- Setelah empat pekan, rata-rata berat badan peserta turun dari 88,5 kilogram menjadi 86,9 kilogram.
- Nasi biasa di piring sarapan, makan siang, dan makan malam diganti nasi porang dari satu sachet 40 gram.
- Massa bebas lemak peserta berkurang sekitar 0,4 kilogram, terutama berasal dari massa otot.
- Tanpa kelompok kontrol, para penulis belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat antara nasi porang dan hasil itu.
Daftar Isi
Pagi hari, sesudah berpuasa semalam dan buang air kecil, para peserta bergantian naik ke alat analisis komposisi tubuh Tanita DC-430MA. Alat itu tidak hanya membaca berat badan, tetapi juga memisahkan massa lemak, massa otot, dan air di dalam tubuh. Pengukuran yang sama dilakukan tiga kali: di awal, pada pekan kedua, dan pada pekan keempat.
Di antara pengukuran itu, ada satu kebiasaan yang diubah. Nasi biasa di piring sarapan, makan siang, dan makan malam mereka diganti nasi analog dari tepung porang, umbi yang dalam bahasa ilmiah disebut Amorphophallus muelleri. Setiap porsinya berasal dari satu sachet 40 gram.
Hasilnya dilaporkan Sri Wuryanti dan rekan dari Departemen Gizi Universitas YARSI dalam makalah berjudul Effects of porang-based analog rice consumption on body composition in adults with obesity, yang terbit di Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 23 nomor 1 tahun 2026. Timnya beranggotakan enam orang, antara lain Fatimah Eliana dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Himmi Marsiati dari Departemen Biokimia, dan dua mahasiswa kedokteran kampus yang sama.
Setelah empat pekan, rata-rata berat badan peserta turun dari 88,5 kilogram menjadi 86,9 kilogram. Indeks massa tubuh dan massa lemak ikut menyusut, tetapi massa otot juga berkurang sedikit. Para penulis menilai nasi porang berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif dalam program penurunan berat badan, sambil menegaskan bahwa temuan itu masih perlu diuji dengan desain yang lebih ketat.
Brosur di Kampus YARSI
Sebulan sebelum percobaan dimulai, brosur berisi tujuan, prosedur, syarat, dan kontak tim disebar ke seluruh kampus Universitas YARSI. Sebanyak 74 orang yang tertarik disaring, dan 26 di antaranya memenuhi syarat: mahasiswa atau karyawan berusia 20 sampai 60 tahun dengan indeks massa tubuh minimal 25 kg/m², batas obesitas menurut klasifikasi WHO Asia-Pasifik.
Percobaan berlangsung pada November 2024. Empat peserta berhenti di tengah jalan karena tidak mematuhi protokol, sehingga yang bertahan sampai akhir dan dianalisis tinggal 22 orang. Seorang peserta dianggap keluar bila tiga hari berturut-turut tidak memakan nasi porang atau tidak mengisi catatan makan hariannya.
Dari 22 peserta yang bertahan, 13 orang atau 59 persen adalah laki-laki, dan 15 orang atau 68 persen adalah karyawan kampus, sedangkan sisanya mahasiswa. Dua belas orang, atau 55 persen, berusia di atas 30 tahun.
Sebagian besar tergolong obesitas derajat dua. Empat belas orang, atau 64 persen, tergolong obesitas derajat dua dengan indeks massa tubuh 30 kg/m² ke atas, sementara delapan orang atau 36 persen berada di derajat satu. Rata-rata berat badan awal mereka 88,5 kilogram dengan tinggi rata-rata 165,7 sentimeter, dan median indeks massa tubuhnya 31,3 kg/m².
Sachet 40 Gram di Tiga Kali Makan
Di awal percobaan, setiap peserta mendapat penyuluhan gizi. Isinya cara menjalankan diet rendah kalori, cara memasak nasi porang, pilihan bahan makanan, dan cara mengolahnya, dengan sasaran asupan sekitar 1.200 sampai 1.500 kilokalori per hari. Nasi porang menjadi sumber karbohidrat utama, menggantikan nasi yang biasa mereka makan.
Satu sachet berisi 40 gram nasi porang. Menurut tim, kandungannya sekitar 140 kilokalori, 32 gram karbohidrat, 3 gram protein, dan 6 gram serat pangan. Sesudah dimasak, isi satu sachet menjadi kira-kira 100 gram nasi.
Sebagai pembanding, para penulis mencatat nasi putih biasa mengandung sekitar 175 kilokalori, 40 gram karbohidrat, dan 4 gram protein per 100 gram. Kalori nasi porang, tulis mereka, sedikit lebih rendah. Mereka menduga asupan karbohidrat yang berkurang dapat menurunkan cadangan glikogen di hati, sehingga tubuh beralih memakai lemak sebagai sumber energi.
Baca juga Beras Analog Ubi Ungu, Dikukus Dulu agar Warnanya Tak Pudar
Pasokan nasi diambil peserta setiap pekan saat kunjungan rutin, dan mereka diminta mencatat semua makanan serta minuman setiap hari. Dua kali sepekan, ahli gizi tim juga menanyakan ulang apa saja yang dimakan peserta dalam 24 jam terakhir untuk menilai asupan dan mencocokkannya dengan catatan makan itu. Nasi porangnya disediakan pihak industri.
Timbangan di Pekan Kedua
Dua pekan setelah isi piring berganti, peserta kembali naik ke alat yang sama. Rata-rata berat badan turun dari 88,5 kilogram menjadi 87,5 kilogram, dan perubahan itu bermakna secara statistik. Median indeks massa tubuh bergerak dari 31,3 menjadi 30,9 kg/m², juga bermakna.
