- Dari 350 pekerja perempuan di empat sentra industri rumahan Bangladesh, 36,0 persen tergolong obesitas.
- Penenun tangan di Tangail mencatat angka obesitas tertinggi, 41,3 persen, dan pekerja udang terendah, 28,3 persen.
- Duduk delapan jam atau lebih per hari memberi rasio odds terkoreksi 4,233 dibanding duduk kurang dari delapan jam.
- Minuman ringan dan minuman energi setiap hari berkaitan dengan peluang obesitas hampir tiga kali lipat dibanding tidak pernah.
Daftar Isi
Sebelum naik ke timbangan digital, setiap pekerja perempuan melepas alas kakinya dan hanya mengenakan pakaian ringan. Berat tubuh dicatat sampai ketelitian 0,1 kilogram, tinggi diukur dengan stadiometer sampai 0,1 sentimeter. Yang mengukur adalah ahli gizi terlatih, dan para pekerja itu berasal dari empat sentra industri kecil dan rumahan Bangladesh.
Hasil timbangan itu dihimpun Nusrat Jahan Mim dan rekan dari Departemen Pangan dan Gizi, Akij College of Home Economics, Universitas Dhaka, bersama peneliti Independent University Bangladesh dan Northern University Bangladesh. Laporan mereka berjudul Factors associated with obesity among female workers in small and cottage industries in Bangladesh: a cross-sectional study, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Pada setiap hari pengumpulan data, petugas berada di lokasi sepanjang sif kerja, menemui pekerja saat sedang bekerja maupun saat beristirahat. Wawancara tatap muka dalam bahasa Bengali berlangsung 15 sampai 20 menit per orang, dari Mei 2023 sampai Februari 2024. Sebanyak 400 pekerja perempuan berusia 18 sampai 60 tahun didekati, dan 350 orang menuntaskan survei. Obesitas ditetapkan dengan patokan WHO untuk Asia Tenggara, yakni indeks massa tubuh 25 kg/m² atau lebih.
Alat Tenun di Tangail
Sentra pertama berada di Distrik Tangail, Divisi Dhaka. Tempat itu pusat tenun tangan bersejarah yang menyumbang lebih dari 11 persen produksi nasional, dan perempuan mengisi kira-kira separuh tenaga kerjanya. Pekerjaan menenun menuntut duduk lama dengan gerakan tangan yang berulang. Dari 138 penenun yang ditimbang, 57 orang tergolong obesitas, atau 41,3 persen, angka tertinggi di antara empat sektor.
Pola lain ikut menumpuk di Tangail. Kerja kerajinan sambil duduk lebih umum di sektor tenun, dan duduk delapan jam atau lebih per hari di tempat kerja juga lebih sering dijumpai di sana. Pekerja yang tidak aktif secara fisik lebih banyak di sektor ini. Waktu menatap layar dua jam atau lebih sehari, sarapan tidak teratur, dan minum minuman ringan setiap hari pun lebih sering dilaporkan para penenun.
Penenun juga lebih banyak berasal dari kelompok usia muda, dan kelompok berpendapatan lebih tinggi lebih banyak terwakili di sini. Keluhan pernapasan menjadi keluhan kesehatan kerja yang lebih sering dilaporkan di sektor tenun. Di seluruh sampel, keluhan pernapasan dialami 30,9 persen pekerja, keluhan kesehatan kerja yang paling banyak disebut.
Baca juga Jam Pintar dan Pengingat Rehat Kurangi Duduk Pegawai di Bangkok
Tambak Udang Bagerhat dan Satkhira
Di Divisi Khulna, Distrik Bagerhat dan Satkhira menampung kira-kira 75 persen area tambak udang negeri itu. Di pabrik pengolahan udang, perempuan mengisi sekitar 80 persen buruh lepas. Tugas mereka membersihkan, memotong kepala, membekukan, dan mengemas udang, pekerjaan yang berulang.
