Lebih dari Separuh Pendonor Darah di Damaskus Mengaku Merokok

A A

Ilustrasi deretan pipa shisha kaca dan logam di teras sebuah kafe di Hammamet, Tunisia [Foto: Kritzolina/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 2.234 dari 4.036 pendonor di Pusat Darah Universitas Damaskus, atau 55,4 persen, mengaku sedang merokok.
  • Pada perempuan, 15,5 persen mengisap shisha saja, lebih banyak daripada 8,2 persen yang merokok batangan saja.
  • Sebanyak 612 perokok atau 33,7 persen mulai merokok sebelum berumur 18 tahun.
  • Dibanding lulusan universitas, peluang merokok pendonor berpendidikan menengah lebih tinggi dengan rasio odds 2,70.
Daftar Isi
  1. Lima Bulan di Ruang Donor Universitas Damaskus
  2. Lebih dari Separuh Mengaku Merokok
  3. Sepertiga Mulai Merokok Sebelum Usia 18 Tahun
  4. Di Rumah, di Tempat Kerja, dan Puluhan Batang Sehari
  5. Sekolah dan Pekerjaan Ikut Membedakan Peluang
  6. Catatan Youssef tentang Konflik dan Batas Temuan

Lama A. Youssef ingin tahu seberapa banyak orang dewasa Suriah yang merokok, padahal pencatatan kesehatan rutin di negeri itu tercerai-berai oleh konflik panjang. Jawabannya ia cari di ruang donor. Sepanjang Januari hingga Mei 2024, setiap pendonor yang memenuhi syarat di Pusat Darah Universitas Damaskus diajak bercerita tentang rokok dan shisha, pipa air yang juga disebut hookah.

Hasil kerja itu ditulis Lama A. Youssef dari Fakultas Farmasi Universitas Damaskus dan Syrian Virtual University, bersama Alia Alassad dari Pusat Darah Universitas Damaskus dan Lama Ahmad dari Syrian Virtual University. Laporan mereka berjudul Prevalence, patterns, and sociodemographic determinants of cigarette and waterpipe smoking among Syrian adults: evidence from a large blood donor cohort dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026.

Menurut Youssef dan rekan, data kependudukan terbaru tentang kebiasaan merokok di Suriah masih langka karena sistem pemantauan nasional terganggu selama konflik. Pusat donor darah, tulis mereka, bisa menjadi jendela pengganti. Tempat seperti itu didatangi banyak orang dewasa dari beragam usia, pekerjaan, pendidikan, dan latar ekonomi, sehingga kebiasaan sehari-hari mereka dapat dipotret dalam jumlah besar.

Lima Bulan di Ruang Donor Universitas Damaskus

Pengumpulan data dikoordinasikan Alia Alassad, yang juga ikut merancang penelitian. Wawancara dilakukan perawat dan petugas kesehatan pusat darah yang telah dilatih, sebagai bagian dari pemeriksaan rutin sebelum donor. Dari 4.210 pendonor yang dinilai, 4.036 orang setuju ikut. Youssef dan rekan secara khusus berterima kasih kepada Khitam Suleiman atas bantuan, pengaturan, dan dukungannya.

Sebagian besar peserta Youssef adalah laki-laki, yakni 3.623 orang atau 89,8 persen, sedangkan perempuan berjumlah 413 orang. Dari 3.468 peserta yang usianya tercatat lengkap, median usianya 26 tahun, dan kelompok terbesar berumur 18 sampai 24 tahun. Data yang terkumpul kemudian dibersihkan dan diolah dengan bantuan Lama Ahmad, yang juga menyusun skrip analisisnya.

Youssef dan rekan mencatat bahwa di Suriah donor darah kerap bersifat setengah sukarela, karena sering diperlukan untuk urusan administrasi atau kelembagaan. Hampir separuh peserta, tepatnya 48,3 persen dari 3.003 orang yang riwayat donornya tercatat, belum pernah mendonorkan darah sebelumnya. Sebanyak 96,0 persen paling banyak dua kali berdonor sebelumnya.

