Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

A A

Tangan memegang dinamometer digital saat tes kekuatan genggaman [Foto: Marcy Sanchez/Wikimedia Commons Domain Publik]

Daftar Isi
  1. Ukuran yang Dianggap Sepele
  2. Ketika Genggaman Berubah Arah
  3. Satu Ukuran yang Bertahan Penuh
  4. Yang Tak Genap Diketahui
  5. Kejanggalan yang Tersisa di Angka

Kekuatan tangan biasa dianggap remeh, sekadar angka yang muncul sesaat di ruang periksa dokter atau di sesi tes kebugaran, lalu dilupakan begitu ditulis di kertas. Namun dalam data kesehatan populasi berskala besar, angka yang sama justru berubah menjadi penanda diam-diam tentang apa yang sedang berlangsung di dalam jantung seseorang, jauh sebelum gejala apa pun sempat muncul ke permukaan.

Temuan itu ditulis Lirong Chai, Yi Zhang, Kai Zhang, Weijing Wang, Dongfeng Zhang, dan Junning Fan dalam Association of changes in grip strength with risk of incident cardiovascular disease in middle aged and older adults from the UK biobank, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 817, tahun 2026. Keenam peneliti itu berafiliasi ke Qingdao University, Tiongkok, jauh dari Inggris yang justru menjadi sumber datanya.

Ukuran yang Dianggap Sepele

Anggapan bahwa kekuatan genggaman hanyalah cermin otot lengan sudah lama dipatahkan oleh riset epidemiologi. Ia dipakai staf terlatih di UK Biobank sebagai penanda kondisi otot tubuh secara keseluruhan, diukur dengan dinamometer hidrolik yang sama persis prosedurnya untuk setiap peserta, sehingga hasilnya bisa dibandingkan lintas waktu tanpa bias alat. Dari genggaman satu tangan, tersimpan gambaran tentang proses penuaan yang jauh lebih luas daripada yang tampak, sesuatu yang oleh peneliti lain bahkan pernah disebut sebagai penanda usia biologis tubuh.

Pada 57.490 peserta yang diikuti rata-rata tiga belas tahun lebih, mereka yang berada di kelompok genggaman rendah memiliki risiko penyakit jantung sepuluh persen lebih tinggi dibanding kelompok tengah, setelah faktor gaya hidup dan penyakit kronis diperhitungkan. Akan tetapi begitu status kerapuhan tubuh dimasukkan ke dalam hitungan, kaitan itu menguap, seolah genggaman rendah hanyalah gejala dari sesuatu yang lebih mendasar, bukan penyebab yang berdiri sendiri di depan jantung.

Angka semacam ini sebetulnya bukan hal baru. Sebuah meta-analisis atas 42 studi dengan lebih dari tiga juta peserta pernah mencatat, setiap penurunan lima kilogram kekuatan genggaman berkaitan dengan kenaikan risiko jantung sebesar dua puluh satu persen. Studi lain yang juga memakai data UK Biobank bahkan menemukan angka yang lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki untuk penurunan lima kilogram yang sama. Namun seluruh angka itu, termasuk milik Chai dan kawan-kawan, berhenti pada satu kali pengukuran, seolah tubuh manusia berdiri diam sepanjang waktu.

Ketika Genggaman Berubah Arah

Di sinilah pertanyaan penelitian ini bergeser. Alih-alih berhenti pada satu kali pengukuran, Chai dan kawan-kawan menelusuri apa yang terjadi ketika genggaman diukur dua kali, berjarak rata-rata sembilan tahun tujuh bulan, pada 41.538 peserta yang sama. Tiga cara dipakai sekaligus untuk menangkap perubahan itu: skor terstandardisasi menurut usia dan jenis kelamin, kategori lemah atau normal berdasar ambang populasi, dan laju perubahan tahunan sebagai angka yang mengalir, bukan sekadar kotak kategori yang kaku.

Ketiganya sengaja dijalankan berdampingan, bukan dipilih salah satu. Cara pertama disebut peneliti lebih cocok untuk kepentingan riset karena mampu membedakan pola perubahan yang berbeda-beda antarindividu. Cara kedua lebih sederhana dan lebih mudah dipakai dalam praktik klinis sehari-hari, sedangkan cara ketiga rawan bias pengukuran tetapi memberi gambaran paling halus tentang kecepatan kemunduran otot. Ketiga cara itu, tulis mereka, saling melengkapi, sehingga kesimpulan yang dihasilkan menjadi lebih kokoh dibanding mengandalkan satu metode saja.

Risiko jantung menurut perubahan genggamanRisiko jantung menurut perubahan genggamanRisiko jantung menurut perubahan genggamanRasio hazar kejadian jantung, dibanding kelompok acuanSebelum kerapuhanSesudah kerapuhanHR 1,12HR 1,13GenggamanmenurunHR 1,14tak bermaknaGenggaman stabilrendahHR 1,19HR 1,18Normal jadi lemahHR 1,14tak bermaknaLemah menetapHR 0,97HR 0,88Lemah jadi normalHR 1,05HR 1,05Tiap 1 SD lajumenurunHR di atas 1 berarti risiko lebih tinggi; kerapuhan = fenotipe frailty.
Sumber: Lirong Chai, Yi Zhang, Kai Zhang, Weijing Wang, Dongfeng Zhang, dan Junning Fan, Association of changes in grip strength with risk of incident cardiovascular disease in middle aged and older adults from the UK biobank, BMC Public Health, 26(817), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketiganya, secara mengejutkan, mengarah ke kesimpulan yang serupa. Orang yang genggamannya menurun dari waktu ke waktu berisiko dua belas persen lebih tinggi terkena penyakit jantung, orang yang genggamannya menetap rendah di kedua pengukuran berisiko empat belas persen lebih tinggi, dan mereka yang berpindah dari normal menjadi lemah berisiko sembilan belas persen lebih tinggi. Namun begitu status kerapuhan disertakan, sebagian angka itu goyah, sementara yang lain justru bertahan utuh tanpa berkurang sedikit pun.

Yang bertahan adalah kelompok genggaman menurun, dengan risiko tetap tiga belas persen lebih tinggi meski kerapuhan sudah diperhitungkan. Yang goyah adalah kelompok genggaman menetap rendah dan kelompok lemah menetap, keduanya kehilangan makna statistiknya begitu kerapuhan masuk ke dalam model. Justru sebaliknya, kelompok yang membaik dari lemah menjadi normal malah mencatat risiko dua belas persen lebih rendah setelah kerapuhan diperhitungkan, sebuah arah yang berlawanan dari semua kelompok lain dalam tabel yang sama.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Satu Ukuran yang Bertahan Penuh

Di antara tiga cara mengukur perubahan itu, hanya laju perubahan tahunan yang lolos dari semua penyesuaian tanpa kehilangan kekuatannya. Setiap penurunan satu satuan deviasi standar pada laju itu berkaitan dengan kenaikan risiko jantung sebesar lima persen, konsisten baik sebelum maupun sesudah kerapuhan dimasukkan ke dalam perhitungan. Angka lima persen memang tidak sebesar sembilan belas persen pada kelompok normal-jadi-lemah, tetapi kestabilannya di seluruh model justru menjadikannya penanda yang paling dapat dipegang oleh peneliti berikutnya.

Junning Fan dan kawan-kawan menyimpulkan arah temuan ini dengan tegas dalam pembahasan naskah mereka. “Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan kekuatan genggaman menjadi penanda yang kuat dan independen bagi kejadian penyakit kardiovaskular,” tulis Lirong Chai dan Junning Fan dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi these finding highlights that a decline in grip strength serves as a robust and independent predictor of incident CVD.

