Cekricek.id — Kata “khas” dalam bahasa Indonesia dan kata cash dalam bahasa Inggris tidak punya hubungan apa pun, sampai keduanya keluar dari mulut orang yang sama di sebuah ruang kedap suara di perpustakaan Institut National des Langues et Civilisations Orientales, Paris. Yang menyamakannya cuma satu hal: bunyi “kh” tidak ada dalam bahasa Prancis. Yang membedakannya jauh lebih besar. Yang satu berarti ciri yang melekat pada sesuatu, yang satu lagi berarti uang tunai. Ketiga mahasiswa yang direkam di ruangan itu mengucapkannya sama persis.
Rekaman itu diambil antara 1 dan 21 Februari 2023 oleh Protasius Isyudanto dan Myrna Laksman-Huntley dari Universitas Indonesia. Hasilnya terbit sebagai artikel berjudul Extralinguistic factors influencing Indonesian language learning in France di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 2 tahun 2025, halaman 187 sampai 206. Alatnya sederhana: mikrofon sebuah telepon genggam Xiaomi POCO M3, dengan mikrofon laptop Lenovo Thinkpad E14 sebagai cadangan. Ketiga subjeknya mahasiswa jurusan Melayu-Indonesia di INALCO, penutur jati bahasa Prancis, dengan usia rata-rata 32 tahun. Rancangannya dibuat berpasangan sejak awal. Dua puluh kata Indonesia dipilih karena memuat sepuluh bunyi yang diperkirakan menyulitkan, lalu kata-kata itu ditanam di tengah sepuluh kalimat. Setiap kalimat diucapkan tiga kali oleh setiap subjek, supaya kesalahan yang berulang bisa dipisahkan dari keseleo lidah biasa. Kesalahan yang berulang disebut kekeliruan sistem, yang tidak berulang disebut kekhilafan. Yang dihitung hanya yang pertama. Naskahnya sendiri diterima redaksi Diksi pada 25 Agustus 2025 dan terbit pada 30 September tahun yang sama.
Daftar Isi
Bapak dan Bakso, Dua Kata dengan Satu Bunyi yang Hilang

Dua kata itu dimasukkan ke dalam satu kalimat: Bapak saya makan bakso. Keduanya memuat bunyi hentakan glotal, tekanan pendek di tenggorokan yang dalam ejaan Indonesia ditulis dengan huruf k. Bunyi itu tidak ada dalam sistem bunyi bahasa Prancis. Ketiga subjek melakukan hal yang sama tanpa berunding: mereka menggantinya dengan bunyi k biasa. Kedua penelitinya menduga penggantian itu diperkuat oleh ejaannya sendiri, karena para subjek melihat huruf k lalu mengucapkannya sebagai k. Untuk kedua kata itu akibatnya ringan. Artinya tidak berubah, dan lawan bicara tetap paham.
Pasangan berikutnya lebih ramai. Kata “cicak” dan “cacing” ditaruh dalam satu kalimat untuk menguji bunyi c, sementara “jajanan” dan “penjajahan” dipakai menguji bunyi j. Bahasa Prancis tidak memiliki keduanya. Untuk bunyi c, ketiga subjek berpindah ke bunyi yang paling dekat dalam bahasa mereka, semacam bunyi ce pada kata Prancis cire. Untuk bunyi j, ketiganya memakai bunyi zye, karena huruf j dalam bahasa Prancis memang dibaca demikian. Dua-duanya tergolong penggantian bunyi, dan dua-duanya tidak mengubah arti kata.
Khas dan Harus, Ketika Salah Ucap Mengganti Arti
Di sinilah dua pasangan kata memisahkan diri dari yang lain. Kata “khas” dan kata “akhir” sama-sama memuat bunyi kh yang tidak dikenal dalam bahasa Prancis, tetapi para subjek tidak menyelesaikannya dengan cara yang sama. Pada “akhir” mereka menggesernya menjadi h, pada “khas” mereka menggesernya menjadi k. Penjelasan yang diajukan bersifat mekanis: bunyi k menuntut sentuhan di langit-langit, sedangkan bunyi a dan h di sekitarnya menempatkan lidah lebih rendah. Ada dugaan tambahan bahwa mereka lebih sering mendengar kata “akhir” diucapkan sebagai ahir. Akibatnya berbeda tajam. Salah ucap pada “akhir” hanya soal bunyi; salah ucap pada “khas” membuatnya terdengar seperti kata asing yang berarti uang tunai.
