Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

A A

Petugas medis memeriksa tekanan darah pasien pada acara layanan kesehatan komunitas [Foto: Senior Airman Kasey Close/U.S. Navy/Wikimedia Commons Domain Publik]

  • Median skor risiko Framingham 312 warga miskin Lunas, Malaysia, adalah 11; 17,6 persen berisiko tinggi
  • Keragaman diet menurunkan risiko, sedangkan gula darah dan rasio pinggang-pinggul menaikkannya
  • Diskusi kelompok mengungkap efikasi diri dan dukungan sosial sebagai motivasi hidup sehat
  • Peneliti menyusun kerangka konseptual pendahuluan berisi empat domain intervensi, belum divalidasi
Daftar Isi
  1. Skor Framingham, Rapor Jantung
  2. Angka yang Berbicara
  3. Efikasi Diri, Bukan Sekadar Niat
  4. Ketika Insentif Sehat Tak Terjangkau
  5. Empat Pilar yang Baru Rancangan
  6. Batas yang Perlu Ditegaskan

Skor risiko Framingham terdengar seperti istilah laboratorium, padahal fungsinya sederhana. Ia adalah rapor untuk memperkirakan peluang seseorang terkena penyakit jantung dan pembuluh darah dalam sepuluh tahun ke depan.

Angka itu jadi tumpuan studi Huey Miin Cheah, Jamuna Rani Appalasamy, Geok Pei Lim, Kia Fatt Quek, Shazwani Shaharuddin, dan Amutha Ramadas dalam Primary cardiovascular disease prevention in a low-income Malaysian community: a sequential mixed-methods study informing a preliminary conceptual framework, terbit di jurnal BMC Public Health, 2026. Amutha Ramadas dan tiga rekannya berasal dari Jeffrey Cheah School of Medicine and Health Sciences, Monash University Malaysia, sedangkan Jamuna Rani Appalasamy dan Shazwani Shaharuddin dari School of Pharmacy di kampus yang sama.

Skor Framingham, Rapor Jantung

Maksudnya, skor Framingham menghitung risiko lewat kombinasi usia, kadar kolesterol, tekanan darah, status merokok, dan status diabetes. Skor lebih tinggi berarti peluang terkena penyakit jantung dalam sepuluh tahun lebih besar. Peneliti mengelompokkan hasilnya jadi tiga: risiko rendah di bawah 10 persen, sedang 10 sampai 20 persen, dan tinggi di atas 20 persen.

Studi ini melibatkan 312 warga berusia 30 sampai 74 tahun di Lunas, Malaysia, yang direkrut dari kemah skrining kesehatan sebuah lembaga swadaya masyarakat setempat. Semua peserta berasal dari rumah tangga berpendapatan di bawah MYR3.710 atau sekitar USD820 sebulan, ambang batas berpendapatan rendah di negara bagian itu, dan tidak pernah mengalami penyakit jantung sebelumnya. Usia median peserta 53 tahun, dan sebagian besar, 87,5 persen, berstatus menikah atau berpasangan.

Riset dua fase di satu komunitas miskin Malaysia312 peserta survei, 34 peserta diskusi kelompok, median skor Framingham 11.Riset dua fase di satu komunitas miskin MalaysiaFase kuantitatif dan kualitatif di Lunas, Malaysia312peserta surveiusia 30-74 tahun,Lunas, Malaysia34peserta diskusikelompokdari 62 yangberisiko11median skorFraminghamperkiraan risikokardiovaskular32,4%variasi risikoterjelaskanoleh modelregresi bergandaJalan risetnyaSurvei 312 wargaEnam diskusi kelompokKerangka 4 domain
Sumber: Huey Miin Cheah, Jamuna Rani Appalasamy, Geok Pei Lim, Kia Fatt Quek, Shazwani Shaharuddin, dan Amutha Ramadas, Primary cardiovascular disease prevention in a low-income Malaysian community: a sequential mixed-methods study informing a preliminary conceptual framework, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Median skor Framingham peserta adalah 11 dengan rentang antarkuartil 8. Laki-laki mencatat median 13, perempuan 10. Bedanya begini: dari seluruh peserta, 42,3 persen berisiko rendah, 40,1 persen berisiko sedang, dan 17,6 persen berisiko tinggi. Di antara laki-laki, mayoritas justru berisiko tinggi, 39,0 persen, sedangkan mayoritas perempuan berisiko rendah, 47,8 persen.

