Cekricek.id — Sebuah kamar mandi di Korea dan sebuah aplikasi penyunting foto di layar ponsel adalah dua tempat yang tampak tidak berhubungan, sampai keduanya dipakai untuk mengerjakan satu hal yang sama: menghapus noda dari wajah perempuan Indonesia.
Dua tempat itu milik dua orang. Yang pertama Sunnydahye, yang merekam rutinitas perawatan malam di kamar mandinya dengan piyama, bando merah muda kebesaran, dan penutup kepala. Yang kedua Han Yoo Ra, yang merekam layar ponselnya sambil menerangkan cara memakai penyaring dan aplikasi retus. Keduanya warga negara Korea yang tumbuh di Indonesia, keduanya berbicara bahasa Indonesia kepada penontonnya, dan keduanya menjual pengetahuan kecantikan Korea kepada pasar yang sama.
Perbandingan atas keduanya dikerjakan Shafira Bella dari Discipline of Gender and Cultural Studies, Faculty of Arts and Social Sciences, The University of Sydney, bersama Gesang Manggala Nugraha Putra dari Departemen Sastra Inggris Universitas Airlangga. Artikel mereka, Fifty Shades of White: Cosmopolitan Whiteness of Korean-Indonesian YouTube Beauty Vloggers, terbit di jurnal Mozaik Humaniora Volume 26 Nomor 1, halaman 19–39, edisi 2026, dan dinyatakan diterima redaksi pada 23 Juni 2026. Datanya berupa dua puluh lima tangkapan layar dari enam video terpopuler di kedua kanal.
Daftar Isi
Halo Teman-Teman dan Hi HELO: Dua Cara Menyapa

Keduanya sampai ke Indonesia pada usia yang berbeda. Keluarga Sunnydahye pindah ke Indonesia ketika ia berumur lima tahun; Han Yoo Ra pindah pada 2006, di awal tahun pertamanya di sekolah menengah atas. Keduanya tinggal lebih dari sepuluh tahun sebelum memulai karier YouTube dan mulai bolak-balik antara Korea dan Indonesia. Sunnydahye kerap menyebut dirinya secara budaya lebih Indonesia daripada Korea. Fakta biografis itu, tulis kedua peneliti, mereka pakai sebagai bentuk pengesahan diri di depan penonton Indonesia.
Cara mereka membuka video sudah membedakan keduanya. Sunnydahye selalu memulai dengan sapaan riang “Halo teman-teman YouTube!” atau “Annyeong chingudeul!”, dua kalimat yang artinya sama. Han Yoo Ra menyapa penontonnya dengan nama klub penggemarnya, HELO, lewat kalimat “Hi, HELO, masa depan dunia!”. Klub penggemar Sunnydahye bernama SUNSHINE, tetapi ia lebih sering memakai kata teman daripada menyebut nama klub itu. Sapaan yang satu merangkul semua orang, sapaan yang lain merangkul sebuah keluarga kecil.
Baca juga Dear Me Beauty, Model Pria, dan Pasar yang Dibidik
Ukuran keduanya berbeda jauh. Pada 8 Mei 2019, kanal utama Sunnydahye punya 1.009.812 pelanggan; ia berbicara dalam bahasa Inggris di sana dan membuka kanal berbahasa Indonesia, SunnydahyeIn, pada Februari 2017. Pada tanggal yang sama, Han Yoo Ra [Little and BiG] punya 385.857 pelanggan dengan total 13.616.824 penayangan. Yang pertama sudah diundang ke acara merek kecantikan di Yogyakarta; yang kedua pada Maret 2019 justru pindah ke Surabaya, tempat tim produksinya berada.
Sosok semacam ini punya nama dalam kajian media. Senft menyebutnya mikro-selebriti, orang yang memperbesar popularitasnya lewat perangkat digital seperti video, blog, dan media sosial, dan Abidin menambahkan sisi vokasionalnya: penjenamaan diri, kerja, keintiman interaktif, dan kesan otentik sebagai alat dagang. Duffy menyebut kerja semacam itu sebagai aspirational labour, kerja mandiri yang sebagian besar tidak dibayar dan digerakkan oleh gagasan yang sangat dipuja tentang dibayar untuk melakukan apa yang kita cintai.
Naskah yang Rapi dan Spontanitas yang Dijadikan Merek
Sunnydahye mulai pada 2011 tanpa peralatan mahal, merekam di kamarnya dengan latar seadanya, pencahayaan buruk, tanpa sulih suara, dan resolusi rendah. Isinya ulasan produk dan tutorial riasan ala selebritas K-pop. Video terbarunya tetap bertema serupa, tetapi dikerjakan di rumah dengan latar yang sengaja ditata: dinding putih, citra Chanel, atau bunga tulip merah muda segar, dengan penyuntingan profesional dan nada warna merah jambu yang konsisten.
Han Yoo Ra menempuh jalur yang berlawanan arah. Ia mulai rutin mengunggah pada 2015–2016, juga tanpa peralatan canggih, lalu gayanya berubah drastis setelah diikat Eblo Production pada akhir 2016 dan Kosong TV pada 2017: videonya menjadi lebih berskenario, memakai layar hijau dan pascaproduksi profesional. Kanal itu ia hapus pada 2017 ketika ia pulang ke Korea untuk pengobatan hipertiroid dan memutus kontrak dengan manajemennya. Kanal barunya, yang lahir Maret 2018, justru lebih improvisatif.
Dari improvisasi itu ia membuat merek. Julukannya Onni Cetar, gabungan Korea dan Indonesia: onni adalah sapaan perempuan kepada kawan atau kerabat perempuan yang lebih tua, sedangkan cetar adalah kata slang untuk sesuatu yang mencolok dan menonjol. Sunnydahye menyusun videonya secara terstruktur dan berskenario; Han Yoo Ra membiarkan kecanggungannya terlihat dan mengubahnya menjadi daya tarik. Kedua peneliti menyebut yang satu menawarkan kecakapan yang diidamkan, yang lain menawarkan ketidaksempurnaan yang mudah dikenali sendiri.
Ruang tempat mereka merekam sama. Sebagian besar konten kecantikan keduanya diambil di ruang domestik: kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga. Horak menyebut hal itu ciri khas vlogger YouTube, yang duduk sendirian di ruang pribadi. Merekam di ruang pribadi punya fungsi retoris, yakni membangun kesan terbuka dan akrab yang mendorong penonton percaya. Penonton pun membalas dengan sapaan Kakak, Onni, dan Cici, tiga kata dari tiga bahasa untuk satu posisi yang sama.
Tutorial Hijab dan Tutorial Kelopak Tunggal
Video riasan Sunnydahye yang paling banyak ditonton pada masa pengambilan data berjudul Cinta pada pandangan pertama makeup tutorial versi hijab!, dengan 202.245 penayangan sampai April 2019. Sepanjang tutorial itu ia mengenakan kerudung. Ia menjelaskan pilihan tersebut dengan menyebut banyaknya kawan muslim yang ia miliki semasa kuliah di Indonesia. Kosakata yang ia pakai di sepanjang video — natural, angelic, glowing, tidak dramatis, sederhana, halus — membentuk ideal kecantikan yang menempatkan kemurnian sebagai sifat perempuan yang diinginkan.
Baca juga Grup WhatsApp dan Patungan Kopi di Balik Ilmu Perburuhan Kritis
Pilihan produknya menunjukkan pengetahuan pasar. Semua barang yang dipakai tersedia di Indonesia, ia menegaskan kecocokan alas bedaknya dengan cuaca Indonesia, dan ia menyertakan dua produk lokal: maskara Sariayu dan lip cream Wardah, merek Indonesia bersertifikat halal yang diformulasikan tanpa alkohol dan tanpa bahan turunan babi. Di negara yang pada 2025 mencatat 87,15 persen penduduknya beragama Islam menurut Kementerian Agama, pekerjaan penyesuaian semacam itu bukan hal sepele. Banet-Weiser menyebutnya aesthetic labour, kerja yang tidak diakui untuk membuat kecantikan tampak wajar dan tanpa usaha.
Han Yoo Ra menyasar penonton yang lebih sempit. Tutorialnya diarahkan kepada komunitas Peranakan dan keturunan Asia Timur di Indonesia yang berbagi ciri fisik dengannya, terutama kelopak mata tunggal. Diperkirakan sekitar 50 persen orang Asia memiliki kelopak mata atas tanpa lipatan. Istilah “mata sipit” di Indonesia berkonotasi merendahkan dan menandai sekaligus ketidakelokan dan stigma etnis; Han Yoo Ra memakai istilah itu dengan nada riang dan emotikon mata melebar, yang menurut kedua peneliti meredam sebagian muatan menghinanya.
Di dalam video itu ia berbicara langsung kepada penonton berkelopak tunggal, meminta mereka tidak menyerah, menyebut mereka unik, dan melarang mereka iri kepada pemilik kelopak ganda. Namun teknik yang ia ajarkan justru bertujuan melebarkan tampilan mata berkelopak tunggal sehingga menyerupai efek kelopak ganda. Di video lain ia menempatkan penyuntingan foto sebagai praktik kecantikan yang sah dan sebanding dengan memakai riasan, lengkap dengan penyaring dan pencahayaan, sambil mengingatkan agar tidak berlebihan supaya hasilnya tetap tampak alami.
Yang Sama pada Keduanya dan Yang Diakui Belum Terjawab
Kata kuncinya muncul di judul video perawatan Sunnydahye yang paling laris, “Rahasia kulit bening! Skincare rutin malam cewek Korea”, yang terkumpul 1.125.555 penayangan sampai 7 Mei 2019 dan 2.018.736 penayangan pada Januari 2026. Kata “bening” secara harfiah berarti tembus pandang, tetapi dalam wacana kecantikan Indonesia dipakai untuk kulit yang bersih dan lebih cerah. Saraswati mencatat penggantian kata semacam ini sudah dipakai iklan produk pemutih sejak era Sukarno, ketika rujukan langsung pada pemutihan kulit dibatasi kebijakan pemerintah.
Baca juga 52 Kata Korea Masuk Bahasa Indonesia lewat Hallyu
Yang berganti hanya katanya. Sunnydahye memakai primer pemutih KLAVUU dan produk bervitamin C, bahan aktif pencerah kulit yang sudah mapan; Han Yoo Ra memakai toner dan krim Everwhite, merek Indonesia berkiblat Korea, sebagai langkah awal perawatannya. Tidak satu pun dari keduanya secara eksplisit mempromosikan pemutihan kulit; keduanya berbicara tentang kulit mulus, bening, dan bercahaya. Kedua peneliti menyimpulkannya dalam satu kalimat pendek: “flawless skin is the new white”, kulit mulus adalah putih yang baru.
Pilihan tamu memperkuat pola itu. Ketika Sunnydahye berkolaborasi dengan vlogger Indonesia Molita Lin atau merias aktris muda Beby Tsabina, perempuan yang ia pilih selalu berkulit terang, sehingga riasan bergaya Korea yang ia terapkan tidak memerlukan penyesuaian apa pun. Usaha yang ia curahkan pada kecocokan cuaca, kehalalan, dan keterjangkauan tidak berlanjut ke ragam warna alas bedak bagi kulit yang lebih gelap. Indonesia, tulis kedua peneliti, jadi tergambar tunggal: seolah persoalannya hanya iklim dan agama.
Latar etnis Han Yoo Ra menyimpan simpul yang lebih rumit. Migrasi Tionghoa ke Indonesia menguat setelah 1619 seiring berdirinya kongsi dagang Belanda, dan keturunan mereka yang lahir di sini disebut Peranakan, dibedakan dari Totok yang datang belakangan dan masih menguasai bahasa Tionghoa. Karena sejarah panjang diskriminasi anti-Tionghoa, ciri fisik yang sama tidak dinilai sama ketika dilekatkan pada identitas Tionghoa dan ketika dilekatkan pada identitas Korea. Keindonesiaan-Korea Han Yoo Ra, tulis kedua peneliti, tidak membongkar prasangka itu melainkan memutarinya.
Kedua peneliti mencantumkan batas kerjanya sendiri. Datanya dikumpulkan pada 2018 dan 2019, hanya dari satu platform dan dua vlogger, dan analisisnya menyasar produksi konten, bukan penerimaan penontonnya; mereka menyebut studi khalayak masih diperlukan untuk menilai apakah efek disipliner yang mereka temukan benar-benar terjadi. Sejak 2019 lanskapnya juga berubah: TikTok naik, influencer kelahiran Indonesia dengan estetika yang lebih beragam bertambah, dan percakapan global tentang kolorisme menguat setelah gerakan Black Lives Matter.
Yang satu memakai krim, yang lain memakai penyaring. Yang satu memasangkan kerudung pada tutorialnya, yang lain merayakan kelopak mata yang selama ini ditertawakan. Keduanya melebarkan pintu bagi penonton yang selama ini berdiri di luar. Keduanya juga memasang pintu itu pada rumah yang ukurannya tidak berubah.














