- Sebanyak 33,0 persen lansia Filipina berpendidikan rendah menilai kesehatannya buruk, dibandingkan 22,7 persen pada kelompok berpendidikan lebih tinggi.
- Lansia berpendidikan rendah rata-rata berjarak 9,7 kilometer dari fasilitas kesehatan terdekat, sedangkan kelompok berpendidikan lebih tinggi 4,4 kilometer.
- Kekayaan rumah tangga menyumbang paling besar pada selisih penilaian kesehatan diri, yakni 3,6 poin persentase.
- Ciri-ciri yang diteliti hanya menjelaskan 7,8 persen selisih keterbatasan fungsional antara kedua kelompok.
Daftar Isi
Di satu ujung ada rumah seorang lansia Filipina, di ujung lain berdiri fasilitas kesehatan terdekat. Bagi warga berusia 60 tahun ke atas yang tidak pernah bersekolah atau hanya menempuh sekolah dasar, jarak di antara keduanya rata-rata 9,7 kilometer. Bagi mereka yang pernah duduk di bangku sekolah menengah atau lebih tinggi, jaraknya rata-rata 4,4 kilometer.
Selisih jalan itu bukan satu-satunya yang memisahkan dua kelompok lansia tersebut. Sepertiga lansia berpendidikan rendah, tepatnya 33,0 persen, menilai kesehatannya buruk, sedangkan pada kelompok berpendidikan lebih tinggi angkanya 22,7 persen. Kesulitan menjalankan kegiatan harian juga lebih sering dialami kelompok pertama, dan gejala depresi mereka lebih berat.
Gambaran itu disusun Sanny D. Afable dari School of Geography and Sustainable Development, University of St Andrews, Skotlandia, dan rekan, antara lain peneliti Nihon University, Kantor Regional WHO untuk Pasifik Barat, dan Population Institute University of the Philippines Diliman. Laporan mereka, Drivers of health inequalities across education level among older Filipinos: a decomposition analysis using nationwide survey data, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Mereka mengolah data Longitudinal Study of Ageing and Health in the Philippines, survei berskala nasional terhadap lansia yang tinggal di tengah masyarakat. Wawancara berbantuan komputer berlangsung dari Oktober 2018 hingga Februari 2019. Analisisnya memakai 5.209 orang berusia 60 tahun ke atas yang secara fisik dan kognitif mampu diwawancarai.
Para lansia itu dibagi menurut pendidikan. Sebanyak 3.397 orang tidak bersekolah atau hanya menempuh sekolah dasar, sedangkan 1.812 orang pernah mencapai jenjang sekolah menengah atau lebih tinggi. Dalam hasil terbobot, kelompok pertama mencakup 72,0 persen lansia dan kelompok kedua 28,0 persen.
Jalan Hampir 10 Kilometer ke Fasilitas Kesehatan
Dari pintu rumah, jalan yang ditempuh lansia berpendidikan rendah menuju fasilitas kesehatan terdekat lebih dari dua kali lipat jarak kelompok berpendidikan lebih tinggi. Vaksinasi pun lebih jarang mereka terima. Hanya 22,5 persen dari mereka yang pernah mendapat vaksin pneumokokus atau flu, dibandingkan 33,4 persen pada kelompok berpendidikan lebih tinggi.
Perawatan hipertensi juga tertinggal. Sebanyak 40,5 persen lansia berpendidikan rendah tergolong tidak mendapat perawatan hipertensi yang dibutuhkan, yakni sudah didiagnosis tetapi tidak minum obat, atau tidak tahu dirinya hipertensi sebelum tekanan darahnya diukur saat wawancara. Pada kelompok berpendidikan lebih tinggi, angkanya 29,4 persen.
Baca juga Berhenti Naik Angkutan Umum, Langkah dan Ingatan Lansia Surut
Ada pula lansia yang setahun terakhir merasa sakit tetapi tidak menemui dokter. Kebutuhan layanan yang tak terpenuhi itu dialami 30,3 persen lansia berpendidikan rendah dan 25,1 persen kelompok lainnya. Selisih yang ini tidak bermakna secara statistik.
Isi Rumah dan Skor Kekayaan
Masuk ke dalam rumah, perbedaannya terbaca lewat skor kekayaan rumah tangga. Skor itu disusun dari ciri hunian dan harta benda, antara lain bahan bangunan rumah, status kepemilikan rumah dan tanah, listrik, kepemilikan sejumlah barang termasuk internet, sumber air minum, dan jenis jamban. Ada tidaknya pembantu rumah tangga dan penerima bantuan tunai bersyarat dari pemerintah juga ikut dihitung.
