- Toko serba murah berjalan beriringan dengan penyakit di kota-kota Amerika Serikat.
- Rata-rata warga satu lingkungan bisa menjangkau 15,68 toko serba murah dan 25,69 swalayan biasa.
- Koefisien terstandar untuk toko serba murah 4,16, sedangkan untuk swalayan biasa minus 2,19.
- Namun kaitan toko serba murah tidak hilang sesudah indeks itu diperhitungkan.
Daftar Isi
Toko serba murah berjalan beriringan dengan penyakit di kota-kota Amerika Serikat. Semakin banyak toko jenis itu yang terjangkau sepuluh menit berkendara, semakin tinggi angka obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi di lingkungan itu. Swalayan biasa menunjukkan arah sebaliknya.
Temuan itu ditulis Ryan Bruellman, Jessica Finlay, Ilana J. Bennett, dan Chandra A. Reynolds dalam artikel Beyond Proximity: How Food Quality in Dollar and Grocery Stores Influences Health. Artikel itu dimuat jurnal BMC Public Health tahun 2026 dan masih dalam proses terbit, jadi belum bernomor volume. Keempatnya bekerja di University of California Riverside dan University of Colorado Boulder.
Dua Jenis Toko
Toko serba murah, yang di Amerika Serikat disebut dollar store, menjual aneka barang dan bahan pangan dengan harga rendah. Raknya banyak diisi makanan olahan yang tahan lama. Sayur dan buah segar, biji-bijian utuh, dan protein rendah lemak jarang tersedia.
Swalayan biasa menawarkan ragam pangan yang lebih lebar, termasuk banyak pilihan sayur dan buah segar. Karena itu para peneliti menggolongkannya sebagai toko bermutu standar. Semua toko serba murah mereka golongkan sebagai toko bermutu rendah.
Pembagian itu penting karena kebiasaan belanja warga Amerika sedang bergeser. Penjualan pangan di swalayan biasa turun hampir 7 persen dari 2008 sampai 2020. Pada kurun yang sama penjualan pangan di toko serba murah naik lebih dari 3 persen.
Naskah itu menyebut beberapa pendorongnya. Inflasi naik sejak awal 2000-an, biaya hidup meningkat, dan upah tidak mengimbangi. Toko serba murah juga membidik rumah tangga dan lingkungan berpenghasilan rendah.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Sepuluh Menit Berkendara
Ukurannya sederhana, yaitu jumlah toko yang bisa dicapai dalam sepuluh menit berkendara dari satu lingkungan sensus. Para peneliti memetakan 30.920 swalayan biasa dan 34.021 toko serba murah di daratan Amerika Serikat yang bersambung. Data lokasi toko berasal dari kurun 2016 sampai 2020.
Satu lingkungan sensus biasanya dihuni 2.500 sampai 8.000 orang. Kajian ini mencakup 19.607 lingkungan di kota-kota besar dalam enam kawasan, dari Chicago sampai Miami. Penduduknya lebih dari 76 juta orang, atau 74,6 persen dari seluruh penduduk yang tercakup proyek data kota itu.
Angka kesehatannya diambil dari 500 Cities Project milik Centers for Disease Control, berupa taksiran tahun 2016 dan 2017. Ada enam ukuran yang dilihat, yaitu obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, asma, dan kesehatan jiwa yang buruk.
Rata-rata warga satu lingkungan bisa menjangkau 15,68 toko serba murah dan 25,69 swalayan biasa. Artinya lebih dari 33 persen sumber belanja pangan yang terjangkau adalah toko serba murah. Kira-kira satu dari tiga.
Peta yang Timpang
Sebaran itu tidak merata. Di Midwest, South, dan South Atlantic, porsi toko serba murah melewati 40 persen. Di kawasan Pacific porsinya di bawah 25 persen.
Midwest mencatat rata-rata 22,91 toko serba murah dan 21,88 swalayan biasa per lingkungan. South mencatat 25,68 berbanding 24,50. Di dua kawasan itu toko serba murah lebih banyak daripada swalayan.
Pacific berada di ujung lain. Rata-rata hanya 7,87 toko serba murah yang terjangkau, sedangkan swalayan biasanya 29,35. Northeast mencatat 10,78 berbanding 25,78, dan Mountain 14,16 berbanding 25,51.
