54 Papan Iklan Bukittinggi dan Bahasa yang Dipilih

A A

Jam Gadang, Bukittinggi, menjelang magrib. [Foto: Undeka 11/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Di sebuah papan usaha di Kota Bukittinggi terpampang kalimat BALABOO MAMBALI MANANG MAMAKAI SANANG, dan kalimat itu sebenarnya sedang bekerja sebagai sesuatu yang oleh peneliti bahasa disebut lanskap linguistik: bahasa yang dipasang di ruang terbuka, di luar rumah, untuk dibaca siapa pun yang kebetulan lewat.

Istilahnya terdengar berat, kerjanya tidak. Siapa pun yang berjalan di pusat perdagangan Bukittinggi sudah membaca puluhan papan tanpa berniat membacanya: nama toko jam, spanduk imbauan kebakaran, baliho cicilan. Yang dikerjakan sebuah penelitian baru adalah berhenti di depan papan-papan itu, memotretnya, menyalin tulisannya apa adanya tanpa memperbaiki ejaan, lalu menghitung bahasa apa yang dipakai. Hasilnya lima puluh empat papan, dan lima puluh empat papan itu ternyata punya pola.

Penelitian tersebut dikerjakan Fadila Aulia Rachman dan Siti Ainim Liusti dari Universitas Negeri Padang, terbit dengan judul Lanskap Linguistik pada Papan Iklan Visual di Kota Bukittinggi di jurnal Persona volume 5 nomor 2 tahun 2026, halaman 301 sampai 312. Pendekatannya deskriptif kualitatif, ditopang hitungan persentase sederhana untuk memperlihatkan kecenderungan tiap kategori.

Daftar Isi
  1. Lanskap Linguistik: Bahasa yang Dipasang di Luar Rumah
  2. Monolingual: Satu Bahasa dalam Satu Papan
  3. Top-Down dan Bottom-Up: Siapa yang Memasang
  4. Fungsi Budaya: Bahasa Minang Dipakai sebagai Slogan

Lanskap Linguistik: Bahasa yang Dipasang di Luar Rumah

Papan nama sebuah toko.
Papan nama sebuah toko. (Foto: Opalegam/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Rodney Landry dan Richard Y. Bourhis, dua peneliti yang rumusannya terbit di Journal of Language and Social Psychology pada 1997 dan menjadi rujukan utama kajian ini, menyebut lanskap linguistik sebagai visibilitas dan keberadaan bahasa pada tanda-tanda publik di suatu wilayah: rambu jalan, papan nama tempat, nama jalan, papan reklame, dan tanda komersial lain yang bersama-sama membentuk lanskap bahasa sebuah komunitas. Dua fungsi yang mereka tekankan adalah fungsi informatif, yaitu memberi tahu, dan fungsi simbolik, yaitu menandai siapa yang hadir di ruang itu.

Baca juga Cara Bahasa Kampanye Nike di Instagram Bekerja

Lima puluh empat papan tadi tidak dipungut sembarangan. Pemilihannya memakai purposive sampling, teknik memilih sampel secara sengaja menurut kriteria yang ditetapkan lebih dulu. Kriterianya empat: papan terpasang di ruang publik yang dapat diakses masyarakat, memuat unsur verbal berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat, tulisannya masih terbaca jelas, dan bukan pengulangan iklan dengan isi serta desain yang sama di lokasi lain. Papan rusak dan papan tanpa teks tidak dihitung.

Satu papan diperlakukan sebagai satu unit analisis, mengikuti cara Backhaus yang pada 2006 meneliti tanda publik di Tokyo dan menghitung setiap tanda yang berdiri sendiri sebagai satu satuan. Setiap tulisan disalin utuh ke lembar kerja, diberi kode berisi nomor data, jenis iklan, lokasi pengambilan, dan pola bahasanya, lalu dimasukkan ke tabel pengodean. Yang dihitung mencakup tiga jenis: iklan komersial, iklan nonkomersial, dan iklan korporat.

Monolingual: Satu Bahasa dalam Satu Papan

Dari lima puluh empat papan, dua puluh sembilan atau 53,7 persen memakai satu bahasa saja, dan pola satu bahasa itulah yang disebut monolingual. Dua puluh empat papan atau 46,3 persen memakai dua bahasa, pola bilingual. Yang memakai tiga bahasa atau lebih, pola multilingual, hanya satu papan atau 1,85 persen. Jarak antara dua puluh sembilan dan satu itulah yang paling banyak bercerita: ruang publik Bukittinggi hampir tidak pernah bicara dalam tiga bahasa sekaligus.

