Cekricek.id — Pada 22 Juli 2023 kanal YouTube English Speeches mengunggah satu video berdurasi sembilan menit tiga puluh tiga detik. Di dalamnya tiga perempuan berbicara bergantian: Michelle Obama, Melinda Gates, dan Amal Clooney. Video itu diberi judul Stronger Together. Dua tahun kemudian isinya dibongkar kalimat per kalimat oleh tiga peneliti dari Banten.
Hasil pembongkaran itu terbit sebagai artikel berjudul Pragmatic Illocutionary Acts Used in English Speeches YouTube Channel. Penulisnya Fakhira Anisa Maharani, Tatu Siti Rohbiah, dan Purnama Rika Perdana dari State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Artikel itu dimuat jurnal METAHUMANIORA Volume 15 Nomor 3, terbitan Desember 2025, halaman 158 sampai 162. Naskahnya dikirim 6 Oktober 2025 dan diterima 2 Desember 2025.
Daftar Isi
1962: Austin Memberi Nama pada Tindakan Berkata

Kerangka yang dipakai ketiga peneliti itu berumur lebih dari enam dekade. Pada 1962 terbit buku John L. Austin, How to Do Things with Words. Austin membagi setiap tuturan menjadi tiga lapis. Lokusi adalah apa yang diucapkan. Ilokusi adalah apa yang dikerjakan lewat ucapan itu. Perlokusi adalah akibat yang timbul pada pendengarnya.
Pada 1996 Yule menambahkan definisi yang dipakai paper ini. Pragmatik, tulisnya, adalah kajian tentang makna penutur dan cara pendengar atau pembaca menafsirkannya. Yang masuk hitungan bukan arti kamus, melainkan maksud orang yang berbicara. Permintaan maaf, keluhan, pujian, undangan, janji, dan permohonan semuanya termasuk tindak tutur.
Lapisan tengah itu yang paling banyak dipakai. Lubis pada 2018 menyebut ilokusi sebagai komponen terpenting dari tindak tutur. Ilokusi adalah tindakan mengerjakan sesuatu dengan kata. Ia merujuk pada fungsi kata sekaligus tujuan penuturnya. Karena itu ilokusi yang dipilih ketiga peneliti sebagai satuan hitung.
1976: Searle Membagi Ilokusi Menjadi Lima
Pada 1976 John Searle memecah ilokusi menjadi lima golongan. Asertif menyatakan sesuatu yang dianggap benar oleh penuturnya. Direktif mendorong pendengar melakukan sesuatu. Komisif mengikat penutur pada tindakan di masa depan. Ekspresif mengungkapkan perasaan atau sikap. Deklaratif mengubah keadaan hanya dengan mengucapkannya, seperti menamai atau meresmikan.
Penggolongan itu tidak berjalan sendiri. Ketiga peneliti menyandingkannya dengan penafsiran atas konteks. Tiga hal ditimbang pada setiap tuturan: niat penuturnya, hubungan antara penutur dan pendengar, serta latar situasi tiap video. Tanpa ketiganya satu kalimat bisa jatuh ke golongan yang keliru.
Baca juga Bias Tersembunyi di Soal Ujian Bahasa Inggris Niaga
Lima golongan itu sudah dipakai berulang kali pada bahan tontonan. Isnaeni pada 2021 memeriksa tindak ilokusi direktif dalam film Imperfect dan memilah enam bentuknya, mulai dari permintaan dan pertanyaan sampai larangan dan izin. Amalia pada tahun yang sama membedah pidato Nadhira Afifa di Harvard tahun 2020 dan tidak menemukan satu pun tuturan deklaratif. Sidik pada 2022 menelaah tindak asertif di kanal English Speeches, kanal yang belakangan dipakai lagi dalam penelitian ini.
Perdani pada 2023 memeriksa ilokusi dalam film Brave dengan teori Searle dan Austin, dan menemukan direktif sebagai jenis terbanyak di sana. Dari deretan itu tampak satu celah. Kanal English Speeches sudah pernah disentuh, tetapi hanya pada satu golongan. Ketiga peneliti Banten memilih memeriksa kelima golongan sekaligus pada tiga video berbeda.
Hasil Amalia menjadi pembanding yang paling langsung. Pada pidato Nadhira Afifa di Harvard, ia tidak menemukan satu pun tuturan deklaratif. Pada tiga video yang diperiksa peneliti Banten, deklaratif muncul dua kali, keduanya di video yang sama. Jumlahnya tetap kecil, tetapi tidak nol.
Pilihan kanalnya punya alasan tersendiri. English Speeches menyediakan bahan belajar bagi banyak kalangan, terutama mahasiswa di berbagai negara. Kanal itu menayangkan pernyataan tokoh berpengaruh, termasuk mantan pemimpin Microsoft dan Apple, Bill Gates dan Steve Jobs. Penontonnya besar dan berasal dari latar pekerjaan yang beragam.
Juli sampai Desember 2023: Tiga Video yang Dipilih
Video pertama diunggah 22 Juli 2023. Durasinya 9 menit 33 detik. Michelle Obama, Melinda Gates, dan Amal Clooney berbicara tentang pemberdayaan perempuan, keraguan diri, dan kesetaraan gender. Percakapan itu menyinggung pendidikan serta keadilan bagi perempuan dan anak perempuan.
Video kedua diunggah 18 November 2023, berdurasi 8 menit 27 detik. Leen Al Kassab bercerita tentang pengalamannya sebagai muslim ketika menjadi mahasiswa Harvard dan menghadapi stereotip. Video ketiga diunggah 17 Desember 2023, berdurasi 9 menit 3 detik. Taylor Swift menjelaskan proses kreatif di balik karyanya dan perjuangannya memperoleh pengakuan profesional.
