- Sebanyak 41 karyawan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta mengikuti program kebugaran di tempat kerja selama 12 minggu pada 2023.
- Rerata berat badan kelompok edukasi dan latihan hanya bergeser dari 72,31 menjadi 72,14 kilogram.
- Persentase lemak tubuh kelompok edukasi dan latihan turun dari 34,29 persen menjadi 33,31 persen.
- Kolesterol total kelompok edukasi turun dari 202,00 menjadi 171,84 mg/dL dalam tiga bulan.
Daftar Isi
Timbangan kerap dianggap hakim paling jujur bagi siapa pun yang sedang berusaha hidup lebih sehat, seolah semua kerja keras di ruang latihan dan di meja makan pada akhirnya harus dibayar dengan angka yang turun. Di sebuah kampus kesehatan di Yogyakarta, hakim itu justru nyaris tak bergeser selama tiga bulan, sementara yang berubah diam-diam bersembunyi di balik angkanya, di lapisan lemak dan di kadar kolesterol para karyawan.
Mereka adalah 41 karyawan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, berusia 30 sampai 60 tahun, yang semuanya memiliki indeks massa tubuh 25 kg/m² atau lebih, dan selama 12 minggu antara Mei hingga Oktober 2023 mengikuti sebuah program kebugaran di tempat kerja. Sebanyak 21 orang masuk kelompok yang mendapat edukasi gizi sekaligus latihan terpandu, sedangkan 20 orang lainnya masuk kelompok yang oleh peneliti disebut kelompok edukasi.
Program itu dirancang dan diukur oleh Weni Kurdanti, Rini Wuri Astuti, dan Herni Endah Widyawati dari Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, lalu dilaporkan dalam artikel berjudul Pengembangan wellness programs dalam meningkatkan kebugaran fisik dan profil metabolik karyawan, yang terbit di Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 22 nomor 3 tahun 2026. Penelitian ini menilai sekaligus komposisi tubuh, kebugaran, asupan makan, dan profil metabolik para karyawan.
Kelompok edukasi dan latihan berjalan di atas treadmill dan mengikuti aerobik ringan dengan intensitas sedang, 60 sampai 75 persen denyut jantung maksimal, selama 30 sampai 45 menit, dua sampai tiga kali seminggu di Klinik Wellness kampus, sementara aerobik bersama dipimpin instruktur terlatih. Kelompok edukasi menerima penyuluhan gizi dan instruksi latihan singkat, namun berlatih sendiri di rumah tanpa pendampingan langsung. Sebelum program dimulai, kedua kelompok tidak berbeda dalam jenis kelamin, usia, maupun status pekerjaan, sehingga kondisi awal mereka dinilai sebanding.
Edukasi gizi bagi kelompok edukasi dan latihan memakai pendekatan diet REST, singkatan dari rendah energi, seimbang, dan teratur, yang diberikan sekali seminggu, disertai rapor wellness berisi perkembangan hasil pemeriksaan dan selebaran yang dibagikan lewat grup WhatsApp. Para peneliti mencatat bahwa sebagai karyawan institusi pendidikan kesehatan, responden memiliki literasi kesehatan yang relatif lebih tinggi daripada sektor industri umum, tetapi tetap menghadapi risiko penyakit tidak menular yang signifikan.
Timbangan yang Enggan Bersaksi
Di atas timbangan, tiga bulan program itu nyaris tak meninggalkan jejak. Rerata berat badan kelompok edukasi dan latihan bergeser dari 72,31 kilogram pada bulan pertama menjadi 72,14 kilogram pada bulan ketiga, setelah sempat tercatat 72,65 kilogram pada bulan kedua, sementara kelompok edukasi bergerak dari 72,47 menjadi 72,04 kilogram, dan perbedaan antara kedua kelompok itu tidak signifikan secara statistik, dengan nilai p sebesar 0,103.
Indeks massa tubuh bercerita serupa, karena rerata kelompok edukasi dan latihan hanya bergerak dari 28,68 ke 28,58, sedangkan kelompok edukasi dari 28,36 ke 28,08, tanpa perbedaan signifikan sepanjang periode intervensi, dan pada kelompok edukasi angka 28,08 itu sama persis di bulan kedua dan ketiga. Lemak visceral, kandungan air tubuh, dan kepadatan tulang juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan, baik antarkelompok maupun antarwaktu, dengan nilai p berturut-turut 0,297, 0,439, dan 0,400.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Lemak yang Pergi Diam-Diam
Namun di balik timbangan yang membisu itu, persentase lemak tubuh bergerak. Pada kelompok edukasi dan latihan, reratanya turun dari 34,29 persen pada bulan pertama, lalu 33,77 persen pada bulan kedua, menjadi 33,31 persen pada bulan ketiga, sementara pada kelompok edukasi turun dari 32,96 persen menjadi 31,93 persen, dan uji statistik menunjukkan perbedaan antarkelompok yang signifikan, dengan nilai p sebesar 0,014.