Angka penyakit mengikuti pola yang mirip. Rata-rata obesitas di Midwest 35,25 persen dan di South 34,10 persen, di atas rata-rata nasional 29,45 persen. Di Pacific angkanya 24,43 persen, terendah di antara enam kawasan.
Peta kota memperlihatkan pola itu dari dekat. Di Chicago, toko serba murah rapat di sisi barat dan selatan kota. Di sana angka diabetes dan tekanan darah tinggi berada di atas rata-rata nasional.
Swalayan biasa di Chicago berkumpul di pusat kota dan sisi utara. Angka kedua penyakit di wilayah itu umumnya jauh di bawah rata-rata. Di sisi selatan swalayan ada juga, tetapi kalah rapat oleh toko serba murah.
Phoenix menunjukkan kecenderungan serupa di kawasan Mountain. Jacksonville di South Atlantic lebih rumit. Kawasan padat toko serba murah di kota itu berimpit dengan angka penyakit tinggi, sedangkan kawasan padat swalayan memberi gambaran campuran.
Arah yang Berlawanan
Di tingkat nasional semua kaitan itu bermakna secara statistik. Lingkungan dengan lebih banyak toko serba murah punya angka lebih tinggi pada keenam ukuran kesehatan. Lingkungan dengan lebih banyak swalayan biasa punya angka lebih rendah.
Obesitas memberi contoh paling jelas. Koefisien terstandar untuk toko serba murah 4,16, sedangkan untuk swalayan biasa minus 2,19. Kaitan swalayan lebih kecil, tetapi tetap bermakna.
Tekanan darah tinggi menyusul dengan koefisien 3,39 untuk toko serba murah dan minus 1,92 untuk swalayan. Diabetes mencatat 1,32 dan minus 0,73. Tiga ukuran inilah yang paling kuat kaitannya dengan kedua jenis toko.
Ukuran yang kurang terkait dengan makanan pun ikut bergerak. Asma mencatat 0,47 untuk toko serba murah dan minus 0,40 untuk swalayan, sedangkan kesehatan jiwa yang buruk mencatat 0,94 dan minus 0,58. Kaitannya lebih lemah, tetapi masih bermakna.
Bukan Sekadar Kemiskinan
Keberatan pertama mudah ditebak, sebab toko serba murah memang banyak berdiri di lingkungan berpenghasilan rendah. Para peneliti memasukkan Social Vulnerability Index milik CDC untuk menimbang hal itu. Indeks bernilai nol sampai satu ini merangkum pendapatan, akses kendaraan, dan pengangguran di tiap lingkungan.
Kerentanan sosial memang berkaitan dengan angka penyakit yang lebih tinggi, dengan koefisien 3,57 untuk obesitas dan 2,45 untuk diabetes. Namun kaitan toko serba murah tidak hilang sesudah indeks itu diperhitungkan. Kaitan itu juga bertahan sesudah jumlah swalayan biasa ikut dihitung.
Dari sana para peneliti menarik dugaan. Toko bermutu rendah menjual pangan olahan murah dan menyisakan sedikit ruang untuk pangan padat gizi. Perbedaan angka kesehatan, menurut mereka, kemungkinan mencerminkan perbedaan mutu pangan di kedua jenis toko.
Riset terdahulu yang mereka kutip menemukan sebagian pelanggan toko serba murah membeli pangan lebih sehat di tempat lain. Kebiasaan menambal itu tampaknya belum cukup luas. Kaitan dengan kesehatan yang buruk tetap terlihat di semua kawasan.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Kawasan yang Menyimpang
Hasil per kawasan umumnya searah dengan hasil nasional, dengan beberapa pengecualian. Di Mountain, swalayan biasa justru berkaitan positif dengan tekanan darah tinggi, 0,26, dan kolesterol tinggi, 0,24. Kaitan swalayan dengan asma di kawasan itu tidak bermakna.
Kolesterol tinggi juga tidak mengikuti pola di dua kawasan lain. Di Northeast koefisien toko serba murah minus 0,12 dan tidak bermakna. Di South Atlantic koefisiennya 0,01, praktis nol.