Kerja manual atau aktif memang lebih sering dijumpai di sektor udang dibanding sektor lain, dan keluhan otot serta tulang lebih kerap dilaporkan di sini. Dari 53 pekerja udang, 15 orang tergolong obesitas atau 28,3 persen, terendah di antara empat sektor. Namun, uji statistik tidak menemukan hubungan bermakna antara jenis industri dan status obesitas, sehingga perbedaan antarsektor hanya disajikan sebagai perbandingan deskriptif.
Bengkel Gerabah Kakran
Di Distrik Dhaka, Kampung Gerabah Kakran terdiri atas kira-kira 8 sampai 10 bengkel. Laki-laki dan perempuan bekerja di sana, dengan perempuan sekitar 40 persen. Mereka membentuk, mengeringkan, dan merampungkan barang dengan postur statis dan tenaga sedang. Pekerja gerabah cenderung lebih tua, dan kelompok berpendapatan lebih rendah lebih banyak terwakili. Dari 88 pekerja gerabah, 28 orang tergolong obesitas atau 31,8 persen.
Di Divisi Rajshahi, Distrik Chapainawabganj menjadi sentra kerajinan tangan nakshi kantha. Sekitar 300 unit produksi mempekerjakan kira-kira 60.000 orang, 95 persen di antaranya perempuan, dan pekerjaannya sebagian besar dilakukan sambil duduk, di rumah atau di bengkel. Dari 71 pekerja nakshi kantha, 26 orang tergolong obesitas atau 36,6 persen, dan keluhan pencernaan lebih sering dilaporkan di sektor ini.
Jika keempat sentra digabung, 126 dari 350 pekerja tergolong obesitas, atau 36,0 persen. Sisanya, 64,0 persen, tidak obesitas. Usia rata-rata seluruh pekerja 34,25 tahun, dan rata-rata pendapatan keluarga bulanan mereka 9.730 taka. Lebih dari separuh, 51,7 persen, berada di kelompok pendapatan keluarga 10.001 sampai 12.000 taka.
Baca juga Delapan dari Sepuluh Buruh Garmen Sri Lanka Kepanasan di Pabrik
Kursi dan Delapan Jam
Di keempat sentra, 66,6 persen pekerja mengerjakan kerajinan sambil duduk, dan 59,4 persen duduk delapan jam atau lebih per hari di tempat kerja. Di antara pekerja yang duduk selama itu, 46,6 persen tergolong obesitas. Pada yang duduk kurang dari delapan jam, angkanya 20,4 persen. Pada kerja kerajinan sambil duduk, 43,3 persen tergolong obesitas, sedangkan pada kerja manual atau aktif 21,4 persen.
Setelah dua belas faktor dihitung bersamaan, duduk delapan jam atau lebih memberi rasio odds terkoreksi 4,233 dibanding duduk kurang dari delapan jam. Kerja kerajinan sambil duduk mencatat 2,954 dibanding kerja manual atau aktif. Para peneliti menulis bahwa kesempatan bergerak yang terbatas saat bekerja mungkin ikut mengurangi pengeluaran energi, terutama pada tugas berulang dengan postur yang dipertahankan lama.
Pekerja yang tidak aktif secara fisik, yakni 44,9 persen sampel, memiliki peluang obesitas sekitar dua setengah kali dibanding yang cukup aktif, dengan rasio odds terkoreksi 2,478. Usia ikut berperan. Perempuan berusia 31 sampai 45 tahun memiliki peluang obesitas hampir dua kali lipat dibanding yang berusia 18 sampai 30 tahun, dengan rasio odds terkoreksi 1,979, sedangkan pada kelompok 46 sampai 60 tahun hubungan bermakna tidak ditemukan.