Lemak subkutan, yang dalam laporan ini juga dinyatakan dalam persen, mengikuti arah yang sama. Pada kelompok edukasi dan latihan reratanya turun dari 29,39 persen menjadi 28,26 persen, sedangkan pada kelompok edukasi turun dari 28,07 persen menjadi 26,00 persen setelah sempat menyentuh 25,66 persen di bulan kedua, dengan perbedaan antarkelompok yang juga signifikan, kali ini dengan nilai p sebesar 0,008.
Massa otot rangka menempuh jalan yang lain lagi, sebab pada kelompok edukasi dan latihan reratanya relatif terjaga dari bulan pertama hingga bulan ketiga, sedangkan pada kelompok edukasi justru tercatat peningkatan. Analisis menunjukkan perbedaan antarkelompok itu signifikan, dengan nilai p sebesar 0,018, sehingga bersama lemak tubuh dan lemak subkutan, massa otot menjadi satu dari tiga ukuran komposisi tubuh yang berubah bermakna.
Para peneliti membaca pola ini sebagai perbaikan komposisi tubuh tanpa penurunan berat badan total yang besar, karena menurut mereka kehilangan lemak dapat diimbangi oleh bertambahnya massa tanpa lemak sehingga berat badan relatif stabil, pola yang menurut mereka sering dilaporkan pada intervensi yang menambahkan latihan. Mereka juga mencatat bahwa perubahan berat badan atau indeks massa tubuh memerlukan intervensi yang lebih lama atau pengurangan energi yang lebih besar.
Piring yang Bergeser ke Arah Berlawanan
Di meja makan, kedua kelompok justru bergerak ke arah berlawanan. Asupan lemak, dihitung sebagai persentase terhadap kebutuhan gizi tiap orang, pada kelompok edukasi dan latihan naik dari 104,31 persen pada bulan pertama, lalu 107,57 persen pada bulan kedua, menjadi 114,89 persen pada bulan ketiga, sedangkan pada kelompok edukasi turun dari 140,13 persen, lalu 121,36 persen, menjadi 95,16 persen, dengan nilai p sebesar 0,004.
Asupan protein memperlihatkan arah yang serupa, naik tipis dari 76,95 menjadi 79,98 persen kebutuhan pada kelompok edukasi dan latihan dan turun dari 91,67 menjadi 81,62 persen pada kelompok edukasi, meski tidak signifikan. Energi total dan karbohidrat juga tidak berubah signifikan, dengan nilai p 0,098 dan 0,670, sehingga lemak menjadi satu-satunya asupan yang bergeser bermakna. Pada bulan ketiga, asupan energi kelompok edukasi dan latihan tercatat 90,90 persen kebutuhan, sedangkan kelompok edukasi 89,96 persen.
Menurut para peneliti, kelompok edukasi kemungkinan menafsirkan pesan kesehatan secara lebih sederhana, yakni mengurangi konsumsi lemak secara umum, sedangkan pada kelompok yang berlatih, aktivitas fisik dapat meningkatkan kebutuhan energi dan memengaruhi regulasi nafsu makan, termasuk lewat hormon pengatur nafsu makan seperti ghrelin dan leptin. Meskipun asupan lemaknya naik, kelompok edukasi dan latihan tetap mencatat penurunan signifikan pada persentase lemak tubuh dan lemak subkutan.
Dari situlah tim peneliti menarik pelajaran yang lebih luas tentang cara kerja program semacam ini. “Temuan ini menegaskan bahwa intervensi berbasis kombinasi edukasi gizi dan aktivitas fisik memberikan respons metabolik dan perilaku yang lebih kompleks dibandingkan edukasi saja,” tulis Weni Kurdanti dan kedua rekannya dalam bagian pembahasan, yang kemudian menekankan perlunya menimbang kebutuhan energi, kualitas diet, dan aktivitas fisik, bukan hanya pembatasan asupan.