Karena itu para peneliti menolak resep tunggal. Menambah swalayan di lingkungan yang dipenuhi toko serba murah, menurut riset yang mereka kutip, sering gagal mengubah pola makan dan kesehatan warga. Mereka mengusulkan jalan lain, yaitu menaikkan mutu pangan di toko serba murah itu sendiri.
Caranya bisa lewat kebijakan daerah atau kerja sama dengan petani setempat. Warga, termasuk pelanggan toko serba murah, memang menginginkan lebih banyak pilihan segar di rak. Para peneliti juga meminta toko serba murah digolongkan sebagai toko pangan dalam kebijakan, mengingat sebarannya yang luas.
Mereka tidak menganjurkan toko itu ditutup. “Toko serba murah menjadi pilihan sumber belanja pangan yang penting di berbagai komunitas, dan studi kami menunjukkan bahwa toko itu juga memainkan peran sangat penting dalam kesehatan,” tulis Bruellman dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Alasannya tertulis di bagian simpulan. Toko serba murah sudah tersebar luas dan dipakai banyak komunitas yang kurang beruntung. Cara memperbaiki isinya, menurut mereka, akan berbeda antarkota dan bahkan di dalam satu kota.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Batas yang Diakui
Kajian ini tidak menguji sebab-akibat. Para peneliti mengakui toko serba murah bisa menjadi paparan bagi lingkungan. Toko itu bisa juga sekadar penanda lingkungan yang lama ditinggalkan investasi, atau hasil dinamika pasar di tempat pangan tak sehat sudah lazim.
Angka kesehatannya adalah taksiran tingkat lingkungan, bukan catatan per orang. Kaitan di tingkat lingkungan belum tentu berlaku pada tiap warganya. Kebiasaan lain seperti merokok dan kurang gerak juga tidak diperhitungkan.
Kebiasaan itu, kata para peneliti, mungkin menjelaskan kaitan toko serba murah dengan asma dan kesehatan jiwa. Di beberapa kawasan, kaitan dua ukuran itu malah melampaui kolesterol tinggi. Asma dan kesehatan jiwa yang buruk juga kerap hadir bersama penyakit metabolik dan jantung, kata mereka.
Daftar tokonya pun tidak lengkap. Hanya jaringan besar nasional dan regional yang dipetakan, tanpa toko kecil mandiri. Kota kecil dan pedesaan tidak tercakup, begitu pula kebiasaan berbelanja dengan berjalan kaki di tempat sepadat Manhattan.
Penggolongan mutunya juga kasar. Semua toko serba murah dianggap bermutu rendah dan semua swalayan dianggap standar. Padahal isi tiap toko beragam, dari mutu barang, harga, sampai pilihan yang menyehatkan.
Urutan kejadiannya pun masih terbuka. Naskah ini tidak bisa mengatakan mana yang datang lebih dulu, toko serba murah atau kemerosotan lingkungannya. Para peneliti menyarankan kajian jangka panjang yang mengikuti pembukaan toko dan perubahan sosial ekonomi sesudahnya.
Angka yang Tak Sama
Ada satu hal kecil yang bisa diperiksa pembaca di tabel naskah. Rata-rata obesitas South Atlantic tertulis 31,08 di tabel statistik deskriptif. Di tabel hasil, titik potong model kawasan yang sama tertulis 30,94.
Pada enam model lain kedua angka itu persis sama, misalnya 29,45 untuk nasional dan 35,25 untuk Midwest. Naskah tidak menjelaskan selisih di South Atlantic. Versi yang beredar memang belum melewati penyuntingan akhir jurnal.
Rentang waktunya juga tidak sejajar. Data toko berasal dari 2016 sampai 2020, sedangkan angka kesehatan dari 2016 dan 2017. Para peneliti menunjukkan angka kesehatan itu stabil dari tahun ke tahun, dengan korelasi 0,81 sampai 0,97 dengan taksiran tahun-tahun lain antara 2013 dan 2022.
Untuk saat ini petanya jelas, tetapi arah panahnya belum. Di kota-kota besar Amerika Serikat, rak toko serba murah dan angka penyakit berdiri berdekatan.













