Bak'ba, Pantun Bernyanyi dari Simpang Parit

A A

Ilustrasi kelompok pemusik tradisi berbusana hijau memainkan gendang dalam sebuah pertunjukan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Yang disebut para peneliti sebagai seni tutur, di Desa Simpang Parit berarti sekelompok orang duduk berjajar di atas tikar, di halaman rumah atau di tanah lapang, menyanyikan pantun bersahut-sahutan dari lepas isya sampai sekitar pukul sebelas malam. Alat musiknya empat, penyanyinya duduk di tengah, dan penontonnya boleh siapa saja karena tidak ada pintu yang bisa ditutup. Kesenian itu bernama Bak’ba.

Bentuk pertunjukan dan makna teksnya dicatat Lirna Viony, Asril, dan Yurnalis dari Jurusan Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, dalam artikel Bentuk Pertunjukan dan Makna Teks Seni Tutur Bak’ba dalam Masyarakat Desa Simpang Parit Kabupaten Merangin Provinsi Jambi yang terbit di jurnal Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni volume 27 nomor 1 tahun 2025. Datanya dikumpulkan lewat pengamatan langsung, dokumentasi, dan wawancara di desa itu, yang terletak di Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Jambi.

Usia keseniannya diperkirakan sekitar tiga ratus tahun. Sekarang ia jarang terdengar. Bak’ba masih muncul di pesta pernikahan, khitanan, penyambutan tamu, dan malam takbiran, tetapi paling sering justru pada acara pemerintahan seperti hari jadi kabupaten dan festival seni. Generasi muda desa itu, tulis ketiga peneliti, nyaris tidak mengenalnya lagi.

Penyebab yang mereka sebut ada dua: ikatan antara tradisi sosial dan adat istiadat yang makin longgar, serta sikap acuh terhadap pemakaian sastra lisan dalam keseharian. Satu penyebab lagi lebih teknis, yaitu dokumentasinya yang hampir tidak ada.

Daftar Isi
  1. Bak’ba: Berbalas Pantun yang Dinyanyikan
  2. Viul dan Ketuk: Biola Jambi dan Kayu Nangka
  3. Ketalang Petang: Pergi ke Ladang Sore Hari
  4. Konotatif: Makna yang Tidak Ada di Kamus

Bak’ba: Berbalas Pantun yang Dinyanyikan

Ilustrasi perempuan berbusana merah muda duduk di kursi kecil membawakan lagu diiringi pemusik di belakangnya.
Ilustrasi perempuan berbusana merah muda duduk di kursi kecil membawakan lagu diiringi pemusik di belakangnya. [Foto: Pexels]

Istilah pertama yang perlu diterjemahkan adalah sastra lisan. Yang dimaksud bukan cerita yang dibacakan, melainkan karya yang hanya hidup ketika diucapkan. Menurut ciri yang dipakai ketiga peneliti dari buku Tradisi Lisan Indonesia karya A. Amir, sastra lisan diiringi bunyi-bunyian atau vokal, memuat unsur hiburan sekaligus pendidikan, dan memakai bahasa setempat atau setidaknya dialek daerah. Bak’ba memenuhi ketiganya sekaligus. Waktunya pun mengikuti kebiasaan sastra lisan pada umumnya, yaitu malam hari; pertunjukan siang hanya dilakukan untuk alasan khusus, misalnya sebagai bagian acara penghormatan.

Bahan bakunya pantun, tetapi bukan pantun yang dibaca. Pantun dalam Bak’ba dinyanyikan dengan irama, dan setiap dua baris diulang dua kali. Sebagian besar tidak pernah ditulis di kertas maupun buku; pantunnya sudah ada di kepala penutur dan disusun saat itu juga menyesuaikan tema acara. Hanya dua lagu yang sudah dibakukan, yaitu Ketalang Petang dan Pegi ke Tembang, dan dua lagu itulah yang bisa dicatat notasinya oleh peneliti. Sisanya lahir dan hilang pada malam yang sama.

Baca juga Dua Gendang Bengkulu yang Sengaja Tak Seketuk

Karena spontan, isinya bisa apa saja: percintaan, kesedihan, kegembiraan, sindiran, nasihat hidup, sampai kabar terbaru di kampung. Penonton bahkan memesan lagu dan memesan pantun sindiran untuk sesama penonton. Di titik ini pendengar dari luar desa biasanya salah kira, mengira ia sedang menonton nyanyian hiburan biasa yang bisa langsung dipahami. Penonton setempat memang tertawa, bersorak, bertepuk tangan, bahkan menari, sehingga suasananya tampak terbuka bagi siapa saja.