Baca juga Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi
Kolesterol yang Turun di Dua Jalur
Dari semua pemeriksaan darah, kolesterol total menjadi satu-satunya yang berubah signifikan, dengan nilai p sebesar 0,001. Pada kelompok edukasi dan latihan, reratanya bergerak dari 198,33 mg/dL ke 192,86 lalu 195,95 mg/dL, penurunan yang oleh peneliti disebut fluktuatif, sedangkan pada kelompok edukasi turun lebih konsisten dari 202,00 ke 179,95 lalu 171,84 mg/dL. Menurut para peneliti, temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi berbasis edukasi maupun kombinasi edukasi dengan latihan fisik sama-sama berkontribusi terhadap perbaikan profil kolesterol.
Gula darah dan asam urat, sebaliknya, relatif stabil selama tiga bulan tanpa perbedaan signifikan antarwaktu maupun antarkelompok, dengan nilai p 0,691 dan 0,126. Rerata gula darah kelompok edukasi dan latihan misalnya tercatat 114,95 mg/dL di bulan pertama dan 114,92 mg/dL di bulan ketiga, angka yang hampir tidak bergerak sama sekali, sementara kelompok edukasi tercatat 113,08 mg/dL, sempat 103,75 mg/dL di bulan kedua, lalu kembali ke 113,08 mg/dL.
Tekanan darah dan denyut nadi pun tidak beranjak secara bermakna. Rerata tekanan sistolik kelompok edukasi dan latihan tercatat 127,61 mmHg pada bulan pertama dan 127,31 mmHg pada bulan ketiga, sedangkan kelompok edukasi 130,92 dan 128,02 mmHg, sementara rerata diastolik kelompok edukasi dan latihan bergeser dari 83,62 ke 81,27 mmHg, dengan nilai p 0,364 untuk sistolik, 0,885 untuk diastolik, dan 0,346 untuk denyut nadi.
Napas yang Lebih Panjang di Atas Treadmill
Kebugaran, yang diukur sebagai VO2 maks dalam mililiter per kilogram per menit lewat uji treadmill Bruce, naik di kedua kelompok. Kelompok edukasi dan latihan bergerak dari 32,00 menjadi 36,14, sedangkan kelompok edukasi dari 30,46 menjadi 33,32, dan kenaikan di dalam masing-masing kelompok itu signifikan, dengan nilai p 0,001 dan 0,005. Sebelum program, skor kedua kelompok tidak berbeda signifikan, dengan nilai p 0,678, sehingga titik berangkat mereka dinilai homogen.
Namun ketika keduanya disandingkan, selisihnya tidak bermakna, sebab skor setelah intervensi tidak berbeda signifikan antarkelompok, dengan nilai p sebesar 0,440, dan rerata kenaikan sebesar 4,13 pada kelompok edukasi dan latihan dibanding 2,85 pada kelompok edukasi juga tidak berbeda signifikan, dengan nilai p 0,368. Para peneliti menyimpulkan bahwa kedua bentuk intervensi sama-sama mampu meningkatkan skor kebugaran.
Baca juga Perempuan Britania yang Rajin Latihan Otot Masih Canggung di Gym
Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan, yakni durasi 12 minggu mungkin tidak cukup untuk melihat perubahan signifikan pada berat badan total, lemak visceral, dan tekanan darah, ukuran sampel relatif kecil sehingga kemampuan mendeteksi efek terbatas, metode kuota sampling dapat menimbulkan bias seleksi, sementara pencatatan asupan dengan kuesioner frekuensi makan juga berpotensi bias pelaporan.
Karena itu mereka menyarankan intervensi dengan durasi lebih panjang, intensitas latihan yang lebih terstruktur, serta fokus pada karyawan berisiko tinggi. “Dukungan institusi melalui kebijakan tempat kerja sehat dan monitoring diet secara berkelanjutan juga penting untuk memperkuat dampak program,” tulis mereka dalam simpulan, sembari menyebut program semacam ini berpotensi menjadi strategi pencegahan penyakit tidak menular di lingkungan kerja.
Menurut para peneliti, edukasi di tempat kerja dapat berdampak cepat pada konsumsi lemak dan kolesterol, meskipun perubahan berat badan total memerlukan waktu lebih lama. Selama 12 minggu di kampus itu, timbangan memang nyaris tak bergerak, sementara persentase lemak tubuh dan kolesterol total di kedua kelompok sudah lebih dulu turun.














