Cekricek.id — Adelia Savitri berhenti di halaman tujuh belas sebuah novel anak. Di halaman itu penduduk sebuah kampung nelayan menjelaskan mengapa tak seorang pun di antara mereka memegang ijazah sekolah. Dosen Program Studi Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur itu menandainya sebagai data pertama. Bersama Dwi Wahyuningtyas, pengajar Program Studi Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional di kampus yang sama, ia membaca ulang buku itu bukan sebagai dongeng, melainkan sebagai catatan tentang cara orang dewasa memandang orang lain.
Bacaan berdua itu terbit sebagai Kritik terhadap Modernisme sebagai Upaya Pelestarian Laut dalam Novel Mata dan Manusia Laut Karya Okky Madasari pada jurnal Mozaik Humaniora Volume 25 Nomor 1 tahun 2025. Objeknya satu buku, Mata dan Manusia Laut, terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2021. Latarnya Kampung Sama di Pulau Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, tempat rumah-rumah berdiri di atas air dan setiap keluarga memiliki sampan sendiri.
Okky Madasari menempatkan dua anak berhadapan. Matara datang dari Jakarta bersama ibunya untuk melihat manusia laut yang, menurut pemberitaan media internasional, memiliki limpa lebih besar daripada manusia pada umumnya. Bambulo lahir di Kampung Sama dan tumbuh di atas laut. Adelia dan Dwi membaca pertemuan itu sebagai dua sudut pandang yang tidak setara sejak awal: yang satu datang untuk melihat, yang lain menjadi yang dilihat.
Adelia dan Dwi membuka artikelnya dengan angka. Indonesia memiliki sekitar 17.500 pulau dan garis pantai sepanjang 81.000 kilometer, dengan luas perairan 6,32 juta kilometer persegi berbanding 1,91 juta kilometer persegi daratan menurut data yang mereka kutip. Di Sulawesi Tenggara, tempat cerita ini berlangsung, terumbu karang rusak oleh penambangan, bom ikan, dan sampah plastik. Novel yang mereka baca berdiri persis di atas kerusakan itu.
Daftar Isi
Halaman Tujuh Belas dan Alasan Menolak Ijazah

Pada halaman 17 novel itu tertulis bahwa orang kampung harus menyeberang ke darat kalau mau sekolah, dan kebanyakan malas melakukannya. “Jadi, sampai saat ini, belum ada orang di kampung yang punya ijazah sekolah. Lagi pula buat apa ijazah itu?” demikian bunyi bagian tersebut, yang kemudian menjawab pertanyaannya sendiri: setiap orang di kampung itu akan kembali ke laut, bekerja di laut, mencari uang di laut. Adelia dan Dwi menyalin bagian tersebut utuh sebagai data primer.
Baca juga Tiga Milimeter yang Menentukan Nilai Kerajinan Bambu
Bagi Adelia dan Dwi, penolakan itu bukan kemalasan. Jarak dan sulitnya akses memang menyulitkan, tetapi yang lebih menentukan adalah penilaian bahwa sekolah tidak menjawab persoalan hidup orang Kampung Sama. Bambulo, dalam bacaan keduanya, menyuarakan ukuran peradaban yang lain: seseorang dianggap cakap bila ia mahir mencari ikan dan membaca laut. Menolak ijazah, dengan demikian, adalah menolak ditempatkan di anak tangga paling bawah oleh ukuran orang lain.
Kesenjangan kedua yang ditandai Adelia adalah listrik. Novel itu menceritakan panel surya di rumah Bambulo rusak ketika ia berumur lima tahun dan tak seorang pun tahu cara memperbaikinya, sampai kabel perusahaan listrik negara masuk dan membawa serta tagihan bulanan. Listrik tetap menyala hanya pada malam hari. Adelia dan Dwi menyandingkan bagian itu dengan catatan Arjuno pada 2020 tentang pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Kaledupa dan Binongko yang tertunda oleh pandemi.
Siapa Menjadi Objek Siapa Ketika Peneliti Eropa Datang
Adegan berikutnya yang ditandai Adelia ada di halaman 41 dan 51. Orang-orang dari Eropa datang membawa peralatan menyelam dan alat pemeriksa tubuh, lalu meminta penduduk menyelam bersama mereka. Mereka memakai pakaian selam, sepatu khusus, masker, dan tabung oksigen di punggung; orang Kampung Sama menyelam tanpa alat apa pun kecuali kacamata buatan sendiri. Hasil penelitian itu, tulis novel tersebut, menyebutkan limpa mereka jauh lebih besar daripada limpa manusia kebanyakan.
Di titik inilah Adelia dan Dwi membalik posisi. Sekilas penduduk Kampung Sama adalah objek, sebab merekalah yang diperiksa. Namun ketakjuban para peneliti itu justru menjadikan mereka sumber pengetahuan baru bagi yang datang memeriksa. Temuan limpa besar itu memang bukan rekaan: Melissa Ilardo dan koleganya melaporkannya di jurnal Cell pada 2018, dan Sarah Gibbens menuliskannya untuk National Geographic pada tahun yang sama. Novel itu memakai ilmu pengetahuan modern untuk membalik hierarki yang dibangun ilmu pengetahuan modern sendiri.
Baca juga Mengapa Ongkos Pilkada Berpindah, Bukan Hilang
Alat baca yang dipakai Adelia dan Dwi adalah strukturalisme Tzvetan Todorov, khususnya aspek verbal, yakni sudut pandang. Todorov membagi telaah teks menjadi aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek verbal; kedua peneliti hanya memakai yang terakhir. A. Teeuw mereka kutip untuk menegaskan bahwa analisis struktural tidak berhenti pada pemetaan unsur, melainkan membongkar keterkaitannya. Pilihan itu mempersempit medan bacaan, dan mereka menyatakannya terbuka sejak bagian metode.