Ketiga peneliti mengoreksi anggapan itu sejak awal artikel mereka. Tulis Lirna Viony dan timnya tentang satu bait yang mereka kutip: “Jika diperhatikan sepintas, maka kita tidak akan mengerti maksud dan makna bait pantun di atas, karena bait pantun tersebut menggunakan bahasa daerah masyarakat setempat.” Bahasa desa itulah yang menjadi kunci, dan sekaligus yang membuat kesenian ini paling rapuh.

Viul dan Ketuk: Biola Jambi dan Kayu Nangka

Ansambelnya kecil, dua sampai lima orang, dengan pemain berusia 33 sampai 63 tahun. Yang memimpin adalah gendang Melayu, alat pukul bermembran berdiameter sekitar 36 sentimeter dan tinggi 22 sentimeter, dimainkan dengan telapak tangan. Tugasnya dua: memberi aksentuasi dan mengatur tempo.

Pola gendang itu pula yang menjadi kode pembuka bagi pemain lain, lalu gong dan ketuk masuk bersamaan, dan sesudah melodi berulang beberapa kali gendang memberi kode masuk bagi penutur. Dahulu Bak’ba hanya diiringi gendang Melayu; gong dan ketuk datang belakangan.

Viul adalah nama setempat untuk biola. Alat gesek berdawai empat itu bersenar E, A, D, dan G, dimainkan dengan penggesek, dan di Jambi lebih dikenal dengan sebutan viul ketimbang violin. Di dalam Bak’ba ia memegang melodi utama, posisi yang di banyak kesenian Melayu lain dipegang alat tiup. Pemainnya duduk di sisi kiri, bersama pemain gong, sementara penutur berada di tengah dan pemain gendang serta ketuk di sisi kanan.

Gong pada ansambel ini berdiameter sekitar 50 sentimeter dengan tinggi 12 sentimeter. Pemukulnya tongkat besi sepanjang 28 sentimeter berdiameter empat sentimeter, ujungnya dibalut kain dan potongan ban dalam supaya bunyinya tidak keras. Gong dipukul pada ketukan berat, memperkuat aksen dan melodi. Balutan kain dan karet itu contoh kecil bagaimana ansambel ini disetel dengan bahan yang ada, bukan dengan perlengkapan pabrik.

Baca juga Tiga Mahasiswa Prancis dan Bunyi Indonesia yang Sulit

Yang paling tidak lazim adalah ketuk, alat musik nonkonvensional, artinya alat yang tidak masuk kategori tradisional maupun populer dan bisa dibuat dari bahan apa saja. Ketuk di Simpang Parit dibuat dari kayu pohon nangka, panjangnya sekitar 140 sentimeter dan lebar 20 sentimeter, bentuknya menyerupai cabai. Di tengahnya dipahat lubang sepanjang 51 sentimeter dengan kedalaman kira-kira 13 sentimeter, dan lubang itulah yang dipukul dengan kayu sepanjang 30 sentimeter pada ketukan ringan.

Kostumnya diambil dari koleksi Sanggar Seni Mas Tandan milik Harmaini, tempat seluruh instrumen disimpan dan tempat pemain berlatih sepekan sebelum tampil. Perempuan memakai baju kurung dengan kain batik khas Merangin bermotif durian pecah dan burung kuau serta penutup kepala bernama tengkuluk. Laki-laki memakai teluk belango dengan pengikat kepala khas Jambi yang disebut lacak. Warnanya sudah disepakati lebih dulu, kuning untuk perempuan dan oranye untuk laki-laki, dan seluruh kostum disimpan sekamar dengan instrumen supaya bisa langsung diangkut pada hari pertunjukan.

Ketalang Petang: Pergi ke Ladang Sore Hari

Nama lagu pertama itu terjemahan langsung dari kebiasaan setempat. Ketalang berarti pergi ke ladang, petang berarti sore hari. Lagunya bertempo moderato pada 115 ketukan per menit, dibawakan sekitar 15 menit, dan menceritakan muda-mudi desa yang berangkat menanam padi menjelang senja. Tempo itu lebih cepat daripada lagu kedua. Yang dinyanyikan pun kegiatan biasa: berjalan kaki ke Tanah Sekenan, memasang bendera dari kain panjang di atas pematang sebagai tanda ada orang bertani, lalu duduk di batang pohon berbalas pantun sampai siang.

Isinya bukan kiasan. Bait pembuka lagu itu, dalam transkripsi ketiga peneliti, berbunyi: “Daun lah palo daun terentang / Katigo inyo daun ketaghi / Iko cerito Ketalang Petang / Dusunnyo kami menanam padi”, yang mereka artikan sebagai daun pala dan daun terentang, ketiga yaitu daun kari, ini cerita pergi ke ladang pada sore hari, desa kami saat menanam padi.