Bahasa Indonesia mengisi hampir seluruh kelompok satu bahasa tadi, yaitu dua puluh lima papan atau 46,29 persen dari seluruh data. Contohnya sederhana dan tanpa hiasan — Sinar Jelita Listrik, Toko Jam Sidi Pingai Baru, dan sebuah papan peringatan bercetak huruf besar seluruhnya tentang kecerobohan dan ketidakhati-hatian memakai sumber api yang dapat memicu kebakaran. Papan terakhir itu bukan milik pedagang, melainkan imbauan, dan bahasanya tetap Indonesia.

Sisanya tipis. Bahasa Minangkabau berdiri sendiri hanya pada dua papan atau 3,70 persen, di antaranya NASI KAPAU PAK DATUAK. Bahasa Inggris berdiri sendiri juga hanya pada dua papan dengan persentase yang sama, di antaranya LGS MUSE THE FASHION. Dua bahasa yang paling sering dianggap mewakili identitas lokal dan kesan kelas dunia ternyata sama-sama langka bila harus berdiri tanpa bahasa Indonesia di sampingnya.

Pada kelompok dua bahasa, pasangannya nyaris seragam. Dua puluh dua dari dua puluh empat papan bilingual, atau 40,74 persen dari seluruh data, memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. INARA SOUVENIR memakai kata souvenir, yang berarti cendera mata, untuk menjelaskan jenis dagangannya. Nafa House fashion designer Bordir Sulaman Songket memakai bahasa Inggris untuk namanya dan bahasa Indonesia untuk barangnya. Papan lalu lintas Operasi Ketupat Singgalang Sistem Buka Tutup Oneway menempelkan satu kata Inggris, oneway atau satu arah, pada kalimat Indonesia.

Baca juga Warna Ritual Toraja: Hitam Ternyata Bukan Duka

Papan multilingual yang cuma satu itu berbunyi Suduik Kapau Setiap Sabtu Malam Monopoli Restaurant. Suduik Kapau datang dari bahasa Minangkabau, Setiap Sabtu Malam dari bahasa Indonesia, Restaurant dari bahasa Inggris. Tiga bahasa dalam satu bidang papan, dan itu terjadi satu kali dari lima puluh empat kesempatan.

Angka 53,7 persen tadi punya pembanding di tempat lain. Jasone Cenoz dan Durk Gorter, yang klasifikasi monolingual, bilingual, dan multilingualnya dipakai penelitian ini, menemukan pada 2006 di wilayah dwibahasa Basque sebuah keseimbangan antara bahasa mayoritas dan bahasa minoritas pada tanda publik. Bukittinggi tidak begitu. Rachman dan Liusti menduga penyebabnya adalah populasi kota yang relatif homogen berbahasa Indonesia, sehingga pelaku usaha merasa tidak perlu menyasar kelompok penutur minoritas lewat papan.

Top-Down dan Bottom-Up: Siapa yang Memasang

Ada satu pembelahan lagi yang tidak kelihatan dari isi tulisan, melainkan dari tangan yang memasangnya. Tanda bottom-up, harfiah tanda dari bawah, dipasang pihak swasta: pedagang, pemilik toko, pengelola rumah makan. Tanda top-down, tanda dari atas, dipasang instansi pemerintah. Iklan visual di ruang publik Bukittinggi didominasi tanda bottom-up. Papan imbauan kebakaran yang bercetak huruf besar itu justru masuk kelompok satunya lagi.

Fungsi papan dihitung terpisah dari polanya, dan satu papan bisa memikul lebih dari satu fungsi sekaligus. Seluruh lima puluh empat papan berfungsi informatif, yakni memberi tahu nama usaha, jenis produk, atau imbauan layanan masyarakat. Empat puluh satu papan atau 75,92 persen berfungsi ekonomi, yaitu mempromosikan. Tiga belas papan atau 24,07 persen berfungsi simbolik, membangun kesan. Tujuh papan atau 12,96 persen berfungsi budaya. Fungsi ekonomi muncul lebih dari tiga kali lebih sering daripada fungsi simbolik.