Massa lemak ikut bergeser. Mediannya turun dari 25,1 kilogram menjadi 24,9 kilogram dan perubahan itu bermakna secara statistik. Pada titik ini bagian tubuh lain belum banyak berubah: massa bebas lemak tercatat 59,4 kilogram dibanding 59,3 kilogram di awal, massa otot tetap 56,4 kilogram, dan total air tubuh 42,8 kilogram dibanding 42,9 kilogram. Ketiga perubahan itu tidak bermakna secara statistik.
Angka di Pekan Keempat
Pada pengukuran terakhir, rata-rata berat badan turun lagi menjadi 86,9 kilogram. Median indeks massa tubuh menjadi 30,7 kg/m² dan median massa lemak 24,5 kilogram. Ketiganya berbeda bermakna dibanding pengukuran awal.
Kali ini, dua ukuran yang sebelumnya diam ikut bergerak. Massa bebas lemak turun menjadi 58,9 kilogram dan massa otot menjadi 56,0 kilogram, keduanya bermakna dibanding awal. Hanya total air tubuh yang turun tipis ke 42,6 kilogram tanpa mencapai kemaknaan statistik.
Para penulis menulis bahwa konsumsi nasi porang berhubungan dengan penurunan berat badan dan indeks massa tubuh, baik sesudah dua pekan maupun empat pekan. Salah satu penjelasan yang mereka ajukan adalah kandungan glukomanan porang yang tinggi. Serat larut air ini, menurut makalah, mengentalkan isi lambung, memperlambat pengosongannya, dan memicu rasa kenyang, sehingga asupan energi mungkin berkurang.
Di bagian pendahuluan, tim menyebut glukomanan mampu menyerap air hingga 200 kali beratnya sendiri. Di saluran cerna, serat itu membentuk gel kental yang menunda pengosongan lambung dan menekan sekresi ghrelin, sambil menaikkan kadar hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang, seperti GLP-1.
Baca juga Dadih Diperkaya Buah Naga Tekan Kenaikan Berat Tikus Obesitas
Temuan ini, menurut penulis, sejalan dengan studi nasi shirataki di Jepang dan Tiongkok, produk turunan porang yang 100 gramnya hanya mengandung sekitar 40 kilokalori. Mereka juga mencatat hasil yang berlawanan dari Keithley dan rekan: kapsul glukomanan berisi 1,33 gram per kapsul yang diminum sebelum makan selama delapan pekan tidak berpengaruh bermakna pada berat badan dibanding plasebo. Beda desain, lama intervensi, dosis, karakter peserta, dan bentuk glukomanan disebut sebagai kemungkinan penyebabnya.
Otot yang Ikut Menyusut
Program penurunan berat badan, tulis para penulis, kerap mengurangi massa lemak sekaligus massa bebas lemak. Dalam empat pekan itu, massa bebas lemak peserta berkurang sekitar 0,4 kilogram, dari 59,3 menjadi 58,9 kilogram. Menurut tim, penurunan itu terutama berasal dari massa otot.
Tim menduga penyebabnya ada di piring yang sama. Peserta hanya mengganti sumber karbohidrat dengan nasi porang, sementara asupan protein tetap standar, sekitar 0,8 sampai 1,0 gram per kilogram berat badan per hari. Mereka juga tidak diminta menambah aktivitas fisik atau konsumsi protein.
Penjelasan kedua menyangkut air. Obesitas, tulis para penulis, berkaitan dengan sebaran cairan yang berubah di dalam tubuh, dan perubahan hidrasi bisa memengaruhi pengukuran komposisi tubuh dengan analisis impedansi bioelektrik. Total air tubuh peserta memang turun, meski tidak bermakna secara statistik.
Dari situ, tim menyampaikan pesan untuk program diet. Asupan protein yang cukup dan aktivitas fisik teratur, tulis mereka, penting untuk menjaga massa otot selama upaya menurunkan berat badan.
Catatan Makan yang Bolong
Para penulis menuliskan sendiri batas temuannya. Pesertanya hanya 22 orang, dan empat pekan mungkin belum cukup untuk melihat perubahan komposisi tubuh jangka panjang. Yang paling mendasar, percobaan ini tidak memakai kelompok pembanding.
“Ketiadaan kelompok kontrol membatasi kemampuan untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara konsumsi nasi porang dan hasil yang teramati,” tulis Sri Wuryanti dan rekan dalam makalah berbahasa Inggris itu, sebagaimana diterjemahkan. Efek nasi porang juga tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari diet 1.200 sampai 1.500 kilokalori per hari yang dijalankan peserta, yang mungkin ikut berperan.
Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Catatan makan harian pun bolong. Meski peserta diminta mengisinya sepanjang percobaan, kepatuhannya buruk, sehingga asupan makanan selama intervensi tidak bisa dinilai secara menyeluruh. Tim menyarankan uji acak terkontrol dengan peserta lebih banyak dan pemantauan yang lebih lama.
Dalam simpulannya, tim tetap melihat peluang. “Nasi analog berbahan porang dapat menjadi alternatif makanan yang menjanjikan dalam program pengelolaan berat badan. Namun, asupan protein yang cukup harus menyertai konsumsinya untuk membantu mempertahankan massa otot selama penurunan berat badan,” tulis mereka.
Para penulis menutup laporannya dengan menyebut perlunya studi lanjutan dengan peserta lebih banyak, masa intervensi lebih lama, dan desain terkontrol untuk menilai lebih baik efek nasi analog porang pada penurunan berat badan dan komposisi tubuh.















