Kamar Dunya dan Sekolah Nur dalam Cerita Anak Arab

A A

Ilustrasi buku cerita anak bergambar terbuka dengan aneka gambar binatang berwarna. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Kamar yang Bersih, Jalan yang Kotor
  2. Rumah Pertama dan Rumah Kedua
  3. Pohon yang Dulu Ada, Asap yang Kini Tinggal
  4. Anak yang Bertanya, Orang Dewasa yang Menjawab

Cekricek.id — Sebuah kamar tidur yang baru saja diberesi dan sebuah halaman sekolah yang tanamannya mati adalah dua tempat yang seolah tidak punya urusan satu sama lain, sampai keduanya dibaca sebagai ukuran seberapa jauh kepedulian seorang anak sanggup menjangkau. Yang pertama milik anak perempuan bernama Dunya, yang kedua milik anak lelaki kelas dua sekolah dasar bernama Nur. Keduanya tokoh dalam seri cerita anak berbahasa Arab, dan keduanya sampai pada tindakan yang sama dari arah yang berbeda: membereskan tempat yang mereka anggap milik mereka sendiri.

Pembacaan atas kedua tokoh itu dikerjakan Moh. Rifqi Habibullah dan Ma’rifatul Munjiah dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Hasilnya terbit dengan judul Place-attachment as a conservation effort in the children’s story series “Bait al-Ahdhar”: Lawrence Buell’s ecocritical perspective di jurnal LITERA, Volume 24 Nomor 2, tahun 2025. Objeknya seri cerita anak Bait al-Ahdhar karya Hadil Ghanim dan Walid Tahir, terbitan Daar as-Syuruq, Mesir, 2008. Seri itu terdiri atas enam judul, masing-masing setebal 24 halaman, dan tiga di antaranya dibedah dalam artikel tersebut.

Alat bacanya diambil dari Lawrence Buell, kritikus sastra yang menulis Writing for an Endangered World. Buell menyusun lima dimensi keterikatan pada tempat: lingkaran sepusat, kepulauan lokal, kesejarahan tempat, akumulasi waktu, dan keterikatan pada tempat yang hanya ada dalam bayangan. Empat yang pertama ditemukan Habibullah dan Munjiah di dalam seri cerita itu. Dimensi kelima tidak muncul sama sekali, dan mereka tidak memaksakannya.

Cara kerjanya sederhana dan bisa diperiksa ulang. Keduanya membaca seri itu berulang-ulang, menandai bagian yang masuk ke dalam kerangka Buell dengan teknik catat, lalu memilah bahan memakai model Miles, Huberman, dan Saldana: kondensasi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Sumber utamanya kutipan serta gambar dari tiga cerita, sedangkan buku dan artikel lain dipakai sebagai penopang. Yang mereka baca adalah teksnya, bukan anak-anak yang membaca teks itu, dan pembedaan tersebut menentukan sejauh mana temuannya boleh dibawa.

Alasan memilih masa kanak-kanak juga bukan sentimen belaka. Laporan Home to Us All yang disusun Charles dan rekan-rekannya pada 2018 menempatkan masa kanak-kanak di posisi utama ketika manusia dihubungkan kembali dengan alam. Mackey menemukan bahwa anak yang diberi kesempatan menjelajah, memutuskan, dan bertindak lebih mungkin tumbuh menjadi pendukung keberlanjutan yang percaya diri, sementara Chawla mencatat anak yang sering berinteraksi dengan lingkungannya cenderung lebih peduli pada kelestariannya. Buell sendiri berangkat dari sisi lain, yaitu sastra.

Kamar yang Bersih, Jalan yang Kotor

Ilustrasi seorang dewasa dan anak kecil memilah sampah ke dalam wadah plastik di dapur.
Ilustrasi seorang dewasa dan anak kecil memilah sampah ke dalam wadah plastik di dapur. [Foto: Pexels]

Cerita Dunya Tufakkir dimulai dari kerapian. Sepupu-sepupu Dunya baru saja bermain di kamarnya, dan begitu mereka pergi, ia merapikan mainan lalu mengumpulkan sampah. Persoalannya muncul pada langkah berikutnya: tanpa berpikir panjang, ia membuang semua yang tidak diinginkannya ke luar pintu kamar. Di halaman itu ayahnya menahan langkah tersebut dengan satu pertanyaan pendek yang tertulis dalam dialog cerita, “Coba pikirkan sebentar, Dunya. Bukankah ini rumahmu?”

Baca juga Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban

Jawaban Dunya adalah tawaran jalan pintas yang khas anak-anak. Ia mengusulkan agar sampah itu dilempar saja lewat jendela, dan usulan itu memancing pertanyaan kedua dari ayahnya, yang dalam cerita berbunyi, “Bukankah ini jalan kita? Bayangkan pemandangannya kalau semua orang membuang sampah ke jalan.” Baru pada titik itu Dunya mengaku ayahnya benar. Buell menyebut pola semacam ini lingkaran sepusat: makin jauh sebuah tempat dari titik pusat, makin tipis keterikatan dan rasa bertanggung jawab seseorang atasnya.

