Obesitas Orang Dewasa Peru Naik Lebih Cepat di Keluarga Termiskin

A A

Lapak buah plum, mangga, pir, dan pitahaya di luar pasar distrik La Victoria, Lima, Peru [Foto: Yhhue91/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Prevalensi obesitas tertimbang naik dari 20,4 persen pada 2015 menjadi 29,1 persen pada 2024.
  • Di kelompok termiskin, prevalensi obesitas yang disesuaikan pada 2024 mencapai 1,67 kali angka 2015.
  • Kelompok termiskin selalu mencatat prevalensi terendah di setiap tahun survei.
  • Setelah penyesuaian, prevalensi pada perempuan 39 persen lebih tinggi daripada laki-laki.
Daftar Isi
  1. Sepuluh Putaran Survei, 2015 hingga 2024
  2. Lima Lapisan Kekayaan pada 2015 dan 2024
  3. Jejak Poterico 2012 dan Farro-Maldonado 2021
  4. Laju Kenaikan Sejak 2015 di Tiap Kelompok
  5. Perempuan, Warga Kota, dan Usia 41 sampai 50 Tahun
  6. Masa Pandemi 2020 hingga 2022 dan Lompatan 2017
  7. Chile, Kolombia, Meksiko, dan Mata Rantai Berikutnya

Obesitas adalah penyakit kronis yang berkaitan dengan diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan penyakit kronis lain. Pada 2022, menurut angka Organisasi Kesehatan Dunia yang dikutip para peneliti, 16 persen orang dewasa di dunia hidup dengan obesitas dan 43 persen kelebihan berat badan. Di Amerika Latin, ketimpangan sosial ekonomi dalam obesitas berbeda menurut jenis kelamin, tempat tinggal di kota atau desa, dan tahap pembangunan sosial dan ekonomi.

Di Peru, rantai risetnya sudah cukup panjang. Poterico dan rekan pada 2012 melaporkan bahwa perempuan dari rumah tangga lebih kaya lebih mungkin mengalami obesitas. Farro-Maldonado dan rekan pada 2021, memakai survei 2018 sampai 2019, mendapati obesitas perut menimpa 73,8 persen orang dewasa dan lebih terpusat di kelompok yang lebih kaya. Namun studi nasional yang melacak perubahan ketimpangan itu dari tahun ke tahun masih terbatas.

Celah itu yang diisi Roger H. Albornoz-Toyohama, Sergio D. Bobadilla-Bautista, dan Javier L. Lopez-Gonzales dari Escuela de Posgrado, Universidad Peruana Unión, Lima. Laporan mereka, Changes in obesity prevalence across household wealth groups among Peruvian adults: a ten-year analysis of a national survey, terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Temuannya: dalam sepuluh tahun, obesitas naik di semua lapisan kekayaan, dan kenaikan relatifnya lebih besar di rumah tangga termiskin dan lebih miskin.

Sepuluh Putaran Survei, 2015 hingga 2024

Bahannya Survei Demografi dan Kesehatan Keluarga (ENDES), survei rumah tangga nasional yang dijalankan Institut Nasional Statistik dan Informatika Peru setiap tahun. Dari 343.957 rekaman putaran 2015 sampai 2024, tersisa 278.824 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas untuk dianalisis. Berat dan tinggi badan mereka diukur petugas ENDES, dan obesitas ditetapkan pada indeks massa tubuh 30 kilogram per meter persegi atau lebih.

Hasil pertamanya lugas. Prevalensi obesitas tertimbang naik dari 20,4 persen pada 2015 menjadi 29,1 persen pada 2024, bertambah 8,7 poin persentase. Pada 2018 angkanya sudah 26,2 persen, lalu turun tipis pada 2019 dan 2023, dengan angka tertinggi pada 2024 dan angka yang mirip pada 2021 dan 2022.

Tubuh rata-rata orang dewasa dalam sampel ikut bergeser. Indeks massa tubuh rata-ratanya naik dari 26,6 menjadi 27,8 kilogram per meter persegi, sementara usia rata-rata tertimbang naik dari 40,8 tahun menjadi 43,1 tahun. Proporsi orang dewasa berpendidikan tinggi juga naik, dari 27,5 persen pada 2015 menjadi 37,4 persen pada 2024.

Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

Lima Lapisan Kekayaan pada 2015 dan 2024

Kekayaan dalam studi ini diukur dengan indeks aset rumah tangga dari lembaga statistik Peru, berdasarkan kondisi rumah dan barang tahan lama yang dimiliki. Rumah tangga lalu dibagi ke lima kelompok: termiskin, lebih miskin, menengah, lebih kaya, dan terkaya. Indeks ini mencerminkan posisi relatif sebuah rumah tangga, bukan penghasilan pribadi atau kekayaan mutlak.

Obesitas naik di kelima kelompok kekayaanTermiskin 9,6 ke 17,1; Lebih miskin 17,0 ke 28,0; Menengah 24,5 ke 31,5; Lebih kaya 27,6 ke 33,9; Terkaya 27,1 ke 32,6.Obesitas naik di kelima kelompok kekayaanPrevalensi obesitas (%) orang dewasa Peru per kuintilkekayaan rumah tangga20152024010203040Termiskin9,617,1Lebih miskin17,028,0Menengah24,531,5Lebih kaya27,633,9Terkaya27,132,6Obesitas: IMT 30 kg/m2 atau lebih; data ENDES
Sumber: Roger H. Albornoz-Toyohama dan rekan, Changes in obesity prevalence across household wealth groups among Peruvian adults: a ten-year analysis of a national survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada 2015, prevalensi obesitas di kelompok termiskin 9,6 persen, di kelompok lebih miskin 17,0 persen, menengah 24,5 persen, lebih kaya 27,6 persen, dan terkaya 27,1 persen. Pada 2024, angkanya menjadi 17,1 persen, 28,0 persen, 31,5 persen, 33,9 persen, dan 32,6 persen. Kelompok termiskin selalu mencatat prevalensi terendah di setiap tahun survei.

Kenaikan absolut terbesar terjadi di kelompok lebih miskin, sebesar 11,0 poin persentase, disusul kelompok termiskin dengan 7,5 poin. Jarak antara kelompok terkaya dan termiskin tercatat 17,5 poin pada 2015 dan 15,5 poin pada 2024, tetapi perubahan jarak itu tidak bermakna secara statistik. Rasio prevalensi terkaya terhadap termiskin, sebaliknya, turun dari 2,82 menjadi 1,91.

Jejak Poterico 2012 dan Farro-Maldonado 2021

Setelah usia, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, wilayah, dan tahun survei diperhitungkan, kekayaan rumah tangga tetap berhubungan dengan obesitas. Dibanding kelompok termiskin, prevalensinya 1,49 kali di kelompok lebih miskin, 1,68 kali di kelompok menengah, 1,72 kali di kelompok lebih kaya, dan 1,68 kali di kelompok terkaya. Keempat hubungan itu bermakna dengan nilai p di bawah 0,001.

Polanya tidak menanjak lurus sampai ke puncak. Angka kelompok lebih kaya dan terkaya mirip, dengan rentang kepercayaan yang saling tumpang tindih. Para peneliti mengingatkan, “perkiraan titik yang sedikit lebih tinggi pada kuintil lebih kaya dibanding kuintil terkaya tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti efek perlindungan pada tingkat kekayaan tertinggi,” tulis mereka dalam bahasa Inggris, di sini diterjemahkan.

Temuan ini menyambung mata rantai yang sudah ada. Menurut tim, hasilnya sejalan dengan bukti dari sejumlah negara berpendapatan rendah dan menengah, yang dirangkum antara lain oleh Dinsa dan rekan pada 2012, bahwa obesitas bisa lebih dulu terpusat pada kelompok bersumber daya lebih besar. Di negara berpendapatan tinggi, bebannya umumnya lebih berat pada kelompok yang lebih tertinggal secara sosial ekonomi.

Riset Peru terdahulu menunjukkan arah yang sama. Selain Poterico dan Farro-Maldonado, analisis bertingkat Hernández-Vásquez dan rekan pada 2022 mengaitkan obesitas perut dengan ciri pribadi seperti kekayaan, jenis kelamin, usia, dan pendidikan, juga dengan ciri wilayah. Studi Albornoz-Toyohama dan rekan menelaah bagaimana hubungan kekayaan dan obesitas berubah selama sepuluh putaran survei nasional.

Baca juga Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih

Laju Kenaikan Sejak 2015 di Tiap Kelompok

Untuk menguji apakah laju kenaikan sama di semua kelompok, tim memasang model yang memasangkan tahun survei dengan kelompok kekayaan, lalu membandingkan tiap tahun dengan 2015 di dalam kelompok yang sama. Uji gabungannya menunjukkan bukti bahwa perubahan dari waktu ke waktu memang berbeda antarkelompok kekayaan, dan tren kelima kelompok tidak berjalan sejajar.