Baca juga Kamar Dunya dan Sekolah Nur dalam Cerita Anak Arab
Pasangan kedua bekerja dengan pola yang persis terbalik. Bunyi h tidak diucapkan dalam bahasa Prancis, maka ketiga subjek cenderung menghilangkannya. Pada kata “rupiah” hilangnya bunyi h di akhir kata tidak menimbulkan apa-apa. Pada kata “harus” hilangnya bunyi h di awal kata mengubah kata itu menjadi “arus”, dan artinya ikut berpindah. Satu subjek berhasil melafalkan h di awal kata tetapi gagal di akhir kata, satu subjek lain melakukan kebalikannya. Kedua peneliti menghubungkan keberhasilan di akhir kata dengan tenaga artikulasi yang lebih ringan dibanding di posisi awal.
Baca juga Sebelas Wajah Penantian dalam Lirik Didi Kempot
Bunyi ng menghasilkan dua jalan keluar yang berbeda dari tiga orang yang sama-sama menghadapi kata “jangan” dan “pengalengan”. Subjek pertama menyederhanakannya menjadi bunyi n. Dua subjek lain justru menambahkan bunyi g di belakangnya, sehingga “jangan” terdengar seperti kata lain dan “pengalengan” terdengar berat. Tambahan itu, menurut kedua peneliti, menandakan bahwa keduanya sebenarnya sanggup mengucapkan bunyi ng, tetapi bahasa ibunya tidak mengenal bunyi itu diikuti vokal. Yang pertama kekurangan, yang kedua kelebihan, dan hanya yang kedua yang berpeluang membuat lawan bicara bingung. Di sebelahnya ada juga daftar yang bersih. Kata “santai” dan “melambai” dilafalkan ketiganya tanpa satu pun kesalahan, begitu pula “koboi” dan “boikot”. Diftong yang mirip memang ada dalam bahasa Prancis. Yang gagal justru pasangan “harimau” dan “pulau”: kata kedua lolos, kata pertama tidak. Dua subjek meratakan diftongnya mengikuti ejaan, satu subjek menyelipkan bunyi r yang tidak ada di kata itu, agaknya terbawa deretan kata ber-r yang baru saja ia baca. Dari empat jenis interferensi bunyi yang dikenal dalam kerangka Weinreich, hanya tiga yang muncul pada ketiga subjek.
Subjek A dan Subjek C, Satu Tahun Berbanding Tiga Tahun
Dari 20 kata yang diuji, mahasiswa tahun pertama keliru pada 16 kata, mahasiswa tahun kedua pada 12 kata, dan mahasiswa tahun ketiga pada 9 kata. Ketiganya berbahasa ibu Prancis, ketiganya belajar di ruang kelas yang sama, dan ketiganya menyebut lingkungan belajarnya kondusif karena dosen mereka tidak menghukum kesalahan dan pelajaran produksi lisan diberikan penutur jati bahasa Indonesia. Yang membedakan hanya lama belajar. Angkanya turun searah dengan tahun studi, dan itulah temuan yang paling tegas dalam artikel ini.
Frekuensi belajar bergerak ke arah yang sama: enam jam sepekan pada tahun pertama, sembilan jam pada tahun kedua, sepuluh jam pada tahun ketiga. Frekuensi memakai bahasa Indonesia tidak. Mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga sama-sama memakainya enam jam sepekan, tetapi jumlah kesalahannya terpaut tujuh. Selisihnya, menurut kedua peneliti, terletak pada tempat pemakaiannya: yang pertama hampir seluruhnya di ruang kelas, dua yang lain di luar kelas. Jumlah metode belajar yang melatih telinga dan mulut juga berbeda, satu berbanding dua berbanding tiga.