Rata-rata skor lansia berpendidikan rendah minus 0,24, sedangkan kelompok berpendidikan lebih tinggi 0,64. Skor yang lebih tinggi menandakan status sosial ekonomi yang lebih baik. Kaitan erat antara pendidikan dan kekayaan rumah tangga saat ini menjadi alasan para peneliti menilai pendidikan sebagai ukuran lapisan sosial yang baik.
Di luar rumah, lebih banyak lansia berpendidikan rendah yang saat ini bekerja dengan upah, yakni 51,5 persen, dibandingkan 41,8 persen pada kelompok berpendidikan lebih tinggi. Mereka juga punya anak lebih banyak, rata-rata 5,04 berbanding 3,83. Status janda atau duda pun lebih sering mereka sandang, 43,2 persen berbanding 30,6 persen.
Tempat tinggal ikut memisahkan keduanya. Sebanyak 58,6 persen lansia berpendidikan lebih tinggi tinggal di perkotaan, sedangkan pada kelompok berpendidikan rendah hanya 37,2 persen. Kelompok berpendidikan lebih tinggi juga sedikit lebih muda, rata-rata 67,0 tahun, sementara kelompok berpendidikan rendah rata-rata 68,7 tahun.
Olahraga Sepekan Sekali
Kebiasaan hidup kedua kelompok tidak terpaut jauh. Sekitar seperempat di tiap kelompok pernah merokok, 26,3 persen pada kelompok berpendidikan rendah dan 25,0 persen pada kelompok lainnya. Pernah minum alkohol justru sedikit lebih banyak dijumpai pada lansia berpendidikan lebih tinggi, 26,7 persen berbanding 21,4 persen.
Yang lebih kentara adalah olahraga. Sebanyak 83,2 persen lansia berpendidikan lebih tinggi berolahraga setidaknya sekali sepekan, sementara pada kelompok berpendidikan rendah 73,5 persen. Dalam model untuk seluruh lansia, olahraga mingguan berkaitan dengan peluang yang lebih kecil untuk menilai kesehatan diri buruk dan untuk mengalami keterbatasan fungsional.
Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Sakit tetapi Tidak ke Dokter
Kembali ke lansia yang sakit tetapi tidak menemui dokter. Dalam model gabungan, kebutuhan layanan yang tak terpenuhi berkaitan dengan kenaikan 18,4 poin persentase peluang menilai kesehatan diri buruk. Ia juga berkaitan dengan kenaikan 9,9 poin persentase peluang mengalami keterbatasan fungsional, serta dengan gejala depresi yang lebih berat.
Gejala depresi diukur dengan skala CES-D 11 butir yang skornya berkisar 0 sampai 22, makin tinggi makin berat. Rata-rata skor lansia berpendidikan rendah 5,6, lebih dari satu satuan di atas kelompok berpendidikan lebih tinggi yang 4,2. Kekayaan rumah tangga, bekerja, dan keikutsertaan dalam organisasi keagamaan atau kegiatan sukarela berkaitan dengan gejala yang lebih ringan.
Sebaliknya, berstatus janda atau duda berkaitan dengan gejala depresi yang lebih berat. Kaitan yang menonjol juga terlihat antara jenis kelamin perempuan dan beratnya gejala. Tak satu pun faktor perilaku, seperti merokok, minum alkohol, atau berolahraga, berkaitan dengan gejala depresi.
Dompet Rumah Tangga dan Jarak Jalan
Seberapa besar selisih kesehatan itu bisa dijelaskan oleh perbedaan keadaan kedua kelompok? Untuk penilaian kesehatan diri, bagiannya besar. Dari selisih sekitar 10 poin persentase, 8,3 poin atau 81 persen terjelaskan oleh perbedaan ciri antara lansia berpendidikan rendah dan lansia berpendidikan lebih tinggi.
Faktor sistem kesehatan menyumbang bagian terbesar, 3,7 poin persentase atau 40 persen dari selisih yang terjelaskan. Sesudahnya faktor material 30 persen, faktor demografis 14 persen, dan faktor perilaku 10 persen. Jarak tempuh yang lebih jauh sendiri menyumbang 2,2 poin persentase atau 28 persen dari selisih yang terjelaskan, meski kontribusi tunggal ini tidak bermakna secara statistik.