Di kelompok termiskin, prevalensi obesitas yang disesuaikan pada 2024 mencapai 1,67 kali angka 2015. Di kelompok lebih miskin, rasionya 1,51. Kenaikan di tiga kelompok lain lebih kecil, yakni 1,23 di kelompok menengah, 1,21 di kelompok lebih kaya, dan 1,19 di kelompok terkaya. Kenaikan relatif terbesar dengan demikian ada di dua lapisan terbawah.

Kenaikan relatif per kelompok kekayaanTermiskin 1,67; Lebih miskin 1,51; Menengah 1,23; Lebih kaya 1,21; Terkaya 1,19.Kenaikan relatif per kelompok kekayaanRasio prevalensi disesuaikan, 2024 dibanding 20151,01,21,41,61,8Termiskin1,67Lebih miskin1,51Menengah1,23Lebih kaya1,21Terkaya1,19Acuan: 2015 = 1,00 di tiap kuintil (Tabel 3)
Sumber: Roger H. Albornoz-Toyohama dan rekan, Changes in obesity prevalence across household wealth groups among Peruvian adults: a ten-year analysis of a national survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tim membaca angka itu dengan hati-hati. “Kenaikan umum di seluruh kuintil kekayaan rumah tangga dapat menandakan bahwa paparan yang terkait obesitas secara bertahap menjangkau kelompok yang sebelumnya kurang terdampak,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Tafsir itu, menurut tim, sejalan dengan bukti bahwa arah gradien sosial ekonomi bisa berubah seiring majunya transisi gizi, terutama pada perempuan.

Tim menyebut kenaikan itu sejalan dengan transisi gizi dan transisi obesitas di negara berpendapatan rendah dan menengah, merujuk Popkin dan rekan pada 2012 serta Jaacks dan rekan pada 2019. Urbanisasi cepat, pembangunan ekonomi, perubahan sistem pangan, berkurangnya aktivitas fisik di tempat kerja, dan makanan padat energi yang makin mudah didapat telah dikaitkan dengan perubahan pola obesitas. Namun tim menegaskan, mekanisme itu tidak diukur langsung dalam studi ini dan hanya penjelasan yang masuk akal, bukan jalur sebab-akibat yang terbukti.

Ada pula catatan arah hubungan. Mengacu pada tinjauan Kim dan von dem Knesebeck pada 2018, tim menulis bahwa hubungan posisi sosial ekonomi dan obesitas bisa berjalan dua arah: kekurangan materi dapat memengaruhi risiko obesitas, sedangkan stigma dan diskriminasi kerja terkait obesitas dapat menekan penghasilan. Rancangan ENDES tidak memungkinkan tim menentukan arah itu.

Perempuan, Warga Kota, dan Usia 41 sampai 50 Tahun

Perempuan mencatat prevalensi obesitas lebih tinggi daripada laki-laki di setiap tahun survei. Pada laki-laki angkanya naik dari 15,8 persen pada 2015 menjadi 24,1 persen pada 2024. Pada perempuan, dari 25,4 persen menjadi 33,8 persen. Selisih keduanya berkisar dari 7,0 poin pada 2018 sampai 9,9 poin pada 2023, dan 9,7 poin pada 2024.

Setelah penyesuaian, prevalensi pada perempuan 39 persen lebih tinggi daripada laki-laki, dengan rasio 1,39. Penduduk desa mencatat rasio 0,83 dibanding penduduk kota. Dibanding wilayah ibu kota, pesisir lainnya sedikit lebih tinggi dengan rasio 1,07, sedangkan dataran tinggi dan hutan lebih rendah dengan rasio 0,76 dan 0,89. Menurut umur, rasio tertinggi ada pada kelompok 41 sampai 50 tahun, yaitu 1,99 dibanding usia 18 sampai 30 tahun.

Untuk beda desa dan kota, tim menyebut studi prospektif PERU MIGRANT yang dilaporkan Carrillo-Larco dan rekan pada 2016, yang mencatat beda risiko obesitas antara penduduk desa, pendatang dari desa ke kota, dan penduduk kota. Pola makan, transportasi, pekerjaan, dan ciri lingkungan tempat tinggal tidak diukur di ENDES, sehingga tim menyebut temuan itu bukti kontekstual, bukan penjelasan yang terbukti.