Bom Ikan yang Dilacak dari Malaysia sampai Jakarta
Pada halaman 215, novel itu membawa pembaca naik ke geladak kapal. Herman dan Ladasi, dua awak yang hanya diupah, mengangkut karung berisi bom ikan dari Malaysia menuju Mola. Pemilik kapalnya seorang juragan kaya raya yang sekaligus pejabat daerah. Muatan itu tidak berhenti di sana. Kapal lain akan membawanya ke Jakarta, kepada pengusaha yang menangkap ikan dalam jumlah sangat besar untuk dijual ke luar negeri. Adelia menandai rantainya, bukan orang-orangnya.
Yang menarik perhatian Adelia dan Dwi justru arah rantai itu. Perusak laut dalam novel ini bukan orang kampung yang dicap primitif, melainkan mereka yang paling dekat dengan teknologi dan pasar. Keduanya meminjam Haryatmoko untuk menyebut cara berpikir semacam itu sebagai rezim kepastian: sesuatu dinilai berharga hanya bila nilai gunanya terukur dan menguntungkan. Fuller mereka kutip pula, bahwa menjadi modern berarti menunjukkan kendali atas keberadaan orang lain melalui proses yang disebut rasional.
Lawan dari rantai itu ada pada halaman 35. Di sana tertulis bahwa orang Sama tidak pernah memakai bom dan racun untuk menangkap ikan karena perbuatan itu melanggar larangan Sang Penguasa Lautan, sekaligus membunuh saudara kembar mereka, titisan tali pusar orang Sama yang dilempar ke laut pada hari kelahirannya. Bagi Adelia dan Dwi, larangan yang terdengar tidak masuk akal itu bekerja persis seperti aturan konservasi yang disusun dengan perhitungan.
Aturan kedua yang mereka catat ada di halaman 33: jangan menangkap ikan saat bulan terang. Novel itu menyebutnya larangan langsung dari penguasa semesta, lalu pada paragraf yang sama menjelaskan sebabnya, yakni ikan bertelur ketika bulan terang dan telur itulah yang kelak menjadi ikan berikutnya. Adelia dan Dwi membaca dua lapis keterangan tersebut sebagai inti kritik novel ini: kepercayaan yang dicap irasional ternyata menyimpan pengetahuan ekologis yang benar-benar bekerja.
Yang Belum Terjawab Setelah Bacaan Adelia dan Dwi Selesai
Bacaan itu punya batas yang diakui sendiri oleh Adelia dan Dwi. Mereka membatasi diri pada satu novel dan pada satu aspek teori Todorov, sehingga hasilnya tidak dapat diperlakukan sebagai potret sastra anak Indonesia secara keseluruhan. Keduanya juga tidak menguji bagaimana anak-anak pembaca sesungguhnya menangkap pesan itu. Yang mereka kerjakan adalah membaca teks, bukan mengukur pengaruhnya pada pembaca, dan perbedaan dua pekerjaan itu tidak kecil.
Baca juga Kesantunan Bahasa Jerman di Buku Ajar Netzwerk
Novel yang sama sudah beberapa kali dibaca peneliti lain. Al Yassin bersama Muhtarom dan Sugiarti pada 2021 memeriksa kearifan lokal di dalamnya untuk dijadikan bahan ajar sekolah menengah atas. Noviatussa’diyah, Sugiarti, dan Andalas pada tahun yang sama memakai teori ekologi budaya dan mencatat tradisi Duata, larangan melaut saat bulan purnama, serta kepercayaan pada lummu atau lumba-lumba. Wijaya pada 2020 membacanya lewat memori kolektif. Sungkowati sebelumnya, pada 2016, menelusuri persoalan lingkungan dalam novel Lemah Tanjung karya Ratna Indraswari Ibrahim.
Okky Madasari pernah menjelaskan sendiri mengapa ia menulis serial ini. Dalam wawancara yang dicatat Parhani pada 2020, ia menyebut serial Mata lahir dari keprihatinannya terhadap dominasi cerita anak yang penuh pesan moral dan miskin fantasi. Buku ini seri ketiga, sesudah Mata di Tanah Melus pada 2018 dan Mata dan Rahasia Pulau Gapi pada 2019. Adelia dan Dwi menyebut jenis cerita anak yang mengangkat isu lingkungan masih jarang ditemukan di Indonesia.
Simpulan Adelia dan Dwi ditulis tanpa memenangkan satu pihak. Pola pikir modernisme, tulis keduanya, harus diposisikan seimbang dengan nilai kearifan lokal masyarakat Indonesia, dan kepercayaan lokal yang dianggap irasional justru mampu menjaga pelestarian laut. Mereka tidak menyatakan tradisi lebih unggul daripada teknologi. Yang mereka persoalkan adalah teknologi yang dipakai tanpa batas oleh orang-orang yang merasa berhak menentukan siapa yang beradab dan siapa yang belum.
Halaman tujuh belas itu tetap tertinggal di catatan Adelia. Di sana seorang anak bertanya buat apa ijazah, dan tidak ada tokoh dewasa di dalam novel yang menjawabnya. Yang menjawab justru perairan di sekitar kampung itu, yang masih penuh ikan karena ada aturan tentang bulan terang.














