tahun, yaitu 13,15 tahun pada perempuan dan 12,68 tahun pada laki-laki. Jumlah batang per hari pun serupa, sekitar 3,9 batang untuk perokok harian.

Model statistik menegaskan hal yang sama. Siswa laki-laki 6,65 kali lebih mungkin pernah mencoba rokok dibanding perempuan, dengan selang kepercayaan 5,88 sampai 7,52. Usia yang bertambah juga menaikkan peluang menjadi perokok kini, dengan rasio 1,10 per tahun untuk beralih dari bukan perokok ke pernah mencoba.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Tahu Tetap Merokok

Pengetahuan ternyata tidak melindungi. Sebanyak 89,7 persen atau 8.821 siswa menyatakan tahu bahaya rokok, dengan 90,3 persen pada perempuan dan 89,2 persen pada laki-laki. Selisih satu poin itu tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p 0,056.

Pengetahuan itu juga tidak membedakan perokok dan bukan perokok. Dalam model statistik, tahu atau tidak tahu bahaya rokok tidak berkaitan dengan status merokok di semua perbandingan. Angka rasionya berkisar 0,99 sampai 1,06, semuanya tidak bermakna.

Paparan di sekolah pun tidak bermakna. Sebanyak 68,6 persen siswa pernah melihat orang merokok di sekolah, dan 73,1 persen punya anggota keluarga yang merokok. Dua hal ini tidak berkaitan dengan status merokok siswa setelah faktor lain diperhitungkan.

Teman Lebih Kuat

Satu faktor sosial yang bermakna adalah teman dekat. Siswa yang teman dekatnya banyak merokok lebih mungkin menjadi perokok kini dibanding bukan perokok. Rasio peluangnya 0,91 untuk menjadi bukan perokok, dengan selang kepercayaan 0,86 sampai 0,96.

Teman perokok jauh lebih umum pada laki-laki. Tabel penelitian mencatat 65,4 persen siswa laki-laki punya teman dekat perokok, sedangkan pada perempuan 39,8 persen. Rasio peluangnya 2,85 kali, dengan selang kepercayaan 2,63 sampai 3,10.

Ada satu rincian menarik. Teman perokok berkaitan dengan status perokok kini, tetapi tidak berkaitan dengan sekadar pernah mencoba. Peneliti menafsirkan pengaruh teman lebih kuat mendorong siswa terus merokok daripada mendorong percobaan pertama.

Alat Ukur Napas

Kuesioner bisa dijawab tidak jujur. Karena itu program ini juga memakai alat pengukur karbon monoksida dalam napas, disingkat eCO, sebagai penanda merokok yang tidak bisa disembunyikan. Alatnya dua merek, Smokerlyzer dari Bedfont dan Serenity CO Analyzer Pro, dan hasilnya dicatat dalam bagian per juta atau ppm.

Hasilnya berjenjang. Perokok kini rata-rata 4,22 ppm, siswa yang pernah mencoba 2,97 ppm, dan bukan perokok 2,47 ppm. Perbedaan ketiga kelompok bermakna dengan p di bawah 0,001, dan siswa laki-laki secara keseluruhan lebih pekat napasnya, 2,61 ppm berbanding 1,74 ppm pada perempuan.

CO napas menurut status merokokPerokok kini: Rata-rata eCO +4,22; Pernah mencoba: Rata-rata eCO +2,97; Pengguna rokok elektrik: Rata-rata eCO +2,96; Tidak pernah merokok: Rata-rata eCO +2,47.CO napas menurut status merokokRata-rata, bagian per juta (ppm)1234560Perokok kini4,22Pernah mencoba2,97Pengguna rokok elektrik2,96Tidak pernah merokok2,47Tiga kelompok status merokok berbeda bermakna (p < 0,001). Grafikpabrikan alat menyebut 1-6 ppm sebagai rentang normal.
Sumber: Mouhamad Bigwanto, Putri Suryani Utami, Umniyati Kowi, Rama Tantra Solikin, Benget Saragih, Rindu Rachmiaty, Hanifah Rogayah, Sekar Astrika Fardani, Mrunal Shetye, dan Artha Camellia, Smoking determinants and exhaled CO as an indicator of smoking intensity among Indonesian students: evidence from a school-based prevention program, BMC Public Health, 26(672), 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka ini masih di rentang hijau. Menurut grafik pabrikan alat, 1 sampai 6 ppm dianggap normal. Peneliti tetap menilai selisih 4,22 dan 2,47 ppm itu jelas, dan menyebut Yordania memakai ambang 4,5 ppm untuk mengenali remaja laki-laki yang baru merokok.

Kepekatan napas sejalan dengan jumlah batang. Pada perokok harian, korelasi eCO dengan batang per hari 0,494, tergolong sedang. Pada perokok sesekali, korelasi dengan batang per minggu hanya 0,174, dan dengan lama merokok 0,248.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Semakin Pekat, Semakin Enggan

Temuan paling tajam ada di niat berhenti. Setiap kenaikan 1 ppm karbon monoksida napas menaikkan peluang siswa tidak berniat berhenti sebesar 10,8 persen. Rasio peluangnya 1,108 dengan selang kepercayaan 1,072 sampai 1,145, dan nilai p di bawah 0,001.