Lebih dari Separuh Mengaku Merokok

Angka utama yang dilaporkan Youssef adalah prevalensi perokok. Sebanyak 2.234 dari 4.036 pendonor, atau 55,4 persen, mengaku sedang merokok, baik rokok batangan maupun shisha, setiap hari atau tidak. Pada laki-laki angkanya 58,4 persen, sedangkan pada perempuan 28,8 persen.

Laki-laki paling banyak memilih rokok, perempuan memilih shishaRokok saja: Laki-laki (n 3.623) 36,0%, Perempuan (n 413) 8,2%; Shisha saja: Laki-laki (n 3.623) 14,0%, Perempuan (n 413) 15,5%; Rokok dan shisha: Laki-laki (n 3.623) 8,3%, Perempuan (n 413) 5,1%.Laki-laki paling banyak memilih rokok,perempuan memilih shishaPersen pendonor menurut pola merokok, Pusat DarahUniversitas Damaskus, Januari-Mei 2024Laki-laki (n 3.623)Perempuan (n 413)0%10%20%30%40%36,0%8,2%Rokok saja14,0%15,5%Shisha saja8,3%5,1%Rokok dan shishaRokok elektrik: 4 orang (0,1 persen), semuanya laki-laki
Sumber: Lama A. Youssef, Alia Alassad, dan Lama Ahmad, Prevalence, patterns, and sociodemographic determinants of cigarette and waterpipe smoking among Syrian adults: evidence from a large blood donor cohort, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola yang paling umum, menurut Youssef dan rekan, adalah merokok rokok batangan saja, yakni 1.339 orang atau 33,2 persen dari seluruh pendonor. Di belakangnya ada pengguna shisha saja sebanyak 571 orang atau 14,1 persen, lalu pengguna keduanya sebanyak 320 orang atau 7,9 persen. Rokok elektrik nyaris tidak ditemukan, hanya empat orang.

Gambaran itu terbalik pada perempuan. Di antara 413 pendonor perempuan dalam data Youssef, 15,5 persen mengisap shisha saja, 8,2 persen merokok batangan saja, dan 5,1 persen memakai keduanya. Pada laki-laki, rokok batangan saja mencapai 36,0 persen, shisha saja 14,0 persen, dan pemakai keduanya 8,3 persen.

Dalam pembahasannya, Youssef dan rekan menulis bahwa merokok dengan pipa air “menyumbang porsi besar pada beban tembakau dan terutama menonjol di kalangan perempuan”. Kalimat itu terjemahan Cekricek.id dari naskah berbahasa Inggris. Menurut mereka, temuan ini menunjukkan pentingnya laporan yang dipisah menurut jenis produk dan jenis kelamin, bukan sekadar angka gabungan pemakaian tembakau.

Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti

Sepertiga Mulai Merokok Sebelum Usia 18 Tahun

Youssef juga menelusuri kapan para perokok itu mulai. Di antara 1.816 perokok yang data usianya lengkap, rata-rata usia mulai merokok 22,9 tahun dengan median 21 tahun. Sebanyak 612 orang atau 33,7 persen mulai sebelum berumur 18 tahun. Pada laki-laki proporsinya 34,7 persen, sedangkan pada perempuan 19,5 persen.

Pada laki-laki, Youssef dan rekan menemukan bahwa pengguna shisha saja lebih kecil kemungkinannya mulai merokok sebelum 18 tahun dibanding perokok batangan saja, dengan rasio odds 0,72. Pada perempuan arahnya berlawanan. Mulai dini sangat berkaitan dengan shisha, rasio odds 11,0, dan dengan pemakaian ganda, rasio odds 14,1, dibanding rokok batangan saja.