Layar dan Minuman Manis
Waktu layar juga dicatat. Sebanyak 66,0 persen pekerja menatap layar dua jam atau lebih sehari. Pada kelompok itu, 44,6 persen tergolong obesitas, sedangkan pada yang kurang dari dua jam 19,3 persen. Rasio odds terkoreksinya 3,750. Para peneliti mencatat waktu layar sebagai perilaku waktu luang yang dapat diubah, berbeda dengan duduk saat bekerja.
Menurut para peneliti, hubungan waktu layar dengan obesitas mungkin mencerminkan perilaku yang muncul bersamaan, seperti aktivitas fisik yang berkurang, paparan iklan makanan, kebiasaan mengudap, dan pola tidur yang tidak teratur. Mereka menyimpulkan bahwa pola duduk di dalam maupun di luar pekerjaan sama-sama mungkin ikut menyumbang risiko obesitas pada kelompok pekerja ini.
Minuman ringan dan minuman energi diminum setiap hari oleh 34,6 persen pekerja. Di kelompok itu, 48,8 persen tergolong obesitas, sedangkan pada yang tidak pernah minum 25,4 persen. Peluangnya hampir tiga kali lipat, dengan rasio odds terkoreksi 2,884. Para peneliti menyebut minuman semacam itu menyumbang energi tanpa memberi rasa kenyang.
Sarapan tidak teratur dilaporkan 80,6 persen pekerja. Kebiasaan itu, juga lama tidur dan seberapa sering makan umbi-umbian, tidak berhubungan bermakna dengan obesitas setelah faktor lain dihitung. Pendapatan keluarga dan jenis industri pun tidak. Menurut tim, perbedaan kasar antarsektor lebih mungkin dijelaskan oleh faktor perilaku dan pekerjaan di baliknya.
Keluhan pencernaan dalam setahun terakhir dilaporkan 39 pekerja, dan 61,5 persen di antaranya tergolong obesitas. Peluangnya sekitar tiga kali lipat, dengan rasio odds terkoreksi 3,180. Para peneliti menegaskan arah hubungan ini tidak bisa ditentukan dari data satu waktu, bisa saja berjalan dua arah, dan perlu diperjelas lewat studi jangka panjang.
Baca juga Label Jantung Berdebar di Kaleng Minuman Energi Tekan Niat Beli
Timbangan yang Sama
Menurut para peneliti, inilah studi pertama di Bangladesh yang memeriksa obesitas di beberapa sektor industri rumahan sekaligus. Angka 36,0 persen mereka nilai sebanding dengan 35,3 persen pada buruh garmen perempuan Bangladesh dari studi terdahulu. Mim dan rekan merangkum temuannya dalam satu kalimat. “Obesitas lazim ditemukan dan berkaitan dengan faktor pekerjaan dan gaya hidup yang dapat diubah, bukan dengan jenis industrinya,” tulis mereka (terjemahan).
Karena itu, mereka menyarankan langkah di tempat kerja yang menyasar kebiasaan duduk, kurang gerak, dan konsumsi minuman tidak sehat di lingkungan kerja serupa. Layanan kesehatan kerja dasar, praktik keselamatan, pemantauan kesehatan rutin, dan edukasi kesehatan juga disebut, disertai perhatian pada jam kerja serta sudut pandang yang peka gender.
Batas temuannya mereka tulis terang. “Mengingat rancangan potong lintang, hubungan-hubungan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai sebab-akibat,” tulis tim (terjemahan). Lokasi dipilih secara sengaja sehingga hasilnya terbatas pada sentra produksi serupa, aktivitas fisik diukur dengan satu pertanyaan, dan asupan makanan dicatat tanpa menghitung porsi maupun total energi.
Meski begitu, menurut tim, hubungan-hubungan tersebut mungkin dapat menjadi pegangan bagi penelitian analitis dan penelitian jangka panjang berikutnya pada kelompok pekerja serupa. Penelitian intervensi juga dinilai perlu untuk menguji program terpadu di tempat kerja yang mencakup gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan kerja di sektor informal sejenis.















