- Dari 388 murid berasma di Oman, 70,9 persen berpengetahuan sedang dan hanya 12,6 persen yang tergolong baik.
- Hanya 10 anak atau 2,6 persen yang masuk kelompok perilaku promosi kesehatan baik.
- Pengetahuan berkorelasi positif dengan perilaku pada analisis awal, tetapi tidak lagi berkaitan secara mandiri di dalam model.
- Anak yang tinggal di desa memiliki skor perilaku lebih tinggi daripada anak di kawasan semi-kota, dan anak di rumah milik sendiri lebih tinggi daripada anak di rumah sewa.
Daftar Isi
Di sekolah-sekolah negeri Oman, ratusan murid berasma ditanya seberapa jauh mereka mengenal penyakitnya, lalu ditanya pula seberapa jauh mereka menjalankan kebiasaan yang menjaga kesehatan. Pada analisis awal, kedua skor itu berkorelasi positif. Namun, setelah faktor lain ikut diperhitungkan, pengetahuan tidak lagi berkaitan secara mandiri dengan kebiasaan sehat. Yang berkaitan justru tempat anak tinggal.
Temuan itu dilaporkan Erna Judith Roach dan rekan dari College of Nursing, Sultan Qaboos University, Muscat, dalam artikel Asthma knowledge and health-promoting behaviours among schoolchildren in Oman: a cross-sectional study. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis menyebut karya mereka sebagai studi potong lintang pertama tentang pengetahuan asma dan perilaku promosi kesehatan pada anak sekolah berasma di Oman.
Mereka mendatangi sekolah negeri di tiga kegubernuran, yaitu Muscat, Al Batinah Utara, dan Al Dakhiliyah, antara November 2021 dan Desember 2022. Sebanyak 388 murid berusia 10 sampai 15 tahun yang didiagnosis asma oleh dokter ikut serta, dengan usia rata-rata 12,67 tahun. Anak laki-laki sedikit lebih banyak, yakni 54,4 persen. Menurut tingkat keparahannya, 59,0 persen tergolong asma sedang, 32,2 persen ringan, dan 8,8 persen berat.
Dua Hal yang Diukur Secara Terpisah
Para peneliti memakai dua ukuran. Ukuran pertama menilai pengetahuan lewat 24 pertanyaan tentang asma, 23 di antaranya berbentuk benar atau salah. Anak yang menjawab benar sedikitnya 70 persen digolongkan berpengetahuan baik, 50 sampai 69 persen sedang, dan di bawah 50 persen buruk. Tiap jawaban benar bernilai satu, sehingga skor tertingginya 24.
Ukuran kedua menilai perilaku promosi kesehatan, yakni kebiasaan sehari-hari yang mendukung kesehatan jangka panjang. Skala ini disusun para peneliti sendiri dan berisi 22 butir dalam lima ranah: pengendalian lingkungan, perawatan diri, aktivitas fisik, langkah pencegahan, serta perilaku yang berkaitan dengan obat. Skornya bergerak dari 22 sampai 66. Rentang 22 sampai 44 dihitung buruk, 45 sampai 55 sedang, dan 56 sampai 66 baik.
Kebanyakan Murid Berada di Kelompok Sedang
Pada kedua ukuran, sebagian besar anak berada di kelompok sedang. Skor pengetahuan rata-rata 13,71 dari 24. Sebanyak 275 anak, atau 70,9 persen, berpengetahuan sedang, 64 anak atau 16,5 persen berpengetahuan buruk, dan hanya 49 anak atau 12,6 persen yang tergolong baik.
Pada ukuran perilaku, skor rata-rata perilaku promosi kesehatan 47,78 dari 66. Sebanyak 313 anak, atau 80,7 persen, berada di kelompok sedang, 65 anak atau 16,8 persen di kelompok buruk, sedangkan yang masuk kelompok baik hanya 10 anak, atau 2,6 persen dari seluruh peserta. Penelitian ini juga menguji hubungan pengetahuan dengan perilaku tersebut, termasuk sejauh mana pengetahuan memprediksi perilaku promosi kesehatan.