Dua kali ukur genggaman, sembilan tahun jaraknyaDua kali ukur genggaman, sembilan tahun jaraknyaDua kali ukur genggaman, sembilan tahunjaraknyaKohort UK Biobank, dewasa paruh baya dan lansia57.490peserta genggamanawal13,3 tahun dipantau41.538peserta dua kali ukur9,7 tahun jarak ukur4.945kasus jantung tercatatsejak ukur keduaUkur genggaman stafterlatihUkur ulang bertahunkemudianBandingkan denganriwayat jantung
Sumber: Lirong Chai, Yi Zhang, Kai Zhang, Weijing Wang, Dongfeng Zhang, dan Junning Fan, Association of changes in grip strength with risk of incident cardiovascular disease in middle aged and older adults from the UK biobank, BMC Public Health, 26(817), 2026. Grafik: Cekricek.id

Mekanisme di baliknya, menurut peneliti, berlapis-lapis. Berkurangnya massa otot menurunkan metabolisme basal dan mendorong penumpukan lemak, sementara fungsi otot yang melemah ikut mengganggu efisiensi peredaran darah dan menambah beban kerja jantung. Genggaman yang lemah juga kerap menyertai gangguan fungsi lapisan dalam pembuluh darah, yang pada gilirannya berkaitan dengan peradangan kronis, meski peneliti sendiri mengakui jalur biologis yang persis masih memerlukan penelitian lebih jauh.

Yang Tak Genap Diketahui

Peneliti sendiri mengakui batas dari apa yang bisa mereka simpulkan. Studi ini hanya mengukur genggaman pada dua titik waktu, sehingga naik turunnya kekuatan otot di sepanjang jarak sembilan tahun itu, yang barangkali berliku, tidak pernah benar-benar tertangkap. Untuk menghindari kekeliruan arah sebab-akibat, sejumlah besar kasus penyakit jantung yang muncul di antara dua pengukuran itu justru dikeluarkan dari analisis, sebuah pilihan yang mungkin membuat risiko sesungguhnya lebih besar daripada yang tercatat di sini.

Batas lain datang dari jenis penyakit jantung yang dihitung. Kekuatan otot, tulis peneliti, mungkin lebih berkaitan dengan jenis penyakit tertentu seperti penyakit jantung koroner atau stroke iskemik, sementara penelitian ini menghitung seluruh penyakit kardiovaskular sebagai satu kelompok besar. Generalisasi temuan ke luar populasi Inggris, terutama ke negara berpendapatan rendah dan menengah, juga perlu dilakukan dengan hati-hati mengingat perbedaan kondisi sosial dan ekonomi yang tidak tercermin dalam data UK Biobank.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Kejanggalan yang Tersisa di Angka

Ada satu hal di dalam tabel yang layak diperiksa ulang oleh pembaca yang teliti. Jumlah peserta pada kelompok genggaman menurun tertulis dalam format yang aneh, seolah tanda ribuan tertukar dengan tanda desimal, berbeda dari cara penulisan angka pada baris-baris lain di tabel yang sama. Begitu pula susunan nomor kategori di tabel klasifikasi genggaman, yang meloncat tidak berurutan pada beberapa selnya, sehingga pembaca perlu menelusuri legenda dengan lebih cermat sebelum mencocokkan angka dengan kelompoknya.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Penelitian ini ditutup dengan anjuran yang terdengar sederhana, menjaga kekuatan genggaman tetap stabil sepanjang usia paruh baya dan lanjut. Tetapi di balik anjuran itu tersembunyi pertanyaan yang belum terjawab tuntas, tentang otot mana yang sesungguhnya melindungi jantung, dan apakah genggaman hanyalah jendela yang kebetulan mudah diintip, ataukah ia benar-benar bagian dari mekanisme yang menjaga tubuh tetap bekerja. UK Biobank memberi angka yang meyakinkan, tetapi jawaban atas pertanyaan itu tampaknya masih menunggu penelitian berikutnya.

Bagikan

Baca Juga

Mabuk-Menyetir Pasif, Konsep Baru dari Data Bengaluru
Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Kelembapan Terlalu Rendah atau Tinggi Naikkan Risiko Artritis
Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea
Arsip Survei Kamboja: Tekanan Darah dan Kesenjangan Sekolah