Motivasi dan Umpan Balik, Dua Hal yang Tidak Selalu Sejalan
Dua jenis dorongan dibandingkan dalam artikel ini. Motivasi integratif lahir dari keinginan masuk ke dalam masyarakat penutur bahasa itu; motivasi instrumental lahir dari tujuan di luar bahasanya, seperti bekerja di negara tersebut. Mahasiswa tahun pertama punya motivasi integratif, tetapi dorongannya tertuju pada membaca teks, memahami lagu, dan bepergian, sehingga latihan lisannya tertinggal. Mahasiswa tahun ketiga punya dorongan integratif yang lebih kuat karena keluarganya di Suriname berdarah Indonesia, dan ia menambahkan alasan instrumental berupa keinginan bekerja dengan orang Indonesia. Kepribadian dibaca dengan lima faktor besar, dan dua di antaranya bergerak berlawanan. Ketelitian atau kedisiplinan naik searah dengan kemampuan berbahasa, dari skor 74 pada mahasiswa tahun pertama sampai 100 pada mahasiswa tahun ketiga. Neurotisme bergerak sebaliknya, dari 82 turun ke 56. Yang mematahkan dugaan umum justru kecakapan sosial. Mahasiswa tahun kedua memiliki skor keterbukaan dan keramahan tertinggi, tetapi tetap membuat kesalahan lebih banyak daripada mahasiswa tahun ketiga yang skor sosialnya paling rendah.
Baca juga Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati
Pengalaman tinggal di Indonesia pun tidak menolong sebanyak yang diduga. Hanya mahasiswa tahun kedua yang pernah tinggal di Indonesia selama lima bulan, dan itu terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum ia mulai belajar bahasa Indonesia secara formal. Ia tetap membuat kesalahan lebih banyak daripada rekannya yang belum pernah menginjak Indonesia. Yang justru sejalan dengan kemampuan adalah masukan dan umpan balik: rendah pada mahasiswa tahun pertama, tinggi pada dua yang lain. Identitas keagamaan dan asal usul keluarga mendorong minat, tetapi tidak menaikkan kemampuan.
Yang paling mengejutkan adalah bagian tentang akibatnya. Dari 23 bentuk kesalahan yang tercatat, 86 persen tidak mengubah arti kata dan 14 persen mengubahnya. Dalam percakapan spontan dengan ketiga subjek, kesalahan itu tidak menghambat pemahaman dan tidak memaksa siapa pun memakai isyarat tangan. Temuan itu berselisih dengan Okeke yang pada 2020 menyatakan interferensi bunyi menghambat komunikasi. Kegagalan komunikasi, tulis Isyudanto dan Laksman-Huntley, lebih sering berpangkal pada rendahnya kecakapan berkomunikasi secara keseluruhan, bukan pada bunyi yang meleset.
Kedua peneliti menuliskan sendiri di mana kesimpulan itu berhenti. “Data yang dipakai dalam penelitian ini terbatas dan karena itu bisa menghasilkan simpulan yang tidak sempurna”, tulis mereka di bagian penutup, sambil menyarankan pengujian kuantitatif lanjutan memakai uji t atau kai kuadrat. Mereka juga mengingatkan bahwa hanya satu dari tiga subjeknya perempuan, sehingga pernyataan apa pun tentang pengaruh jenis kelamin pada penguasaan bahasa berpeluang keliru. Satu sisi lagi belum tersentuh: perannya guru, yang mereka serahkan kepada penelitian berikutnya.
Maka ada dua hal yang berdiri sejajar di ujung artikel ini dan tidak ada yang memenangkan salah satunya. Di satu sisi, lama belajar mengalahkan tempat tinggal, motivasi, dan kepribadian sebagai penentu ketepatan lafal. Di sisi lain, seluruh temuan itu berasal dari tiga orang, dua puluh kata, dan tiga pekan perekaman. Bunyi kh yang menjadi kas dan bunyi h yang membuat harus menjadi arus tetap tercatat sebagai dua kesalahan dari daftar yang sama pendeknya.