Lagu kedua, Pegi ke Tembang, bertempo andantino pada 100 ketukan per menit. Betembang berarti menambang. Lagu ini lahir dari peristiwa nyata di Teluk Mudo, tempat warga desa mendulang emas, dan yang diceritakan bukan emasnya melainkan perselingkuhan sejumlah suami dengan perempuan yang bekerja sebagai tukang masak di lokasi tambang. Maksudnya sindiran sekaligus nasihat agar kesalahan yang sama tidak berulang.

Baca juga Wayang dan Sate dalam Terjemahan Cantik Itu Luka

Bait penutupnya menghitung akibat, bukan menghakimi. Larik terakhir lagu itu berbunyi: “Sudah enam bulan bebini mudo / Duit di tangan lah abis pulo / Teingat balek ke bini lamo / Bini lamo lah benci pulo”, yang berarti sudah enam bulan beristri muda, uang di tangan sudah habis, teringat kembali ke istri lama, istri lama sudah terlanjur benci. Di bait ketiga lagu itu para pemain lebih dulu meminta maaf kepada penonton yang mungkin merasa disindir.

Konotatif: Makna yang Tidak Ada di Kamus

Dua istilah terakhir dipakai untuk memilah isi pantun. Makna denotatif adalah arti apa adanya, arti yang bisa ditunjuk, seperti kata makan yang berarti memasukkan sesuatu ke mulut, mengunyah, lalu menelan. Makna konotatif adalah arti tambahan yang muncul dari situasi dan nilai rasa, dan menurut rujukan yang dipakai ketiga peneliti, makna semacam itu jarang masuk kamus kecuali sudah menjadi konotasi umum.

Hasil pemilahannya berbeda antara dua lagu. Enam bait Ketalang Petang hampir seluruhnya denotatif, menggambarkan gotong royong menanam padi apa adanya, dan hanya bait keenam yang berkiasan, yakni bertani dengan perasaan senang. Pegi ke Tembang sebaliknya, memuat keduanya: melihat ke kiri dan ke kanan berulang kali dibaca sebagai sedang mencari sesuatu, sedangkan bermain mata dibaca sebagai isyarat munculnya hasrat.

Rimanya juga tidak seragam seperti pantun sekolah. Pantun Bak’ba memakai pola a-a-a-a, a-b-a-b, a-b-b-a, a-b-a-a, a-a-a-b, dan a-b-a-c. Pada Ketalang Petang ditemukan rima bersilang, berpeluk, dan patah; pada Pegi ke Tembang muncul rima akhir, terbuka, mutlak, patah, dan rangkai. Pada Ketalang Petang, empat dari enam baitnya berima patah, kebalikan dari anggapan bahwa pantun selalu bersilang. Rima sendiri berarti persamaan bunyi pada baris pantun, entah di awal, di tengah, atau di akhir baris, dan posisinya itulah yang dipakai membedakan tujuh pola tadi.

Batas kajian ini perlu disebut. Yang bisa ditranskripsikan hanyalah dua lagu yang sudah dibakukan itu, sementara sebagian terbesar pantun Bak’ba dinyanyikan spontan dan tidak pernah dituliskan, sehingga tidak masuk hitungan. Penelitiannya juga terbatas pada satu desa dan satu kelompok pemain. Ketiga peneliti sendiri menyebut seni tutur ini belum dihimpun menjadi dokumen lengkap dan dikhawatirkan hilang. Untuk sekarang, arti kata ketalang masih bisa ditanyakan kepada orang yang menyanyikannya.

Bagikan

Baca Juga

Beberapa laki-laki berseragam kuning hitam memukul kompang dan sebuah bass drum di jalan
Kompangan, Lima Pola Pukulan yang Mengiringi Cukuran Bayi
Menara Tabuik berhias payung kertas putih dengan sepasang sayap lebar di bagian bawah dan latar langit
Kuda Bersayap di Kaki Tabuik Pariaman
Pasar Gede Harjonagoro, Surakarta.
Kompyang Pak Haryono, Roti Tanpa Merek di Pasar Gede
Tepak sirih, wadah adat masyarakat Melayu.
Enam Pantun Meminang dari Desa Semata, Sambas
Air dituangkan dari ceret ke dalam sebuah gelas bening
Air Garam dan Mantra Sakit Perut dari Desa Jomboran
Permukaan Sungai Batanghari yang lebar dengan cahaya senja
Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim