Cekricek.id — Dua pemeran utama sebuah web series religi jatuh cinta sungguhan di lokasi syuting. Mereka tak berpacaran. Beberapa waktu setelah syuting rampung, keduanya menikah lewat proses taaruf.
Perempuan itu bekas anggota grup vokal Cherrybelle. Ia mundur dari dunia hiburan, memilih jilbab panjang, lalu tampil di web series Singlelillah garapan Positiverse Creations (PC). Media memberitakan kisah itu sebagai perpindahan dari fiksi ke kenyataan, dari panggung hiburan ke jalan hijrah.
Kisah ini muncul dalam studi “Ta’aruf”, Pious Asceticism, and Shared Meaning-Making in Islamic YouTube Web Series. Penulisnya Andina Dwifatma, pengajar di Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Studi ini terbit di jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, Volume 27 Nomor 1, tahun 2026.
Sejak Reformasi 1998, gerakan menolak pacaran tumbuh di kalangan muslim urban Indonesia. La Ode Munafar mendirikan kampanye Indonesia Tanpa Pacaran pada 2015. Felix Siauw, mualaf keturunan Tionghoa yang jadi penceramah, menyebut pacaran sebagai dosa besar. Web series religi seperti milik PC memakai jalan berbeda: cerita yang terasa seperti curhat teman sebaya, bukan ceramah dari figur yang lebih tua dan lebih alim.
Daftar Isi
Dari Lagu di Soundcloud sampai Ta’aruf 5.0

Sebelum jadi produser web series, Banu hanya pemuda penggemar musik dan cerita. Ia menyelesaikan kuliah administrasi bisnis, lalu bekerja di sebuah pusat komputer di Bandung pada 2011. Dari sana ia mulai mengunggah lagu ke Soundcloud dan cerita ke Facebook.
Pada 2015, bersama istrinya Naya, Banu merilis Cinta Positif, serial musik sembilan episode tentang dua remaja muslim yang menahan diri dari pacaran. Total tontonan kesembilan episode itu mencapai 9,9 juta kali. Banu menjelaskan alasan serial itu digemari.
“Saya percaya banyak anak muda muslim menyukainya karena mereka ingin seperti itu dan ingin tahu caranya. Mereka ingin sukses, dalam hidup maupun cinta. Kisah itu jadi semacam formula bagi kami, karena itu kami terus menggarap tema cinta, hubungan, dan taaruf,” kata Banu dalam wawancara pribadi, 17 Januari 2023.
Baca juga Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel
Sukses itu membuka jalan lain. Telkomsel menjadikan lagu Banu nada dering promosi, dan penerbit Mizan menerbitkan novelnya, Cinta dalam Ikhlas. Banu lalu menulis buku panduan bertajuk Taaruf 5.0, yang sering muncul sebagai properti di dalam adegan web series PC.
Di antara kanal YouTube religi Indonesia, PC berada di posisi kedua. Kanal Film Maker Muslim Studios memimpin dengan 760 ribu subscriber dan 595 video. PC mengekor dengan 594 ribu subscriber, 118 video, dan total 63,8 juta tayangan.
Setelah proyek Singlelillah, dengan izin Naya, Banu berhenti dari pekerjaan tetapnya sebagai staf IT di sebuah kampus di Bandung. Ia menjadi kreator konten penuh waktu. Produksi satu web series lima sampai enam episode menelan biaya sekitar dua ratus juta rupiah, dengan jadwal syuting seminggu di Bandung, Cianjur, dan sekitarnya.
PC merancang empat proyek turunan. Singlelillah untuk penonton umum, Sisterlillah khusus perempuan, Brotherlillah khusus laki-laki, dan After Akad untuk pasangan yang sudah menikah. Brotherlillah dan After Akad baru sebatas konsep, sementara Sisterlillah dan Singlelillah sudah masuk musim kedua.
Buku itu membagi proses taaruf jadi lima tahap. Tahap pertama tukar riwayat hidup, lengkap dengan riwayat kesehatan dan utang bila ada. Tahap kedua tanya jawab lewat kerabat dan kolega. Tahap ketiga membicarakan rencana lima sampai sepuluh tahun ke depan bersama keluarga atau murabbi. Tahap keempat meminta restu orang tua, dan tahap kelima adalah doa.
Perempuan Muslim sebagai Pasar dan Muka Depan
Banu mengaku sadar penontonnya mayoritas perempuan. Di hampir semua acara luring PC, tujuh dari sepuluh penonton adalah perempuan, dan mereka datang berkelompok. Kesadaran itu mengarahkan hampir semua produk PC pada figur perempuan muslim.
“Di hampir semua acara kami, tujuh puluh persen penontonnya perempuan. Mereka selalu, selalu datang berkelompok. Sebagian teman sekolah atau kuliah, kelompok mengaji, bahkan kelompok penggemar K-Pop. Jadi jumlahnya selalu besar, dan mereka butuh semacam identitas yang menyatukan. Di situlah kami masuk, misalnya lewat merek Sisterlillah,” kata Banu dalam wawancara pribadi, 17 Januari 2023.
Buku antologi Cara Muslimah Memperjuangkan Cinta memuat dua puluh lima esai penonton perempuan PC. Salah satu penulisnya menulis bahwa menunggu adalah pilihan terbaik bila jatuh cinta, karena perempuan harus menjaga kehormatan dan menyerahkan urusan hati kepada Allah.
Baca juga Kerudung Gaya Minang di Majalah Soeara Aisjijah
Naya, istri Banu, menulis buku lain berjudul Muslimah dalam Penantian. Buku itu memuat ilustrasi perempuan muslim mengerjakan enam pekerjaan rumah sekaligus dengan enam tangan. Naya menjelaskan posisinya sendiri di dalam bisnis keluarga itu.
“Melalui Sisterlillah, kami ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa produktif meski memilih jadi ibu rumah tangga. Saya sendiri bekerja kantoran sebentar setelah lulus, lalu di rumah saja. Saya mengurus rumah dan anak-anak. Banu bilang, meski saya ‘hanya’ di rumah, aktualisasi diri tetap penting. Itu sebabnya bisnis konten kreator ini pas untuk kami,” kata Naya dalam wawancara pribadi, 17 Januari 2023.
Ketika Penonton Tidak Selalu Mengikuti Skenario
Erwin, salah satu aktor utama PC, mengaku semula ingin menolak konsep taaruf. Konsep itu tak sesuai bayangannya soal cinta dan pernikahan. Namun waktunya di tim PC perlahan mengubah pandangannya.
“Saya belajar dari waktu saya di PC bersama Banu dan Naya bahwa taaruf berarti punya rencana yang jelas, setidaknya untuk diri sendiri, karakter, dan masa depan. Memang rumit, tapi setidaknya memberi peluang lebih besar untuk mengenal calon pasangan sejauh mungkin. Saya belum pernah taaruf, tapi pernah pacaran. Banyak hal yang tidak dibicarakan saat pacaran justru dibahas saat menjalani taaruf,” kata Erwin dalam wawancara pribadi, 22 Maret 2024.
Riset Kathryn Robinson di Soroako pada era Orde Baru mencatat pergeseran serupa, meski arahnya berlawanan. Anak muda saat itu menolak kawin paksa dan menuntut hak memilih pasangan sendiri atas dasar cinta. Studi ini menyebut arah menuju taaruf sebagai kebalikan dari tren tersebut, sebuah bentuk penataan ulang hasrat yang justru kembali ke penataan keluarga.
Dalam taaruf, kedekatan fisik seperti berpegangan tangan atau berpelukan juga ditahan. Rasa suka tak dihapus sepenuhnya, tapi ditempatkan sebagai hadiah di ujung proses, bukan sebagai alasan memulainya.
Wida, peserta salah satu webinar PC, melihat sisi lain dari taaruf. Baginya, taaruf melindungi kehormatan perempuan dari risiko yang tak ditanggung laki-laki secara setara.
“Saya kira keuntungan terbesar taaruf bagi perempuan adalah melindungi kehormatan kami. Dalam pacaran, biasanya kami yang lebih berisiko. Kalau proses pacaran kebablasan, kami yang menanggung akibatnya, entah hamil atau tidak lagi perawan. Laki-laki bisa melanjutkan hidupnya tanpa bekas yang terlihat,” kata Wida dalam wawancara pribadi, 22 Maret 2024.
Baca juga Dear Me Beauty, Model Pria, dan Pasar yang Dibidik
Tak semua penonton mulus menjalani taaruf. Ajeng mencobanya dua kali, tapi gagal di tahap pertemuan langsung. Kali pertama tak ada “chemistry”, kali kedua calon pasangannya dianggap terlalu tua baginya.
Devi, penonton lain, belum pernah menjalani taaruf sama sekali. Ia merasa canggung membicarakan hal pribadi di depan pendamping calon pasangan, dengan seluruh keluarga menyimak proses itu dari dekat. Ia lebih memilih berteman dulu sebelum melangkah ke taaruf, bila memang cocok, supaya prosesnya tak terasa canggung baginya.
Utari, seorang guru, ingin tetap bekerja setelah menikah nanti. Ia khawatir bosan bila hanya tinggal di rumah tanpa kegiatan lain di luar keluarga.
“Saya takut bosan kalau di rumah saja tanpa kegiatan lain. Saya senang jadi bagian organisasi, menghabiskan waktu dengan teman, dan belajar hal baru lewat kelas atau seminar. Saya harus menemukan laki-laki yang mengizinkan saya melakukan semua itu meski saya jadi istrinya,” kata Utari dalam wawancara pribadi, 15 Februari 2024.
Jajak pendapat di akun Instagram komunitas Sisterlillah memperlihatkan hal serupa. Dari 4.011 suara, 40 persen memilih kuliah lebih dulu, 24 persen memilih membuka usaha, 23 persen memilih menikah, dan 13 persen memilih bekerja. Studi ini mencatat bahwa taaruf tetap dianggap ideal, tapi tak selalu jadi pilihan yang buru-buru diambil.
Studi ini menegaskan taaruf belum jadi kecenderungan arus utama dalam wacana publik Islam Indonesia. Penulisnya sendiri mencatat, di kalangan “muslim biasa” yang ia amati, pacaran tetap jadi pilihan yang lazim untuk mencari pasangan hidup, dan faktor ekonomi ikut menentukan pilihan itu.
Di kamar tunggu webinar itu, Ajeng masih menghitung dua percobaan taaruf yang belum juga berujung ke pelaminan.