Pendidikan memberi gambaran yang kurang kokoh. Pada analisis utama, orang berpendidikan dasar, menengah, dan tinggi mencatat rasio 0,88, 0,87, dan 0,77 dibanding mereka yang tidak bersekolah. Setelah data yang hilang diisi dengan imputasi ganda, hanya pendidikan tinggi yang tetap bermakna dengan rasio 0,81, sehingga tim menilai temuan pendidikan lebih rentan terhadap cara analisis.

Masa Pandemi 2020 hingga 2022 dan Lompatan 2017

Angka obesitas pada 2020 sampai 2022 lebih tinggi daripada tahun-tahun menjelang pandemi COVID-19. Rasio prevalensi yang disesuaikan mencapai 1,31 pada 2021 dan 2022 dibanding 2015. Meski begitu, tim menegaskan pola ini tidak bisa diatribusikan pada pandemi, karena ENDES 2020 sempat menghentikan kerja lapangan tatap muka, beralih ke wawancara telepon, lalu mengukur sebagian data biomedis secara langsung belakangan.

Susunan sampel juga berubah tajam antara 2016 dan 2017. Proporsi penduduk kota naik dari 66,9 menjadi 81,0 persen, penduduk wilayah ibu kota dari 26,3 menjadi 38,1 persen, sedangkan kelompok termiskin turun dari 24,0 menjadi 16,6 persen. Setelah susunan itu diseragamkan, kenaikan 2016 ke 2017 menyusut dari 2,73 menjadi 1,07 poin dan tidak lagi bermakna.

Kenaikan sepuluh tahunnya tetap bertahan. Prevalensi yang distandardisasi naik dari 21,8 persen pada 2015 menjadi 28,4 persen pada 2024, berselisih 6,63 poin persentase. Ketika analisis dibatasi pada putaran 2017 sampai 2024, prevalensi 2024 tetap 1,19 kali angka 2017, dan hubungan dengan kekayaan tetap serupa dengan analisis utama.

Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

Chile, Kolombia, Meksiko, dan Mata Rantai Berikutnya

Tim menempatkan Peru di antara tetangganya. Di Chile, obesitas pada usia 15 tahun ke atas naik dari sekitar 25,1 persen pada 2009 sampai 2010 menjadi 34,9 persen pada 2016 sampai 2017. Di Kolombia, pada usia 20 sampai 64 tahun, dari 15,2 persen pada 2005 menjadi 21,3 persen pada 2015. Meksiko mencatat 36,1 persen pada 2018 sampai 2019 dan 36,9 persen pada 2022.

Angka Peru tidak distandardisasi menurut umur, dan tiap studi berbeda dalam struktur umur, pengecualian populasi, periode pengukuran, serta metode analisis. “Karena itu, perbandingan yang paling dapat dipertanggungjawabkan adalah konsistensi lintasan yang menanjak dan beban kesehatan masyarakatnya, bukan selisih mutlak antarnegara,” tulis Albornoz-Toyohama dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Pola Peru, menurut mereka, bagian dari kenaikan regional yang lebih luas.

Keterbatasannya diakui terang. Rancangan potong lintang berulang tidak bisa menunjukkan sebab-akibat atau lintasan berat badan perorangan. Pola makan, aktivitas fisik, tidur, stres, pekerjaan, penyakit penyerta, dan obat tidak diukur menyeluruh. Indeks massa tubuh juga tidak membedakan lemak dari otot, sehingga hasilnya perkiraan obesitas menurut indeks massa tubuh, bukan obesitas yang ditetapkan secara klinis.

Dari temuan itu, tim mendukung pencegahan untuk seluruh penduduk, pemeriksaan risiko yang lebih intensif bagi perempuan dan warga kota, serta kebijakan berkeadilan yang memperhatikan keterjangkauan pangan sehat bagi dua kelompok terbawah. Mata rantai berikutnya, kata mereka, adalah studi longitudinal, pengukuran lingkar pinggang dan komposisi tubuh, serta evaluasi apakah kebijakan menekan obesitas tanpa melebarkan ketimpangan.

Bagikan

Baca Juga

Diabetes di Malaysia Mengumpul di Distrik Tertentu, Bukan Merata
Separuh Warga Desa Gansu yang Diperiksa Punya Hati Berlemak
Lemak Darah Perempuan Obesitas Korea Berbeda Menurut Asupan Garam
Murid SMP Tiongkok Utamakan Jajanan Kaya Serat ketimbang Harga
Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur
Lemak Tubuh Karyawan Yogyakarta Turun, Berat Badan Nyaris Tetap