Angka yang Berbicara

Setelah faktor lain dikendalikan lewat regresi berganda, tiga hal terbukti berhubungan dengan skor Framingham. Skor keragaman diet menurunkan risiko: setiap tambahan satu porsi harian dari kelompok pangan berbeda menurunkan skor 0,516 poin, dengan selang kepercayaan 95 persen -0,92 sampai -0,16.

Gula darah sewaktu dan rasio pinggang-pinggul justru menaikkan risiko. Setiap kenaikan 1 mmol per liter gula darah menaikkan skor 0,27 poin. Setiap kenaikan 0,1 poin rasio pinggang-pinggul menaikkan skor 2,51 poin, dengan selang kepercayaan 1,70 sampai 3,31. Model ini menjelaskan 32,4 persen variasi skor Framingham di populasi studi, dan berlaku setelah usia, pendidikan, dan status kerja diperhitungkan.

Tiga angka itu berjalan bersama dua gambaran lain yang mengkhawatirkan. Sebanyak 70,5 persen peserta tergolong obesitas menurut ambang batas Asia, dan 78,4 persen melaporkan tingkat stres sedang sampai tinggi. Namun saat data asupan kalori dari wawancara 24 jam dinilai ulang, 58 persen peserta ternyata melaporkan makan lebih sedikit dari kenyataan, sehingga data itu dibuang dari analisis.

Kuesioner frekuensi makanan yang tersisa tetap dipakai untuk menghitung skor keragaman diet, dan hasilnya menunjukkan pola yang timpang. Peserta banyak menghindari ayam, daging kambing, dan ikan karena kekhawatiran kesehatan yang menurut peneliti tidak berdasar, sementara asupan karbohidrat justru sangat tinggi. Di sisi lain, aktivitas fisik dan konsumsi alkohol tidak terbukti berhubungan dengan skor Framingham dalam analisis ini, sejalan dengan pengamatan bahwa keduanya memang jarang di komunitas berpendapatan rendah.

Peneliti membandingkan temuan ini dengan kerangka "Life's Essential 8" milik American Heart Association, yang menilai kesehatan jantung lewat empat perilaku dan empat ukuran biometrik. Berat badan dan gula darah pada studi ini sejalan dengan kerangka itu sebagai prediktor risiko, tetapi durasi tidur dan aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang sama, sesuatu yang menurut penulis bisa saja terjadi karena keterbatasan jumlah sampel untuk mendeteksi asosiasi yang lebih halus.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Efikasi Diri, Bukan Sekadar Niat

Istilah efikasi diri sering dipakai psikolog untuk menyebut keyakinan seseorang bahwa ia sanggup menjalankan suatu tindakan. Dalam 34 diskusi kelompok terarah dengan peserta berisiko sedang sampai tinggi, efikasi diri dalam merawat kesehatan sendiri muncul sebagai motivasi paling menonjol untuk berubah menuju hidup sehat.

Dua motivasi lain yang tercatat adalah dukungan sosial, yang berfungsi sebagai pemicu tindakan, serta pengetahuan dan kesadaran tentang penyakit jantung. Skor kepercayaan diri peserta dalam mengelola obat, diukur lewat skala baku, berada di ujung tinggi. Namun skor itu tidak terbukti menjadi prediktor independen skor Framingham secara statistik, sehingga kaitan langsungnya dengan risiko jantung belum bisa dipastikan dari data ini.

Ketika Insentif Sehat Tak Terjangkau

Bedanya begini: niat untuk hidup sehat ada, tetapi hambatannya nyata. Tiga tema hambatan muncul dari diskusi kelompok, yaitu minimnya wawasan tentang kesehatan pribadi, tantangan psikososial berupa tekanan finansial, ketegangan keluarga, dan tekanan teman sebaya, serta persepsi bahwa gaya hidup sudah bergeser terlalu jauh untuk diubah.

Wawasan kesehatan jadi contoh paling jelas. Rasio pinggang-pinggul terbukti berhubungan dengan skor Framingham dalam analisis statistik, dan prevalensi obesitas di komunitas ini mencapai 70,5 persen. Namun tidak satu pun peserta diskusi menyebut obesitas ketika diminta menyebutkan faktor risiko penyakit jantung yang mereka ketahui.

Peserta juga menyebut lingkungan fisik yang berubah sebagai sumber tekanan, termasuk menjamurnya gerai makanan cepat saji yang dulu langka di kawasan mereka. Berkurangnya interaksi sosial ikut disebut sebagai pemicu stres, sementara sebagian peserta lain justru menormalkan risiko dengan mencontohkan kerabat yang tetap panjang umur meski merokok atau minum alkohol.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Empat Pilar yang Baru Rancangan

Dari dua kumpulan data itu, peneliti menyusun kerangka konseptual pendahuluan berisi empat domain intervensi: manajemen tersasar faktor risiko kardiometabolik, pemberdayaan perawatan diri, strategi mengatasi hambatan, dan mobilisasi dukungan sosial serta komunitas. Keempatnya disusun lewat protokol triangulasi yang mempertemukan temuan kuantitatif dan kualitatif secara berdampingan.