Baca juga Anak Ronneby yang Ibunya Minum Air Tercemar Lebih Sering Asma
Kaitan yang Memudar Setelah Faktor Lain Dihitung
Pada analisis awal, skor pengetahuan berkorelasi positif dengan skor perilaku, dengan koefisien korelasi Spearman 0,146 dan nilai p 0,004, sehingga bermakna secara statistik. Hasilnya berubah ketika beberapa faktor dimasukkan bersamaan ke dalam satu model statistik yang melibatkan 302 anak dengan data lengkap. Di dalam model itu, pengetahuan tidak lagi berkaitan secara mandiri dengan perilaku; koefisiennya 0,118 dengan nilai p 0,191. Yang berkaitan secara mandiri justru dua faktor yang menyangkut tempat anak tinggal.
Pada analisis awal, banyak faktor tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan skor perilaku sejak analisis awal. Usia, jenis kelamin, pendapatan keluarga, pendidikan ayah dan ibu, kelas, jenis kasur dan bantal, jumlah kamar, hewan peliharaan, anggota keluarga yang merokok, riwayat asma dalam keluarga, hingga tingkat keparahan asma semuanya bernilai p di atas 0,05, begitu pula lokasi rumah dan status rumah. Median skor perilaku di kelompok-kelompok itu kebanyakan berkisar antara 47 dan 49.
Rumah di Desa dan Rumah Milik Sendiri
Faktor pertama adalah lokasi rumah. Sebanyak 54,4 persen peserta tinggal di kota, 26,5 persen di desa, dan 19,1 persen di kawasan semi-kota. Dibandingkan anak di kawasan semi-kota, anak yang tinggal di desa memiliki skor perilaku lebih tinggi, dengan koefisien 1,379 dan nilai p 0,025. Sebaliknya, anak yang tinggal di kota tidak berbeda bermakna dari kelompok semi-kota, dengan koefisien 0,298 dan nilai p 0,664.
Faktor kedua adalah status rumah. Sebagian besar keluarga, 81,2 persen, menempati rumah milik sendiri, sementara 18,8 persen menyewa. Anak yang tinggal di rumah milik sendiri memiliki skor perilaku lebih tinggi daripada anak di rumah sewa, dengan koefisien 1,629 dan nilai p 0,006. Lokasi desa dan rumah milik sendiri menjadi dua faktor yang berkaitan secara mandiri dengan perilaku di dalam model.
Faktor lain dalam model tidak mencapai batas kemaknaan. Pendapatan keluarga berkoefisien 0,001, adanya penyakit kronis minus 0,847, dan tidak memelihara hewan minus 0,875 dibanding memelihara hewan. Nilai p ketiganya berada di atas 0,05, sehingga tidak dinyatakan berkaitan secara mandiri dengan skor perilaku promosi kesehatan.
Bagaimana Tempat Tinggal Bisa Ikut Bekerja
Penelitian ini tidak menguji jalurnya, tetapi para penulis menawarkan beberapa kemungkinan. Lingkungan desa bisa berbeda dalam hal peluang beraktivitas di luar ruangan, ruang untuk berjalan kaki, dan pola gerak anak, yang dapat memengaruhi perilaku kesehatan, termasuk aktivitas fisik. Perbedaan lingkungan desa dan kota juga dapat membentuk kesempatan anak untuk bergerak, pola kegiatan hariannya, serta aksesnya ke ruang bermain yang aman.
Status rumah, menurut para penulis, mungkin bekerja sebagai penanda kestabilan dan mutu tempat tinggal. Literatur yang mereka rujuk mengaitkan rumah yang lembap dan berjamur dengan gangguan pernapasan dan gejala asma pada anak, sementara anak di rumah sewa lebih mungkin terpapar kondisi rumah yang buruk. Ketidakpastian tempat tinggal juga dapat menambah tekanan yang menyulitkan perawatan diri sehari-hari.
Para penulis menegaskan bahwa rancangan penelitian mereka tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat, dan penelitian lanjutan diperlukan untuk memperjelas jalur di balik kaitan tersebut. Mereka juga mengingatkan bahwa yang diukur adalah perilaku, bukan hasil klinis.
Baca juga Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi
Pengetahuan Butuh Jembatan Menuju Kebiasaan
Lalu ke mana perginya peran pengetahuan? Para penulis tidak menganggapnya tak penting. Menurut mereka, pengetahuan kemungkinan bekerja melalui keyakinan diri anak dan dukungan pengasuh. Dalam kerangka Model Promosi Kesehatan Pender yang mereka pakai untuk membaca hasil ini, perilaku juga dibentuk oleh hambatan dan manfaat yang dirasakan, dukungan keluarga, serta keadaan di rumah dan di sekolah.
“Pengetahuan mungkin penting, tetapi kemungkinan besar ia bekerja melalui efikasi diri dan dukungan pengasuh, yang memengaruhi apakah anak dapat menerapkan apa yang mereka ketahui secara konsisten dalam lingkungan sehari-hari”, tulis Roach dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris. Menurut mereka, intervensi pendidikan kemungkinan paling efektif bila dipadukan dengan latihan keterampilan praktis, penguatan berulang, dan lingkungan yang mendukung kepatuhan.
Pendidikan itu, tulis mereka, juga perlu meluruskan salah kaprah yang masih bertahan, termasuk kekhawatiran tentang obat, karena keyakinan semacam itu dapat melemahkan kepatuhan. Para penulis mencatat pula bahwa kebiasaan yang terbentuk semasa kanak-kanak sering bertahan dan dapat memengaruhi kesehatan di kemudian hari, sehingga promosi kesehatan sejak dini kerap ditekankan.
Baca juga Kecelakaan Motor Mahasiswa Chiang Mai: Tahu Aturan Belum Cukup
Batas Penelitian dan Saran untuk Sekolah
Penelitian ini punya batas yang diakui sendiri oleh penulisnya. Pengumpulan data dimulai pada 2021 setelah sekolah sempat ditutup karena pandemi COVID-19, dan sebagian orang tua menolak ikut karena mengira penelitian itu tentang COVID-19, meski asisten peneliti sudah menjelaskan bahwa fokusnya asma. Di sejumlah sekolah tanpa perawat dan catatan kesehatan, guru serta pengelola sekolah membantu mengenali anak yang berasma.
Pemilihan peserta di dalam sekolah dilakukan berdasarkan kemudahan, dan sekolah swasta tidak disertakan, sehingga temuan ini hanya berlaku bagi murid sekolah negeri di kegubernuran yang diteliti. Skala perilaku yang disusun peneliti juga belum menjalani validasi konstruk, dan para penulis menyarankan analisis faktor pada penelitian berikutnya untuk memastikan susunan skala itu.
Dari temuan itu, para penulis menyarankan edukasi asma yang terstruktur dan rutin bagi murid berasma, yang juga menyasar orang tua serta pengasuh karena peran mereka dalam pengelolaan harian dan dalam mengenali tanda awal perburukan. Di tingkat layanan, rumah sakit dan klinik yang merawat asma anak dianjurkan memiliki kebijakan tertulis dan alur perawatan baku untuk pencegahan maupun penanganan serangan.
Dalam simpulannya, para penulis mencatat bahwa pengetahuan berkaitan positif dengan skor perilaku pada analisis tanpa penyesuaian, tetapi hubungan itu tidak mandiri setelah penyesuaian multivariabel. “Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi tempat tinggal mungkin lebih erat kaitannya dengan perilaku promosi kesehatan daripada pengetahuan semata”, tulis para penulis dalam simpulan mereka.















