Malapak, Saat Indang Solok Diubah Jumlah dan Bunyinya

A A

Pertunjukan musik perkusi tradisional Minangkabau, Tambua Tansa [Foto: Maizal Chaniago/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Jumlah pemain Rabana diubah dari 11-17 orang ganjil menjadi 6 orang genap demi keseimbangan visual
  • Instrumen Gandang Tambua ditambahkan sebagai dialog musikal dengan Rabana, tanpa menggeser dominasinya
  • Gerak pemain dibuat berlawanan arah, ganjil ke kiri dan genap ke kanan, sebagai simbol keseimbangan hidup
  • Lirik balimau patang tentang ritual penyucian diri menjelang Ramadan tetap dipertahankan persis aslinya
Daftar Isi
  1. Bukan Sekadar Menyalin Ulang
  2. Angka yang Diputar Balik
  3. Ketika Kanon Bertemu Pasambahan
  4. Gerak yang Berlawanan Arah
  5. Lirik yang Tidak Berubah
  6. Yang Belum Tuntas di Naskah

Musik tradisi sering dianggap sesuatu yang harus dijaga persis seperti apa adanya, seolah satu perubahan kecil sudah cukup untuk mengkhianati leluhurnya. Anggapan itu tidak bertahan lama di depan komposisi berjudul Malapak, karya musik yang justru lahir dari keputusan untuk mengubah jumlah pemain, menambah satu instrumen asing, dan menata ulang teknik vokalnya, tanpa merasa perlu meminta izin lebih dulu kepada bentuk aslinya.

Komposisi itu dibahas Alda Dobel Agustian, Admiral, dan Arnailis dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang dalam “Malapak: Eksplorasi Komposisi Musik Berbasis Tradisi Indang di Nagari Limau Lunggo, Kabupaten Solok”, yang terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara volume 5 nomor 1, tahun 2025. Karya ini digarap sebagai tugas akhir Program Studi Seni Karawitan, bersumber dari kesenian Indang Solok yang hidup di Nagari Limau Lunggo, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok.

Bukan Sekadar Menyalin Ulang

Justru sebaliknya, paper ini menegaskan bahwa mempertahankan tradisi tidak berarti membekukannya. Indang di Nagari Limau Lunggo dikenal sebagai Indang Padusi, karena dimainkan oleh perempuan, sebuah keunikan tersendiri mengingat kesenian Indang di daerah lain umumnya dimainkan laki-laki. Dari akar itulah pengkarya menimba idiom musikal, lalu mengolahnya kembali menjadi bentuk baru yang disebut Malapak, sebuah nama yang berasal dari kata Minangkabau manapuak, atau menepuk, merujuk pada cara tangan menepuk permukaan Rabana.

Di situlah persoalannya: berapa banyak perubahan yang masih bisa disebut penghormatan, dan berapa banyak yang sudah menjadi karya lain sama sekali? Pengkarya sendiri menyebut Malapak sebagai “bentuk sinergi antara pelestarian tradisi dan penciptaan inovatif dalam konteks seni pertunjukan Minangkabau,” tulis Agustian, Admiral, dan Arnailis dalam abstraknya, sebuah klaim yang baru bisa diuji setelah melihat apa saja yang sebenarnya diubah.

Indang Solok sendiri, menurut paper ini, bukan satu bentuk tunggal. Kesenian ini berkembang di lima nagari, yaitu Limau Lunggo, Gantung Ciri, Cupak, Kinari, dan Talang, dan tiap nagari memiliki ciri khasnya sendiri dalam lirik lagu, pola gerak tari, pola irama, struktur pertunjukan, hingga jumlah pemain. Dari kelima varian itu, hanya Indang Padusi Limau Lunggo yang menjadi bahan Malapak, sehingga perubahan yang dilakukan pengkarya sebenarnya hanya menyentuh satu cabang dari pohon tradisi yang lebih besar.

Pijakan konseptual pengkarya juga bukan tanpa rujukan. Paper ini meminjam gagasan pendekatan tradisi dari Waridi, yang semula berbicara tentang karawitan Jawa, sebagai proses berpijak pada idiom-idiom karawitan tradisi. Pengkarya menilai gagasan itu tetap relevan dipakai pada Karawitan Minangkabau karena nilai, sistem musikal, dan ekspresi budayanya dianggap sepadan, sehingga posisinya bukan sekadar pencipta, melainkan juga pelestari dan pengembang nilai tradisi lokal.

Indang asli dan Malapak, apa yang diubahPerbandingan jumlah pemain, instrumen, akar pemain, dan teknik vokal Indang asli dengan Malapak.Indang asli dan Malapak, apa yang diubahPerubahan yang disengaja pengkarya pada komposisi MalapakIndang asliMalapak11-17, ganjil6, genapJumlah pemainRabanaRabana sajaRabana+TambuaInstrumen intiUmumnya lelakiPerempuan PadusiAkar pemainNyanyian, dialogKanon dan unisonTeknik vokalKolom Indang asli merangkum ciri Indang Solok tradisional yang ditulispaper; kolom Malapak adalah hasil komposisi ciptaan.
Sumber: Alda Dobel Agustian, Admiral, dan Arnailis, Malapak: Eksplorasi Komposisi Musik Berbasis Tradisi Indang di Nagari Limau Lunggo, Kabupaten Solok, Jurnal Musik Etnik Nusantara, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Angka yang Diputar Balik

Perubahan pertama justru menyentuh sesuatu yang tampak sepele: jumlah pemain. Dalam tradisi Indang yang asli, pemain Rabana berjumlah ganjil, antara 11 sampai 17 orang. Malapak membalikkan kebiasaan itu dengan memakai 6 pemain, jumlah genap. Alasannya bukan sekadar selera, melainkan kebutuhan panggung dan keseimbangan visual, karena jumlah genap memungkinkan pola gerak yang simetris dan terstruktur, sesuatu yang sulit dicapai dengan barisan ganjil.

Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop

Namun mengubah jumlah pemain saja belum cukup untuk menandai sebuah komposisi baru. Pengkarya juga menambahkan Gandang Tambua, instrumen pukul Minangkabau yang berkarakter bunyi kuat dan menghentak, ke dalam struktur yang semula hanya mengandalkan Rabana dan vokal. Kehadiran instrumen ini digambarkan bukan untuk menggeser dominasi Rabana, melainkan sebagai dialog musikal antara dua instrumen tradisi yang berbeda tetapi saling menopang di dalam satu komposisi.

Ketika Kanon Bertemu Pasambahan

Nuansa yang tidak selesai muncul justru pada bagian vokal. Malapak membuka sajiannya dengan pola tukang aliah yang dimainkan tiga kali, disambut Gandang Tambua yang bertingkah dan bertanya jawab dengan Rabana, sebelum masuk ke lagu Pasambahan yang dinyanyikan perempuan dengan teknik kanon, lalu dibalas laki-laki secara unison. Teknik kanon dan unison itu disebut para penulis sebagai bagian dari “teknik modern” yang dipadukan dengan idiom lokal, meski keduanya sesungguhnya sudah lama dikenal dalam musik paduan suara di banyak tradisi.

Bagian yang menjadi klimaks datang ketika Gandang Tambua dan Rabana dimainkan dua siklus berturut-turut dengan karakter ritmis berbeda, lalu keduanya digabung sekaligus dengan pola yang tidak seragam. Paper menyebut hasilnya sebagai lapisan ritmis polifonik, yang menurut penulisnya mencerminkan dinamika sosial Indang yang kolektif namun tetap memberi ruang bagi individualitas ekspresi, sebuah pembacaan yang menautkan bunyi dengan makna sosial tanpa banyak penjelasan tambahan.

Alur sajian komposisi MalapakBagan alur empat tahap sajian komposisi Malapak dari pembuka sampai hasil akhirnya.Alur sajian komposisi MalapakSusunan garapan dari pembuka sampai penutup, menurut paperBuka perkusiTukang aliah, 3kaliVokalPasambahanKanon, laluunisonKlimaks &gerakPolifonik,berlawananFusitradisi &inovasiBagian akhir garapan menyatukan seluruh pemain dalam vokal kolektifdengan gerak maju-mundur bergantian.
Sumber: Alda Dobel Agustian, Admiral, dan Arnailis, Malapak: Eksplorasi Komposisi Musik Berbasis Tradisi Indang di Nagari Limau Lunggo, Kabupaten Solok, Jurnal Musik Etnik Nusantara, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Gerak yang Berlawanan Arah

Unsur gerak ikut dipertahankan sekaligus digeser maknanya. Pada bagian tanya jawab vokal, pemain di posisi ganjil menunduk perlahan sambil memutar Rabana ke arah kiri dengan tempo lambat, sementara pemain di posisi genap justru berdiri tegak dan memutar Rabana ke arah kanan dengan tempo yang sama lambatnya tetapi berlawanan arah. Perbedaan arah ini, tulis para peneliti, menciptakan visualisasi seperti gelombang yang harmonis, menyatu dengan irama vokal dan permainan instrumen.

