Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi

A A

Ilustrasi seorang perempuan berbusana adat memainkan alat musik berdawai. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Cara Sahutan Itu Bekerja di Ujung Larik
  2. Memindahkan Sahutan dari Mulut ke Instrumen
  3. Dua Bagian dan Perpindahan Ritmenya
  4. Di Mana Penjelasannya Berhenti

Cekricek.id — Ada satu kebiasaan kecil di pertunjukan Ronggeang Pasaman yang mudah lewat begitu saja. Penyanyi menyelesaikan satu larik, dan tepat di ujungnya orang lain ikut menyahut: pemain di sebelahnya, kadang penonton yang duduk di halaman. Tidak ada yang memberi aba-aba. Tidak ada yang memimpin. Sahutan itu jatuh di tempat yang sama, dengan nada yang sama, dan hampir tidak pernah dibicarakan sebagai teknik oleh siapa pun yang menyaksikannya. Ia dianggap bagian dari suasana, seperti tepuk tangan atau tawa, sesuatu yang muncul sendiri ketika orang berkumpul.

Tiga peneliti dari Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang — Yunaidi, Arnailis, dan Asep Saepul Haris — menjadikan kebiasaan itu bahan utama sebuah karya musik. Laporan penciptaannya, Transformasi Respon Vokal Gadih Basanai dalam Komposisi Musik Basauikan Berbasis Tradisi Ronggeang Pasaman, terbit di jurnal Ekspresi Seni Volume 28 Nomor 1 tahun 2026, halaman 17 sampai 28. Karyanya sendiri diberi judul Basauikan, sebuah kata setempat yang berarti menyahut sesuatu yang dilemparkan pihak lain. Judul itu bukan kiasan yang dipinjam belakangan, melainkan nama dari peristiwa yang persis sedang dikerjakan komposisinya.

Ronggeang hidup di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, dan biasa hadir di pesta perkawinan, khitanan, serta hiburan rakyat. Yang tampil bukan hanya pemusik, tetapi juga penari, dengan biola, gandang kaciak, gandang gadang, giriang-giriang, dan boto sebagai perangkat utamanya. Pertunjukannya dibuka Sikambang, bagian awal yang dimainkan biola dengan ritme bebas, sebelum instrumen ritmis masuk membangun tempo. Bentuk sajian yang terbuka itu membuat penonton tidak berhenti sebagai penerima. Kajian sebelumnya yang dikutip tim, antara lain Gusmanto dan koleganya pada 2021 serta Martarosa dan koleganya pada 2019, membaca Ronggeang sebagai hasil pertemuan pengaruh Minangkabau, Jawa, dan Mandailing, sementara Asra pada 2017 menyoroti praktik berbalas pantun secara spontan yang menarik penonton masuk ke dalam pertunjukan.

Cara Sahutan Itu Bekerja di Ujung Larik

Ilustrasi kerumunan penonton menyaksikan pertunjukan di ruang terbuka.
Ilustrasi kerumunan penonton menyaksikan pertunjukan di ruang terbuka. [Foto: Pexels]

Ronggeang punya banyak lagu, dan tidak semuanya berperilaku sama. Peneliti menyebut Durian Tinggi, Anak Dagang, Talak Tigo, Taijau-ijau, Pulau Pisang, dan Mandi Babaju sebagai pembanding. Pada lagu-lagu itu sahutan di ujung larik tidak menjadi ciri. Gadih Basanai berbeda: di situ respon vokal muncul sebagai bagian tetap, dilakukan bersama-sama oleh anggota kelompok dan penonton yang hadir, dan justru karena itulah lagu tersebut dipilih sebagai sumber penciptaan. Dari seluruh unsur yang bisa diambil dari sebuah pertunjukan Ronggeang, mulai dari tari sampai pantun, yang dianggap paling khas dan paling belum tergarap adalah sahutan tersebut.

Baca juga 58 Masjid Padang Berdiri di Zona Risiko Tsunami

Mekanismenya sederhana dan itulah kekuatannya. Satu pihak melempar, pihak lain menjawab, dan jawabannya tidak pernah datang di tengah larik melainkan selalu di ujungnya. Pola tanya-jawab semacam ini membuat lagu memiliki dua peran sekaligus tanpa perlu latihan bersama lebih dahulu, sebab titik masuknya sudah ditentukan oleh bentuk lirik. Siapa pun yang tahu lagunya bisa ikut, dan ketidakhadiran aba-aba tadi bukan kelalaian, melainkan akibat dari letak sahutan yang selalu tetap. Karena itu pula sahutan tersebut lebih dari pengulangan bunyi. Ia menjadi tanda bahwa ada hubungan timbal balik antara yang menyajikan dan lingkungan tempat sajian itu berlangsung, sesuatu yang tidak terjadi kalau lagu dinyanyikan seorang diri.