Peneliti membacanya sebagai tanda kebiasaan yang sudah menetap. Siswa dengan napas lebih pekat kemungkinan merokok lebih berat dan baru saja mengisap. Pola yang sudah mapan itu, menurut peneliti, menurunkan dorongan untuk berhenti.

Peneliti berhati-hati menyebut alat ini sebagai ukuran ketergantungan. “Meskipun eCO bukan ukuran langsung ketergantungan nikotin, ia menunjukkan perilaku merokok yang sering, yang kerap berkaitan dengan ketergantungan,” tulis Mouhamad Bigwanto dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka mengusulkan alat ini sebagai penyaring dan pemicu motivasi di program sekolah.

Titik Buta Alat

Alat napas punya titik buta. Karbon monoksida hanya terbentuk dari pembakaran, sehingga pengguna rokok elektrik hampir tidak terdeteksi. Rata-rata eCO pengguna rokok elektrik dalam data ini 2,96 ppm, hampir sama dengan siswa yang pernah mencoba.

Titik buta itu bertemu pola jenis kelamin. Di antara perokok perempuan, 16,4 persen memakai rokok elektrik, dua kali lipat perokok laki-laki yang 8,4 persen. Peneliti menduga rokok elektrik dipandang lebih bisa diterima bagi perempuan.

Alat ini juga hanya peka pada perokok yang baru mengisap dalam 24 jam terakhir. Riwayat merokok jangka panjang tidak tertangkap, dan angka rendah pada pengguna rokok elektrik bisa memberi kesan keliru bahwa produk itu lebih aman. Peneliti meminta alat ini dilengkapi cara penilaian lain, bukan dipakai sendirian.

Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80

Peneliti mencantumkan keterbatasan yang jelas. Datanya potong lintang dan sekunder, sehingga tidak bisa menyimpulkan sebab-akibat maupun menggali motivasi siswa. Sekolah dipilih secara purposif dan wilayahnya tidak berimbang, sehingga angka ini tidak mewakili seluruh Indonesia.

Perilaku merokok dilaporkan sendiri oleh siswa, dan dua alat ukur berbeda dipakai. Peneliti juga tidak menyesuaikan uji berganda, sehingga temuan yang nyaris bermakna harus dibaca hati-hati. Mereka menegaskan temuan ini bukti program, bukan dasar perluasan nasional tanpa evaluasi lanjutan.

Angka yang Tak Cocok

Ada beberapa angka dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Teks menyebut 63,4 persen siswa laki-laki dan 39,3 persen siswa perempuan punya teman dekat perokok. Tabel 1 mencatat 65,4 persen dan 39,8 persen.

Tabel 3 memuat selisih rata-rata eCO antarkelompok. Selisih bukan perokok dan pernah mencoba tertulis 0,160 ppm, padahal rata-ratanya 2,47 dan 2,97 ppm, atau selisih 0,50 ppm. Selisih pernah mencoba dan perokok kini tertulis 1,595 ppm, padahal 2,97 dan 4,22 ppm hanya berselisih 1,25 ppm.

Rata-rata eCO seluruh siswa di Tabel 1 tertulis 2,19 ppm. Rata-rata tertimbang dari tiga kelompok, dengan 6.264, 1.785, dan 1.807 siswa, jatuh di sekitar 2,88 ppm. Kedua angka itu tidak bertemu.

Baris pengetahuan bahaya rokok juga tidak pas. Siswa laki-laki yang tahu dan tidak tahu berjumlah 4.530 dan 547, atau 5.077 orang, melebihi total siswa laki-laki 5.066. Jumlah keseluruhan baris itu 9.830, bukan 9.856.

Definisi perokok harian pun janggal. Naskah menulisnya sebagai siswa yang merokok setidaknya satu hari per minggu dalam 30 hari terakhir. Definisi itu lebih cocok untuk perokok mingguan, padahal angka 3,87 batang per hari dihitung dari kelompok ini.

Angka besarnya tetap berdiri: laki-laki jauh lebih banyak merokok, teman lebih berpengaruh daripada keluarga, dan napas yang pekat menandai siswa yang enggan berhenti. Pengetahuan tentang bahaya rokok, yang hampir merata, tidak mengubah salah satu pun dari ketiganya.

Bagikan

Baca Juga

Bibit Ginseng Jawa Ditanam di Salimpek, Pestisida Tetap Dipakai
Aplikasi CheckPD Thailand: 81 Persen Peringatan Parkinson Benar
Stunting Mengelompok di Timur, Berat Lahir Jejak yang Tersisa
Kampus Perlu Perkuat Resiliensi Mahasiswa Cegah Kasus Bunuh Diri
Jumbo Dibaca sebagai Lima Pesan Moral dari Tujuh Adegan
Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur