Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya

A A

Lengan robot industri KUKA menjalankan karya The Beach buatan Roy Nachum. [Foto: Oleg Yunakov/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Ada gambar kucing di antara buah jeruk yang tampak seperti dilukis Van Gogh, lengkap dengan sapuan kuas ke berbagai arah, tetapi tak seorang pun bisa menyebut itu gaya siapa. Warnanya hidup. Kuasnya bergerak. Gayanya tidak ada di sana.

Gambar itu bukan temuan iseng. Ia dibuat sebagai bagian dari kajian Mumtaz Mokhtar, Wan Samiati Adriana Wan Mohd Daud, dan Nabilah Mudzafar dari Faculty of Art & Design, Universiti Teknologi MARA, Malaysia. Artikel mereka, From Renaissance to Robot: Paradigm Shifts in Visual Art, terbit di jurnal Purbawidya Vol. 14 No. 2 tahun 2025, halaman 396 sampai 410. Isinya melacak pergeseran paradigma seni rupa dari Renaisans sampai zaman kecerdasan buatan.

Daftar Isi
  1. Cara Sebuah Prompt Menjadi Gambar
  2. Cara Leonardo Menyusun Cahaya dan Pundak
  3. Cara Peran Pelukis Berpindah Tiga Kali
  4. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Cara Sebuah Prompt Menjadi Gambar

Mumtaz Mokhtar, pengajar di Faculty of Art & Design UiTM sekaligus penulis penanggung jawab kajian ini, memasukkan sekumpulan kata kunci terbatas ke sistem Davinci AI pada 23 September 2025. Prompt pertamanya pendek: “cat, fruits, and still life setting”. Dalam waktu singkat sistem mengembalikan komposisi klasik yang nyaris fotografis, seekor kucing dengan beberapa buah sitrus di sampingnya, cahaya datang dari jendela di sisi kiri. Prompt kedua menambahkan konteks: “beside window and sunlight”. Hasilnya berubah. Kucing mengecil, jendela mengambil alih komposisi, kontras terang dan gelap menguat. Prompt ketiga yang paling panjang, “with Van Gogh brush stroke and impressionism style”, mengganti realisme tadi dengan tafsir ekspresif. Sapuan kuas muncul ke berbagai arah, terutama pada latar pepohonan dan dedaunan, sementara wadah timah berisi anggur memperlihatkan gradasi biru dari terang ke pekat.

Mesin yang mengerjakannya bekerja dengan cara yang bisa diurai. Enrique Martinez, yang menulis primer kecerdasan buatan untuk seniman dan merujuk definisi Oxford Artificial Intelligence, menerangkan AI sebagai penggunaan komputer dan mesin yang tampak menyerupai manusia untuk memecahkan masalah serta mengambil keputusan. Ia melanjutkan bahwa sistem itu memadukan kumpulan data besar dengan algoritma, lalu mengenali pola dan ciri dari data yang dianalisis. Di lapis yang lebih rendah ada GAN, singkatan dari Generative Adversarial Network. Ia terdiri atas dua jaringan saraf dalam. Satu bertugas sebagai generator yang membuat gambar. Satu lagi diskriminator yang menilai apakah gambar itu nyata atau bikinan. Seniman punya dua pintu masuk, yaitu menulis prompt atau menyerahkan pindaian dan foto untuk diolah. GAN juga bisa memindahkan citra dua dimensi menjadi model tiga dimensi.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Enrique Martinez menambahkan satu perbedaan yang jarang disadari orang awam. Seni yang dulu dinikmati dalam bentuk formal dengan makna tersirat kini disajikan secara numerik, berisi data yang tidak disamarkan. Seniman digital menyandikan karyanya dengan struktur dan informasi yang rumit. Eva Cetinic dan James She, yang menyusun tinjauan tentang memahami dan menciptakan seni dengan AI, menderetkan tonggaknya secara berurutan. GAN pada 2014, Deep Dreams pada 2015, Neural Style Transfer pada 2016, AICAN pada 2017, dan DALL-E pada 2021. Keduanya menemukan bahwa seni AI tidak terbedakan dari seni buatan manusia, dan dinilai mengejutkan, menarik, atau enak dipandang.

Cara Leonardo Menyusun Cahaya dan Pundak

Pembandingnya ada di halaman yang sama. Kajian ini membedah Mona Lisa, dibuat sekitar 1503, sebagai contoh cara kerja yang berlawanan arah. Leonardo da Vinci menimbang posisi model, arah pandangan, titik fokus yang ingin ditonjolkan, sudut sumber cahaya, dan bayangan yang dihasilkannya. Cahaya dari kiri menerangi, sisi seberangnya menggelap. Susunan pundak, lengan, tangan, dan jari diatur harmonis, mengikuti postur alami seorang perempuan. Penempatan itu menuntun mata penonton menyusuri seluruh figur, dan menyiratkan makna berlapis di dalam lukisan. Sapuan berlapis yang disebut sfumato memperlihatkan pemahaman anatomi yang dalam. Contrapposto memutar bahu sedikit ke kiri, tangan ke arah berlawanan, mata lurus ke depan.

Semua itu hasil pengamatan panjang dan analisis. Renaisans bermula pada abad ke-14, berpusat di Italia, lalu menyebar ke Jerman dan Inggris. Honour dan Fleming menyebut periode itu “rebirth of classical culture”. Perspektif yang dikembangkan Filippo Brunelleschi memasukkan ilusi kedalaman dan ruang ke bidang dua dimensi. Robert Wilde, penulis panduan humanisme Renaisans, menerangkan bahwa humanisme mendorong pemusatan perhatian pada pengalaman manusia. Gagasannya sederhana, yakni manusia mampu berpikir dan bertindak mandiri, tidak sekadar mengikuti doktrin agama secara buta. Seniman Renaisans lalu menyempurnakan cat minyak, melukis lipatan kain dengan teliti, dan menyusun tekstur kulit lewat sapuan halus.

Cara Peran Pelukis Berpindah Tiga Kali

Kajian ini menaruh pergeseran tersebut dalam satu tabel dengan empat kolom: Renaisans, Modern, Kontemporer, dan Era AI. Pada Renaisans seniman berdiri sebagai individu, jenius kreatif, berpusat pada humanisme. Leonardo, Raphael, dan Michelangelo dipandang sebagai penyumbang gagasan, bukan sekadar tukang, dan dirayakan karena penguasaan teknik. Di periode modern seniman menjadi inovator dan pelaku eksperimen yang mematahkan norma. Neoklasikisme, Romantisisme, Realisme, Impresionisme, Ekspresionisme, dan Kubisme lahir berurutan sejak sekitar 1780. Mereka tidak lagi terikat pesanan gereja atau negara. Georges Seurat menyusun Sunday Afternoon on the Island of La Grande Jatte dari sapuan kecil untuk menguji hubungan warna antarobjek.

Baca juga Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim

Fotografi ikut mendorong perpindahan itu. Pelukis Realisme antara 1850 dan 1870 memilih petani, aktor, pengungsi, dan kelas pekerja sebagai subjek, lalu memindahkannya ke kanvas apa adanya. Fotografer pada masa yang sama mengejar efek pencahayaan seperti dalam lukisan. Dari pelat basah ke pelat kering waktu pajanan memendek, dan lahirlah piktorialisme. Revolusi industri berikutnya membawa listrik, produksi massal, dan transportasi. Pop Art muncul di Inggris pada 1950-an dan di Amerika Serikat pada 1960-an, mengambil bahan dari televisi, iklan, komik, koran, selebritas, dan barang produksi massal. Andy Warhol membuat Marilyn Monroe pada 1967 dan 100 Cans pada 1962, memantulkan dampak produksi massal pada masyarakat.

Seniman kontemporer dinilai lewat kemampuan memproduksi gagasan. Kerangka konsep dianggap lebih penting daripada bentuk fisiknya. Pameran Information di Museum of Modern Art pada 1970 menandai perpindahan tersebut. Judy Chicago membuat The Dinner Party pada 1979 dengan keramik dan sulaman, mengangkat sumbangan perempuan dalam seni dan masyarakat. Revolusi industri keempat menambahkan nanoteknologi, big data, dan jaringan yang meluas. Seni digital dan seni media baru melebar ke arah yang digerakkan kecerdasan buatan serta robotika. NFT masuk ke pasar dan mengubah cara karya digital diperjualbelikan lewat rantai blok. Karya semacam itu dipandang unik, bagian dari aset digital, sekaligus bukti kepemilikan atas karya digital asli.

Di kolom terakhir seniman ditulis sebagai kolaborator mesin, pengambil keputusan lewat prompt. AI membuka pintu bagi orang tanpa keterampilan tangan untuk berkarya, dengan memperbaiki prompt dan mengendalikan keluarannya. Penonton pun berpindah. Dari pelindung dan keluarga kaya pada zaman Renaisans, menjadi penonton yang dituntut punya literasi digital dan pemahaman tentang cara kerja mesin.

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Robot memperpanjang urusannya. Katy Cowan menulis di Creative Boom pada 2019 tentang Ai-Da, robot berbadan Robo Thespian yang melukis memakai proses dan algoritma AI, dan yang menggelar pameran tunggal di Oxford University. Ameca menggambar vektor kucing di kanvas memakai pena berbasis jaringan saraf sumber terbuka, lalu membubuhkan tanda tangan di bawah halaman. Sophia, humanoid buatan Hanson pada 2016, membuat potret. Christiane Paul, penulis buku Digital Art, mencatat komputer sudah dijajaki dalam seni sejak 1960-an. Michael A. Noll dari Bell Laboratories membuat citra hasil komputer berjudul Gaussian Quadratic pada 1963, yang dipamerkan di Howard Wise Gallery, New York. Sejak itu seniman, fotografer, dan pekerja video menjajal teknologi digital untuk seni internet, seni perangkat lunak, sampai realitas virtual.

Baca juga Perahu dan Pemanah di Gambar Cadas Leang Ulu Tedong

Yang tidak dijelaskan siapa pun adalah kekosongan gaya tadi. Kajian ini memakai pemetaan historis dan konseptual, bukan pengukuran, sehingga simpulannya berhenti pada perbandingan antarzaman. Penulisnya sendiri mencatat gambar bergaya Van Gogh itu tidak memperlihatkan gaya yang khas atau personal, melainkan tampak generik. Alasan yang ia ajukan sederhana, yaitu prompt yang dipakai belum cukup rumit untuk melahirkan identitas visual yang unik. Kesimpulannya pun ditulis hati-hati. Nilai seni kini disebut tidak hanya terletak pada produksinya, tetapi juga pada tawar-menawar antara niat manusia dan kecerdasan mesin. Seniman ditempatkan sekaligus sebagai pencipta dan kurator di dalam sistem hibrida. Pendidikan seni dan desain diminta menyesuaikan diri, dengan model pengajaran yang memuat literasi kritis, etis, dan kreatif.

Maka gambar kucing di antara buah jeruk itu tetap tergantung di tempatnya. Kuasnya bergerak ke segala arah, warnanya menyala, jendelanya membuka ke luar. Yang tidak ada di sana bukan keterampilan, melainkan seseorang yang bisa disebut namanya ketika orang bertanya, ini gaya siapa.

Bagikan

Baca Juga

Bangunan Rumah Limas, rumah adat Palembang, di Museum Balaputradewa
Kecerdasan Buatan Membaca Denda Ringgit Simbur Cahaya
Peserta pelatihan menghadap layar komputer di sebuah ruang kelas
Universitas Riau Latih Dosen dan Tendik Pakai Gemini AI
Pelatihan koding dan kecerdasan buatan bagi guru taman kanak-kanak
Dosen UAD Latih Guru TK Kenalkan Koding dan AI ke Anak
Dua mahasiswa belajar bersama di lingkungan kampus
Rektor UNS ke 933 Mahasiswa Baru: AI Jangan Ganti Pikiran
Permukaan wafer silikon berpola dengan kilau hijau dan biru
Belanja Peralatan Cip Dunia Diproyeksi 135 Miliar Dolar 2026
Fasad gedung Bank of England di pusat kota London
Andrew Bailey Peringatkan G20 soal Risiko AI ke Pasar Keuangan