Gerakan berlawanan itu berlanjut sampai penutup, ketika pemain posisi ganjil bergerak maju dengan halus namun mantap, dan pemain posisi genap bergerak mundur, bergantian mengikuti tempo yang sudah ditentukan. Bagi pengkarya, gerak maju dan mundur ini bukan sekadar koreografi, melainkan simbol filosofis, sebab “maju tidak selalu berarti progres, mundur tidak selalu berarti mundur keduanya adalah bagian dari ritme kehidupan yang selaras,” tulis Agustian, Admiral, dan Arnailis dalam naskahnya.

Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh

Lirik yang Tidak Berubah

Di tengah semua perubahan struktur dan instrumen, satu unsur dibiarkan nyaris utuh: lirik. Vokal perempuan menyanyikan “Kinilah kito balimau patang Oi di Limau Lunggo, Oi lah tampek nyo”, dibalas laki-laki secara unison dengan penggalan “Oi di Limau Lunggo, Oi lah tampek nyo”. Lirik ini merujuk pada tradisi balimau patang, ritual penyucian diri menjelang Ramadan yang dilaksanakan masyarakat Nagari Limau Lunggo, dan penempatannya di tengah-tengah garapan musikal ini dijadikan penegasan identitas budaya lokal yang menjadi inti dari seluruh narasi musikal karya ini.

Pilihan mempertahankan lirik sambil mengubah hampir semua yang lain menunjukkan ke mana batas eksperimen pengkarya ditarik. Kata-kata yang menyimpan pesan religius dan sosial itu tetap dijaga persis, sementara jumlah pemain, instrumen pengiring, dan susunan vokal boleh diutak-atik. Malapak, dengan begitu, menempatkan diri di antara dua kutub, konservasi dan inovasi, tulis para penulis, sebuah posisi yang terdengar aman tetapi pada praktiknya menuntut kejelian memilih bagian mana yang boleh disentuh, dan bagian mana yang harus dibiarkan tetap seperti sedia kala.

Yang Belum Tuntas di Naskah

Paper ini adalah laporan karya seni untuk tugas akhir, yang menjelaskan proses penciptaan dan struktur satu komposisi personal ciptaan penulis pertamanya sendiri, sehingga interpretasi dan penilaian keberhasilannya bersifat subjektif-artistik dan tidak diuji lewat tanggapan penonton atau komunitas Indang Padusi Limau Lunggo secara sistematis. Batas ini penting diingat sebelum membaca klaim keberhasilan sinergi tradisi dan inovasi sebagai sesuatu yang sudah terbukti di lapangan.

Ada pula kejanggalan kecil yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Daftar narasumber wawancara di akhir naskah mencantumkan nama Admiral, Skar., M.Sn, 64 tahun, dari Kelurahan Kampung Manggis, Padangpanjang, nama yang identik dengan penulis kedua paper ini, tanpa keterangan apakah keduanya orang yang sama. Nama pengkarya sendiri pun disebut Alda Dobel Agustian di sampul, tetapi keterangan pada notasi menuliskannya sebagai Alhuda Dobel Agustian, selisih satu suku kata yang tidak dijelaskan di mana pun dalam teks.

Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi

Yang tersisa dari Malapak bukan jawaban pasti tentang benar atau salahnya mengubah tradisi, melainkan gambaran tentang bagaimana satu keluarga bunyi, Rabana, Gandang Tambua, dan suara manusia, bisa disusun ulang tanpa kehilangan sumbernya. Enam pemain menggantikan sebelas sampai tujuh belas, satu instrumen baru menyelinap masuk, arah gerak dibuat berlawanan, tetapi lirik tentang balimau patang tetap dinyanyikan dengan kata yang sama seperti yang diwariskan Nagari Limau Lunggo.

Bagikan

Baca Juga

Yusuf Gayos Ubah Vokal Barzah Jadi Lagu Kaylana Batang Hari
Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi
Saluang Pauah, Pendendang Laki-laki Pengiring Kaba Pauh
Sasando dan Tiga Versi Asal-usulnya di Desa Oebou, Rote Ndao
Jam Gadang Naik ke Catwalk, Lorong Batanya Jadi Potongan Busana
Desa Tabek Bebas BABS, Tangki Septiknya Belum Pernah Dikuras