Youssef dan rekan langsung memberi catatan atas angka perempuan itu. Rentang kepercayaannya sangat lebar karena jumlah perokok perempuan dalam data hanya sedikit, yakni 119 orang. Lama merokok para pendonor umumnya belum panjang, dengan median enam tahun, dan hanya 16 orang atau 0,7 persen yang sudah merokok lebih dari 20 tahun.

Untuk menimbang paparan seumur hidup, Youssef membagi lama merokok dengan usia peserta. Pemakai yang rasionya mustahil, yakni satu atau lebih, disisihkan karena kemungkinan besar salah catat. Median rasio itu 0,25 pada laki-laki dan 0,20 pada perempuan, dan perbedaannya bermakna. Menurut penjelasan Youssef dan rekan, rasio 0,25 berarti kira-kira seperempat hidup seseorang sudah dihabiskan sebagai perokok.

Di Rumah, di Tempat Kerja, dan Puluhan Batang Sehari

Dari 1.609 perokok yang menjawab pertanyaan soal tempat merokok, Youssef dan rekan mendapati kebiasaan itu terbawa ke rumah dan ke tempat kerja. Sebanyak 67,2 persen mengaku merokok di rumah, dan hampir tiga perempat merokok di tempat kerja. Pada perempuan, 72,3 persen merokok di rumah dan 53,8 persen di tempat kerja.

Soal jumlah batang, Youssef mengelompokkan 1.616 perokok yang datanya lengkap. Hanya 14,3 persen tergolong perokok ringan, kurang dari 10 batang sehari. Sebanyak 43,1 persen perokok sedang, 10 sampai 19 batang sehari, dan 42,6 persen perokok berat, 20 batang atau lebih. Pada perempuan, perokok berat 32,8 persen dan perokok ringan 24,4 persen.

Untuk pengguna shisha, Youssef dan rekan menanyakan seberapa sering pipa air diisap dalam sepekan, tetapi tidak membuat penggolongan serupa. Alasannya, belum ada batas yang disepakati secara umum untuk menakar berat-ringannya kebiasaan mengisap pipa air. Karena itu, analisis intensitas dalam laporan Youssef hanya mencakup perokok batangan yang jawabannya lengkap.

Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen

Sekolah dan Pekerjaan Ikut Membedakan Peluang

Dengan memperhitungkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan sekaligus, Youssef dan rekan menguji siapa yang lebih mungkin merokok. Peluang merokok laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, dengan rasio odds 2,62. Sebaliknya, pendonor berusia 55 tahun ke atas punya peluang lebih rendah dibanding kelompok 18 sampai 24 tahun, dengan rasio odds 0,48.

Pendidikan memperlihatkan pola yang tegas dalam analisis Youssef. Dibanding lulusan universitas, peluang merokok lebih tinggi pada pendonor berpendidikan dasar dengan rasio odds 1,88, berpendidikan persiapan atau preparatory 1,75, dan berpendidikan menengah 2,70. Ketiga perbedaan itu bermakna secara statistik.

Wiraswasta dan aparat keamanan punya peluang merokok tertinggiWiraswasta 2,73; Tentara, polisi, keamanan 2,38; Menganggur, ibu RT 1,54; Pegawai negeri, administrasi 1,43; Mahasiswa 1,37.Wiraswasta dan aparat keamanan punyapeluang merokok tertinggiRasio odds terkoreksi dibanding profesional, n 2.9510123Wiraswasta2,73Tentara, polisi, keamanan2,38Menganggur, ibu RT1,54Pegawai negeri, administrasi1,43Mahasiswa1,37Mahasiswa p 0,057; wiraswasta mencakup pekerja kasar
Sumber: Lama A. Youssef, Alia Alassad, dan Lama Ahmad, Prevalence, patterns, and sociodemographic determinants of cigarette and waterpipe smoking among Syrian adults: evidence from a large blood donor cohort, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pekerjaan juga berkaitan dengan kebiasaan merokok. Dibanding kaum profesional, Youssef dan rekan menemukan rasio odds 2,73 pada wiraswasta, 2,38 pada tentara, polisi, dan aparat keamanan, 1,54 pada penganggur atau ibu rumah tangga, dan 1,43 pada pegawai negeri atau tenaga administrasi. Pada mahasiswa, hubungannya di ambang batas kemaknaan.