Pemilihan videonya melalui tiga tahap yang dicatat papernya. Tahap pertama, memilih tiga video yang relevan dengan pemakaian bahasa dan tindak tutur, dengan tokoh publik yang menyampaikan pidato atau wawancara dengan niat komunikatif beragam. Tahap kedua, menonton dan mentranskripsi. Tahap ketiga, menggolongkan tuturan dengan teori Searle terbitan 1976.
Baca juga Tungku Tigo Sajarangan dalam Film Onde Mande
Ketiga video dipilih karena bertema sama: ekspresi diri, identitas, dan pemberdayaan lewat bahasa. Metodenya deskriptif kualitatif. Instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri. Setiap video ditonton berkali-kali untuk memahami konteks, nada, dan situasi komunikatifnya. Rekamannya kemudian diunduh, ditranskripsi, lalu transkripnya dicocokkan ulang dengan audio. Tidak ada perangkat lunak penghitung yang dipakai.
Desember 2025: Delapan Puluh Tuturan yang Terhitung
Hitungan akhirnya berjumlah 80 tuturan. Video pertama menyumbang 22 tuturan: 13 asertif, 7 direktif, 1 komisif, 1 ekspresif, dan tidak ada deklaratif. Video kedua menyumbang 25 tuturan dengan susunan berbeda: 14 asertif, 8 ekspresif, 2 deklaratif, 1 direktif, dan tidak ada komisif.
Video ketiga menyumbang jumlah terbanyak, 33 tuturan, dengan 23 di antaranya asertif. Digabungkan, ketiganya menghasilkan 50 asertif, 13 direktif, 13 ekspresif, 2 komisif, dan 2 deklaratif. Asertif menguasai lebih dari separuh data. Komisif dan deklaratif hampir tidak muncul.
Video ketiga menjelaskan sebagian besar selisih itu. Taylor Swift menghabiskan sembilan menit menerangkan proses kreatif dan emosional di balik karyanya. Isinya sebagian besar laporan tentang pengalaman pribadi dan perjuangan memperoleh pengakuan profesional. Bentuk tuturan semacam itu jatuh ke golongan asertif, dan 23 dari 33 tuturannya memang tergolong asertif.
Contoh asertif diambil dari video pertama. Amal Clooney berkata, “Well, actually, my son drew a picture the other day of a prison, and he was like, Putin should be in here”. Ketiga peneliti menandai verba pelaporan di kalimat itu sebagai penanda. Penuturnya sedang melaporkan, bukan memerintah atau berjanji. Bagian akhir kalimat itu, menurut mereka, mengandung penilaian yang memperkuat sifat laporannya.
Contoh komisif hanya muncul sekali di video pertama. Menjawab pertanyaan Sara Sidner tentang keraguan diri, Michelle Obama mengatakan bahwa setiap orang menyimpan keraguan itu seumur hidup. Kalimat yang dicatat sebagai komisif berbunyi, “After that, I swear I won’t let those negative messages bring me down again”. Penuturnya mengikat diri pada tindakan di masa depan.
Video kedua menumpuk di golongan yang lain. Leen Al Kassab berbicara sebagai perempuan muslim dan calon dokter di lingkungan multikultural. Isinya refleksi tentang identitas, keterwakilan, dan tanggung jawab sosial. Dari 25 tuturannya, 8 tergolong ekspresif, jumlah ekspresif terbanyak di antara ketiga video, sementara direktifnya hanya satu.
Baca juga Kiasan yang Membuat AI Tampak Berpikir Sendiri
Golongan direktif menyimpan contoh yang paling sulit dibaca. Melinda Gates bercerita, “my daughter was five, my oldest, and she told her doll to lay down because it had HIV/AIDS and she needed to take care of it”. Tuturan itu digolongkan direktif karena memuat perintah di dalamnya, meski perintah itu ditujukan kepada sebuah boneka.
Dua deklaratif satu-satunya berasal dari video kedua. Leen Al-Kassab menuturkan, “When I first got into Harvard, my uncle called me Sefiritna, which translates to ambassador”. Peneliti menggolongkannya sebagai deklaratif berupa penamaan. Video yang sama juga menyumbang delapan ekspresif, salah satunya sapaan pembuka pada pidato wisuda Harvard yang ia tutup dengan kata Marhaba, sapaan Arab yang menurut ketiga peneliti menegaskan pertautan budayanya.
Sesudah Hitungan: Apa yang Tidak Tercatat
Ketiga peneliti mencatat sendiri batas kerja mereka. Datanya hanya 80 tuturan dari tiga video pada satu kanal. Instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri, sehingga penggolongan bergantung pada penafsiran mereka atas niat penutur dan situasi tuturnya. Tidak ada uji antar-penilai untuk menguji penggolongan itu, dan papernya tidak menyediakan bagian keterbatasan tersendiri.
Batas itu penting karena angkanya mudah disalahbaca. Dominasi asertif berlaku untuk tiga video yang dipilih, bukan untuk seluruh isi kanal dan bukan untuk pidato pada umumnya. Ketiga peneliti menghubungkan dominasi itu dengan konteks tuturnya yang inspiratif dan personal, tempat penutur berbagi refleksi pribadi.
Yang tersisa adalah pola yang cukup rapi untuk dicatat. Direktif muncul terutama ketika penutur mendorong pendengarnya bergerak menuju kepercayaan diri, kesetaraan, dan keadilan. Ekspresif menumpuk di video yang paling banyak bercerita tentang identitas. Simpulan papernya menyebut bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium membentuk identitas sosial.
Delapan puluh tuturan itu berasal dari lima penutur. Kelimanya berbicara di depan kamera dalam rentang lima bulan pada 2023. Hitungannya berhenti di sana.