Untuk memastikan pembacaan itu, tim mendatangi pelaku tradisi. Wawancara dilakukan dengan Herman Toni dan Junasri di Kenagarian Simpang Utara, Kecamatan Simpang Alahan Mati, Kabupaten Pasaman, menyangkut sejarah Gadih Basanai, arti istilah basauikan, bentuk respon vokalnya, serta praktik pertunjukan Ronggeang di tengah masyarakat. Keterangan itu dianggap penting karena penciptaan berbasis tradisi, menurut tim, harus berpijak pada pengetahuan yang memang hidup di komunitas pendukungnya, bukan pada tafsir dari luar. Tahap berikutnya berupa diskusi bersama dosen, alumni, mahasiswa, dan para pendukung karya, yang dipakai untuk menajamkan gagasan, memilih instrumen, dan menyesuaikan rancangan dengan kemampuan pemain yang tersedia.

Memindahkan Sahutan dari Mulut ke Instrumen

Pertanyaan yang kemudian dikerjakan di ruang studio adalah apakah sahutan itu bisa dilepas dari ujung larik tanpa kehilangan wataknya. Jawabannya, menurut laporan itu, bisa, asalkan yang dipindahkan bukan bunyinya melainkan hubungannya. Respon tidak lagi diperlakukan sebagai unsur kecil di penghujung kalimat lagu, tetapi dinaikkan menjadi aturan yang mengatur seluruh karya: hubungan antara vokal dan instrumen, antara instrumen melodis dan instrumen ritmis, serta antara bagian yang bebas dan bagian yang terikat. Dengan cara itu watak sosial pertunjukan Ronggeang, yang mengandalkan orang saling menjawab, berpindah menjadi watak struktural sebuah komposisi.

Teknik yang paling banyak menanggung beban itu adalah call and response. Satu instrumen atau vokal mengeluarkan pernyataan musikal, instrumen lain menjawabnya, dan pola itu diulang dengan isi yang berganti-ganti. Unisono dipakai untuk pekerjaan yang berlawanan, yaitu mempertemukan kembali suara-suara yang tadinya tersebar, sehingga terasa sebagai titik temu, bukan sekadar penebalan bunyi. Di situ kebersamaan pemain dan penonton dalam tradisi diterjemahkan menjadi kebersamaan bunyi di dalam komposisi. Dua teknik itu bekerja bergantian: yang satu memisahkan suara supaya ada yang bertanya dan ada yang menjawab, yang lain menyatukannya kembali.

Baca juga Bak'ba, Pantun Bernyanyi dari Simpang Parit

Melodi Gadih Basanai sendiri tidak dikutip utuh. Ia dipenggal, bagian tertentu diambil, diulang, lalu disusun ulang menjadi pola baru, supaya jejak sumbernya masih terdengar tanpa karya berubah menjadi salinan. Teknik lain yang dipakai adalah aksentuasi, perubahan tempo, dan modulasi. Perbedaannya dengan mengutip lagu apa adanya terletak di situ: yang dipertahankan bentuk hubungannya, bukan utuh bunyinya. Hasil kerja itu dirumuskan Yunaidi bersama Arnailis dan Asep Saepul Haris dalam satu kalimat: respon vokal “tidak hanya dapat dipertahankan sebagai unsur vokal, tetapi juga dapat ditransformasikan menjadi prinsip penggarapan musikal”.

Dua Bagian dan Perpindahan Ritmenya

Karya Basauikan disusun dalam dua bagian. Bagian pertama bertugas memperkenalkan sumbernya, dan karena itu dibuka dengan Sikambang, sesuai kebiasaan pertunjukan Ronggeang, dengan biola bermain dalam ritme bebas. Sesudah itu warna bunyi baru mulai masuk lewat akordion, kecapi Minang, talempong logam, gitar bass, dan vokal. Tempo digerakkan dari bebas menuju terikat, dari lambat menuju cepat, dari yang mengalun menuju yang tegas. Respon vokal aslinya tetap dihadirkan pada bagian ini, kemudian diperluas ke permainan instrumen, dengan kecapi Minang, akordion, dan talempong logam membangun variasi melodi serta sahutan antarbagian.