Kelompok wiraswasta dalam analisis Youssef mencakup pekerja kasar, karena seluruh pekerja kasar dalam data tercatat sebagai perokok. Pendapatan tidak menunjukkan pola yang konsisten. Pendapatan rendah tidak berkaitan, sedangkan pendapatan tinggi hanya berkaitan tipis dengan rasio odds 1,83, keduanya dibanding pendapatan menengah. Youssef dan rekan menulis, “Sebagian hubungan berada di batas kemaknaan statistik sehingga perlu ditafsirkan dengan hati-hati.”

Baca juga Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk

Catatan Youssef tentang Konflik dan Batas Temuan

Youssef dan rekan menempatkan angka 55,4 persen itu di ujung atas perkiraan negara-negara Arab. Dalam tabel pembanding mereka, survei nasional Arab Saudi 2019 mencatat 17,9 persen dan survei STEPS Yordania 2019 mencatat 41,0 persen. Mereka mengingatkan bahwa definisi, rentang usia, dan cara pengambilan sampel antarstudi berbeda.

Mengenai konflik, Youssef dan rekan berhati-hati. “Temuan ini sebaiknya ditafsirkan dalam konteks yang lebih luas, yakni kesulitan sosial-ekonomi dan tekanan psikososial berkepanjangan selama konflik Suriah, bukan sebagai bukti hubungan sebab-akibat langsung,” tulis mereka. Sebelum konflik pun, menurut data yang mereka kutip, rokok sudah dipakai sekitar 57 persen laki-laki dan 17 persen perempuan Suriah.

Dari temuan itu, Youssef dan rekan menilai Suriah memerlukan pengendalian tembakau yang memberi perhatian lebih besar pada shisha. Langkah yang mereka sebut antara lain mengatur kafe shisha, membatasi tembakau berperisa, menegakkan aturan bebas asap di dalam ruangan, dan melawan klaim keliru bahwa shisha lebih aman. Pesannya juga perlu peka terhadap perempuan.

Youssef dan rekan juga mengakui keterbatasan penelitian. Rancangan potong lintang tidak bisa membuktikan sebab-akibat, dan status merokok berasal dari pengakuan peserta, sehingga mungkin ada yang tidak mengaku, terutama perempuan. Menurut mereka, perkiraan itu “sebaiknya ditafsirkan sebagai gambaran populasi pendonor, bukan populasi dewasa Suriah secara umum.”

Pesertanya pun berasal dari satu pusat darah di kota dan sebagian besar laki-laki, sehingga Youssef dan rekan menyebut bias seleksi tidak bisa sepenuhnya disingkirkan. Dalam kesimpulannya, Youssef dan rekan menulis bahwa beban tembakau yang tinggi dan berpola sosial tampak pada orang dewasa Suriah di kota pascakonflik, dengan sumbangan besar dari shisha serta perbedaan tajam menurut jenis kelamin dan pendidikan.

Bagikan

Baca Juga

Ekonomi Digital Kota Tiongkok Sejalan dengan Rasa Sehat Warganya
Hampir Separuh Pengguna Vape di Negara Arab Pernah Coba Berhenti
Pekerja Rentan Swedia Lebih Berisiko Gangguan Jiwa, Terutama Ibu
Obesitas Pekerja Perempuan Bangladesh Terkait Lama Duduk Kerja
Rumah Jauh dari Titik Kumpul Sampah di Mbale Lebih Banyak Diare
Proyeksi: Harga Minimum Alkohol Naik, Kematian Skotlandia Turun