Di antara semua faktor, kekayaan rumah tangga menyumbang paling besar. “Jika kedua kelompok memiliki tingkat kekayaan rumah tangga yang sama, ketimpangan dalam penilaian kesehatan diri akan turun hampir separuh atau 3,6 poin persentase,” tulis Afable dan rekan, diterjemahkan dari laporan berbahasa Inggris itu.
Usia kelompok berpendidikan rendah yang lebih tua menyumbang 1,6 poin persentase. Bila lansia dari kedua kelompok berolahraga dalam persentase yang sama, selisih itu akan menyempit 1,3 poin persentase. Arah sebaliknya datang dari kerja berbayar: berkurangnya pekerja di kelompok berpendidikan rendah akan memperlebar selisih 0,8 poin persentase, meski kontribusi ini tidak bermakna secara statistik.
Pada gejala depresi, 64,9 persen selisih terjelaskan oleh perbedaan ciri kedua kelompok. Kerugian material lansia berpendidikan rendah menyumbang dua pertiga dari bagian yang terjelaskan itu, sedangkan faktor sistem kesehatan 21 persen. Perbedaan kekayaan rumah tangga saja menyumbang 0,66 satuan skor atau 47 persen dari selisih skor CES-D.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Kamar Mandi, Kursi, dan Pintu Depan
Ukuran ketiga membawa pembaca kembali ke dalam rumah. Keterbatasan fungsional dihitung dari kesulitan menjalankan setidaknya satu dari tujuh kegiatan harian: mandi sendiri, berpakaian, makan, berdiri dari atau duduk di ranjang atau kursi, berjalan di dalam rumah, keluar rumah, dan memakai toilet. Kesulitan ini dialami 21,2 persen lansia berpendidikan rendah dan 12,2 persen kelompok lainnya.
Berbeda dengan dua ukuran sebelumnya, ciri-ciri yang diteliti hanya menjelaskan 7,8 persen selisih keterbatasan fungsional. Jumlah anak yang lebih banyak pada kelompok berpendidikan rendah menekan selisih itu 1,1 poin persentase, sedangkan ketimpangan dalam berolahraga menyumbang 1,5 poin persentase. Tak satu pun faktor sistem kesehatan menyumbang secara berarti.
Para peneliti menduga bagian yang tak terjelaskan itu bisa berasal dari perbedaan pengaruh tiap faktor pada kelompok pendidikan yang berbeda. Penyebab lain yang mereka sebut adalah hal-hal yang tidak dimasukkan dalam analisis, seperti gizi, pengaturan tempat tinggal, dan tingkat pembangunan wilayah.
Afable dan rekan juga mencatat batas kerja mereka. Data yang dikumpulkan pada satu waktu membatasi kesimpulan sebab-akibat, sedangkan keadaan masa kanak-kanak dan faktor lingkungan tidak tercakup memadai dalam survei. Sebanyak 776 lansia yang tak bisa diwawancarai karena keterbatasan fisik atau kognitif, dengan porsi berpendidikan rendah lebih besar, tidak masuk analisis, sehingga keterbatasan fungsional terhitung lebih rendah.
Untuk sistem kesehatan, mereka menulis, “Mengurangi jarak ke fasilitas kesehatan dan mengatasi kebutuhan layanan kesehatan yang tak terpenuhi sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan lansia dengan status sosial ekonomi lebih rendah dan selanjutnya mengurangi ketimpangan kesehatan.” Mereka menyebut klinik medis keliling yang dijalankan sejumlah pemerintah daerah di Filipina untuk komunitas pedesaan berpenghasilan rendah.
Di sisi ekonomi, para peneliti menyarankan perluasan cakupan dan manfaat pensiun hingga ke pekerja informal. Pensiun sosial pemerintah untuk lansia miskin dinaikkan dari 500 peso menjadi 1.000 peso per bulan pada 2025, masih di bawah 2.775 peso per kapita per bulan yang ditetapkan pemerintah sebagai batas keluar dari kemiskinan resmi per 2023.
Jarak 9,7 kilometer di awal tulisan ini termasuk faktor sistem kesehatan, kelompok faktor yang menjelaskan 40 persen dari selisih penilaian kesehatan diri yang terjelaskan. Menurut para peneliti, temuan itu menuntut penguatan infrastruktur kesehatan, dukungan lebih besar bagi tenaga kesehatan di pedesaan, dan cara baru mengantar layanan kepada lansia, terutama yang punya keterbatasan fisik.