Fungsi simbolik itu hampir selalu berbahasa Inggris. Mulia International Fashion memakai kata international untuk memberi kesan standar global dan fashion untuk kesan mengikuti mode. LOVE’S BABY KIDS BRANDED WEAR memakai branded wear, pakaian bermerek, untuk kesan produk bermutu. Sebuah papan gerai ponsel memakai kata accessories dan premium untuk maksud serupa. Seluruh data berfungsi simbolik ditemukan pada sektor fesyen dan gawai, sedangkan sektor kuliner dan jasa lokal lebih banyak memakai bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabau.

Fungsi Budaya: Bahasa Minang Dipakai sebagai Slogan

Tujuh papan berfungsi budaya, dan cara bahasa Minangkabau muncul di dalamnya punya pola sendiri. Ia jarang menjadi nama utama usaha. Ia menjadi slogan yang ditempelkan di sebelah nama: Suduik Kapau pada papan restoran tadi, BALABOO MAMBALI MANANG MAMAKAI SANANG pada papan yang membuka tulisan ini, dan Salero Nan Tau Raso pada papan Rumah Makan&Restoran SIMPANG RAYA. Nama usahanya sendiri tetap berbahasa Indonesia.

Baca juga Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga

Di titik inilah contoh sehari-hari yang biasa dipakai orang mulai meleset. Bahasa daerah di papan umum kerap dibaca sebagai perjuangan mempertahankan hak berbahasa sebuah komunitas. Rachman dan Liusti menyatakan yang berbeda untuk Bukittinggi: menurut kedua peneliti Universitas Negeri Padang itu, bahasa Minangkabau di sana tidak diarahkan untuk menegaskan hak berbahasa sebagaimana konteks yang dirumuskan Landry dan Bourhis, melainkan dipakai sebagai strategi simbolik dan kultural untuk membangun autentisitas, menonjolkan kekhasan lokal, dan menambah daya tarik usaha.

Alasannya, masih menurut keduanya, bahasa Minangkabau sudah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat setempat, sehingga tidak ada yang perlu direbut kembali lewat papan. Yang tersisa untuk dikerjakan bahasa itu adalah membangkitkan rasa kebersamaan, keakraban, dan kebanggaan pada pembacanya. Karena itu ia hadir sebagai kalimat ajakan, bukan sebagai keterangan tentang jenis atau kepemilikan usaha.

Penelitian ini mengakui batasnya sendiri. Penulisnya menyatakan kajian hanya menyentuh unsur verbal yang tertulis di papan, tanpa menanyakan tanggapan atau persepsi masyarakat terhadap bahasa yang mereka baca. Lima puluh empat papan juga bukan seluruh papan di Bukittinggi, melainkan sampel yang dipilih dengan kriteria tertentu. Angkanya pun perlu dibaca hati-hati: jumlah papan bilingual tercatat dua puluh empat pada tabel rekapitulasi dan dua puluh lima pada bagian simpulan.

Lanskap linguistik hanya mencatat apa yang dipasang orang di luar rumahnya. Ia tidak mencatat siapa yang berhenti membaca, siapa yang lewat tanpa menoleh, dan apa yang terjadi di kepala seseorang ketika ia membaca Salero Nan Tau Raso di depan sebuah rumah makan. Papan-papan itu tetap berdiri, dan bagian yang belum terhitung jauh lebih banyak daripada lima puluh empat.

Bagikan

Baca Juga

Kubah dan menara Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh
Delapan Keluarga Terdampak Kebakaran di Bukittinggi Terima Bantuan Pemko dan Baznas
Delapan Keluarga Terdampak Kebakaran di Bukittinggi Terima Bantuan Pemko dan Baznas
Bukittinggi Siap Sukseskan MTQ Sumbar 2025
Bukittinggi Siap Sukseskan MTQ Sumbar 2025
Pembersihan sungai guna mencegah banjir Bukittinggi menjadi perhatian serius jajaran aparatur sipil negara (ASN) (Foto: Ist)
Gotong Royong Bersihkan Batang Agam, Bukittinggi Antisipasi Ancaman Banjir
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Kini Berstatus Tipe A
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Kini Berstatus Tipe A
Mahasiswa UIN Bukittinggi Tolak Gubernur Sumbar Mahyeldi Orasi di Kampus, Isu PSN Air Bangis Jadi Pemicu
Mahasiswa UIN Bukittinggi Tolak Gubernur Sumbar Mahyeldi Orasi di Kampus, Isu PSN Air Bangis Jadi Pemicu