Kamar tidur adalah titik pusat itu bagi Dunya. Di sanalah ia bermain, tidur, belajar, dan menenangkan diri, sehingga ruang tersebut punya makna yang tidak dimiliki ruang keluarga atau jalan di depan rumah. Rumah sudah menjadi milik bersama, jalan lebih jauh lagi menjadi milik orang banyak, dan kepemilikan bersama itulah yang menipiskan rasa tanggung jawab. Habibullah dan Munjiah mengaitkan kecenderungan tersebut dengan temuan Chawla, yang mencatat bahwa anak-anak mengutamakan ruang pribadi seperti kamar sebagai tempat berlindung dan menyendiri. Yang penting, cerita itu tidak berhenti pada teguran. Ayah Dunya melanjutkannya dengan dua pertanyaan yang harus diajukan anak itu kepada dirinya sendiri sebelum membuang apa pun: apakah dari benda ini bisa dibuat sesuatu yang berguna, dan apakah orang lain masih bisa memanfaatkannya. Sisanya, kata Dunya di akhir dialog, baru masuk tempat sampah. Sesudah percakapan itu ia diajak ayahnya melihat pengolahan daur ulang di Qottamiyah, dan lingkaran kepeduliannya melebar tanpa pernah kehilangan pusatnya.

Rumah Pertama dan Rumah Kedua

Cerita Madrasah Man?! bergerak dari arah sebaliknya, yaitu dari tempat yang sejak awal bukan milik pribadi. Nur kembali ke sekolah sesudah libur musim panas dengan perasaan senang, lalu berhenti di halaman karena melihat tanaman yang mati dan dinding yang menua. Ia menyampaikan hal itu kepada teman-temannya, dan temannya, Wael, menanggapi dengan kalimat yang membuat perbedaan sikap keduanya terang: setelah membenarkan bahwa dinding sekolah tampak tua, Wael tertawa dan berkata, “Memangnya ini rumah kita? Ayo main saja!”

Bagi Nur, jawabannya justru ya. Sebagian besar harinya dihabiskan di sekolah untuk belajar, bermain, dan bergaul, dan di kelas ia menemukan mejanya sendiri ikut rusak. Ketika Huda bertanya kepada guru mereka, Bu Fatimah, mengapa kerusakan itu dibiarkan, jawabannya sederhana dan pahit, “Kami sudah meminta bantuan pemerintah daerah, tetapi sekolahnya banyak dan dananya sedikit, jadi kami harus menunggu giliran.” Nur memilih tidak menunggu. Sorenya ia berunding dengan ayahnya, Pak Hassan, seorang tukang kayu.

Baca juga Daun yang Digesek Jadi Motif Kain di Gorontalo

Inilah dimensi yang oleh Buell disebut kepulauan lokal: keterikatan yang tidak berpusat pada satu tempat tinggal, melainkan tersebar pada beberapa tempat yang sama-sama dianggap penting. Sekolah, taman, atau tempat kerja bisa berfungsi sebagai rumah kedua meski letaknya berjauhan. Habibullah dan Munjiah menghubungkan hal itu dengan temuan Ellis, yang mencatat bahwa pengalaman belajar, bermain, dan berbagi momen di kelas perlahan membentuk identitas serta rasa memiliki terhadap sekolah. Hasilnya digambarkan pada halaman-halaman terakhir cerita. Paman Maher menanam tanaman baru di halaman, murid-murid membantu guru mengecat dinding dan menghiasinya dengan gambar, dan kepala sekolah membagikan teh dibantu Wael. Kepada Nur, kepala sekolah itu berkata, “Terima kasih atas gagasan yang bagus dan kerja keras ini.” Perbaikan tersebut menyelesaikan dua hal sekaligus: bangunannya diperbaiki, dan ikatan sosial di antara mereka yang mengerjakannya dikuatkan.

Pohon yang Dulu Ada, Asap yang Kini Tinggal

Tokoh ketiga tidak berurusan dengan kamar atau kelas, melainkan dengan seluruh kota. Said, anak lelaki yang tinggal di sebuah kota di Mesir, menyukai deretan pohon di tepi jalan dan aroma bunga, tetapi yang ia temui berbeda dari yang ia sukai. Dalam ceritanya tertulis kalimat, “Aku suka melihat pohon di jalan, tetapi yang kulihat hanya pohon sakit di samping rumah-rumah.” Bau bunga, dalam kalimat berikutnya, sudah berganti menjadi bau asap.