“The framework should therefore be interpreted as a preliminary organising model specific to this study population,” tulis Amutha Ramadas dan tim penelitinya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat itu berarti kira-kira: kerangka ini semestinya dibaca sebagai model penataan awal, khusus untuk populasi studi ini saja.

Domain dukungan sosial dan komunitas paling menarik karena tidak punya sokongan statistik langsung. Dalam regresi, tak ada satu pun ukuran dukungan sosial yang terbukti memprediksi skor Framingham secara bermakna. Domain ini tetap dipertahankan karena diskusi kelompok menunjukkannya berulang kali sebagai tema penting, dan karena sejalan dengan Health Belief Model yang jadi rujukan teori penelitian ini.

Sebaran perkiraan risiko kardiovaskular 10 tahunRisiko rendah (<10%): Peserta survei +42,3%; Risiko sedang (10-20%): Peserta survei +40,1%; Risiko tinggi (>20%): Peserta survei +17,6%.Sebaran perkiraan risiko kardiovaskular 10tahunDari 312 peserta survei, dihitung dengan skor risiko Framingham10%20%30%40%0Risiko rendah (<10%)42,3%Risiko sedang (10-20%)40,1%Risiko tinggi (>20%)17,6%Di antara laki-laki, mayoritas berisiko tinggi (39,0%); di antaraperempuan, mayoritas berisiko rendah (47,8%).
Sumber: Huey Miin Cheah, Jamuna Rani Appalasamy, Geok Pei Lim, Kia Fatt Quek, Shazwani Shaharuddin, dan Amutha Ramadas, Primary cardiovascular disease prevention in a low-income Malaysian community: a sequential mixed-methods study informing a preliminary conceptual framework, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Peneliti mengusulkan langkah lanjutan berupa konseling, penyediaan lapangan kerja, fasilitas olahraga, dan subsidi tersasar untuk meredakan tekanan psikososial. Kegiatan bersama seperti memasak dan olahraga kelompok disebut berpotensi memperkuat ikatan sosial sekaligus mengurangi kebiasaan merokok dan minum alkohol, meski semua usulan ini masih berupa hipotesis yang perlu diuji, bukan hasil intervensi yang sudah dijalankan.

Batas yang Perlu Ditegaskan

Peneliti menegaskan sendiri bahwa desain potong lintang pada fase survei membuat hubungan antara pola makan, gula darah, rasio pinggang-pinggul, dan skor Framingham tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat. Yang terlihat baru pola bersamaan, bukan urutan siapa memengaruhi siapa.

Perekrutan lewat satu lembaga swadaya masyarakat di satu komunitas turut membatasi generalisasi. Warga yang datang ke kemah skrining kemungkinan lebih terhubung dengan lembaga itu atau lebih bersedia diperiksa, sehingga hasilnya belum tentu mewakili komunitas miskin lain di Malaysia. Kerangka konseptual yang dihasilkan pun belum divalidasi eksternal, belum dikonsultasikan ke pemangku kepentingan, dan belum diuji lewat intervensi apa pun.

Ada satu hal dalam naskah yang layak diperiksa pembaca sendiri. Di bagian pembahasan, penulis menyebut median skor Framingham studi ini, 11, sebagai temuan yang konsisten dengan penelitian lokal lain yang melaporkan rata-rata skor 11,3. Median dan rata-rata adalah dua ukuran pemusatan data yang berbeda cara hitungnya, dan menyandingkan keduanya sebagai bukti konsistensi perlu dibaca hati-hati, terutama karena skor risiko semacam ini lazimnya tidak tersebar merata.

Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta

Skor Framingham, pada akhirnya, hanya rapor perkiraan, bukan ramalan pasti. Ia menunjukkan siapa yang lebih perlu diwaspadai dalam sepuluh tahun ke depan, memakai data usia, gula darah, tekanan darah, dan lemak tubuh yang bisa diukur hari ini. Rapor itu tidak menjelaskan sendiri mengapa sebagian orang sulit mengubah kebiasaannya, dan di situlah diskusi kelompok pada studi ini mengisi bagian yang tidak terbaca oleh angka.

Tag:
Bagikan

Baca Juga

Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata
Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen
Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Mabuk-Menyetir Pasif, Konsep Baru dari Data Bengaluru