Bagian kedua bekerja dengan cara yang berbeda. Ia dibuka unisono, lalu disusul gonyek pada biola, sebuah permainan yang berfungsi sebagai kode musikal untuk memberi dorongan masuknya instrumen lain. Di bagian ini karya tidak lagi bertumpu pada Gadih Basanai saja, tetapi menyerap nuansa lagu Ronggeang lain. Metriknya berpindah dari empat per empat ke tiga per empat, dan nadanya bermodulasi dari G ke C. Perubahan-perubahan itu dipakai untuk membangun suasana yang lebih gembira sekaligus memperlihatkan bahwa idiom Ronggeang masih sanggup menampung perluasan semacam itu.

Sahutan di bagian kedua juga menjadi lebih rumit. Ia tidak lagi berbentuk tanya-jawab sederhana, melainkan penyambungan yang saling tumpang tindih, permainan rampak, penonjolan satu instrumen, dan aksentuasi. Tiap instrumen diberi ruang tampil, tetapi selalu dikembalikan pada struktur kolektif. Di penghujung karya, suasana mengalun dihadirkan lagi lewat vokal dan Sikambang, sehingga komposisi bergerak dari tradisi, keluar ke eksplorasi, lalu pulang ke rasa semula. Penutup semacam itu dipilih dengan sengaja supaya karya tidak berakhir dengan kesan sudah terlepas dari sumbernya.

Baca juga Nilai Bahasa Jawa Naik Usai Aplikasi Masuk Kelas

Instrumennya dipilih dengan pertimbangan yang sama. Biola dipertahankan karena di dalam Ronggeang ia memang pemegang melodi utama sekaligus pemberi kode lewat gonyek, sedangkan gandang menjaga dasar ritmis dan menandai perpindahan bagian. Kecapi Minang menambah lapisan melodi yang halus, talempong logam mempertegas identitas musikal Minangkabau lewat wataknya yang perkusif sekaligus melodis, akordion membawa warna harmoni, dan gitar bass memberi fondasi nada rendah. Penambahan itu, ditegaskan dalam laporan, tidak dimaksudkan menggantikan perangkat tradisi, melainkan memperluas ruang garap tanpa memutus hubungan karya dengan watak bunyi Ronggeang.

Di Mana Penjelasannya Berhenti

Sampai di sini penjelasannya berjalan rapi, dan justru karena itu batasnya perlu ditandai. Laporan ini adalah catatan penciptaan, bukan analisis musikal yang rinci. Tim sendiri menyatakan penelitian dan penciptaan lanjutan masih perlu diarahkan pada analisis musikal yang lebih detail, dokumentasi audio-visual Ronggeang Pasaman, serta kajian tentang hubungan antara pemain, penonton, dan ruang pertunjukan. Artinya bukti transformasinya disajikan sebagai uraian proses dan tabel padanan antara unsur tradisi dan bentuk barunya, bukan sebagai notasi atau pengukuran yang bisa diperiksa ulang orang lain.

Yang juga belum terjawab adalah pihak yang paling menentukan pada tradisi aslinya. Sahutan di ujung larik hidup karena penonton ikut menyahut, sementara di dalam komposisi baru peran itu diambil alih oleh instrumen. Tidak ada catatan dalam laporan ini mengenai bagaimana penonton pertunjukan Basauikan menanggapinya, apakah mereka ikut bersuara atau memilih duduk diam sebagaimana lazimnya penonton di gedung pertunjukan. Satu karya juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa unsur kecil mana pun dalam tradisi bisa diperlakukan serupa; yang ditunjukkan laporan ini adalah bahwa hal itu berhasil dilakukan sekali, pada satu lagu, dari satu kesenian, di satu kabupaten.

Kebiasaan yang mudah lewat itu kini punya nama dan punya bentuk, dan sudah dinaikkan menjadi aturan penyusunan sebuah karya. Ia bisa dipelajari, dilatih, dan dimainkan ulang di panggung mana pun oleh pemain yang tidak pernah menonton Ronggeang. Yang belum bisa dipastikan adalah apakah aturan itu masih sanggup bekerja tanpa hal yang melahirkannya: seseorang di halaman, tanpa diminta, menyahut di ujung larik.

Bagikan

Baca Juga

Aneuk Jamee Aceh Selatan, Urusan Rumah Tangga Lewat Ninik Mamak
Ronggeang Pinang Sarumpun Menari sampai Menjelang Subuh
Histeria dalam Bailau, Nada yang Diam-diam Selalu Bergeser
Dendang Suayan Balenggek Diubah Jadi Fantasia Orkestra
Malapak, Saat Indang Solok Diubah Jumlah dan Bunyinya
Jam Gadang Naik ke Catwalk, Lorong Batanya Jadi Potongan Busana