Buell menyebut dimensi ini kesejarahan tempat, yaitu keterikatan yang tumbuh dari fungsi dan perubahan sebuah tempat sepanjang waktu. Merujuk Kent Ryden, Habibullah dan Munjiah menulis bahwa sebuah tempat tidak pernah hanya berwujud fisik; ada lapisan tak terlihat berupa penggunaan, ingatan, dan makna yang menempel padanya. Ingatan Said tentang pohon rindang dan bunga yang harum adalah lapisan itu. Kepedihannya muncul karena ia punya pembanding, bukan karena ia diberi tahu bahwa lingkungannya rusak. Yang dilakukan Said sesudah itu pun bukan tindakan besar, melainkan pertanyaan. Ia bertanya kepada ayah dan ibunya bagaimana caranya mengubah keadaan tersebut, dan jawaban keduanya memindahkan beban itu dari pundak seorang anak ke pundak bersama. Ayahnya mengajak berpikir bersama tentang persoalan lingkungan, sementara ibunya menjawab, “Mari kita bekerja sama, karena masalah pencemaran lingkungan adalah masalah kita semua.” Perubahan kota itu, dalam bacaan kedua peneliti, terbaca sebagai peralihan dari kehidupan desa ke kehidupan kota beserta seluruh akibatnya.

Kerangka Buell sudah dipakai orang lain untuk bacaan yang jauh berbeda. Ghosal dan Modak menelusuri hubungan antara diri dan hutan dalam novel Aranyak karya Bibhutibhushan Bandyopadhyay, Wajid dan rekan-rekannya membaca trauma serta keterikatan tempat dalam Where the Streets Had a Name karya Randa Abdul-Fattah, dan Sjostedt membedah makna tempat dalam The Hobbit. Semuanya berpusat pada tokoh dewasa atau pada lanskap yang luas. Yang membedakan kajian ini, menurut kedua penulisnya, adalah tokohnya anak-anak dan tempatnya sempit: kamar, kelas, halaman, dan satu ruas jalan di depan rumah.

Anak yang Bertanya, Orang Dewasa yang Menjawab

Dimensi keempat kembali kepada Nur, tetapi dari sisi waktu. Akumulasi waktu, dalam rumusan Buell, adalah keterikatan yang terbentuk dari tumpukan pengalaman di tempat yang dianggap penting. Nur masuk sekolah tahun itu tanpa rasa takut seperti tahun sebelumnya karena ia sudah kelas dua dan teman-temannya masih sama. Ia juga teringat perbuatannya sendiri di kelas satu, mulai dari melompati bangku sampai memetik tanaman di halaman, dan ingatan itu membuatnya malu.

Baca juga Mesin Jahit dan Legaran Randai di Satu Panggung

Rasa malu tersebut yang membuat perbaikan sekolah menjadi urusannya. Nur tahu sebagian kerusakan itu buah dari cara ia dan kawan-kawannya bermain pada tahun sebelumnya, sehingga tanggung jawabnya bukan tanggung jawab yang dipinjam dari orang dewasa. Di sinilah dua dimensi bertemu pada satu tokoh: sekolah berharga karena ia sering berada di sana, dan sekolah berharga karena ia punya riwayat di sana. Habibullah dan Munjiah menutup bagian ini dengan menempatkan orang tua dan guru sebagai penuntun, bukan sebagai pengganti anak.

Kesimpulan yang mereka tarik dinyatakan dengan takaran. Temuan itu, tulis kedua peneliti, menunjukkan bahwa keterikatan pada tempat dapat menjadi jalan bagi anak dalam upaya menjaga lingkungan. Kata yang dipakai bukan pasti, melainkan dapat. Batasnya pun mereka sebut sendiri: kajian ini bersandar hanya pada satu teori, yaitu ekokritik Lawrence Buell, dan hanya bergerak di wilayah ekokritik tanpa memperhitungkan sisi geografi, budaya, serta sosial-politik.

Batas berikutnya melekat pada objeknya. Yang dibaca adalah tiga cerita dari satu seri terbitan Mesir, bukan sastra anak Arab secara keseluruhan, apalagi anak-anak yang membacanya. Tokoh bernama Dunya, Nur, dan Said adalah tokoh rekaan; yang bisa diukur dari mereka adalah cara sebuah cerita menyusun kepedulian, bukan cara pembacanya berubah. Kedua peneliti menyarankan riset lanjutan yang memakai pendekatan lintas bidang untuk menutup lubang itu.

Dua tempat yang tadi disandingkan pada akhirnya tidak dimenangkan salah satunya. Kamar Dunya mengajarkan bahwa kepedulian tumbuh dari yang paling dekat lalu melebar dengan susah payah; halaman sekolah Nur mengajarkan bahwa tempat yang dimiliki bersama pun bisa terasa milik sendiri kalau seseorang cukup lama berada di sana. Seri cerita itu tidak memutuskan mana yang lebih dulu tumbuh, rasa memiliki atau rasa peduli. Yang jelas keduanya bertemu di ruang yang sama sempitnya: satu kamar, satu halaman, dan seorang dewasa yang kebetulan mau menjawab pertanyaan.

Bagikan

Baca Juga

Anak Tanpa Nama dalam Novel Heaven Mieko Kawakami
Kritik Modernitas dalam Mata dan Manusia Laut
Di Bursa Pakistan, Saham Rawan Baru Terpukul pada Bulan Terburuk
Enam dari Sepuluh Pasien India Tahu Asuransi, Dua yang Punya
Globalisasi Mengerem Ekonomi Turki Dulu, Baru Menumbuhkannya
Kekerasan Negara Tak Terbukti Hambat Industri Afrika Sub-Sahara